
Part 150 (Maaf Jaim)(Sesion2)
Tampak Rian yang marah saat Lusi yang terlihat bergabung dengan teman mamanya. Ini bukan soal apa-apa. Rian hanya takut kalau Lusi akan terbawa pada hal buruk. Mengingat ada temen Renata yang sering datang ke club malam. Takut takut kalau Lusi diajak atau terbawa pada hal buruk.
Namun pikiran marahnya seketika hilang. saat melihat senyuman Lusi yang begitu indah. Dan tiba-tiba saja Lusi mencium pipi Rian.
Cup..
"Maaf tadi aku tidak tahu bahwa dirimu sudah pulang dari luar kota" ucap Lusi.
"Sekali lagi dong cium pipinya. Yang kanan akan marah karena cuma yang kiri aja" ucap Rian.
Cup...
"Apalagi yang mau dicium" tanya Lusi.
"Semuanya harusnya sih dicium.."
Lusi pun hanya tersenyum.
"Maaf aku tadi marah. Abis aku kaget lihat kamu bersama teman-teman mama. Yang aku tahu kamu itu kan kalem. Ngapain juga sih ikut joget-joget segala" ucap Rian. Menarik Lusi dan duduk di pangkuan Rian.
"Gak kok aku cuma nyanyi ajah gak pake joget"
Rian pun tampak tersenyum.
"Aku rindu kamu" ucap Rian.
"Terimakasih sudah rindu sama aku ya"
"Rindu itu bukan hanya sebuah pemberian, tapi ungkapan rasa. Jadi tidak perlu berterima kasih atas rasa itu. Namun, Kalau kamu tetap memaksa ingin berterima kasih. Baiklah.. tapi Cukuplah kamu rindu juga dengan aku. Kamu merindukan aku kan?"
"Gak.." jawab Lusi santai
"Kok gitu"
"gak salah lagi"
"Hah.. ya ampun. Yaudah aku mau mandi dulu ya. Sebelum kita memadu kasih" ucap Rian.
"Yaudah aku juga mau ambil minum dulu. Kamu mau sekalian minum gak?" Tanya Lusi.
"Boleh deh" ucap Rian.
"Minum apa?"
"Apa aja bebas"
Lalu Lusi pun turun ke bawah untuk mengambil minum. Sesampainya di bawah terlihat Renata yang sedang memotong brownies.
"Kamu mau coba gak ini tuh enak banget belinya sama temen mama" ucap Renata.
"Boleh deh ma" jawab Lusi mengambil sepotong brownies itu dan memakannya.
"Iya ma enak banget" ucap Lusi. Lalu Lusi pun melihat kearah kiri dan kanan. Masih terlihat teman teman Renata yang duduk duduk manis di ruang tamu. Kali ini sudah selesai mereka karaokean nya.
"Kamu sajikan dulu ya di meja tamu"
"Iya ma..."
Lusi pun menyajikannya.. di tengah-tengah Mak rempong yang sedang cekak-cekikikan tertawa bersama. Entah apa yang dibahas nya.
Saat Lusi menyajikannya di ruang tamu. Tiba-tiba ada sesosok pria yang Lusi tak kenali. Tampaknya ia baru saja datang.
"Maaf boleh saya ketemu sama Tante Renata" ucap pria itu.
Lusi pun hanya melihatnya.
"Lusi kamu jangan bengong disitu. Mana Renata. Panggil sana ada yang mau ketemu" ucap Jeng Marina menyuruh Lusi seperti pembantu.
"Iya.."jawab Lusi pasrah.
Lalu Lusi pun memanggil Renata.
"Ma ada yang mau ketemu" ucap Lusi.
__ADS_1
"Siapa?"
"Aku gak kenal"
"Oh oke mama akan temuinya.."
Saat di depan. Renata pun tampak menemui pria itu.
"Itu ma orangnya" ucap Lusi.
"Oh Andi rupanya" ucap Renata.
"Ini Tante surat undangan. Saya kesini mau kasih undangan ini" ucap Andi.
"Oh... Iya" jawab Renata.
Lalu tampak Andi yang melihat kearah Lusi.
"Kalau yang itu siapa tante?" Ucapnya sambil memandang Lusi.
"Kenalkan dia Lusi"
" Hallo Saya Andi"ucapnya sambil tersenyum.
Lusi pun tersenyum juga. Dalam hal ini Lusi wajar memberikan senyuman walau datar. Ya karena kalau cemberut takutnya dianggap sombong.
Sementara Andi pun langsung menarik kesimpulan bahwa Lusi adalah anaknya Renata.
"Kenapa Tante gak bilang sih kalau punya anak perempuan secantik ini. Kalau tahu gitu saya mungkin lebih memilihnya. Namun saya telat anak Tante sudah menikah dan sudah hamil" ucap Andi.
Lalu Renata pun tampak kaget dengan ucapan Andi.
Namun saat itu juga ada Marina dan langsung menyekat omongan Andi.
"Andi kamu ini ngomong yang bener, jangan begitu" ucap Marina.
"Oh maaf nak Andi. Ini bukan anak saya tapi menantu saya, dia adalah istrinya Rian" ucap Renata.
