
Part 146(Teman Kuliah)(Sesion 2)
Saat aku tertidur lalu melihat Rian yang begitu tampan. Dan baru kali ini aku merasa pasrah dicium olehnya. Bodoh sekali aku ini. Tanpa melihat kondisi saat itu sedang berada dikamar ibu mertua. Oh my God. Nanti yang ada aku dikiranya murahan lagi masa mau mauan di cium suami di kamar ibu mertua. Ah sudahlah nasi sudah menjadi bubur, aku pikir ciuman ekspress itu takan diketahui mama tapi tetap saja. Ketahuan.. iyalah ketahuan kan mama tidur bukan pingsan. Haduh bodoh banget sih kamu Lusi. Dewasa. Iya aku tahu.. Oke aku memang wanita dewasa, tapi ya jangan gini juga dong Lusi.. masa iya dikamar mama Renata dihajar juga. Kaya gak punya etika banget. benak Lusi dengan perasaan bersalahnya.
Sebetulnya tadi Renata sudah terbangun saat Rian datang. Hanya saja dia enggan untuk membuka matanya. Namun Renata akhirnya bangun saat Rian sudah melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan dikamarnya. Takut kejauhan. Renata pun juga tidak mau ambil pusing. Akhirnya pergokin mereka berdua.
.....
Saat di kamar..... Terlihat Lusi dan Rian tidur namun belum sepenuhnya pulas. Seketika Rian sedikit rungsing karena keinginan untuk hasrta lelaki nya yang belum tersalurkan. Namun ia juga tidak mau langsung to the point. Mengingat Lusi yang masih shock, karena ketangkep basah sama mama cium ciuman. Ya Rian tahu betul Lusi adalah wanita yang amatlah sulit untuk di sentuh atapun menyentuh. Apalagi lagi ini langsung ketahuan sama mama mertuanya sendiri. Dan Rian pun mengalihkan suasana agar lebih tenang dan sedikit mencair yang tadinya agak menegang.
"Aduh.. maaf ya. Tadi aku main nyosor ajah Ampe kelupaan itu di kamar mama" ucap Rian kepada Lusi.
"Salah aku juga sih kenapa aku mau mauan aja ya di sosor sama kamu dikamar mama. Kaya gak ada tempat lain aja" ucap Lusi masih menutup wajahnya dengan selimut. Karena malu. "Udah ya lain kali jangan begitu"
Rian pun tersenyum... "Padahal tadi sih udah pengen banget, tapi sekarang jadi malu sendiri" ucap Rian.
"Makanya jangan ngelakuin disembarang tempat"
Rian pun tampak menghela napasnya.
"Lusi kamu tahu gak.." tanya Rian.
"Nggak..." Jawab Lusi.
"Iya dengerin dulu aku cerita"
"Yaudah cerita aja. Aku dengerin daritadi" ucap Lusi sambil melihat Rian disampingnya.
"dulu jaman sekolah, aku pernah tahu lihat sesuatu"
"Sesuatu apa..." Tanya Lusi penasaran.
"Bayangan hitam.. aku deketin.. aku deketin tapi lama kelamaan hilang. Namun saat aku memejam kan mata bayangan itu semakin dekat" ucap Rian Berbicara penuh dengan misteri.
Lusi pun tampak bergedik takut.
"Ikh apa itu" ucap Lusi ketakutan.
"Aku rasa itu apa ya, penampakan kali ya.. atau apa ya. Kaya nya sih bener penampakan deh"
Lusi pun tampak sinis dan mencubit pinggang Rian. Karena takut.
"Awww.. haduh sakit" ucap Rian kesakitan.
"Rian kamu tega banget sih. Tengah malem gini cerita horor. Aku takut ikh" ucap Lusi kesal.
"Yaahh jangan takut dong, belom selesai ceritanya.. kok udah takut aja"
"Tau ah.. males dengerin.." ucap Lusi kesal.
"Dengerin dulu dong" pinta Rian.
"gak mau... Aku takut"
Lusi pun langsung memejamkan matanya. Beranjak tidur. Tampak mukanya marah. Saat Rian menceritakan cerita horor. Dan langsung menutup wajahnya lagi dengan selimut.
"Lusi.. kamu marah ya" tanya Rian.
"Tau ah" ucap Lusi kesal.
"Kamu kok marah sih, kan kamu anak Pramuka masa takut sama cerita horor" ucap Rian asal biar Lusi gak marah lagi.
Lusi pun tampak tak mendengar kan Rian sama sekali dan langsung memejamkan matanya. "Udahlah tidur aja jangan ganggu" ucap Lusi lagi.
"Yaah apes banget da ah. Cewek kalau takut peluk. Ini malah marah.." ucap Rian kesal namun pasrah.
