Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Bukan Anak Haram


__ADS_3

Part 127 (Bukan anak haram)(sesion 2)


Selama kehamilan Lusi tidak terlalu memanjakan dirinya sendiri. Sadar tak ada suami yang menemani. Mau manja, manja pada siapa. Suami tak ada, pacar pun Lusi sepertinya tidak mungkin.


Namun..


Kalau cuma ngidam rujak atau makan-makanan pedas sepertinya Lusi bisa membeli sendiri. Atau membuatnya sendiri. Jadi gak perlu lah ngerepotin orang.


Waktu tak terasa berlalu kini kandungan Lusi sudah menginjak 5 bulan, jalan 6 bulan. Perut Lusi sudah semakin membesar, sepertinya akan sulit untuk di tutupi seiring berjalannya waktu. Dan itu membuat Lusi kesulitan untuk memakai pakaian kerjanya. Kebetulan kalau hari kamis dan Jumat di kantor semua pegawai harus menggunakan seragam batik yang sama. Terlihat Lusi yang sulit memakai seragam kerjanya Karena sudah kesempitan pada bagian perutnya. Dan celananya pun juga sudah tidak muat. Itu membuat Lusi sulit untuk mengancingi pakaiannya. Tampak Lisa yang memperhatikan kakaknya.


"Kak, pakai baju hamil aja sih kak" ucap Lisa.


"Di kantor gak ada yang tahu kalau kakak ini hamil Lisa. Kalau tiba-tiba kakak pakai baju hamil. Orang kantor bakal kaget banget" ucap Lusi melihat dirinya di cermin.


"Jadi maksudnya, orang kantor taunya kakak itu masih gadis ya?" Tanya Lisa.


"Sepertinya sih iya, karena KTP kakak kan status nya belum menikah. Dan taunya mereka kakak ini memang belum menikah"


"Halah, gadis rasa janda"


"Ya kurang lebihnya seperti itu" jawab Lusi.


"Emang Rian bener-bener sama sekali gak mau tanggung jawab atas anak dalam kandungan kakak" tanya Lisa.


Lusi pun menggelengkan kepalanya. Hati Lusi terasa sesak mendengar pertanyaan adiknya itu.


"Tapi semakin hari anak dalam kandungan kakak pasti akan membesar. Tidak mungkin kakak bisa tutupin kan" ucap Lisa.


"Iya Lisa. Anak dalam kandungan kakak Takan bisa ditutupin" ucap Lusi. "Kakak juga gak mau egois, besok kakak beli baju baru yang lebih besar" ucap Lusi.


"Iya kak, kasian baby nya"


Setelah itu Lusi pun berangkat ke kantor. Untuk kali ini Lusi masih memakai seragam kantor yang kekecilan itu.


Soal kerjaan, Lusi pun hanya bisa pasrah kalau suatu saat nanti dirinya di pecat dari kantor karena kehamilannya. Namun Lusi sudah persiapkan semua itu, setiap kali gajian Lusi selalu menyisihkan uangnya untuk ditabung. Untuk biaya melahirkan nanti. Karena Lusi tidak mau bila merepotkan Ayah atau ibunya.


Saat di kantor benar saja tampak orang yang mulai heboh dengan Lusi yang terlihat besar pada bagian perutnya. Dan sudah pasti menjadi bahan gunjingan untuk anak-anak di kantor. Di tambah lagi Lusi yang terkenal karena kecantikannya, menjadi semakin ramai anak-anak membicarakan Lusi. Lusi yang dianggap mereka masih single dan wanita baik-baik ini tau-tau hamil. sudah pasti menjadi bulan bulanan teman sekantor.


Saat Lusi berjalan dan tampak mereka yang memperhatikan Lusi dengan seksama. Lusi pun hanya bisa menundukkan kepalanya merasa pasrah dengan pikiran negatif mereka. Menegur pun sepertinya Lusi enggan melihat wajah teman kantor-kantornya yang terlihat sinis itu.


Saat Lusi menaik lift. Terasa sekali di telinga Lusi, saat orang lain membicarakan dirinya. Lusi yang berada didepan pintu lift, Lusi hanya bisa mendengar tidak mau melihat sama sekali orang yang membicarakan dirinya. Dan sepertinya mereka tidak sadar bahwa ada Lusi di depan mereka.


"Lu tau gak sih, gosip terbaru" ucap teman satu kantornya.


"Apaan tuh"


"biasalah, masalah hamil di luar nikah"


"Siapa?"


"Anak lantai 7"


"kayanya gua tahu orangnya.. buat apa ya Cantik doang, tapi sayang hamil duluan!!!" celetuk teman kantornya yang berbeda divisi dengan Lusi.


