
Part 143(Lapor Laper)(sesion 2)
Setelah itu Lusi pun bekerja seperti biasanya. memiliki status istri seorang Dirut tak membuat Lusi melepaskan tanggung jawab pada pekerjaannya. Baginya hidup itu bukan soal uang tapi kepuasan batin, Tentang semua yang kita kerjakan. Mulai dari pekerjaan yang penting sampai yang tidak penting. Kalau soal uang sih rejeki insyaAllah tidak akan ketuker. Yang penting ikhlas dulu dalam melaksanakannya.
Tampak jam masih jam 10.30.. tapi perut Lusi sudah kekuruyukan alias kelaperan karena memang keadaan berbadan dua lah yang membuat Lusi mudah lapar. Dan juga mudah marah..eh.. eh.. nggak nggak deh kalau marah gak. Lusi jarang sekali marah. Ia cuma bisa ngambek lebih tepatnya. Hehhe..
Namun Lusi sadar diri tidak mungkin makan keluar di jam kerja. Karena Lusi gak mau juga sih dianggap memanfaatkan posisinya kini sebagai istri boss.. Lusi pun diam diam ngumpat cari posisi uenak. Di pojokan Deket komputer yang udah rusak yang udah gak kepake dengan nikmatnya Lusi makan. Kebetulan Lusi punya roti sobek dan biskuit jadi makan saja.
Tiba-tiba Viola datang untuk menjadi mata-mata. Disuruh Rian untuk melihat Lusi sedang apa. Viola pun tampak kaget melihat Lusi yang terlihat sangat lapar. Dengan lahap memakan roti dan biskuit dihadapannya.
"Laper nih ye" ledek Viola.
"Iya nih laper"
"Heheh itu laper apa doyan. Rakus bener" celutuk Viola memandang Lusi sambil tersenyum.
"Dua duanya sih kayanya"
Lalu Viola pun kembali lagi ke lantai 9. Dan langsung menemui Rian diruangannya.
"Laper pak.. Lusi lapor.." ucap Viola menghadap Rian.
"Hah maksudnya apa"
"Eh salah, maksudnya lapor pak, Lusi laper.. Sepertinya bapak harus samperin deh. Jangan sampe meja dan komputer di makan juga sama dia" ucap Viola tertawa.
"Kamu pikir istri saya omnivora yang makan segala"
"Ya, bisa jadi pak. Kan kalau orang hamil suka makan yang aneh-aneh"
"Tapi gak meja dan komputer juga kali"
"Ah saya dari kecil makan bangku sekolah gak dibilang Omnivora apalagi Kanibal pak.."
"Itu beda lagi Viol"
"Heheh maaf pak saya barusan cuma becanda. Canda bangku sekolah" ucap viola lagi sambil tersenyum. "Pak nama saya jangan ganti-ganti dong pak. Nama saya Viola bukan Viol. Nanti kalau di ganti, mengurangi kadar kecantikan saya"
"Kamu tuh ya, kaya emas pake kadar segala"
"Weish iya dong pak... Saya kan calon istri Soleha.. yang katanya istri Soleha itu perhiasan dunia"
"Iya amin deh. Mudah-mudahan ya.. walaupun sebenarnya meragukan juga sih hehe.." ucap Rian. "Udah lah saya samperin perhiasan dunia saya dulu ya.."
Tiba-tiba Rian tampak mencari Lusi ke meja kerjanya. Namun tak ada.
"Mana Lusi.." tampak Rian yang celingak celinguk mencari sang istri. Dan tampak Lusi yang sedikit menyelinap di pojokan Deket komputer rusak.
"Nah itu istri bapak.." ucap Mba Sinta.
Lalu Rian pun menghampiri Lusi.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini sendirian. Lagi uji nyali..."
"Lagi makan. Aku kan cuma laper"
"Kalau laper ayo makan" ucap Rian.
"Eh belom waktunya istrihat gak enak ah Ama yang lain"
Rian pun tampak geram. Mendengar istrinya yang teramat profesional dalam bekerja. "Kebanyakan jadi karyawan teladan, jadi lupa siapa kamu sebenarnya. Ayo jangan malu-maluin aku. Kita makan.." Rian pun menarik tangan Lusi.
"Kamu kalau laper bilang sama aku. Jangan kebanyakan drama nunggu jam istrihat"
"Kamu bukannya lagi kerja ya. Ngapain kita makan jam segini" ucap Lusi.
