Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Maafin Papa Sayang


__ADS_3

Part 139 (Maafin Papa Sayang)(Sesion 2)


Keesokan harinya, terlihat Lusi menikmati secangkir susu sambil sedikit melamun. Entah mengapa Lusi merasa bersalah pada dirinya sendiri. Karenanya Adit malah jadi di pecat. Karena dirinya. Lalu bagaimana dengan nasib Salsa kalau punya Ayah yang tidak bekerja. Meskipun Lusi membenci Adit namun sepertinya ia tidak tega. Walau pada dasarnya memang Adit lah yang salah. Siapa suruh ambil uang perusahaan orang seenaknya sendiri. Giliran ketauan ya udah terimalah nasib mu. Tapi bukan Lusi namanya bila tertawa ikhlas melihat penderitaan orang yg sudah jahat.


Lalu Lusi pun menemui Rian di ruangannya. Dengan maksud agar Adit masih di beri kesempatan kedua untuk bekerja.


"Ada hal yang aku mau omongin" ucap Lusi.


"Apa.." tanya Rian.


"Harusnya Adit jangan dikeluarkan dari kantor. Karena kasihan nanti dia makan pake apa, Kalau gak kerja" ucap Lusi.


"Ya makan nasi lah Lusi.. kamu pikir dia akan makan apa" ucap Rian santay.


"Aku lagi gak becanda ya"


"Kenapa kamu sewot. Perusahaan perusahaan aku. Uang uang aku. Kenapa kamu yang atur aku"


Lusi pun tampak terdiam karena omongan Rian memang ada betulnya ini kan perusahaan nya wajar aja dia yang punya wewenang.


"Lusi.. kamu tahu. Mama aku itu orangnya tegas. Sekali dia berucap gak akan dia tarik kembali kata-katanya. Lagi pula Adit juga dapet pesangon kok. meskipun dia sudah melakukan kesalahan. Justru... itu memang harus dilakukan, agar ada efek jera untuk dia dan yang lain juga. Biar gak buat macem-macem di perusahaan aku ini"ucap Rian.. "ngerti sekarang..."


Lusi pun masih tampak terdiam.. dan sedikit berfikir. Rian pun lalu memperhatikan wanita dihadapan nya itu dengan senyuman. Karena bagaiman pun sebenarnya Rian merindukan wanita yang masih jadi istrinya itu.


"Lusi sudahlah kamu jangan pikirkan dia.. apa jangan-jangan kamu mencintainya" ucap Rian.


"Gak. gak mungkin banget.."


"Yaudah kalau gak mungkin. Ga usah dipikirin ya" ucap Rian. "Mm... Oia nanti pulang kerja aku antar"


"Bener nih. Apa kamu yakin" ucap Lusi.


"Iya lah.. yakin"


"Oke mumpung ada tumpangan gratis" ucap Lusi sedikit menaruh senyum dibibirnya.


"Nah gitu dong senyum. Jangan cemberut mulu. Kan Pulang nanti diantar sama boss" ucap Rian meledek Lusi.


"Makasih bos atas tumpangnya.." ucap Lusi tersenyum.


"Sama sama karyawanku yang cantik" ucap Rian tersenyum.


*****


Lalu Rian pun tampak mengantar Lusi pulang. Sontak anak-anak yang melihat pun langsung baper. Karena selama ini Rian tidak pernah sekalipun mengantar wanita manapun selain Zelda. Dan banyak pasang mata yang mengambil kesimpulan. Bahwa Lusi itu mengandung anaknya Rian. Secara saat ini Lusi kan sedang hamil. namun sebagian lagi mengatakan bahwa Lusi ini ngerebut Rian dari Zelda. Ah tidak mungkin kan ya... Lusi pun hanya membalas dengan senyuman orang yg mencibirnya. biarkan lah mereka para nitizen menarik kesimpulannya sendiri. Yang penting kan kita gak minta makan Ama mereka.


Selama perjalanan pun keduanya tampak terdiam. Menikmati perjalanan pulang. Lalu tampak Rian yang sesekali memegang tangan Lusi.


"Lusi, aku sudah jujur pada Zelda soal status kita" ucap Rian. "Awalnya Zelda sedih. Tapi setelah itu ia ikhlas"


Lusi pun tampak kaget dan mengerutkan keningnya.


"Jadi Zelda sudah tahu" ucap Lusi.


"Iya nih buktinya wajah aku yang memar ini karena pukulan dari ayahnya Zelda. Aku tidak peduli mau seberapa marah ayahnya Zelda yang penting kamu tetap sama aku Lusi"


Lusi pun tampak terdiam.


"jadi aku mau,, kamu gak usah ragu dan takut lagi ya. Zelda itu orang baik sama seperti kamu. Dia tidak mungkin egois membiarkan kamu hidup sendiri disaat hamil" ucap Rian.


