
X-tra part (Lusi ini sahabatnya aku)
Ciuman Juna yang sekilas itu terasa begitu mengejutkan. Bisa-bisanya bocah itu menyolong ciuman secara tiba-tiba dan main kabur saja. Benak Lusi.
Lusi pun hanya bisa menarik napasnya perlahan.
Lusi pun juga enggan ingin menanyakan lebih lanjut. Rasanya Lusi ingin sekali menjewer telinga Juna kalau ketemu lagi. Dasar itu anak.
Dan tak lama, Renata datang bersama Nova. Saat Renata datang bersama Nova. Lisa pun tampak pergi. Mungkin Lisa merasa tidak enak bila berkumpul bersama orang yang tak ia kenali. Lalu Lisa pun keluar ruangan.
Tampak mama yang duduk disamping Lusi. Ia terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Mama bersukur, bahwa Rian kini telah sadar Lusi" ucap Renata.
Lusi pun tersenyum, "iya ma Alhamdulilah"
"Untuk soal kasus ini.. Dan semua sudah mama serahkan ke pihak pengcara mama. Untuk membawa masalah Adit ke kantor polisi"
"Iya ma... Sebenarnya Lusi tidak ingin kasus ini sampai dibawa kantor polisi. Tapi bila mengingat betapa teganya Adit, mungkin memang ini adalah jalan yang terbaik ma"
"Kamu tidak usah memikirkan soal Adit lagi. Kamu fokus sama anak kamu saja ya"
Dan saat itu juga.. Nova tampak memandang Lusi. Yang saat itu Nova ikut datang bersama Renata.
"Saya bawakan kamu hadiah untuk anak kamu" ucap Nova.
Lusi pun tampak kaget atas apa yang diucapkan.
Meskipun Nova terlihat jutek pada Lusi namun ia ternyata baik juga.
"Terimakasih nyonya" ucap Lusi tersenyum. "Saya pun terimakasih banyak juga sama nyonya karena sudah menolong saya"
"Saya banyak terimakasih sama kamu Nova. Saya tidak tahu akan bagaimana.. bila Lusi tidak bertemu dengan mu saat itu" ucap Renata.
"Ya.. Meskipun saya benci menantu mu, namun saya tidak tega juga melihat dia sedang hamil dijalan sendirian" ucap Nova.
Nova pun berjalan menuju Fabio. Dan memandangnya. Anak Rian yang begitu tampak menggemaskan. "Boleh saya menggendongnya"
"Oh, tentu boleh" ucap Lusi.
Lalu Nova pun menggendongnya penuh dengan kasih sayang. Sambil memandangnya yang sedang tertidur. Ia pun sebenarnya ingin sekali menimang cucu. Namun apalah daya, Zelda belum menikah. Jadi ia hanya bisa terharu, saat menggendong Fabio. Meskipun Nova membenci keadaan karena Zelda gagal menikah dengan Rian. Namun perlahan ia mulai bisa menerima kenyataan itu, apalagi saat ia menggendong baby Fabio. Semakin ia iba dan tidak bisa terus menyalahkan keadaan.
Lusi pun senang saat Nova mau menggendong bayinya.
"Fabio juga pun banyak terimakasih sama Oma Nova" ucap Lusi.
"Oh jadi dia namanya Fabio" ucap Nova.
"Siapa yang kasih nama Lusi?"tanya Renata.
"Siapa lagi ma kalau bukan Rian" jawab Lusi.
Renata pun tampak tersenyum.
Dan tak lama telepon Nova pun berbunyi. Nova pun mengangkat telepon yang ternyata dari Zelda.
"Ma, dimana?" Tanya Zelda di telpon.
"Di RS nih"
"Ngapain?"
"Jenguk anaknya Rian"
"Alhamdulillah ma. Akhirnya udah lahir anaknya. Rumah sakit mana?"
"Rumah Sakit sehat"
"Laki-laki atau perempuan ma?"
"Laki-laki"
"Oh oke"
Lalu saat itu juga Zelda pun langsung menelpon Fany. Memberitahu bahwa Lusi sudah melahirkan. Karena Lusi sahabatnya Fani jadi itu adalah hal yang wajib. Untuk Fany tahu soal Lusi yang kini sudah melahirkan.
Dan dengan cepat Fany langsung otw ke rumah sakit Sehat. Apalagi kalau bukan Bertemu dengan sahabat tercinta. Dan Fany pun tampak membawa kado yang banyak untuk anaknya lusi. Kado yang ia bawa di bantu oleh para asisten pribadinya.
(Biasalah horang kaya)
__ADS_1
Dan Didalam ruangan masih tampak Nova, yang belum pulang.