"Jangan banyak protes. Aku mau makan jam berapa aja bebas" ucap Rian ketus menarik tangan Lusi dengan sedikit kasar.
"Aku lagi hamil Rian, lembut dikit kek"
"Aku juga tahu kamu hamil. Siapa bilang kamu cacingan"
......
Lalu Rian pun membawa Lusi ke restaurant yang didekat kantor. Sengaja biar cepet sampai aja sih.
"Kamu mau makan apa pilih ya.. " ucap Lusi.
"Apa ya.. bingung. Padahal tadinya aku mau makan seblak. Bukan makan seafood" ucap Lusi.
"Ikh.. padahal ini tuh bawaan bayi loh.. kalau gak di turutin nanti ileran"
"Semua bayi yang lahir juga ileran setau aku. Bilang ama bayi kamu. Jangan ileran dulu nanti di beliin seblaknya tapi gak sekarang gitu. Ngerepotin aja sih kamu"
"bapak yang egois. Gak punya perasaan. Masa orang ngidam dibilang ngerepotin"
Lalu Rian pun tampak tidak mendengarkan Lusi. Dan langsung memanggil waiters.
"Saya pesen apa aja yang recommended disini ya mba. Tapi porsiannya untuk dua orang" ucap Rian males mikir.
"Tanyain aku dong aku mau pesen apa" ucap Lusi.
"Kelamaan... Pasti ujung-ujunhnya nasi goreng"
.....
Lalu tak lama pesanan datang. Tampak ikan Nila bakar, cumi goreng tepung, dan capcay.
"Aku lagi gak mau ikan. Aku makan sama cumi tepung ajah ya" ucap Lusi.
"Yaudah terserah.. mau makan sendiri apa disuapin" ucap Rian.
"Makan sendiri"
__ADS_1
"Udah aku suapin ajah ya.. biar dianggap masih punya perasaan sama kamu"
"Ehh..."
"Hayoo A..." Ucap Rian menyodorkan sendok ke mulut Lusi.
Lusi pun menerima suapan itu . Walaupun sebenarnya agak canggung menerima suapan demi suapan yang di berikan Rian. Namun Lusi tidak bisa memungkirinya. Ia senang bila mendapat perhatian dari suaminya itu.
Selesai makan Lusi pun minum jus stobery. Dan duduk di sebelah Rian. Yang sebelumnya duduk berhadapan.
"Rian..." Ucap Lusi.
"Apa.."
"Makasih ya"
"Makasih untuk apa.."
"Untuk perhatian kamu.. selama ini aku gak pernah sekalipun mendapat perhatian dari kamu. Sampai aku lupa bahwa aku ini masih punya suami"
"Lusi.. jangan bicara begitu. Kata 'makasih' kamu malah membuat aku seolah semakin bersalah sama kamu.."
"Iya paling penting kamu masih ada kemauan untuk berubah lebih baik lagi sama aku"ucap Lusi.
"Hadeh. Kamu pikir aku selama ini jahat ya"
"Kamu tuh gak jahat. Tapi.. kamu... itu.. ja...hat... ba...nget..."
"Makasih atas ucapan jahatnya.. begitu melekat di hati. aku sadar aku jahat. Tapi Walaupun aku jahat. aku sayang loh sama kamu. Sayang pake banget"
"Gombal.." ucap Lusi.
"Lusi, aku ada rencana pernikahan kita Selama ini kan hanya sah menurut agama. Jadi aku mau kita punya surat nikah. Mungkin besok akan aku urus semua"
Lusi pun tersenyum dan memeluk lengan Rian. Dan menyandarkan kepala Lusi di pundak Rian.
"Kamu yakin, ntar bohong lagi.." ucap Lusi.
"Iya aku yakin. Aku mau anak kita miliki status. Meskipun semua seolah telat. Tapi aku mau semuanya jelas"
Lusi pun tampak tersenyum..
Lalu tak lama ada sebagian karyawan yang makan diluar dan bertemu dengan Rian dan Lusi.
Yang lain pun tampak tersenyum melihat Rian yang dipeluk istrinya.
"Maaf ya kalau aku bikin kamu malu. Aku ngapain ya meluk kamu didepan umum. Nanti pamor kamu turun sebagai seorang atasan" ucap Lusi. Sambil melihat ke arah karyawan Rian yang memperhatikan dirinya.
"Gak apa-apa lagi. Sah aja buat kita kan" Rian pun malah semakin mesra. Langsung melingkarkan tangannya di pinggang Lusi.
..................................
__ADS_1
Like like like...