
Part 110(Sarapan pagi) (Sesion 2)
Pagi hari yang cerah..
Suasana terasa sejuk kala pagi itu.. Ayam berkokok(ceritanya)
Burung pun berkicau.. Cwitt.. Cwit.. Yang entah tidak tahu burung milik siapa itu. Burung tetangga kah.. Atau burung milik sendirikah.. Atau burung burung yang lain..
Rasa dirasa..
Lusi pun tidak tahu burung itu milik siapa..
Ah sudahlah.
jangan ngebahas burung.. kan masih pagi.. Biarkan burung itu terbang bebas menyambut pagi hari.
Bagaimana kalau kita bahas sarapan pagi..
Terlihat Lusi menyiapkan sarapan pagi yang sangat luar biasa... (bagi dirinya)
Mie instan di kocok pake telur.. Bahasa latinnya omelete enake.
Tampak Rian yang terlihat tampan dan maskulin. Dengan setelan jas nya dan celana hitam. Menunggu sarapan pagi buatan Lusi yang menurut Rian terlalu biasa..
"Baby Boy.. Silahkan atuh di makan sarapannya..spesial loh bikin nya pake hati" ucap Lusi tersenyum.
"Spesial buat kamu. gak spesial buat aku"
"Ish.. Ini tuh Simple tapi enak. Di tambah pake saus.. Diatasnya.. Mantap"
"Seumur-umur asisten rumah tangga di rumah ini tidak pernah memasak ini untuk aku.. Ini terlalu biasa gak istimewa"
"Makanan ini banyak kenangannya. Jaman sekolah dulu omelet pake mie instant di bilangnya pizza.."
"Masa sih... Hebat juga imajinasi anak sekolah.. Omelet mie di bilangnya pizza"
"Seperti cinta.. Katanya cinta itu bisa membutakan segalanya.. semua yang terasa pahit pun dianggapnya manis kalau sudah bicara cinta.. Tanah pun di bilangnya coklat.. " ucap Lusi teresenyum.
"Masa sih..? " jawab Rian.
"Hemm.. Tapi aku baru ingat, kamu kan tidak cinta sama aku. Semua yang terasa manis pun dihadapan kamu terasa pahit.. Bahkan lebih pahit dari pahitnya empedu .. Ya.. Kan.. "
__ADS_1
Rian pun tampak kaget sambil menganga di hadapan Lusi.
Lusi pun tersenyum.
"gak usah kamu pikirkan ucapan aku barusan. Semua hanya kiasan yang tak bermakna"
Rian pun langsung meminum air putih dihadapannya dengan cepat..
"Ah sudahlah.. Aku mau berangkat kerja dulu ya. Takut telat nanti diomelin boss" ucap Lusi.
"Kamu lupa bahwa aku bossnya" sahut Rian.
"Memang sih kamu bossnya.. Tapi bawahan kamu, yang posisinya diatas aku, Sangat berhak marah saat aku datang terlambat. Aku gak mau image aku jelek. Meskipun aku tahu kamu suami aku... Eh salah.. Maksudnya, meskipun aku tahu.. kamu suami bayangan aku. Tetep Image aku nomer satu buat aku.. Dan lebih penting dari cuma status aku sebagai istri kamu yang cuma sebagai istri bayangan", ucap Lusi siap berangkat kerja.
Tampak Rian yang seolah mendapat tamparan berupa sindiran yang dilayangkan oleh Lusi. Rian pun tak bisa berkata hanya diam saja.
Lalu Lusi pun berangkat ke kantor dengan menaiki ojek..
Sesampainya di kantor.. Lusi pun langsung duduk dan melihat Mba Santi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mba Santi ini orang yang paling berdedikasi tinggi untuk tugasnya.
Dan Lusi pun bisa tampak dengan jelas siapa-siapa saja karyawan yang terlihat rajin kalau di depan para atasan. Dan siapa siapa saja yang benar-benar tulus dalam pekerjaan.
Lalu saat di kantor tiba-tiba ibu menelpon.
Kring..
Kring..
Kring..
Suara telpon..
"Asalamualaikum.. Putri Ibu yang cantik"
"Walaikumsallam Ibu aku yang cantik"
"Kamu sehat sayang?"
"Sehat alhamdulillah. Ibu sendiri?"
"Sehat..kamu lagi apa? "
__ADS_1
"kerja Bu.. "
"Eh ngapain kamu kerja.. Emang kurang apa uang dari suami kamu"
Lusi pun tersenyum hambar.
"Pengen ngerasain uang hasil kerja sendiri bu"
"Oh gitu.. Ibu kangen sama kamu"
"Iya bu, Lusi juga"
"Kapan kamu kesini? "
"Nanti kalau sudah gajian Lusi ke Bandung bu" ucap Lusi di telpon.
"Iya sayang Ibu tunggu. Eh Rian udah gak kasar lagi kan sama kamu. Dia sudah tak pernah pukul kamu lagi kan.. "
"Gak kok Bu.. "
"Syukurlah.. Mudah-mudahan dia bisa berubah. Dan bisa mencintai kamu secara tulus.. Jadi suami yang soleh. Serta keluarga kamu menjadi sakinah mawadah dan warahmah"
Lusi pun tersenyum mendengar ucapan Ibu di telpon. Walau sebenarnya.. Dada Lusi terasa sesak saat Ibunya berbicara seperti itu. Lusi tak sanggup bilang yang sejujurnya soal Rian yang telah menghianatinya, yang telah bertunangan dengan wanita lain. Lusi tidak bisa bilang karena ia tak mau bila Ibunya ikut sedih seperti apa yang Lusi rasakan. Kini biarlah kesedihan yang Lusi alami menjadi miliknya tanpa perlu Ibunya tahu..
Lalu Lusi pun mengambil tisu dan menghapus air matanya hingga beberapa kali.
"Bu.. Udah dulu ya.. Nanti telepon lagi" Lusi tidak mau Ibu curiga dengan nada bicara Lusi yang mendadak berubah karena sedih.
"Iya sayang.."
Maafin Lusi bu.. Lusi tidak bisa beritahu yang sebenarnya terjadi. Karena hati Lusi belom siap menceritakan semuanya. Mungkin nanti entah kapan.. Batin Lusi.
************
lagi libur lebaran tidak salahnya aku.. up..heheh..
oia Jangan lupa
Like.
like. like like trmksh.
__ADS_1