
Part 33 (preweding bikin pusing)
Setelah dimake up dan mengenakan gaun yang dikenakan. Lusi pun bak princes. Terlihat Rian juga yang sudah siap untuk sesi foto. Kali ini Rian terlihat tampan juga. Menggunakan setelan jas berwarna hitam. Dan rambut yang tertata rapi. Apalagi dengan postur tubuh Rian yang tinggi, tegap dan gagah. Sedikit membuat hati Lusi berdegup saat melihatnya.
Andai saja Rian adalah pria yang baik. Mungkin hari ini adalah hari paling bahagia benak Lusi. Sambil memperhatikan Rian dari kejauhan.
Tiba-tiba Juna datang dan Lusi pun kaget melihat Juna di hadapannya. Juna pun terpesona saat melihat Lusi yang sangat cantik dan anggun mengenakan gaun putih. Sontak Juna memandang Lusi lama.
Lalu Juna dan Lusi pun saling berpandangan satu sama lain. Dan mereka bingung harus bicara apa. Saat melihat keduanya.
Tiba-tiba Rian datang. Dan menarik tangan Lusi.
"Ayoo?! Kita mulai" ucap Rian menarik kasar tangan Lusi.
Lalu Rian dan Lusi memulai sesi foto. Saat itu fotografernya bernama Daniel. Dan Lusi pun diarahkan foto sambil memegang tangan satu sama lain. Dan banyak dari sesi foto tersebut Lusi terlihat canggung dan enggan saat berpose mesra.
"Mba Lusi pegang tangan mas Rian dan pegang bahunya. Gak usah canggung ini pacar kamu. Anggap saja dunia milik berdua"ucap Daniel.
Lalu Lusi pun setelahnya berusaha fokus pada sesi foto mesra berikutnya.
Bunuh aja sekalian aku Rian! Mana mungkin aku bisa beradegan mesra dengan orang seperti kamu.
Terlihat Juna yang tampak sedih melihat Lusi dan Rian dari kejauhan.
Rasanya aku ingin sekali bertemu Juna. Dan meminta maaf padanya Benak Lusi.
Lalu setelah beberapa kali take foto. Lusi dan Juna istirahat sebentar.
Lalu Juna pun menghampiri Lusi.
"Aku gak nyangka kalau ternyata ucapan kamu benar Lusi. Bahwa cinta itu adalah takdir. Dulu, aku yang menginginkan kamu untuk prewed disini. Tapi ternyata takdir berkata lain" Ucap Juna.
Lusi pun hanya diam.
"Oya tadi aku kesini bersama Lisa. Lisa menunggu diparkiran tuh. Kalau ternyata kamu baik-baik aja disini. Aku ijin pulang kalau gitu, Lisa juga katanya mau ijin pulang" ucap Juna.
__ADS_1
"Oh.. Yaudah ati-ati ya Jun pulangnya. Jangan ngebut"
Lalu Lusi pun memandang Juna lama. Dengan menatap sedih.
"Ngapain sih itu bocah ngintilin kamu terus. Kurang kerjaan banget" ucap Rian sambil melihat Juna.
"Walaupun dia masih bocah. Namun dia punya sifat dewasa dan baik"
"Aku gak mau ya denger kamu puji-puji orang lain di depan aku" ucap Rian kesal.
Lalu setelah itu kami pun pulang. Lalu aku memakai jaket Rian. Karena posisi saat itu keadaan cukup dingin.
Selama di perjalanan pulang.
"Oia kayanya hari sudah hampir malam. Bagaimana kalau kita menginap dulu di hotel" ucap Rian.
"Jangan cari kesempatan. Jalan teus"
"pulangnya kemaleman. Istirahat dulu ya"
"Sampai pagi pun aku tunggu Rian. Kalau kamu gak sanggup bawa mobil aku aja yang bawa"
Akhirnya beberapa saat kemudian kami pun sampai. Rian pun langsung pulang.
Lalu Lusi langsung masuk kamar dan mengganti baju kebesarannya itu piyama.
"hah.. Ngeselin amat ya punya calon imam macem Rian" keluh Lusi.
sesampainya Lusi di rumah Lusi melamun sambil duduk di meja belajar. Dan memikirkan tentang pernikahannya dengan Rian. Tiba-tiba Lisa datang dan memperhatikan kakaknya dari kejauhan.
Lalu Lisa memperhatikan kakaknya yang sedang mencorer-coret sebuah kertas.
Kalau aku nikah sama Rian kira-kira kuat berapa lama ya. Satu tahun, kayanya itu terlalu lama. Ah mungkin 2 minggu. Tapi.. jangan deh akan diomongin orang kalau 2 minggu. mungkin 6 bulan. supaya lebih etis. benak Lusi sambil menulis angka 6 bulan dikertas.
"6 bulan, maksudnya apaan nih. kakak hamil ya" celetuk Lisa.
__ADS_1
"Eh... enak aja bukan tau!. Ini sedang mengira-ngira"
"Mengira-mengira apa?" tanya Lisa
"Waktu yang pas buat cerai sama Rian" ucap Lusi.
"Parah.. sumpah parah!" ucap Lisa.
Tiba-tiba saja ibu datang menemui kedua putrinya.
langsung saja mulut ember Lisa. tidak bisa dikendalikan.
"Bu.. ibu.. kak Lusi parah masa. nikah aja belum, udah mikirin cerai"
Lalu Ibu pun kaget dengan apa yang dikatakan Lisa.
"Ah.. ember banget nih anak ya" ucap Lusi kesal.
Lalu Lusi pun memandang adiknya tajam dengan perasaan kesal.
"Lisa. kamu boleh keluar sebentar. Ibu mau bicara dulu sama kakak kamu" ucap Ibu pada Lisa.
"Oke" ucap Lisa langsung keluar.
Lalu ibu pun duduk disamping Lusi yang terlihat cemberut. karena kesal pada Lisa.
"Apa benar yang diucapkan Lisa barusan. bahwa kamu udah mikirin cerai"
Lusi pun mengangguk.
"Ibu tidak menyangka bahwa ucapan itu bisa keluar dari mulut kamu Lusi"
Lalu Lusi pun menangis. "Aku tidak akan yakin bu, kalau pernikahan Lusi akan bahagia"
Lalu ibu pun memeluk putrinya.
__ADS_1
"Ibu tahu mungkin ini berat buat kamu. Tapi pernikahan bukan permainan. seburuk apapun pria yang akan kita nikahi nanti. Lusi harus tetap Kuat dan jadi istri yang soleha. Jangan berpikiran untuk cerai. Pernikahan itu tak selalu mulus sekalipun Lusi menikah dengan orang yang Lusi paling cintai. akan ada selalu banyak ujian di dalamnya. kuncinya satu, yaitu sabar. sepertinya ibu yakin, Lusi bisa jadi istri yang soleha"
Lalu ibu pun menghapus air mata putrinya. "Iya bu" ucap Lusi.