Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Tidak Butuh Kamu


__ADS_3

Part 125 (Tidak Butuh Kamu)(Sesion2)


Lalu setelah itu..


Tampak pukul 05.00 sore, itu artinya jam pulang. Terlihat Lusi yang bergegas pulang dari kantor.


Tiba-tiba Adit menghampiri Lusi. Lusi enggan sekali menemuinya, mengingat betapa kurang ajarnya si Adit. mencari kesempatan dalam kesempitan dalam hidupnya Lusi. dan kali ini Adit menemui Lusi dengan harapan yang sama. berusaha agar Lusi mau pulang bersamanya.


"Jika kamu menginginkan handphone dan tas mu pulanglah bersama ku" ucap Adit menatap Lusi. sambil memandang Lusi dari atas sampai bawah. ah rasanya, menjijikan sekali.


"Saya butuh handphone ku. Namun saya tidak butuh bapak" ucap Lusi tidak mau menatap Adit sama sekali.


"Kamu harus mau itulah syaratnya" ucap Adit memandang Lusi sangat tajam.


"Oh, itu syaratnya. Baiklah kalau gitu ambil saja handphone itu untuk bapak sekalian sama charger dan headsetnya, kalau bapak mau nanti saya bawakan juga"


lalu Adit pun menarik tangan Lusi.


"kumohon.. mau lah pulang bersama ku. Kali ini saja, saya tidak akan mengulanginya lagi" ucap Adit.


"Terimakasih atas tumpangan bapak. Tapi saya tidak butuh tukang ojek mesum seperti bapak. Saya permisi."


Lalu Lusi pun pergi. Dan langsung meninggalkan Adit tanpa pedulikannya.


Ya Tuhan jauhkan lah aku dari orang seperti Adit. benak Lusi.


Dan..


Saat Lusi sedang menunggu, angkutan umum. tiba-tiba Juna datang dengan motor sportnya. Terlihat anak -anak lain memandang kegantengan pria muda yang bernama Juna itu. Ya Juna memang tamvan hanya saja terlalu unyu-unyu dan menggemaskan bagi Lusi.


Ah.. benar saja, ternyata Juna ini datang sengaja untuk menjemput Lusi. Lusi pun senang saat Juna datang. karena dapat menghindari Adit.


"Juna, ngapain disini" ucap Lusi kaget.


"Iya aku datang menjemput mu nona" ucap Juna tersenyum.


"Siapa yang menyuruh" ucap Lusi.


"Insiatif"


"Mm.. insiatif mu bagus juga." ucap Lusi tersenyum.


Tiba-tiba tidak sengaja, Rian yang mau pulang mendadak langsung kaget melihat Juna dengan Lusi berdua. Dengan cepat pemilik perusahaan itu langsung menghampiri mereka.


"Ngapain kamu kesini!!!" ucap Rian ketus.


"Aku datang untuk menjemput nona manis ini"ucap Juna.


"Apa kamu bilang nona manis!!!" ucap Rian kesal.


"Iya dia nona manis, bahkan terlalu manis. Dan aku sangatlah suka dengannya" ucap Juna tersenyum memandang Lusi.


Rian pun tampak kesal sekali pada Juna.


"Iya, aku yang menyuruh Juna untuk menjemput aku pulang. Apakah salah bila Juna ingin mengantar ku pulang" ucap Lusi.

__ADS_1


"Oh jadi setelah Adit kamu mau mengincar Juna juga. iya begitu??!" Ucap Rian.


"Peduli apa kamu sama aku, itu bukan urusanmu kan" jawab Lusi.


"Beraninya kamu bilang begitu" ucap Rian kesal.


"Jelas saja berani. Buat apa aku takut sama orang sepertimu. yang sudah meninggalkan ku dalam keadaan menyedihkan. ingat Rian, Masih banyak kok yang mau bertanggung jawab atas anak yang aku kandung, dan kamu.. apa yang bisa aku harapkan darimu!" ucap Lusi sambil menggelengkan kepalanya "tidak ada.."


tampak Rian yang membulatkan matanya terlihat marah mendengar ucapan Lusi.


"Lusi, kamu.." ucap Rian kesal.


"Sudahlah.. sudah jelas kan Rian. Bahwa aku sudah tidak butuh kamu lagi" ucap Lusi tersenyum "sudah lah aku pulang ya" ucap Lusi Langsung naik motor bersama Juna.


Lusi pun tampak tersenyum bahagia, melihat wajah Rian yang sangat kesal.


Hah. Syukurin kamu. Emang enak.. benak Lusi tertawa bahagia karena sudah berhasil membuat Rian kehabisan kata-kata.


Selama di perjalanan..


"Maaf ya Jun. Yang tadi jangan kamu ambil hati. Aku cuma bercanda" ucap Lusi.


"Gak apa-apa Lusi. Aku malah bahagia kamu bilang begitu. Andai.. itu bener-bener terjadi" ucap Juna memandang Lusi di kaca spion miliknya.


"Langkah mu masih panjang. Kuliah aja dulu yang bener" ucap Lusi.