Lalu Rian pun hanya memandang Lusi yang menutup seluruh wajah dan tubuhnya dengan selimut.
"Ayolah kita lanjut lagi yang tadi" ajak Rian.
Lusi pun tampak terdiam.
Yaaahhh dia malah marah. Padahal kan niat takut-takutin biar dia peluk aku. Eh malah jadi begini.. lu bodoh banget, ngapain coba malam-malam gini cerita horor. Benak Rian yang merasa menyesal tidak jadi melakukannya malam itu bersama Lusi. Karena dirinya yang menceritakan cerita horor.
"Besok besok aku mau cerita anatomi tubuh aja laah biar bisa pegang sana pegang sini. Gak kaya gini malah jadi gagal kan"
__ADS_1
.......
Lalu keesokan paginya. Terlihat Lusi yang mempersiapkan sarapan bersama. Terlihat Rian yang duduk sambil meminum kopi buatan Lusi. Dan terlihat Renata yang baru saja sampai dimeja makan.
"Ma.. maafin Rian semalem ya. Rian cuma numpang cium Lusi doang dikamar mama. Gak ngapa-ngapain itu juga gak sengaja. Karena udah lupa diri. Kebawa suasana" ucap Rian.
"Ya gak apa-apa.. lain kali kalau kalian butuh waktu berdua.. liburan aja. Sekalian bulan madu lagi.. silahkan saja" ucap Renata Sambil menikmati santap pagi.
"Mm.. kalau aku sih terserah Lusi aja. Tapi kayanya Lusi gak bakalan mau. Lusi sih orang nya kuno. Mana mau bulan madu.." tutur Rian.
"Aduh pagi-pagi bahas madu,. bulan madu sih mau mau aja. Tapi Lagi mikirin banget ini. bisa gak ya aku lahiran nanti jadi deg deg an" ucap Lusi.
"Lahiran itu bukan dipikirin, tapi di jalanin.. Yah bisa lah. Masa bikinnya bisa lahirannya gak bisa. Jangan mau kalah sama kucing yang anaknya banyak lahirannya gampang-gampang aja" jawab Rian seenak jidatnya.
Lusi pun hanya menghela napasnya. Dan lalu duduk dan sarapan. Dan tidak menghiraukan apa yang dikatakan Rian.
"Sebelumnya Kamu kalau berangkat kerja naik apa" tanya mama.
"Ojek atau busway" jawab Lusi.
"Kalau Rian lagi keluar kota. Pakai aja mobilnya mama. Mama punya dua. Yang merah itu kamu pakai. Itu jarang mama pakai. matic juga gampang pasti pakainya. Dulu gak niat beli, tapi platnya cantik. Hurufnya RNT jadi mama beli aja"
"Gak usah ma, Lusi gak apa-apa kok. Kalau gak naik mobil" jawab Lusi.
"Eh jangan begitu. malah harusnya mama jangan kasih kamu mobil bekas ya. Harusnya malah yang baru"
Lusi pun hanya tersenyum.
Lalu mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat ke kantor.
Lusi pun berangkat ke kantor bersama Rian. Menyusuri jalanan ibu kota yang memang tampak macet. Dalam perjalanan Lusi hanya tampak terdiam sambil memandang jalan. Tanpa berbicara sepatah kata pun. Dan Lusi tampak melihat anak jalanan yang berada di Ibu Kota. Yang sebenarnya amat disayangkan. Diusia sekolahnya masih harus berjuang menghidupi dirinya sendiri.
"Coba berhenti, di depan anak kecil itu. Kasihan sekali dia" ucap Lusi.
"Mau ngapain..?" Tanya Rian.
"Mau kasih uang, tidak banyak sih namun cukup lah" ucap Lusi.
Lalu Rian pun berhenti, dan menepi. Lalu Lusi pun membuka pintu mobilnya dan turun. Dan memberikan uang sebanyak pecahan ratusan ribu. Sebanyak tiga lembar.
"Iya ambilah" jawab Lusi.
"Makasih banyak"
Lusi pun tersenyum. "Sama-sama"
Lalu Lusi pun kembali kedalam mobil Rian. Dan duduk lagi, kali ini dengan perasaan senang karena telah memberi sebagian rejekinya.
"Baik banget kamu"
"Ah biasa ajah. Gak tahu kenapa aku setiap kali aku kasih sesuatu kepada orang lain. Justru aku yang malah lebih seneng" ucap Lusi.
"Seneng dapet pahala"
"Senengnya itu ya.. susah untuk diungkapkan dengan kata-kata, seneng lah pokoknya. Seolah olah seperti aku yang dapet rejeki"
Rian pun tersenyum dan mengelus rambut Lusi yang terurai.