Lagi-lagi Lusi hanya diam, namun sambil berfikir.


"Lusi saya mohon sama kamu demi anak yang ada didalam kandungan kamu ini. Dia butuh ayah.. dan kamu pun juga butuh seorang suami untuk melidungimu"


Lusi pun tampak mendengarkan ucapan Rian.


"Apa kamu bilang suami..." Ucap Lusi.


"Iya kamu sangat butuh suami kan. Hayo ngaku.. Kamu kan hanya wanita lemah, tidak mungkin kamu tidak membutuhkan suami seperti aku" ucap Rian dengan pedenya.

__ADS_1


"Suami seperti kamu.. hello gak salah ya aku dengar. Lagi juga Emang kamu pikir selama ini aku lemah ya" ucap Lusi.


"Iya,, kamu lebih lemah dibandingkan dengan wanita yang paling lemah. Sangat sangat lemah Lusi.. sangggaaattt lah leeemmaahh"


"Hey... Selemah itu kah aku. Sampai seperti itu bicaranya" jawab Lusi terheran heran tidak terima.


"Iya. Kamu lemah. Karena kamu lebih banyak mengalah dan banyak menangis bukan. Dibanding membela dirimu sendiri. Apa itu bukan lemah namanya" ucap Rian.


"Bukankah menangis itu kodrat seorang wanita ya. Kenapa sih harus di bilang lemah"


"Iya, Justru karena itu kodrat wanita.. Maka itu aku ingin menjadi bahu dan pelindungmu disaat kamu menangis" ucap Rian lagi


Lusi pun langsung menengok ke arah Rian dan memandangnya.


"Gombal... Tapi yang selama ini sering membuat aku menangis itu kamu kan" jawab Lusi.


"Kalau kamu menangisi aku. bukankah itu tandanya cinta" ucap Rian.


"Cinta.." ucap Lusi mikir.


Lusi pun sejenak terdiam lagi. Lalu mencurahkan lagi isi hatinya. Apakah cinta harus sesakit dan serumit ini. Lagi pula apakah Rian benar bisa menerima Lusi yang jelas sudah pernah ditiduri pria lain ini. Lusi pun takut jika Rian memang tidak bisa menerima kenyataan itu.. dan Lusi pun sangat masih meragukan ketulusan Rian.


Yang sudah sudah memang Rian hanya memberi kepalsuan dan cuma janji tanpa bukti.


"Rian" panggil Lusi.


"Apa.."


"Apakah kamu bisa menerima istri yang telah ditiduri oleh pria lain ini" ucap Lusi. "Bukankah kamu sendiri yang bilang saat itu kamu sudah jijik dengan aku"


Rian pun tampak terdiam sejenak.


"Kenapa kamu bicara begitu" ucap Rian.


"Karena aku tidak yakin kamu akan terima aku apa adanya."


"Lusi... Kamu jangan begitu" Ucap Rian. Lalu memberhentikan mobilnya dan memandang Lusi istrinya. Terlihat Lusi yang hanya duduk diam memandang Lurus tanpa melihat Rian. Namun sebenarnya Lusi memiliki luapan emosi dan curahan hati yang ia tidak bisa bendung dari kapan tau itu.


"Apa.."


"Rian.. Andaikan saja waktu itu.. waktu aku menelpon mu. kamu mau mengangkat telepon aku. Aku yakin pasti tidak akan terjadi malam itu, takan terjadi Rian!! antara aku dan Adit tidak akan pernah terjadi" ucap Lusi menyesalinya.


"Kenapa kamu bilang gitu.. Jadi sekarang, kamu anggap itu semua kesalahan aku.. iya gitu" ucap Rian memandang Lusi.


"Bukan soal kesalahan siapa Tapi ada hal yang paling sedih dan menyakitkan buat aku Rian. Suami yang seharusnya mampu melindungi ku. Telah tega membiarkan aku sendiri menghadapi semuanya itu. dan lebih parahnya lagi.... Kamu malah menganggap aku selingkuh dengan Adit dan lalu mengusirku. Apa itu bukan tega namanya. asal kamu tahu Rian. Saat itu aku sedang hamil anak kamu. Tapi nyatanya apa, kamu malah tidak menganggap anak ini anakmu..apakah itu cinta. Apakah itu cinta Rian... Cinta macam apa yang aku terima. Kenapa orang yang aku cintai begitu sangat mudah menyakitiku. Kenapa Rian.. kalau kamu memang cinta tak seharusnya kamu melakukan itu sama aku. Minimal kamu tidak mengusir apalagi kamu sampai memukul aku"


"Itu salah kamu.. kenapa kamu tidak bilang dari awal soal kejadian malam itu dengan jujur sama aku"


"Aku sudah berusaha untuk bilang semuanya. Semuanya!!! Tapi nyatanya apa, kamu sama sekali tidak mau dengar penjelasan aku. Melihat aku saja kamu sudah tak Sudi. Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya" lalu Lusi pun menarik napas panjangnya.


