Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Apakah kamu cemburu?


__ADS_3

Part 114..(Apakah kamu cemburu?) (Sesion 2)


Setelah Lusi gagal resign itu artinya Lusi mau tidak mau tetap kembali ke rumah besar milik Rian.


Setelah menikah dan lulus kuliah. Sebenernya.. Lusi memang ingin belajar hidup mandiri. Sebagai istri yang seutuhnya.. Hidup berumah tangga dengan sewajarnya. Dan tidak bergantung terus pada orang tuanya.


Lusi kerja pun sebenernya, Lusi cuma ingin merasa bebas tak terkurung terus di rumah. Walau pada akhirnya, banyak persyaratan dari Rian tentang pernikahannya yang harus ditutupi di tempat kerjanya.


Dan..


Seperti Lusi trauma jika harus di rumah.. terus di kunciin di dalam rumah oleh Rian tanpa makanan.


Ya.. Paling tidak dengan Lusi bekerja Lusi memiliki penghasilan sendiri. Meskipun harus dengan persyaratan yang rumit dengan menutupi pernikahannya.


Sebagai suami.. Rian memang memberikan uang. Tapi tidaklah banyak.. Rian sengaja ingin mengetes seberapa matrenya Lusi sebagai istri.


Dan untuk masalah rumah tangganya...


Dan Lusi ini memang lebih banyak menyimpan masalahnya sendiri dan tidak mau menceritakan kepada siapapun termasuk orang tuanya. Lusi sengaja tidak beritahu kepada orangtuanya karena tidak mau kalau sampai mereka kepikiran.


Padahal kalau Ayah dari Lusi ini tahu masalah apa yang Lusi hadapi. Sudah pasti Ayah Lusi akan marah sekali pada Rian. Ayah Lusi mungkin akan mengubur Rian secara hidup-hidup. Bagaimana tidak, putrinya diduakan dan tak dianggap sebagai istri. Ayah mana yang takan marah. Bila tahu putri di perlakukan seperti itu.


Tapi bukan Lusi namanya kalau harus mengadu pada Ayah dan Ibunya. Lusi ini tipikal orang yang lebih banyak memilih diam.. Dan menutupi semua masalahnya sendiri...


.


.


Dan...


Kali ini...


Terlihat Lusi yang sedang menyiapkan baju kerja untuk Rian, dan beberapa atribut kerja lainnya. Seperti dasi, tas dan sepatu.. Setelah itu Lusi merapihkan dasi dan jas milik Rian..


Meskipun Lusi sudah sering tersakiti.. Namun Lusi masih melayani Rian sebagaimana mestinya. Karena ia tahu, sesakit apapun Lusi mendampingi Rian. Rian tetaplah suaminya dan Lusi harus berbakti padanya. Karena Lusi tidak mau jadi istri durhaka.


Saat di kamar...


"Kalau kamu sudah menikah dengan Zelda. Bukankah Zelda yang akan menempati rumah ini" ucap Lusi memakaikan dasi ke kerah baju Rian.


"Saya akan membeli rumah baru untuk Zelda dan kamu bisa tetap tinggal disini" ucap Rian menatap Lusi.


"Sepertinya kamu terlihat mencintai Zelda"


"Seharusnya memang seperti itu.. Karena aku tahu dia akan menjadi istri yang..??. " ucap Rian tidak meneruskan.


"Istri yang sah buat kamu... Itu kan yang ingin kamu katakan" ucap Lusi yang meneruskan..

__ADS_1


"Ya.. Terpaksa.. Semua media akan meliput pernikahan ku dengan Zelda. Tidak mungkin aku menikahinya secara tidak sah. Itu sebabnya.. Zelda aku nomer satukan dibanding kamu"


Lusi pun menghela napasnya..


"Mau ada Zelda ataupun tidak. Aku rasa kamu memang tidak pernah menomorsatukan aku.. Jadi sama saja" ucap Lusi.


"Apakah kamu cemburu? " tanya Rian.


"Semua wanita akan cemburu disaat suaminya mencintai wanita lain.."


"Tapi kamu tidak terlihat cemburu"


"Rasa sakit hati aku.. Sudah mengalahkan api cemburu. Lagi pula.. mau secemburu apapun aku sama kamu. Takdir takan bisa merubah hati mu dan nasib ku. Aku tetaplah aku.. Yang terlunta tak jelas di dalam rumah tangga yang kelabu ini"


Rian pun memandang Lusi lama..


