
Part 86 (Tidak sesuai ekspetasi) (Sesion 2)
Lusi pun kali ini bangun lebih pagi dari biasanya. Kali ini ia ingin mengambil hati mertuanya yang tak suka dengannya itu. Dengan menunjukan sifat rajinnya.
Pagi-pagi sekali Lusi sudah bangun. Lebih pagi di banding asisten rumah tangganya. Lusi pun memasak untuk sarapan. Selesai masak, Lusi langsung mengepel lantai rumah yang luas itu..
Saat Rian bangun, Rian pun melihat Lusi yang sudah bercucur keringat di dahi dan pipinya.
"Kamu abis ngapain sampai keringatan begini" ucap Rian mengusap keringat Lusi.
"Aku ingin menarik hati ibumu Rian. Agar ia tahu bahwa aku.."
"Bahwa apa? bahwa kamu mencintaiku begitu"
"Bukan begitu maksud aku" ucap Lusi.
"Kalau pun alasannya karena kamu mencintaiku pun tidak apa-apa Lusi. Aku siap di cintai kamu kapanpun" ucap Rian.
"Sudahlah kamu jangan kepedean, aku mau mandi aja" ucap Rian.
"Bareng ajalah mandinya" Ajak Rian.
"Emm gak usah aku kalau mandi pake sabun soalnya.. "
"Ya sama aku juga. Emang kamu pikir aku mandi pake abu gosok" ucap Rian.
"Haduh niat mau mandi biasa. Kenapa malah jadi mandi yang luar biasa" keluh Lusi.
"Hehhehe" jawab Rian ternsenyum tanpa dosa..
Selesai itu, Lusi pun menyiapkan pakaian kerja Rian. Lusi pun sudah siap juga dengan pakaian kerjanya.
setelah itu..
Lusi dan Rian yang duduk di meja makan.
Tampak Renata yang tak lama hadir di meja makan.
Lalu mereka pun makan bersama..
saat makan...
"Ma.. Ini yang masak Lusi loh ma" ucap Rian. "Ia sengaja bangun pagi-pagi buat masakin ini semua untuk kita"
"Pantesan rasanya gak enak" ucap Renata.
Lusi pun hanya diam.
Selesai sarapan, Rian pun berangkat kerja. Sedangkan Lusi berangkat belakangan.
Ketika Lusi ingin berangkat kerja, tiba-tiba Renata menahan Lusi.
"Sebelum berangkat kerja kamu cuci pakaian dulu" perintah Renata.
"Maaf nyonya, aku sudah terlambat"
"Saya tidak peduli.." ucap Renata.
"Baiklah.." ucap Lusi.
Lalu Lusi pun mencuci baju dulu sebelum berangkat kerja menuruti apa kata mertuanya itu. Setelah selesai Lusi pun baru berangkat dengan naik ojek.
Sesampainya di kantor, Lusi pun telat. Dan berhasil mendapat sedikit omelan dari Pak Adit.
setelah itu..
Lusi pun duduk di meja kerjanya..
Sesampainya, Lusi pun melihat sepucuk surat cinta berbentuk Love, berwarna pink di meja kerjanya. Lusi pun hanya memandangnya..
Tiba-tiba Intan melihat surat yang berada di meja Lusi. Lalu mengambilnya..
"Asik.. Kaya jaman dulu. Pakai surat-suratan segala" ucap Intan.
"Balikin Intan. Aku belum membacanya" Ucap Lusi.
"Kalau gitu aku bacain" ucap Intan.
Dan terlihat Rian yang tiba-tiba lewat lalu berhenti sejenak. Lalu mencoba mendengar semuanya.
Intan pun tak tahu bahwa Rian tepat di belakangnya.
__ADS_1
"Lusi.. Aku menyukai mu, saat aku melihat mu pertama kalinya.. begitu berdebar hatiku. Itu adalah Rasa yang tak dapat ku bendung. Yaitu ingin memiliki mu dengan cara yang baik. Lusi,, kamu adalah orang mampu menggetarkan hatiku ini. Maukah kamu taaruf denganku.. By Lutfi" ucap Intan membaca surat itu.