"Hah"
"Maaf maaf Tante" ucap Andi merasa gak enak.
"Iya gak apa-apa. meskipun lusi menantu saya. Tapi Saya sudah menganggap Lusi sebagi anak saya sendiri" tambah Renata.
Lusi pun tampak tersenyum.
Lusi pun sangatlah senang karena Renata sudah menganggap dirinya sebagai anaknya.
"Tuh kan Bu Marina, anaknya kepincut juga tuh sama menantu nya jeng Renata"sahut Jeng Selvy.
"Andi kamu ini malu-maluin mama aja sih. Orang udah mau nikah masih saja kamu" sahut Jeng Marina.
Andi pun hanya menunduk sambil tersenyum.
Lalu tak lama datang Rian menemui Lusi yang sedang ditengah-tengah mereka. Dan tampak Rian yang memasang wajah yang kesal saat melihat Andi dihadapan Lusi.
"Mama ngapain deketin Lusi sama pria ini" ucap Rian menatap Andi.
"Saya Andi" ucap Andi memberikan tangannya untuk berjabat tangan pada Rian.
"Saya Rian suaminya Lusi" ucap Rian menatap dengan tatapan sinis dan menjabat tangan Andi dengan kasar.
"Dia ini anaknya temen mama" ucap Renata.
"Sudah lah Rian gak peduli siapa dia.. Rian cuma gak suka istri Rian Deket dengan pria gak jelas. permisi" ucap Rian.
Rian pun menarik tangan Lusi. Dan membawanya pergi.
"Maaf ya.. Rian memang orang agak pemarah" ucap Renata.
"Gak apa-apa. saya kesini hanya mau kasih undangan dan sedikit oleh oleh untuk Tante" ucap Andi.
"Oh iya makasih banyak ya"
"Sama sama"
__ADS_1
***********
Dikamar..
Setelah itu tampak Rian yang terlihat kesal. Karena sepertinya Rian tahu kalau Lusi baru saja berkenalan dengan pria di bawah tadi.
Rian yang sudah terlihat tampan dan wangi sehabis mandi. Pun langsung kucel lagi karena mukanya dicemberut.
terlihat Rian sedikit membuang mukanya.
"Kamu ngambek" ucap Lusi melihat Rian.
"Mm.." jawab Rian singkat.
"Terus supaya gak ngambek gimana?" Tanya Lusi.
"Cium bibir aku" pinta Rian.
"Aku gak biasa cium bibir duluan" ucap Lusi malu.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa melakukannya saat aku sedang marah"
"Maaf jaim untuk melakukannya"
"Gak mau tahu, harus bisa dan terbiasa. Lusi aku ini suami kamu..paham"
"Ah baiklah.. tapi kamu pejamkan mata dulu ya"
"Gak mau kamu pasti kabur"
Lusi pun tampak tersenyum.
"Tau ajah kalau aku mau kabur. Mm ya baiklah.." Lusi pun tampak grogi. Karena ia tidak pernah sekalipun menciumnya duluan. Tampak Lusi yang mencium bibir Rian cepat.
Cup.. Secepat kilat.
"Sudah ya. Sudah kan" ucap Lusi.
"Ih bentar banget. yaudahlah kali ini aku anggap simulasi. Pokoknya hari ini dan mulai detik ini. Peraturannya!!! kalau aku sampai marah. Kamu harus mencium bibir aku penuh gairah. Jangan kilat kaya tadi. Harus pake proses. Jangan keliatan kaya orang jijik gitu" Rian marah.
"Terus kalau aku yang ngambek bagaimana?"
"Aku yang menciummu penuh gairah"
"Keenakan kamunya" ucap Lusi manyun.
"Biarin aja, ini tuh menu wajib buat aku. Rugi punya istri cantik kalau cuma buat pajangan dietalase. Mending digunain sebagai mana mestinya"
"Emang kamu pikir aku ini apa?? Barang.."
"Iya. Kamu itu barang antik, kesayangan dan gak boleh orang lain punya selain aku"
"Gak mau kalau gak pake cinta ah" tutur Lusi.
"Iya tenang aja soal cinta mah. Udah aku asuransiin.."
"Sama siapa?"
"Sama yang maha kuasa" ucap Rian memegang tangan Lusi.
"Masa... beneran nih" ucap Lusi.
Lalu terlihat Rian yang memandang Lusi dengan tatapan yang dalam dan penuh kesungguhan.
"Lusi disaat aku ijab kabul. Saat Menyebut namamu didepan penghulu. Seharusnya aku sudah sadar saat itulah aku berjanji dapat membahagiakan kamu" ucap Rian yang kali ini tampak serius memegang kedua tangan Lusi.
Lusi pun tampak tersenyum. Lusi pun memandang Rian. Yang kali ini tampak sorot matanya berbeda. Penuh keseriusan.
"Namun betapa bodohnya. Aku membiarkan mu menderita. Mulai sekarang aku tidak ingin lagi melihat kamu menangis" ucap Rian.
"Riann..."
Rian pun memeluk Lusi.
*********************
__ADS_1
Hah... Maaf ya kalau garing percintaan Lusi dan Rian. Sebisanya ajalah ya... Karena ternyataA bikin part romantis itu susah juga..