Rian seolah terjebak dengan keadaannya. Satu sisi ia ingin membesarkan perusahaannya Ayahnya dengan menikahi Zelda. Satu sisi ia juga ingin mencintai Lusi..


Bak nasi sudah menjadi bubur.. Semua yang sudah terjadi takan bisa kembali.. Lusi memang harus tetap menjadi istri yang baik. Sekalipun Lusi menikahi pria yang mudah menyakitinya.


Setelah itu..


Lusi pun langsung berangkat ke kantor tanpa sarapan dulu. Lusi berangkat dengan menaiki ojek.


Sesampainya di kantor.. Lusi duduk sambil menatap layar komputernya..


Namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing.


"Lusi lu kenapa? " tanya Intan.


"Kepala aku pusing.. Apa karena aku belum sarapan ya"


"Mending lu sarapan dulu deh.. "


"Iya Tan.. Tar abis ini aku sarapan"


"Oia kemarin.. Lu ke ruang pak Adit ngapain?" tanya Intan


"mau resign dari kantor ini.. " ucap Lusi menjelaskan dengan wajah datar.


"Ha.. Kenapa kok resign"


"Mau pulang ke Bandung"


"Lusi.. Kenapa sih lu??? gak betah ya.. Please.. jangan resign.. Gue gak mau kalau lu pergi dari sini"


"Pengen cari ketenangan.. "

__ADS_1


"Ya ampun.. Ketenangan apa sih.. Please lu jangan tinggalin gue" ucap Intan. Yang tumbenan peduli.


Tidak lama Mba Santi datang dan duduk. Mba Santi pun tampak memandang Lusi dan Intan yang terlihat berbicara serius.


"Mba Santi.. Masa Lusi mau resign dari sini" ucap Intan mengadu.


"Eh.. Eh.. Kenapa???"tanya Mba Santi.


Lusi pun tampak terdiam.


"Jangan pergi Lusi.. Kamu gak betah ya gara-gara mba diemin kamu" ucap Mba Santi.


Mba Santi pun langsung berfikiran lain. Saat Intan bilang Lusi ingin resign..


"Bukan kok.. Bukan karena itu" ucap Lusi.


"Maafin mba ya. Klo mba selama ini diemin kamu"


"Tenang aja mba.. Bukan karena itu kok.. Lagi pula aku sepertinya gak jadi resign"


Lalu Intan pun menarik napas panjangnya.


"Nah gitu.. syukur deh.. jangan resign ya.. Soalnya gue gak mau lembur buat kerjain tugas-tugas lu"


"Ah.. Aku kira kamu beneran takut kehilangan aku tan.. Taunya takut lembur ngerjain tugas aku"


"Hehehe.. Iya itu salah satu juga sih.. Tapi gue beneran gak mau lu pergi dari sini"


"Iya.. Mba Santi juga gak mau kalau kamu sampe pergi. Mba udah anggap kamu seperti adik mba sendiri. Memang sih... Mba waktu itu pernah kecewa sama kamu karena gak bisa jadi pacarnya adik mba.. Tapi mba sekarang sadar. Semua hal ya memang tidak bisa dipaksakan" ucap Mba Santi.


Lusi pun tersenyum .. Berdiri dan memeluk Mba Santi.


"Ya mba makasih ya.." ucap Lusi..


"Iya kita kan seperti keluarga" ucap Mba Santi.


"Aku juga senang Mba.. disini aku seperti punya keluarga baru.. Aku pun sudah menganggap mba seperti kakakku sendiri.. Aku juga udah anggap Intan, seperti keluarga ku sendiri"


Intan pun juga memeluk Lusi.


Ya paling tidak... Lusi bisa merasakan artinya persahabatan di tempat kerjanya. Ya mungkin itu adalah sesuatu hal yang menambah kekuatan Lusi untuk tetap tegar..


*************


Oke jangan lupa like..


Akhir-akhir ini aku sering ketiduran pas lagi nulis. Bisa bisanya aku ini... Lagi nulis pake ketiduran..

__ADS_1


Ya kadang lelah bekerja membuat aku mudah terlelap dalam tidur... Heheh..


Like.. Like... Like..


__ADS_2