"Apaa ta'aruf" ucap Lusi kaget karena ia pikir itu dari Rian. Yang ternyata surat itu bukan dari Rian.
Lalu Rian pun berdeham.
"Ehemm. Ehmm"
Intan pun kaget melihat Rian di belakangnya.
"Se..sejak kapan bapak di belakang saya" ucap Intan gugup.
"Dari tadi" ucap Rian merampas surat itu. "Kerja yang bener"
"Baik pak" ucap Intan.
Lusi pun hanya diam saat melihat Rian. Tak lama Rian pun pergi dan menyobek surat cinta itu.
"Lutfi itu siapa ya? " tanya Lusi.
"Adiknya mba Santi. Emangnya kamu gak kenal.." ucap Intan.
"Gak kenal. . karyawan disini ya?" Tanya Lusi
"Iya.. "
Tiba-tiba mba Santi datang.
"Mba, siap-siap Lusi bakal jadi adik iparnya mba santi" ucap Intan.
"Loh.. Maksudnya?" tanya Mba santi.
"Lusi di ajak taaruf sama Lutfi" ucap Intan.
Mba santi pun tersenyum. "Hemm bagus dong. Mba setuju kalau kamu sama Lutfi.. Mudah-mudahan kalian berjodoh ya" ucap Mba santi mendukung.
Ya ampun bagaimana ini.. Andai saja mereka tahu bahwa aku ini sudah menikah. Hadeh, semua salah Rian yang menyuruhku menutupi pernikahan ku benak Lusi.
..
Saat jam istirahat..
"Mba kenapa kok nangis?" tanya Lusi.
"Lutfi di pecat sama boss" ucap mba Santi.
"Boss siapa? " tanya Lusi.
"Pak Rian" jawab Mba Santi.
Lusi pun kaget. "Kok bisa? " ucap Lusi.
"Padahal Lutfi itu baik anaknya, tidak melakukan kesalahan apapun. Ia pun sempat bingung mengapa ia di pecat"
Lusi pun hanya menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.
Lalu Lusi pun ke ruangan Rian. Dan menghadap Rian di ruangannya.
"Ada apa, kamu kesini? "tanya Rian.
"Justru aku yang tanya, kenapa kamu pecat Lutfi"
"Aku bossnya dan aku berhak pecat siapapun disini"
"Salah dia apa? " tanya Lusi.
"Karena dia berani mencintai kamu Lusi"
"Itu bukan alasan Rian, kamu harus profesional sebagai atasan" ucap Lusi kesal. "Dirimu terlalu payah sebagai atasan. Jangan sangkut pautkan hubungan asmara dengan pekerjaan"
"Intinya siapapun bisa aku pecat. Siapapun yang berani mendekati mu pasti akan aku cut dari sini. Jadi aku harap kamu jangan tebar pesona dikantor. Bila kamu tak ingin ada korban selanjutnya" ucap Rian.
"Egois" ucap Lusi.
Lalu Rian pun memanggil Lutfi untuk datang ke ruangannya. Dan baru kali ini lah Lusi melihat Lutfi. Karena sebelumnya Lusi tidak terlalu perhatiin karyawan satu persatu. Baik itu nama ataupun wajahnya. Lusi pun sedikit tercengang karena yang namanya Lutfi itu ganteng dan terlihat soleh.
"Asallamualikum" ucap Lutfi.
"Walaikumsallam" jawab Lusi.
"Silahkan duduk" ucap Rian pada Lutfi.
__ADS_1
Tampak Lutfi yang duduk disamping Lusi dan sedikit mencuri pandang pada Lusi.
Lalu Rian pun mengambil kesempatan emas ini untuk mengerjai Lusi.
"Sini kamu Lusi berdiri di hadapan saya" perintah Rian.
aduh apa sih Rian.. ngapain lagi benak Lusi.
"Baik pak.. Ada apa ya" tanya Lusi pada Rian .