"Emang kalau kuliah aku udah bener. Kamu mau sama aku"


Lusi pun tersenyum. Lusi sadar diri jika dirinya dan Rian memang belum benar-benar bercerai, karena Rian belum menjatuhkan talak untuknya. Dan, ah.. tidak mungkin lah Lusi sama Juna yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.


Juna pun menarik napas panjangnya, mendengar ucapan Lusi.


"Tapi aku tidak bisa menganggap istri orang ini seperti kakakku sendiri. Aku Takan memaksa kamu untuk membuka celah hatimu. Tapi sekali ia kosong gak akan aku biarkan celah hatimu di ambil orang lain. Dan Ingat!!! kalau kamu sudah benar-benar menjadi janda jangan lari kemana mana. Karena aku siap menikahimu kapanpun itu"


Lusi pun langsung mencubit pinggang Juna.


"Aduhh.." ucap Juna kesakitan.


"Kalau aku sampai benar-benar menjadi janda, jangan-jangan karena doa kamu itu Jun!" ucap Lusi.


"HM.. bagaimana kalau ternyata, baru mau aku doain eh Tuhan sudah mengabulkan doa aku. Itu bukan salah aku dong?"


Lusi pun langsung mengerinyitkan keningnya dan mencubit pinggang Juna lagi.


"Sakit tau" ucap Juna kesakitan "Kayanya kamu ini galak ya. Aku jadi serem kalau kamu jadi istri aku nanti. Gak jadi deh Ama kamu" ucap Juna meledek.


"iya emang aku galak"


"Pengen bales nyubit tapi takut kamu marah. tar aja lah kalau udah sah" ucap Juna.


"emang kamu yakin kita bakal sah" ucap Lusi.


"Yakin, walaupun baru harapan" ucap Juna.


"sudah kuliah aja dulu yang bener"

__ADS_1


"CK, itu lagi. itu lagi yang di ucap" ujar Juna tetawa.


Lusi pun hanya diam


Setelah itu..


Saat malam hari.


Terlihat Rian yang merapihkan pakaian dan melihat pakaiannya satu persatu. Dan mengingat saat Lusi yang selalu merapihkan bajunya satu persatu. Seketika membuat Rian merasa kehilangan sosok wanita dalam hidupnya yaitu seorang istri.


Hemmp.. wanita itu. Kenapa aku merindukannya. Benak Rian.


Lalu Rian menuruni anak tangga untuk makan malam bersama. Terlihat Renata yang makan malam dengan lauk pauk terlihat banyak, enak dan mewah.


Rian pun duduk dan Rian pun menyendokan nasi dan lauk pauknya. Namun Rian tampak tak semangat untuk memakannya. Hanya di aduk aduk hingga beberapa kali, sambil menatapnya. Dan tampak Renata yang memperhatikan Rian.


"Kamu kenapa tidak memakannya. Apakah kamu sakit" tanya Renata.


"Mana mungkin Rian bisa makanan ini. Kalau Rian saja tidak tahu, Lusi sudah makan atau belum" ucap Rian.


"Sejak kapan kamu memikirkan wanita itu"


Rian pun hanya tersenyum hambar. Rian pun tidak tahu sejak kapan ia memikirkannya.


"Besok mama mau kamu ke Hotel, kamu persiapkan pernikahan mu dengan Zelda. Mama tidak mau menunggu terlalu lama"


"Iya aku akan persiapakan" jawab Rian datar.


"Lalu hubungan mu dengan wanita murahan itu, sudah berakhi kan?" Ucap Renata.


"Ma, jangan menyebut Lusi wanita murahan. Karena Lusi tidak suka bila dipanggil dengan sebutan itu" ucap Rian kesal.


Renata pun tampak heran pada Rian yang tiba-tiba membela Lusi. Padahal kemarin Rian mengusir Lusi.


"Dan mama tidak suka kamu membelanya Rian" jawab Renata kesal


"Rian sudah menuruti keinginan mama untuk menikahi Zelda. apakah Rian salah bila membelanya sekali saja"


"Salah, karena mama tidak suka dengannya"


"Walaupun Rian membencinya saat ini. Tapi Rian sadar, Rian pernah mencintainya ma"


"Kubur cinta mu dalam-dalam untuknya"


"Kalau mama saja tidak bisa suka dengannya. Bagaimana Rian bisa membencinya semudah ini ma" ucap Rian menarik napas panjangnya. "Tapi, yasudahlah.. kalau gitu Rian permisi, karena Rian sedang tidak nafsu untuk makan malam kali imi"


Lalu Rian pun pergi.


*******


Like like like like guys..


Guys mari sama sama kita berjuang melawan covid guys. Karena tinggal di Zona merah itu membuat aku semakin ketar ketir.. okelah, mgkn rumah aku bukan Zona merah. Tapi kan, aku kerja di daerah Zona merah. Dan membuat suasana semakin memanas dan semakin panas karena kondisi tubuh yang tidak stabil. Tetep jaga imunitas tubuh guys. Emang sih penyakit itu datangnya dari Allah. Tp kita harus peduli pada diri kita sendiri.. kalau bukan kita siapa lagi..


Pokoknya Like.

__ADS_1


__ADS_2