
Part 38(Dicampakan begitu menyakitkan)(Sesion 2)
Akhirnya Lusi pun sampai juga di Jojgakarta. Dengan tampilan casual nan elegan. Lusi sampai di Jogja layaknya wisatawan yang ingin berlibur. Sudah lama sekali ia tidak melangkahkan kaki di kota Jogja.
Setelah sampai ia pun naik taksi untuk ke kostan barunya. Kali ini ia pindah kostan yang lebih dekat dengan kampus. Agar lebih efisien. Sebelum ke kostan ia pun mampir dulu sebentar, untuk makan gudeg langganan tempat biasa ia makan.
Beberapa selang kemudian, ia pun sampai. Dan sesampainya ia pun membereskan pakaian yang di kopernya dan memasuknnya dalam lemari. Setelah selesai, merebahkan badannya yang terasa lelah itu.
Beberapa kali ia mengecek ponselnya. Mungkin saja ada pesan dari Rian. Untuk menanyakan kabarnya. Ternyata masih belum juga.
Nih orang kemana sih. Gak romantis banget. Tanya dong gitu, aku udah sampai mana. Benak Lusi sambil cemberut memandangi ponselnya.
Seketika ia pun teringat bahwa Rian tidak punya nomer handphone miliknya, dan sebaliknya Lusi pun tidak memiliki nomor handphone nya.
"Baru ingat ini kan nomer baru, ponsel baru juga. Bahkan aku tidak punya nomernya Rian. Sepertinya Rian pun tidak punya nomerku"
Maklum saja semenjak Lusi mengalami gangguan jiwa. ponsel yang lama pun. Hilang entah kemana.
Lalu Lusi pun melamun, sambil memandangi langit kostan.
suasana sepi sekali, jika kemarin aku merasa bahagia bisa dekat dengan keluarga. Sampai kostan kini aku benar-benar merasa sendiri. gak ada temen ngobrol, temen makan, apalagi curhat. Semua terasa sepi.
Tiba-tiba saja ada panggilan masuk. Ternyata Lisa..
"Hallo kak, kakak sudah sampai di Jogja"
"Iya. Sudah"
"Sukur deh"
"Lisa, kakak minta nomer Rian dong. Secara kamu kan dulu pacarnya. Pasti punya dong nomernya"
"Astaga, kakak tunangannya gak punya nomer Rian"
Lalu Lisa pun menyebutkan nomer Rian tanpa kesulitan alias di luar kepala.
"Hapal banget sih"
"Yaiyalah kak secara dulu kan??? Tapi Itu dulu ya, dia pernah jadi seseorang di hati aku" ucap Lisa mau muntah "Ueekkkkkk"
__ADS_1
"So sweet" ucap Lusi sambil tersenyum. "Yaudah thanks ya"
Lalu Lusi pun menelpon Rian. Awal pertama tidak ada jawaban. Yang ke dua baru di jawab.
"Hallo" suara Rian.
Lalu Lusi pun agak gugup.
"Ini a..aku Rian?" ucap Lusi terbata.
"Iya siapa?" ucap Rian
"Lusi"
"Ada apa lagi"
"Mau ngecek aja. Kira-kira aku masih ingat kamu atau gak. Ternyata masih inget"
"bagus. Itu tandanya kamu normal gak gila kaya dulu"
"Kok kamu ngomong nya begitu. Oia.. Aku akan jelaskan soal perjanjian itu"
"Darimana?" tanya Lusi
"Dah lah gak ada yang perlu di omongin lagi kan. Aku sibuk banyak kerjaan"
"oh, kalau gitu selamat"
Tiba-tiba saja teleponnya dimatikan Rian.
"Hah padahal kan aku cuma mau bilang selamat berkerja"
Lalu Lusi pun menelponnya lagi. Namun malah dimatikan oleh Rian. Sampai beberapa kali Lusi menelpon pun panggilan Lusi semua di alihkan.
Sampai pada akhirnya Lusi menyerah. Dan melepaskan ponselnya dari genggamannya. Ia merasa sedih bercampur kesal.
"Ternyata rasanya di campakan pria itu seperti ini ya. Seumur hidup. Aku tidak pernah di abaikan begini oleh seorang pria. Dan untuk pertama kalinya aku di perlakukan seperti ini" benak Lusi sedih
.
__ADS_1
.
.
Keesokannya paginya, hari ini adalah hari pertama Lusi kembali ke kampus. Sesampainya di kampus. Semua mata memandang. Sepertinya mereka heran lihat Lusi, setelah 1 tahun Lusi menghilang. Dan kini ia kembali. Selama setahun, Lusi tidak kuliah dianggap cuti dadakan karena sakit. Dan kini ia mulai kembali untuk menyelesaikan kuliah dan skripsinya itu.
Lalu sesampainya di kampus. Ya biasalah, teman laki-laki pasti ingin kenalan atau sekedar menggoda. Namun Lusi tidak mau di pengaruhi siapapun mengingat kini sudah bertunangan dengan Rian.
Namun sudah berkali-kali juga
Lusi menelpon, masih tidak ada jawaban dari Rian. Tak lama berselang akhirnya Rian pun menjawab Lusi pun senang namun....
"Bisa gak sih gak telponin orang terus?!? Kerjaan lu gangguin hidup orang mulu?!? Urusin hidup lu" ucap Rian membentak.
"kamu kok begitu"
"Kenapa??? " ucap Rian lantang.
"Ngomongnya kasar?!?"
"Dasar mantan orang gila?!? Gak tahu diri.." ucap Rian langsung menutup telepon.
Lusi pun kaget dengan apa yang dikatakan Rian. sontak air mata Lusi tidak mampu terbendung dan ia pun menangis.
Kamu tega Rian. Kamu kenapa begini. Kini aku sedih bukan karena aku tidak mencintai kamu. Tapi aku sedih disaat kamu mencampakan dan mengecewakan aku. Bisakah kamu memikirkan perasaan aku ini...benak Lusi sambil menangis.
.
.
.
.
.
(Buat readers jangan lupa di like yo)
(Jangan lupa juga, jaga jarak, memakai masker dan rajin mencuci tangan)
__ADS_1
(Semoga kita selalu sehat😊) AMIN