"Ah sudahlah Rian. Semakin aku cerita semuanya semakin aku sakit" Lusi pun tiba-tiba menjatuhkan air matanya, lalu menangis.


"sudah jangan nangis"


"Kamu tahu Rian aku sangat butuh pundak mu saat itu. Tapi bukan pundak yang aku dapatkan. justru kamu malah menjatuhkan pukulan kamu ke wajah aku. Aku sedih Rian. Aku hancur.. rasanya sangat sakit Rian"


Lusi pun tampak menanangis tersedu


"Lusi aku minta maaf.. tolong maaf kan aku"


Rian pun menghapus air mata Lusi.


Lusi pun masih tampak menangis.


"Aku menyesal telah melakukan itu semua" ucap Rian lagi.


Lalu Rian pun memeluk Lusi.


"Sudah ya, kamu jangan nangis lagi. Kasihan nanti anak kamu pasti akan sedih juga kalau liat mamanya nangis. Cup..cup.. jangan nangis ya.." Rian pun memeluk Lusi erat.

__ADS_1


Lalu tak lama Rian pun mengendarai mobilnya lagi melanjutkan perjalanan.


Lalu..


mereka pun sampai.


"Udah ya. Kamu turun dari mobil jangan sambil nangis. Aku takut orang nganggapnya aku abis ngapa-ngapain kamu. Aku kan malu kalau ada yang lihat" ucap Rian.


Rian pun mencium kening Lusi. Dan menghapus air matanya.


"Sudah jangan nangis ya. Aku tahu aku salah. Aku akan berusaha untuk membahagiakan mu. Dan mencintai mu secara tulus Lusi"


Lalu Lusi pun menatap Rian yang masih penuh air mata.


Rian pun mendekapnya lagi.


Sebenarnya Rian ingin sekali mencium bibir istrinya itu. Tapi Rian tidak berani takut Lusi marah. Karena emosi Lusi sepertinya memang sedang tidak stabil. Rian pun hanya memandang Lusi dengan senyumnya. Dan memegang tangan Lusi lalu mencium tangannya. Rian pun melihat tangan Lusi yang masih memakai cincin nikah yang dulu menjadi mas kawinnya.


"Kamu masih memakai cincin ini" tanya Rian.


"Iya.."


"Terimakasih. Kamu masih mau memakainya" ucap Rian."Boleh meminta sesuatu gak.." pinta Rian.


"Apa.."


"Aku ingin mengelus perut mu. Aku ingin memegang bayi kita" ucap Rian.


Lusi pun mengangguk. Itu artinya membolehkan.


Lalu Rian pun memegang perut Lusi yang sudah membesar itu.


"Dia gerak gak sih" tanya Rian.


"Gerak.."


Rian pun memegangnya dan tak lama.


Rian pun tersenyum saat ada tendangan kecil menyentuh tangannya.


"Eh bener deh dia nendang tangan aku nih" ucap Rian.


Lusi pun seketika sedikit tersenyum.


"Nah gitu dong senyum" ucap Rian tersenyum.


"Oya..ya.. dia tau gak ya kalau ini tangan Ayahnya.." ucap Rian.


"Tahu kali, makanya kamu kasih tahu biar dia tahu juga"


Lalu Rian pun mendekatkan wajahnya ke perut Lusi.


"Emm.. okee.. Hallo sayang, ini papa kamu" lalu Rian pun mengelus perut Lusi dengan lembut dan mencium perut Lusi.


"Maafin papa sayang. Karena pernah gak parcaya kalau kamu anaknya papa. Sekarang papa harus percaya. Papa gak mau lagi lihat mama kamu sedih.."


Rian pun tersenyum. Dan mencium anak yang masih didalam kandungan Lusi itu.


Seperti mimpi bisa melihat Rian seperti itu.


Lusi pun bahagia karena Rian sudah mau menerima anaknya. meskipun Lusi tahu pasti masih ada keraguan dalam hati Rian. Mengingat Adit yang sudah mengaduk-aduk asal muasal Ayah anak yang dalam kandungannya. Tapi Lusi percaya, jika Rian akan memiliki rasa dan ikatan batin yang sama seperti dirinya. pada anak yang didalam kandungannya itu.


"Aku sayang sama kamu Lusi dan anak dalam kandungan kamu ini" benak Rian sambil mencium perut milik Lusi dan mengelusnya secara perlahan.


******


Hallo guuyss.


Aku rada kaga bisa bikin cerita yang bikin Rian bucin begitu. Bagaimana ya.. Biarin aja lah kalau gak sweet sweet amat paling tidak ada sweetnya meskipun dikit...

__ADS_1


Eh eh tar lagi dah ya kalo w smpet.. w nulis lagi.. tp Jan lupa nih like like like like like


__ADS_2