"Iya, mending gue dong" ucap temennya lagi.


"Hihihi cantik doang tapi murahan" cibiran teman kantornya lagi.


Seketika hati Lusi pun merasa teriris dengan ucapan mereka.


Lusi pun berusaha menguatkan hatinya yang sangat sakit. membuat Lusi harus mengelus dadanya berkali-kali.


Sabar, sabar Lusi jangan kebawa emosi. Sabar..benak Lusi menguatkan hatinya.


Lusi pun langsung keluar dari lift dengan berjalan cepat.


Sesampainya di meja kerja Lusi pun langsung menarik napasnya dalam-dalam merileks kan dirinya.


Tiba-tiba Mba Sinta menghampiri.


"Lusi.." panggil Mba Sinta.


"Ya mba"


"Itu kancing baju kamu terbuka" ucap Mba Sinta.


Sontak Lusi kaget langsung melihat baju dengan kancing terbuka pada bagian perut, seragam kantor yang Lusi miliki memang sudah kekecilan sekali. Mengingat tubuh Lusi yang langsing itu kini membesar karena kehamilannya.

__ADS_1


"Lusi, baju kamu kekecilan atau bagaimana sih" ucap Mba Sinta.


"Hem, iya kayanya mba"


"Kamu minta aja baju batik yang khusus hamil" ucap Mba Sinta.


Lusi pun langsung bengong dengan ucapan mba Sinta yang tahu dirinya hamil. Namun terlihat santai dan tidak heboh seperti yang lain.


"Gak usah kamu tutupin, mba tahu kok kamu hamil" ucap Mba Sinta lagi.


Lusi pun tampak terdiam, sambil memijat keningnya.


"Terus, cowok yang hamilin kamu tanggung jawabkan" ucap Mba Sinta.


Lusi pun tampak menghela napasnya.


" Ya gitu deh gak jelas, tapi dia orang sini mba" ucap Lusi.


"Siapa?" Tanya mba Sinta mulai kepo.


"Adalah orangnya, aku sih biarin ajah mba gak mau ngemis-ngemis meminta pertanggung jawaban itu orang. Nanti juga dia akan mengaku sendiri kalau aku mengandung anaknya" ucap Lusi.


"Tapi udah pasrah juga, kalau dia gak mau mengakui. Biarin aja lah, aku udah ikhlas merawat anak aku sendirian" ucap Lusi lagi.


Mba Santi pun menghela napasnya dan mengelus pundak Lusi.


"Ya ampun, sekarang mba paham kenapa kamu tolak Lutfi waktu itu. Ternyata hubungan kamu dengan kekasih kamu sudah sejauh ini ya. Yang kuat ya.." ucap Mba Santi.


Lusi pun mengangguk.


Lalu setelah itu Lusi pun ke lantai 3, membawa berkas laporannya.


Tiba-tiba saat Lusi sedang berjalan. Ada yang menyelengkat kaki Lusi. Lusi pun terjatuh.


Brrruuuukkk..


Beruntung Lusi terjatuh dalam posisi miring dan tidak mengenai perutnya.


dan tampak dengan jelas di hadapannya ada Mela , yang Sepertinya Mela ini sengaja sekali melakukan itu kepada Lusi.


Lusi pun merasa kesal atas kelakuan Mela yang ternyata masih saja jahat pada dirinya. Terlebih lagi Lusi saat ini sedang hamil. Dan Lusi tidak mau anak dalam perutnya sampai kenapa-napa.


"aku sengaja" ucap Mela santai.


"Sengaja, Kamu tega banget sih Mel" ucap Lusi.


"Buat apa lah gue baik sama orang kaya Lu. Gak guna"


"Kenapa gitu sih Mel, Aku salah apa sama kamu?" Ucap Lusi sambil menitihkan air matanya.


"Lu hamilkan" ucap Mela.


Lusi pun tampak terdiam.


"Sekarang gue mau lu ngaku, lu hamilkan!!" ucap Mela lagi.


"Iya aku hamil, kenapa emangnya.. masalah buat kamu!!" ucap Lusi.


"Masalah sih nggak, cuma gue kasihan sama lu aja yang ternyata hamil anak haram"


Lusi pun tercengang dengan ucapan Mela yang merendahkan dirinya, dan tanpa di ayak itu.


karena saking kesalnya, Lusi pun langsung menampar Mela dengan keras.


Plaaaakkkk..


"Stop Mel. Kamu jahat, anak yang aku kandung ini bukanlah anak haram" ucap Lusi kesal.