Nova pun tampak kaget saat Fany datang. Apalagi membawa kado yang banyak.
"Kamu kok disini?" Ucap Nova kaget melihat anak bungsu nya dirumah sakit. Dan ke runag rawat Lusi.
"Loh.. kok mami disini"
"Kamu ngapain disini?" Tanya Nova lagi.
"Justru aku yang nanya kenapa mami disini" ucap Fany.
Sebelumnya Fany memang tak tahu kalau mamanya ada di rumah sakit untuk menjenguk Lusi. Karena Zelda hanya bilang bahwa Lusi sudah melahirkan dirumah sakit sehat. Dan pertemuan keduanya agak membuat kaget
"Lah, mi.. Lusi ini sahabatnya aku. Apa mami sahabat nya Lusi juga" ucap Fany.
"Bukan gitu, mami tadi malam gak sengaja. Ketemu Lusi dijalan, terus mami menolongnya. Eh ternyata dia malah mau melahirkan" Nova menjelaskan.
"Seriusan mami nolongin Lusi" tanya Fani kaget.
"Iya, emang kenapa?"
"Aduh kali ini aku gak salah punya emak kaya mami" ucap Fany mengacungkan kedua jempolnya.
"Karena Lusi ini bukan sekedar sahabat mi.. tapi dia lebih dari sahabat"
"Kamu sahabatan sama dia" ucap Nova heran.
"Iya.. dari jaman Lusi masih kuliah. dan Aku dulu pernah di tolong sama kak Lusi juga"
Nova pun tampak kaget dan melihat ke arah Lusi.
Lalu Lusi pun tampak tersenyum.
"Jadi mami gak salah dong nolongin Lusi"
"Mami bener-bener gak salah mi. Justru aku terimakasih sama mami..sudah menolong kak Lusi yang udah aku anggap kakak aku sendiri"
Tak lama Zelda pun datang juga membawa hadiah.
Seett...
"Kamu kenapa datang juga" Nova heran yang kali ini tampak anak sulungnya yang datang.
"Ya apalagi lagi kalau bukan jenguk Lusi mi" jawab Zelda.
"Ya ampun.. Jangan bilang kamu kenal juga sama Lusi"
"Ya pasti dong. Ini buktinya aku bawa kan hadiah untuk anaknya" ucap Zelda. Dan Lalu menaruh hadiah nya diatas meja dan memeluk Lusi. "Selamat ya" ucap Zelda tersenyum.
"Terimakasih Zelda" ucap Lusi.
"Haduh saya tidak menyangka, kalau ternyata anak-anak saya bersahabat dengan perempuan ini" ucap Nova memijat keningnya.
Zelda dan Fany pun hanya tampak tersenyum melihat Maminya tampak bingung.
"Mi, walaupun aku gagal menikah dengan Rian. Namun aku dan Lusi bukan berati bermusuhan. Justru kita putuskan memang untuk jadi sahabat. Lusi ini wanita yang baik mi. Saat Fany di Jogja, Lusi lah yang mampu merubah Fany hingga sampai saat ini. Dia juga yang sudah buat Fany sadar saat Fany nyaris mau bunuh diri saat ia putus asa" ucap Zelda.
"Benar begitu?"
"Iya mi" jawab Fany membenarkan.
"Coba mami bayangkan kalau saat itu tidak ada Lusi. Kita semua bisa kehilangan Fany untuk selamanya" ucap Zelda.
"Baiklah. Mungkin saya pernah salah membenci lusi. Dan Sepertinya, saya pun memang tidak harus membenci Lusi. Yang sudah menyelematkan anak saya Fany" ucap Nova.
"Mi, kali ini aku bangga sama mami.. karena mami sudah menolong orang. Yang sudah berkorban buat aku mi" ucap Fany tersenyum dan memeluk sang mami.
*****
Setelah itu mereka pun pulang.
Sore harinya,
tampak Ayah dan ibu datang menjenguk Lusi dirumah sakit. Betapa senangnya Ayah dan ibu. Yang akhirnya memiliki cucu. Sesampainya, ibu pun tampak memeluk Lusi, bersyukur cucunya sudah lahir dengan selamat dan juga sehat.
"Alhamdulillah nak, ibu terharu akhirnya ibu menimang cucu juga" ucap Ibu sambil memandang Fabio. "Aduh, ganteng lagi"
"Ayah juga seneng, punya jagoan akhirnya. Bisa ajak main bola ini.
__ADS_1
Lusi pun tampak tersenyum.
Lalu ibu pun tampak menggendong Fabio.
"Uhh.. lucunya cucu ibu"
Tidak lama Lisa pun datang. Sambil membawa makanan dan minuman untuk ayah dan ibu. Sekedar untuk cemilan disore hari. Lisa membawa donat dan air mineral. Dan juga Snack ringan.
