
Part 132(Jaga Renata)(Sesion 2)
Saat Rian pulang kini Lusi yang bergantian menjaga Renata. Karena ini kebetulan weekend jadi Lusi tidak masuk kantor. Lusi pun menatap wajah Renata dari dekat. Baru kali ini seumur hidupnya Lusi menatap ibu mertuanya itu dengan lama dan berani. Selama ini Lusi selalu takut bila bertemu Renata. Renata tak pernah sekalipun baik apalagi manis pada dirinya. Itulah yang membuat Lusi selalu takut. Namun Lusi pun tidak bisa memungkiri jika perasaan sedih menyelimuti saat melihat Renata sakit.
Hati Lusi terasa pilu, melihat Renata yang sedang berjuang antara hidup dan matinya. Lusi pun ikhlas memaafkan atas kesalahan Renata. Sekalipun Renata belum pernah meminta maaf sekalipun. Berat memang bila mengingat kenyataan, bahwa seorang mertua telah tega menyerahkan tubuh menantunya dengan pria lain. Di tambah lagi pria itu dibayar. Seolah lebih mahal wanita malam ketimbang dirinya.
Jika terus dingat dan ingat lagi. Sakit itu sudah pasti. Mana ada menantu yang mau diperlakukan seperti itu. Kalau mengikuti ego sudah pasti saat Renata terkulai lemas. Lusi akan mencekiknya mumpung Renata dalam keadaan tidak sadar. Namun Lusi bukanlah orang yang seperti itu. Justru ia malah sebaliknya selalu mendoakan Renata seperti ia mendoakan kedua orang tuanya.
Dalam keadaan hening Lusi pun mengambil wudhu lalu solat Dhuha. Setelah solat Lusi pun berdoa agar Allah sentiasa memberikan hidayah kepada Renata. Serta kesehatan kepada dia. Karena bagaimana pun hati seorang manusia pasti bisa berubah sesuai kehendakNya.
Setelah selesai solat Lusi pun duduk disamping Renata masih dalam balutan mukena. Wajah Renata yang selalu terlihat segar dan penuh riasan makeup itu. Kini tampak biasa dan pucat. Terlihat sangat berbeda dan memprihatinkan. ditubuhnya di penuhi alat bantu dan oksigen. Lalu Lusi pun membacakan ayat suci Al Qur'an disamping Renata. Tentunya Sebagai manusia biasa setelah kita usaha yang terakhir adalah pasrah dan berdoa. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Selebihnya biar Allah yang menentukan.
Untuk membaca ayat suci Alquran Lusi masih terbilang lumayan untuk soal hukum bacaan. Bahkan jaman SMP dan SMA dulu. Lusi lebih suka ikut ekskul rohis dibanding ekskul drama atau ekskul laiinya. Karena untuknya ilmu agama itu sangatlah penting. Apalah artinya kekayaan kalau pada akhirnya matipun kita akan meninggalkan harta. Dan tak membawanya. Kalau soal surga neraka biarlah Allah yang berhak menentukan. Dan yang terpenting sebagai manusia kita selalu berusaha untuk beriman dan taqwa kepadanya.
Lalu setelah beberapa selang kemudian doa Lusi pun tejawab. Renata tampak menggerakan tangannya. Dan sedikit membuka matanya. Lusi pun terperanjat kaget melihat Renata yang mulai sadar.
"Ya Allah.. Alhamdulillah" ucap Lusi senang.
Renata pun mulai membuka matanya namun masih setengah sadar.
Lalu Renata pun melihat Lusi disampingnya. Bukannya ia senang karena sudah di temani.. Justru Renata malah tidak terima.
Dalam keadaan terbaring lemah. Renata masih bisa-bisanya tidak terima Lusi berada disampingnya.
"Keluar.." ucap Renata lirih mengusir Lusi untuk keluar.
Lusi pun hanya diam. Tidak mau keluar.
"Saya minta kamu keluar" ucap Renata dengan nada pelan, namun dengan mengancam.
Lusi pun hanya mundur hingga beberapa langkah.
"Istigfar nyonya. Nyonya baru saja siuman" ucap Lusi.
__ADS_1
"Saya terima jika memang nyonya menyuruh saya untuk keluar. Tapi saya sudah berjanji pada putra nyonya untuk menjaga nyonya sampai dirinya kembali. Jadi Saya mohon nyonya jangan mengusir saya. Untuk saat ini saja. Saya berjanji setelah Rian kembali saya tidak akan menggangu nyonya lagi" ucap Lusi dengan menatapnya sendu.
