Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Perubahan


__ADS_3

Part 16 (Perubahan)


Keesokan harinya. Juna datang ia baru saja pulang dari Surabaya. Ia adalah pemegang video itu. Lalu Lisa pun memberikan video itu kepada Ayah agar segera di proses hukum.


Keesokan harinya tampak ada perubahan dengan Lusi. Tiba-tiba saja ia memangil-manggil nama Lisa, sambil menitihkan air mata. Lisa yang berada disamping langsung memegang erat tangan Lusi.


Lalu tak lama berselang. Lusi membuka matanya secara perlahan-lahan dan ia menangis saat melihat adiknya di sampingnya. Lalu Lisa mendekatkan wajahnya ke Lusi.


"Kamu baik-baik aja kan", tanya Lusi dengan suara pelan. Sambil memegang wajah adiknya.


Sontak Lisa kaget saat mendengar kakaknya bicara seperti itu. Apakah Lusi sudah benar-benar pulih dari gangguan jiwanya. Lisa pun mengangguk sambil menahanan air matanya. Dan terharu saat kakaknya sudah bisa mengingatnya.


"Iya aku baik-baik saja kak".


Lalu Lusi tersenyum saat mendengar jawaban sang adik.


Lalu Lusi kembali memejamkan matanya.


Ibu senang saat tahu bahwa Lusi sudah bisa mengingat. Berharap ini adalah awal yang baik.


Keesokannya terlihat Lusi yang sudah tak memakai lagi alat bantu oksigen. Ia perlahan-lahan membuka matanya dan mulai sadar.

__ADS_1


Saat ia sadar, ia memandang satu persatu orang yang didekatnya. Namun ia tidak banyak bicara.


Ia hanya tersenyum saat melihat orang-orang yang dicintainya didekatnya. Ibu menghampiri Lusi. Dan membantu Lusi untuk duduk. Ia pun disuapin makan oleh Ibu.


Namun Lusi masih terlihat melamun dan diam. Dan mereka tidak banyak melontarkan pertanyaan dulu. Mengingat Lusi belum terlalu pulih betul.


Keesokannya sedikit demi sedikit kondisinya mulai pulih. Walaupun belum dibolehkan pulang ke rumah dulu oleh Dokter. Tapi itu merupakan kemajuan. Kami juga mendatangkan psikiater untuk Lusi.


Seminggu kemudian...


Lusi sudah hampir sembuh. Ia sudah bisa tersenyum. Dan ia mau menjawab bila di tanya. Dan tidak diam seperti dulu.


Namun wajahnya masih terlihat sangat pucat. Dan masih ada perban di kaki dan kepalanya.


Lalu Lisa memperkenalkan mereka satu-persatu.


"Ini Arin. Sahabat aku kak." ucap Lisa sambil memperkenalkan Arin.


Lalu Lusi tersenyum.


"Nah.. Kalau yang ini Juna. Sahabat aku Juga.."

__ADS_1


"Hallo kak Lusi nama Aku Juna".


Lalu Arin meledek Juna.


"Sok manis si Juna. Kemarin aja manggilnya Lusi Lusi ajah gak pake kakak".


"sstt... " ujar Juna. "Lu tuh suka malu-maluin".


Lalu Lusi pun tersenyum pada Juna. Sontak itu membuat hati Juna semakin berdebar-debar melihat Lusi. Apalagi mengingat Juna sangat suka pada Lusi. Rasanya tuh Juna kaya mau meninggal.


"Mereka ini udah baik banget sama kakak selama kakak tinggal di Jakarta. Kakak boleh menganggap mereka seperti sahabat kakak sendiri kok", ujar Lisa.


"Kalau lebih pun juga gak apa-apa sih. Aku gak keberatan kok Kak", ucap Juna.


"Lu mah ngarep", ujar Arin senyum sambil meledek.


"Saya ucapkan banyak terimakasih kepada kalian yang sudah banyak membantu saya selama saya di Jakarta", ucap Lusi.


"Aduh.. Kak Lusi. Ternyata aslinya ngomongnya baku banget. Kaya mau pidato Rt aja" canda Arin sambil tersenyum. "Gak usah kaku-kaku kalau ama kita ya.


Lalu Lusi pun tersenyum kepada mereka.

__ADS_1


Karena kondisi Lusi masih perlu istirahat, lalu mereka pun pulang.


__ADS_2