
Part 57 (pernikahan bagian 2) (sesion 2)
Terlihat tamu undangan yang mulai berdatangan. Meski hanya 20 orang. Namun Lusi tetap menghargai tamu yang hadir. Ada banyak makanan mewah yang tersaji. Lusi berusaha terus menutupi kesedihan di hatinya. Dan ada sesi foto bersama. Lusi dan Rian tampak serasi. Mereka berfoto layaknya pengantin yang sedang berbahagia. Rian tampak tampan dengan baju pengantinnya. Terlihat beskap berwarna putih dan kain yang berwarna putih bergaris emas membalut sebagai bawahannya. Tidak lupa juga blankon berwarna putih. Begitu juga Lusi tampak cantik dan menawan hati.
Rian memegang erat pinggang Lusi. Dan Lusi memegang tangan Rian. Lalu mereka pun foto bersama. Meskipun rasa canggung tetap terasa menyelimuti keduanya. Namun tidak menyulutkan keduanya untuk tetap fokus berfoto di acara bahagianya itu.
Dan sesi paling tegang adalah dimana Rian dan Lusi saling suapin makanan. Rasanya Lusi dan Rian tidak pernah merasakan hal seromantis ini.
Selang beberapa saat. Tampak Renata datang ke acara pernikahan putranya itu.
Lusi sangat canggung disaat harus berhadapan langsung dengan ibu mertuanya.
Namun sayang tak ada ucapan selamat atau pun doa terlontar dari mulut Renata. Renata hanya salaman pada Lusi abis itu langsung pergi. Lusi pun bertanya-tanya dan heran.
"Rian, mama kamu setuju gak sih dengan pernikahan kita ini" tanya Lusi.
Dengan ketusnya Rian menjawab.
"Gak setuju sama sekali. Mana ada seorang ibu yang mau menikahkan anaknya dengan wanita murahan seperti kamu"
"Kenapa kamu bilang begitu Rian. Di hari pernikahan kita ini" ucap Lusi.
"Emang itu kenyataannya kan" ucap Rian.
Lusi pun sedikit menitihkan air matanya.
Rian masih terhasut dengan ucapan Renata. Yang mengatakan bahwa Lusi ini hanya menikahi Rian karena harta. Sehingga bagi Rian, Lusi itu sama sekali tidak ada artinya.
Lusi pun hanya diam..
Seketika hati Lusi terasa sesak dan sakit atas ucapan Rian. Lusi pun hanya bisa menahan air matanya saat mendengar ucapan Rian.
Kenapa sesulit ini untukku bahagia. Bahkan di hari bahagia ini hatiku begitu terasa sakit. Dimanakah letak kebahagianku sesungguhnya. Mengapa sulit bagiku menikmati bahagia ini walau sekali saja... Ya Allah jika memang aku ditakdirkan untuk tidak bahagia. Aku terima...Namun jangan biarkan aku hidup dalam penderitaan yang selalu berganti dan tiada habisnya seperti ini. Benak Lusi sambil menangis dalam hati.
Lalu Renata pun bertemu dengan Ayah. Ayah pun menghampiri Renata.. Dan ini adalah pertemuan pertama mereka
"Jadi ini orang tua dari Rian" ucap Ayah menghampiri Renata.
Renata pun tersenyum kecil. "Lusi termasuk wanita yang beruntung. Karena tidak sampai hamil.. Rian masih mau bertanggung jawab dan mau menikahinya"
"Saya tidak sama sekali meminta pertanggung jawaban dia di depan penghulu. Saya mengharapkan dia bertanggung jawab di kantor polisi"
"Asal kamu tahu. Tahta keluarga itu lebih penting bagimu kan. Sekalipun anak mu babak belur karena ternoda. Aku yakin kamu sama sekali tidak peduli. Asalkan nama baik keluarga kamu masih melekat indah didirimu kan"
__ADS_1
"Tolong jaga ucapan kamu!!!"
"Itu terlihat bagaimana Lusi mau menandatangani surat itu. Pasti ia merasa malu jika kasus pemerkosaan itu terungkap. Dan lebih memilih menikah dengan anak saya"
"Jangan ngomong sembarangan kamu?!?" ucap Ayah marah.
"Hah.. Sepertinya saya terlalu mudah membaca situasi ini. Jadi saya tahu kelemahan anak mu itu. saya harus pergi. Karena saya merasa tidak betah bila berlama-lama disini" ucap Renata melangkahkan kaki pergi. Bersama bodyguard dan asis-asistenya.
Ayah pun merasa terpukul dengan ucapan Renata barusan.
Pantas saja Lusi terjebak dalam situasi yang salah. Sehingga ia mau menanda tangani surat perjanjian perdamaian itu. Pintar sekali dia.. Disaat Lusi sedang putus asa dengan kehidupannya. Ia masuk dan mengambil kesempatan itu. Benak Ayah kesal.
Tak lama...
Lisa datang, ia pun menghampiri kakaknya dan memberi selamat lalu memeluknya. Saat itu Lisa datang terlambat. Karena ada urusan kuliahnya. Lalu Lusi pun menangis tersedu di pelukan adiknya itu.
"kakak kenapa menangis sampai seperti ini" tanya Lisa
"Kakak menangis bahagia Lisa" ucap Lusi.
Lisa pun tersenyum. Adiknya ini tidak bisa di bohongi. Lisa tahu bahwa kakaknya menangis sedih bukan karena bahagia tapi karena terluka.
Lisa pun mengelus pundak Lusi. Dan mencium pipinya.
Lusi pun tersenyum.
"Jangan puji kakak nanti kakak terbang"
"Oh kakak bisa terbang juga. Aku kira kakak ini bidadari tak bersayap"
"Ish. Kamu Dragombal ya" ucap Lusi
"Bukan sun go ku"
"Kirain sun go kong"
"Monyet dong" ucap keduanya sambil tertawa.
Lalu Lisa pun memeluk kakaknya lagi.
"Nah ini baru senyum bahagia" ucap Lisa.
Lusi pun tersenyum..
__ADS_1
"Emang kamu ya.. yang paling bisa bikin kakak ngelawak gak karuan"
"Heheheh" tawa Lisa..
Lalu setelah itu tampak Juna datang. Dan memberi selamat pada Lusi.
"Selamat ya Lusi. Semoga menjadi keluarga bahagia" ucap Juna.
Lusi pun tersenyum.
"Terimakasih" jawab Lusi.
"Gak ada yang undang lo juna. Ngapain lu dateng kesini" ucap Rian ketus.
"Eits.. Juna ini sebagai partner aku Rian. Jadi dia boleh hadir di acara pernikahan Kak Lusi" ucap Lisa membela juna.
"Gue terima lu jadi suami lusi. Tapi satu hal yang gue minta!!! Jangan pernah lu sakitin Lusi lagi. Kalau lu gak mau kehilangan dia" ucap Juna.
"Gak ada urusannya sama Lu Jun. Emang lu pikir lu siapa? Ngatur-ngatur hidup gua" ucap Rian emosi.
"Biarin aja. Soalnya gue gak takut sama lu" ucap Juna.
Lalu Rian pun mencoba memukul Juna. Namun lagi-lagi Lusi pun menghalangi dan berusaha menahan amarah Rian.
"Udah Rian.. Cukup.. Jangan buat keributan disini. Malu banyak orang" ucap Lusi memegangi tubuh suaminya, agar tidak tersulut emosinya.
Lalu Rian pun diam. Mengikuti keinginan Lusi untuk tidak marah.
.
.
.
.
Mohhoonnnnn.....
Likee yaa..
.
.
__ADS_1
.