Lalu Renata pun terdiam mendengar ucapan Lusi yang sedikit masuk relung hati yang paling kecil. Sangat kecil.
Lalu Lusi pun melepas mukenanya dan duduk lagi disamping Renata.
Tak lama makan siang pun sampai untuk para pasien. Lusi pun sebenarnya tampak Kik kuk antara mau suapin atau biarin Renata makan sendiri. Tapi Renata jangankan makan sendiri untuk mengangkat tangannya aja berat banget. Oke. Lusi jangan tegang mula mula kita suapin Renata dulu. Mau ia terima atau tidak tetap harus dicoba. Yang sehat ngalah, yang sakit biarin aja lah. Lalu Lusi pun mengambil sendok dan menyendokan makanan itu.
Renata pun hanya tampak melamun melihat dinding langit ruang rawat nya.
"Makanan sudah datang, emmm.. nyonya makan dulu ya" ucap Lusi menyodorkan sendok yang berisi makanan itu ke mulut Renata secara perlahan. Namun Renata tampak tak membuka mulutnya sama sekali.
Lusi pun menghela napasnya menerima itu.
"Baiklah, sekarang nyonya makan ya. Kali ini anggap saja kalau saya ini pembantu nyonya. Jangan anggap saya ini Lusi. Atau siapapun itu.. Sekali lagi ya, saya jelaskan. Anggap saja saya ini pembantu nyonya. Dan bukan siapa-siapa" ucap Lusi.
Lusi sengaja bicara seperti itu agar Renata mau makan. Dan bisa menyuapinya.
Lusi pun kembali menyendokan nasi itu kemulut Renata dengan perlahan.
Tak lama perawat pun datang. Mulai mengecek tensi darah dan membawakan obat.
Lusi pun tampak memperhatikan perawat datang untuk mengecek keadaan Renata.
"Syukurlah mulai ada perubahan lebih baik. Ibu anda harus banyak istirahat dan jangan stres ya" ucap suster itu.
Lusi pun hanya mengganguk paham.
Selang beberapa menit kemudian suster pun keluar.
Lalu Lusi pun tampak berdiri merapihkan selimut Renata yang sedikit berantakan.
"Nyonya kalau butuh sesuatu bilang aja ya. Jangan segan, Anggap saja saya ini seperti pembantu nyonya sendiri" ucap Lusi.
__ADS_1
Dan Renata pun tampak terdiam. Dan melihat perut Lusi yang sudah membuncit.
"Kamu hamil?"tanya Renata.
"I..iya" jawab Lusi.
"Saya yakin itu adalah anaknya Adit. Bukan anaknya Rian" ucap Renata yang bisa bisanya bicara begitu.
Lusi pun langsung menjatuhkan air matanya. Tak kuasa mendengar penuturan Renata, begitu menyayat hatinya.
Lusi pun menarik napasnya yang serasa berat itu.
Kali ini Lusi tidak mau banyak bicara pada Renata soal anak yang dikandungnya. Karena Lusi tidak mau bila kondisi Renata kembali turun. Lusi pun hanya diam atas penuturan Renata menyakitkan soal anak yang dikandungnya itu.
Tak lama Rian pun datang. Rian pun melihat Lusi yang tampak menangis.
"Kamu kenapa?" Tanya Rian.
Lusi pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Mama kamu sekarang udah sadar. Aku balik ya.."
"Stukurlah.. Eh.. eh..tapi ntar dulu kamu kenapa?"
"Gak apa-apa. Aku permisi pulang" ucap Lusi langsung pergi.
Lusi pun langsung pergi dan menghapus setiap air matanya yang terjatuh. Disamping hati Lusi yang kuat, Lusi pun sebenernya sangat cengeng. Lusi lebih memilih lebih banyak menangis untuk meluapkan emosi nya.. ketimbang harus marah. perasaan Lusi terasa teraduk aduk saat Renata bilang begitu.
..........
Next lagi deh nanti.. kalau sempet. Ya..
Like like like like like...
__ADS_1
eh gue gak paham sama novel toon w udh up. tp lama di review-nya eh udah lama tp kaga muncul di episode terbaru.. eh tapi katanya lagi eror sih..