"Udah berdiri aja di hadapan saya" ucap Rian.
Lalu Lusi pun berdiri di hadapan Rian.
Lalu Rian pun membisikan sesuatu ke telinga Lusi.
"cium bibir aku sekarang" bisik Rian.
Lusi pun kaget dan mengerinyitkan keningannya. sontak Lusi pun menggelengkan kepalanya menolak.
"Berani bantah, Lutfi saya pecat" bisik Rian mengancam.
"Aku gak bisa Pak Rian" ucap Lusi.
"Oh begitu.. baiklah " ucap Rian.
Lalu Rian pun berbicara pada Lutfi.
.
"Baiklah ini hari terakhir buat kamu,,, " ucap Rian.
Tiba-tiba ciuman Lusi langsung mendarat di bibir Rian.
Dengan terpaksa aku melakukannya walau harus menahan malu. serasa gak punya muka kalau begini. benak Lusi kesal.
Rian pun menyambutnya dengan ciuman juga. dan setelah itu Rian menutupnya dengan memeluk Lusi.
Tampak Lutfi yang kaget saat melihat pemandangan itu dengan perasaan yang hancur.
Astaga, Rian!!!! kelakuan kamu bener-bener mempermalukan aku. Mana pernah sekalipun aku seperti ini di hadapan orang lain. sungguh, aku tak sanggup bila harus menanggung malu. Kalau bukan karena Lutfi adalah adiknya Mba Santi, aku tidak mau begini. Benak Lusi kesal.
Seteleh selsai dengan Rian. Lusi pun duduk dan mengelap bibirnya dengan tangannya hingga beberapa kali. Dan tampak merah wajah Lusi karena malu. Lusi pun duduk kembali dengan perasaan yang sangat canggung pada Lutfi.
Dan tampak Lutfi yang istighfar hingga beberapa kali setelah melihat itu semua.
Rian pun hanya menahan senyum.
Lalu Rian buat keputusan baru.
"Setelah saya pikir-pikir sepertinya kamu memang harus bekerja di kantor ini lagi. Saya tidak jadi memecat kamu" ucap Rian. "Oia, yang adegan tadi anggap saja itu tidak ada. Dan hanya kenang-kenangan saja dari saya.."
"I.. Iya pak" ucap Lutfi gugup.
"Sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya. Karena saya ingin melanjutkanya lagi dengan Lusi" ucap Rian.
Lalu Lutfi pun melangkah pergi.
Lusi pun tampak kesal dengan Rian.
"Rian.. Puas kamu ya..!!! Kamu tuh bener-bener Tega. Sekarang bukan salah aku, kalau sampai satu kantor tahu bahwa aku punya hubungan denganmu" ucap Lusi kesal.
"Biarin ajah. mereka juga tidak akan heran kalau boss bisa skandal dengan bawahannya"
"Hah.. apa-apaan ini.. Hancur Reputasi aku Rian. bisa-bisa.. jadi bahan omongan satu kantor ini" ucap Lusi kesal.
"Kalau udah hancur tinggal resign aja.. repot amat sih."
"Bicara sih gampang. cuma tetap aja aku yang malu" ucap Lusi melangkahkan kaki pergi.
Rian pun hanya tersenyum sendiri...
Lusi pun keluar dari ruangan Rian. Dengan perasaan malu.. Apalagi bila melihat Lutfi. Rasanya Lusi takan mau dan takan sanggup..
Ah.. Mudah-mudahan Lutfi ini bukan orang yang bocor. Aku malu sekali rasanya, kalau sampai ia cerita ke orang lain. aku memang mau, jika diakui sebagai istri Rian. tapi tidak mau kalau diiringin dengan kejadian yang memalukan. aku jadi bingung dengan apa yang menjadi mau nya Rian. satu sisi dia melarang avku cerita bahwa aku istrinya. namun satu sisi dia juga yang bersikap berlebihan seperti itu... Benak Lusi.
.
.
*Like yoo
__ADS_1