Lisa pun tampak memandang kakaknya.
"Kak?" Panggil Lisa.
"Apa?" Jawab Lusi.
"Juna, kakak apaain.. aku ajak Juna kesini kok dia gak mau ya" ucap Lisa.
"kamu jangan tanya kakak, harusnya kamu tanya Juna langsung. Kenapa dia gak mau kesini"
"Biasanya dia paling semangat kalau aku ajak ketemu kakak"
"Biarin ajalah, dia gak kesini juga. Gak ngaruh juga kan"
"Ikh, kok kakak kaya lagi berantem gitu sih"
"Siapa yang berantem. Biarin aja lah. Kakak juga lagi males bahas dia"
"Mmm.. oke oke" ucap Lisa. Lalu Lisa pun memperhatikan Fabio yang sedang di gendong oleh ibu.
"Bu, aku coba gendong boleh gak. Selama ini aku kan gak pernah punya adik. Rasanya lihat bayi itu hampir jarang deh Bu" ucap Lisa.
"Yaudah itung-itung kamu latihan", ucap ibu memberikan Fabio ke tangan ke Lisa.
Lalu Lisa pun tampak tersenyum melihat keponakannya. Lalu dengan senang hati, Lisa pun mengendong Fabio.
"ini anaknya Rian ya. Gak nyangka.. heheh" ucap Lisa memandang Fabio.
"Mudah-mudahan kamu udah gede jangan kaya bapak kamu ya. Yang pikirannya mesum melulu. Liat nih Bu... Masa masih bayik aja udah mesum gini. Ngusel dada Mulu"
"anak kecil gak mungkin mesum Lisa. Itu berati tandanya dia haus, ia sedang mencari putingg ibunya" ucap Ibu.
"Oh gitu.. aku kan gak tahu bu"Lalu Lisa pun memberikan Fabio kepada Lusi. Untuk di berikan ASI.
"Tapi biasanya buah itu jatuh emang gak jauh dari pohonnya" ucap Lisa lagi.
"Ampun deh Lisa. Kamu ucapan jelek-jelek Mulu" sahut Lusi.
"Ini berdasarkan fakta kak. Aku gak bisa bayangin kalau kakak bakal urus Rian junior juga. Pasti bakal pusing banget. Ngurusin bapaknya aja udah bikin pusing. eh ini ditambah lagi anaknya"
Ibu pun langsung mencubit lengan Lisa.
"Kamu ini ya, kalau ngomong asal aja. Lusi.. Jangan dengerin Lisa.. Lisa kamu aja gak pernah sadar. Ibu pun ngurusin kamu ampe darah tinggi ibu kumat. Kamu gak pernah ingat ya.." ibu mengomel.
"Yailah Bu. Itu mah bukan salah Lisa. Salah ibu.. Ibu nya ajah yang gak bisa nahan emosi. Darah tingginya naik dah"
"Kalau bukan karena kamu. Ibu gak mungkin naik darah" timpal ibu yang tidak terima.
"Ibu kalau sakit ke dokter. Bukan salahin Lisa. Emang kalau salahin Lisa, ibu bisa sembuh gitu" ucap Lisa tak mau kalah.
"Kamu itu jadi anak. Balesin Mulu ucapan orang tua. Kamu mau jadi anak durhaka"
"Aku tuh bukan mau jadi anak durhaka bu. Kalau aku balesin ucapan ibu kan wajar Bu. Biar ibu gak nyalahin aku terus"
"Emang dasar kamu ya"
Ayah pun tampak hanya menarik napasnya dan memandang ibu dan Lisa. sambil melipat tangannya. Melihat kelakuan ibu dan Lisa yang berseteru.
"Sudah.. sudah.. ibu dan Lisa ini samanya saja... Ini kan rumah sakit bisa gak sih jangan berisik. Lihat cucu ayah kasihan mendengar suara kalian yang ributin hal yang gak jelas"
"Iya maaf" ucap Lisa.
"Lagi juga Lisa. Dari siapapun anak kakak lahir. Mau siapapun bapaknya. Anak ini tetap lah anak kakak Lisa. Yang harus dijaga dan rawat dengan kasih sayang. Jadi, jangan pernah berfikiran jelek dari siapa anak ini terlahir" ucap Lusi.
"Iya kak"
********
Dah gitu aja dulu.. gak mau naro konflik. Heheheh Ini kan udah end..
Masih ada lah satu atau dua episode laahhhh. abis itu kayanya mang bener-beenr selesai..soalnya ini cuma mau ngelurusin yang bengkok bengkok..
__ADS_1