Sesampainya di kantor, Lusi pun berhenti didepan kantor bersama Rian. Tiba-tiba ia tidak sengaja bertemu teman semasa kuliahnya yaitu Elang. dan Elang yang melihat Lusi tampak menegurnya.
"Hai..." Ucap Elang memanggil Lusi.
Lusi pun tampak kaget dan tersenyum.
"Hai juga" jawab Lusi.
"Masih ingat gak" tanya Elang.
"Ingat" jawab Lusi.
"Ini siapa, suami Lo.." tanya Elang lagi. sambil melihat Rian.
"Iya" jawab Lusi.
"Jadi juga lu ya. Sama anak motor ini", ucap Elang.
__ADS_1
Lusi pun hanya tersenyum. Rian pun tersenyum juga, namun tidak biacara. Karena meskipun Rian satu kampus dengan Elang namun Rian tidak terlalu akrab. Karena beda fakultas dengan nya.
"Kamu kerja disini juga" tanya Lusi.
"Oh, nggak. Kebetulan gua mau Anter makanan buat cewek gue. Cewek gue kerja disini" jawab Elang.
"Oh..."
Lalu tak lama sesosok perempuan melambaikan tangannya.
"Nah itu cewek gue" ucap Elang melambaikan tangan pada pacarnya.
Lusi pun menoleh dan ternyata itu adalah Mela.
"Oh itu.. oke"
Lusi pun tersenyum melihat Mella.
"yaudah aku duluan ya. Bye", ucap Lusi pergi bersama Rian.
Dan langsung meninggalkan Elang.
Mela pun tampak heran melihat pacar barunya yang mengobrol akrab dengan Lusi. Dan lalu menghampirinya.
"Kok kamu ngbrol sih sama dia. Emangnya kamu kenal sama dia" tanya Mela.
"Kenal dong Mel, itu kan temen kuliah aku dulu" jawab Elang.
"Yang mana, Rian atau Lusi" tanya Mela lagi.
"Dua duanya Mela.. dia itu emang dari dulu udah Deket"
"Apa kamu bilang" tanya Mela kaget.
"Iya, cuma kalau sama Rian aku gak akrab beda jurusan soalnya. Kalau sama Lusi satu jurusan"
"Jadi mereka itu emang udah saling kenal dari dulu" tanya Mela lagi.
"Yaiyalah. secara satu kampus itu tahu mereka. Lusi itu terkenal cantik dan pinter. Kalau Rian terkenal paling bandel di kampus. Dan satu kampus itu sempet geger, gara-gara mereka Deket kaya pacaran. Tapi aku kira gosip tapi taunya malah beneran"
"Kamu tau gak sih, Rian itu yang punya perusaahan di tempat aku kerja"
"Masa sih, padahal, dikampus Rian biasa aja gak kliatan tajir"
Lalu Mela pun tampak terdiam dan sedikit berfikir akan kesalahannya pada Lusi.
"Kamu kenapa?" Tanya Elang.
"Aku salah selama ini" ucap Mela.
"Salah kenapa?" Tanya Elang.
"Aku salah mengira, aku dulu sempet benci sama Lusi. Karena waktu itu Lusi pernah deketin pak Rian. Dan aku benci sama Lusi yang kerjaan cuma cari muka aja sama bos bos di perusahaan ini. Tapi.. Ternyata aku salah. Lusi itu emang sudah kenal pak Rian dari dulu ya"
"Kamu gak akur sama dia"
"Iya, kita pernah berantem jenggut-jenggutan. Guling-gulingan. Intinya aku pernah membencinya karena pernah dia deketin Pak Rian. Yang seorang Direktur. Tapi ternyata..."
"Yaah, kalau memang sekiranya kamu salah. Minta maaf aja. Yang aku tahu dari dulu Lusi itu orangnya baik. Dia pasti maafin kamu" ucap Elang tersenyum.
Mela pun tampak tersenyum.
........
*********
baru up.. sorry.. kebanyakan nton olimpiade Tokyo nih. terus aku sakit juga. sama suami jadi dilarang nulis... kalau bandel nanti diomelin Ama dia. terus di pelototin.. terus dia ngoceh ngoceh deh gak jelas. karena dia sebel kalau gue kebanyakan main hape.. apalagi kalau tahu aku nulis beginian. nanti dia keluar tanduknya. dan ah sudah dipastikan dia akan marah.
jadi ya begitulah sebisanya ajah. kadang nyicil sehari satu paragraf. kadang kaga nulis sama sekali.
haha maaf kalau suka gak nyambung nih cerita.. biasalah sibuk ini itu. maaf juga kalau ceritanya jelek.. orangnya nulis juga setengah setengah.. hehhehe..
dan aku kasih ringan2 aja. ini di ganti covernya biar gak gelap gelap amat..
Jangan lupa like like..
__ADS_1