Sontak ucapan Lusi yang terdengar teman sekantor pun heran dengan pengakuan Lusi sendiri soal kehamilannya.


ya, memang pada saat itu ada sebagian teman kantor yang melihat Lusi dan Mela berkehali. tapi sialnya mereka memperhatikan. tanpa memisahkan.


"Beraninya lu nampar gue lagi!!!" ucap Mela kesal.


karena Mela kesal pada Lusi yang telah menampar pipinya.


Lalu Mela pun juga menampar balik Lusi.

__ADS_1


Plaaaaaak


Lusi pun terdiam sejenak saat Mela menampar dirinya. Hati Lusi semakin teriris.


Lusi pun langsung pergi dari tempat itu sambil menangis. dan tak peduli lagi dengan Mela.


Lusi sudah tak tahan lagi dengan keadaan dirinya. Malu, kesal dan sakit hati. Lusi pun langsung turun dengan naiki lift, mencari tempat untuk menenangkan hatinya.


Sampai lah Lusi di taman yang ada di kantornya. Sambil menundukkan wajahnya Lusi menangis di bawah pohon.


Jika Lusi yang di hina, mungkin Lusi masih bisa terima. Namun jika anak dalam kandungannya, jelas Lusi tidak mau terima bila anaknya di bilang anak haram.


Tak lama waktu berselang, Rian yang baru saja datang berhenti sejenak di depan kantor. Tiba-tiba mendengar suara tangisan seorang perempuan.


Dirinya pun merasa penasaran untuk mencari sumber suara itu. Tiba-tiba terlihat Lusi dengan wajah yang sangat memerah dan penuh air mata menangis di bawah pohon.


Rian pun merasa iba dan kasihan melihat Lusi. Dengan keadaan perut yang membesar sambil menangis. Rian pun menghampiri Lusi.


Lusi yang seorang diri di bawah pohon pun langsung kaget melihat Rian di hadapannya.


"Lusi kamu menangis" tanya Rian memandang Lusi .


"Pergi kamu, pergi sana. Aku tidak butuh kamu. Aku benci sama kamu. Aku benci!!" Ucap Lusi yang menangis.


Rian pun hanya memandang Lusi.


"Aku mau mati aja, Lebih baik kamu Pergi.. pergi...!!!!" Ucap Lusi sambil menangis.


Rian pun merasa iba melihat Lusi dan langsung memeluk Lusi.


Lusi pun berusaha melepaskan pelukan Rian. Namun Rian tidak mau melepaskan. Rian memeluk erat tubuh Lusi.


Lusi pun langsung menangis terisak dalam pelukan Rian.


Entah mengapa Rian kali ini ingin memeluk Lusi yang sangat terpuruk itu.


Tampak Lusi menangis dalam pelukan Rian.


"Aku benci dengan semua ini, aku benci.." ucap Lusi sambil menangis.


Rian pun tidak berbicara, hanya diam memeluknya dengan erat.


Tiba-tiba Lusi pingsan dan masih dalam pelukan Rian. Rian pun tampak kaget sekali melihat Lusi yang pingsan.


"Lusi.. Lusi.." ucap Rian panik.


Lalu Rian membawa Lusi ke rumah sakit. Rian membawa Lusi dengan mobilnya. Saat itu keadaan sedang sepi, jadi tidak ada yang tahu bahwa Rian membawa Lusi ke rumah sakit.


Saat di rumah sakit ..


"Segera tangani dia sus" ucap Rian panik.


"Bapak siapa?" Tanya suster.


"saya suaminya" ucap Rian.


"Oh, baik silahkan ke resepsionist untuk mengisi data administrasi pak".


"Baik sus"


Lalu Rian mengisi data administrasi di resepsionis.


setelah selesai..


Rian kembali lagi untuk menemui Lusi, yang masih ditangani dokter.


Setelah selesai ditangani.


Rian pun memandangi wajah Lusi yang terlihat masih memejamkan matanya. Seketika Rian pun melihat perut Lusi yang sudah membesar. Hati Rian pun terasa perih melihat Lusi dalam keadaan hamil dan terbaring lemah.


Kali ini perasaan Rian mulai merasa bersalah pada Lusi, yang telah lama meninggalkan Lusi sendiri. Tanpa mempedulikannya sama sekali.


Tak lama kemudian Lusi pun mulai sadarkan diri, lalu melihat Rian disampingnya. Yang sedang duduk menunggu Lusi terbangun.


****************


Haduh gaes tar lagi ya dah malem mo nulis tnggung. Waktunya istrihat. Bye bye..

__ADS_1


like like like like


__ADS_2