
Part 40 (Pusara Terakhir) (Sesion 2)
Keesokan harinya terlihat Lusi yang ingin memulai harinya dengan semangat. Ia berjalan-jalan dengan sepedanya menyusuri alun-alun kota Jogja. Sambil membawa sebuah kamera yang menggantung di lehernya. Sesekali ia berhenti dan menjepret keindahan dan keaneka ragaman kota Jogja.
Lalu Lusi pun duduk sambil memandang dan melamun.
Kini aku harus memulai kembali kehidupan yang baru. Menata masa depan, yang ku rindukan. Soal hubungan percintaan. sudahlah, Kita lihat saja sampai selesai wisuda. dia benar-benar melupakan ku. Atau dia akan menikahi ku. Buat apa aku memikirkan dia yang tak pernah memikirkan aku sedikitpun.
Tiba-tiba saja ada seorang pria menghampiri Lusi. Dari kejauahan Lusi memandang dan berfikir dia siapa. Tiba-tiba saja ia ingat kalau itu adalah kakaknya Devan bernama Adit. Adit umurnya sekitar 40 tahun. Dan Devan adalah pacarnya Lusi yang dulu telah meninggal. Adit dan Lusi lumayan akrab. Karena Lusi sudah cukup jauh mengenal keluarga Devan, maklum saja Lusi dan Devan pacaran cukup lama kala itu.
"Mas Adit" ucap Lusi
"Kirain kamu lupa. Dari kejauhan saya lihat kamu. Saya penasaran itu bener Lusi atau bukan. Eh ternyata bener" ucap Adit duduk disamping Lusi "Kemana aja kamu?"
"Gak kemana-mana. bagaimana kabarnya salsa?" tanya Lusi.
Salsa adalah anak perempuannya adit. Yang saat ini usianya 8 tahun.
"Sehat. Alhamdulillah" Jawab Adit
"Salsa udah gede ya pasti sekarang"
"Ya gitu udah pinter dia sekarang. Tapi dia kasian. Mikirin mamanya terus"
"Loh kenapa?"
"Istri saya selingkuh Lusi. Dan sekarang dia pergi gitu aja. Jadi salsa suka sedih kalau ingat mamanya"
__ADS_1
"Ya ampun kasian banget salsa. Sabar ya"
"Iya"
"Maaf ya, waktu Devan meninggal aku tidak bisa hadir ke pemakamannya" ucap Lusi.
"Iya gak apa-apa"
"Aku mau ke makamnya, kalau boleh.. minta alamatnya mas?"
Lalu Adit memberi tahu alamatnya dan menulis di sebuah kertas kecil.
"Ini alamatnya" ucap Adit memberikan secarik kertas.
Lalu Lusi pun mengangguk.
"Dijakarta, salsa juga disana. Disni lagi ada keperluan aja sih sebenernya. Saya kerja di Jakarta. Dengan jabatan dan gaji yang cukup lumayan"
"Enak dong. Saya malah masih kuliah belum selesai-selesai sampe sekarang" ucap Lusi merendah.
"Kamu setelah lulus mau kerja atau lanjut S2" tanya Adit.
"Gak tahu. Belum kepikiran"
Lalu Adit pun memberikan kartu namanya. Namun Lusi tidak membacanya, langsung di taruh disakunya.
"Setelah Lulus kamu bisa melamar ke kantor saya. Dan bawa kartu nama itu. Gak perlu waktu lama pasti kamu diterima"
__ADS_1
"Ya ampun terimakasih banyak"
Tanpa Lusi tahu, sebenarnya adit bekerja di perusahaan milik Rian. Sebagai direktur keuangan.
.
.
.
.
.
Lalu setelah itu, Lusi kembali ke kostan. Ia pun mengganti pakaiannya. Dan langsung pergi ketempat dimana Devan di makam kan.
Sesampainya air mata Lusi tidak terbendung melihat pusara terakhir milik Devan. Lusi menangis memandang nama Devan di batu nisan itu.
"Setelah kepergianmu Devan, aku merasa tak ada cinta, yang benar-benar cinta untukku. Namamu di bawah nisan ini. Bukti cinta kamu untukku Devan. Maafkan aku yang tak hadir di hari terakhir mu. Rasanya aku ingin memeluk mu. Walau hanya sekali", ucap Lusi sambil menangis terisak.
.
.
.
jangan lupa kasih jempol.😊 jangan Lupa patuhi prokol kesehatan..
__ADS_1