
Setelah acara ulang tahun pernikahan dan liburan romantis di Bali.
Lusi menjadi yakin dan semakin yakin bahwa Rian bener kini telah mencintai dirinya. Dan Berani mengakui lusi sebagai istri pada semua orang dan memang itulah yang selalu Lusi harapkan..
Semua air mata yang pernah Lusi jatuhkan kini berubah menjadi air mata bahagia. Dimana hanya ada kata cinta diantara keduanya.
Lusi selalu bersyukur dengan apa yang Lusi miliki kini. Orang tua, adik, suami, Fabio dan mama renata. Semua itu adalah orang-orang Lusi sayang dan cintai.
Hari ini tepat dimana sudah tiga bulan Lusi merasakan menjadi seorang ibu. Lelah sudah pasti. Stres juga pernah ada. Apalagi Fabio sering banget bangun tengah malem. Terkadang menangis namun entah apa yang ia pinta. Lebih lagi, terkadang Fabio susah tidur lagi setelah bangun tengah malam.
Dan kadang beratnya lagi Subuh-subuh ayahnya meminta jatah.
Kalau ditolak rasanya tidak mungkin. Apalagi Rian main serobot aja tanpa basa basi. Emang kelakuan dia itu. Kalau di tolak.. jawabnya sudah diubun-ubun. Karena katanya rasa tidak bisa dibohongin. Dan Rian selalu bilang Lusi pengangguran ini. Abis lelah semaleman kan bisa tidur siang. Ah dasar dia itu. Tidur siang ia menganggap sebagai jalan keluar.
Terlihat Lusi yang sedang merapikan tempat tidur yang terlihat acak-acakan setelah pergulatan sehabis subuh tadi. Rasa-rasanya akan malu bila dirapikan oleh asisten rumah tangga. Alangkah lebih baik memang dirapihkan sendiri. Untuk menghindari rasa malu itu.
Lalu Lusi melihat handphone milik Rian tertinggal di kasur. Lusi pun mengambil handphone itu. Lusi pun tersenyum saat Lusi melihat Poto profil ternyata foto dirinya dan Rian saat prewedding.. seketika Lusi mengingat kejadian lucu waktu itu. Saat Lusi dipaksa Rian untuk ikut foto prewed padahal Lusi saat itu tidak mau.
Lalu Lusi mengambil handphonenya dan berniat untuk membawanya ke kantor Rian. Mengingat Lusi sudah masak. Sebelum berangkat Lusi pun tidak lupa menyiapkan bekal makanan untuk Rian agar ia bisa memakannya siang ini.
Memang pagi tadi Lusi sempat menyiapkan beberapa menu hidangan makanan kesukaan Rian. Jadi tidak apa-apa bila sekali-kali Lusi main ke kantor suaminya itu. Meskipun tidak seenak makanan restauran. Namun masih layaklah untuk dimakan.
Dengan membawa Fabio dan di temani seorang supir Lusi menemui Rian di kantornya.
Sesampainya dikantor suasana menjadi tampak ramai. Ramai karena Lusi membawa Fabio yang lucu. dan tampak banyak staf karyawan yang ingin mengajak main Fabio. Namun sayang Fabio malah tampak menangis melihat para om-om yang antusias menggodanya dan malah membuatnya takut. Maklum saja mungkin Fabio baru melihat mereka jadi merasa tidak nyaman.
Dan saat disela-sela . Lusi pun tidak lupa juga membeli makanan untuk divisnya dulu waktu di kantor. Karena waktu Lusi resign Lusi tidak sempat mentraktir mereka.
Lalu Lusi pun ke ruangan Rian. Rian pun teramat terkejut saat Lusi datang dengan membawa Fabio. Rian pun teramat senang dan langsung menggendongnya.
Dan Lusi pun melihat seorang teman Rian yang sepertinya rekan bisnisnya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang kesini" ucap Rian menggendong Fabio dan mencium pipi juga kening sang buah hati.
"Aku cuma mau memberikan handphone kamu yang ketinggalan" ucap Lusi sambil tersenyum.
"Iya tarolah dimeja. Aku tidak sadar bila handphone aku ketinggalan" ucap Rian. "Aku mau main sama anak aku dulu ah.."
"Rian.. Terimakasih ya..." Ucap Lusi tersenyum manja.
"Untuk apa?"
"Karena kamu sudah memajang foto kita di handphone mu"
"Iya sayang.. jangankan foto kamu. Semua tentang kamu pun sudah pasti aku pajang dalam hati aku"
Lusi pun hanya tampak tersenyum.
"Cielah.. " ucap temannya Rian meledek.
"Oia aku hampir lupa.. by the way.. kenalin ini sahabat aku waktu SMA. Dia memiliki perusahaan besar juga loh. Dan kita tidak sengaja bertemu tadi didepan kantor. Namanya Gery"
Lalu Gery pun memberikan tangannya untuk berjabat tangan.
"Lusi.." ucap Lusi sambil tersenyum dan Gery pun langsung menjabat tangan Lusi dengan sedikit erat.
Rian pun langsung menyoroti Gery yang menjabat tangan istrinya yang begitu erat.
"Cukup.. cukup.. lu jangan kebanyakan pegang. Lepasin tangan dia" Rian tampak cemburu.
"Tadi lu yang nyuruh gue kenalan. sekarang lu yang marah sama gue" ucap Gery.
Rian pun memandang sinis Gery.
"Kenalan sih boleh tapi jangan lama-lama juga kali" ucap Rian.
"Oke.. gue akuin istri lu emang cantik. Dan wajar lu lepasin mantan pacar lu itu kan" ucap Gery.
"Mantan pacar yang mana?" Tanya Lusi.
"Heh, gue gak punya mantan pacar ya" ucap Rian tidak terima.
"Jangan pura-pura lu" ucap Gery.
"Emang gak ada. Kalaupun ada juga gua lupa" ucap Rian.
"Maksudnya Zelda?" tanya Lusi.
"Hah.. Zelda.. Zelda yang mana lagi tuh.." tanya Geri heran. "Lu punya berapa banyak mantan sih sebenarnya??"
"Heh. Jangan sembarangan lu kalau ngomong. Gue gak punya banyak mantan. Anjrit..!!!" Ucap Rian tampak kesal.
Gery pun tampak tersenyum melihat Rian yang kesal pada dirinya.
"Wah kaga beres gue ketemu lu ger!!!"
"Lusi jangan dengerin Gery..dia cuma becanda" ucap Rian.
"Oke oke.. tenang aja Lusi. Rian mantan pacarnya cuma satu kok. Setahu gue sih.. lu tenang aja. Walaupun dia ngeselin tapi gue yakin dia bakalan setia sama lu"
Lusi pun hanya tersenyum.
Setelah perdebatan gak jelas diantara keduanya. Rian pun tampak memperhatikan Lusi yang tampak pucat.
"Kamu terlihat pucat. Apa kamu baik baik saja" ucap Rian merasa khawatir.
"A.. aku..pucat.. hmm.." ucap Lusi memijat keningnya. Lusi pun terdiam sejenak.
Namun tiba-tiba saat itu juga Lusi pun tampak oleng. Dan terjatuh.
Bluuugg...
"Lusi...Lusi" ucap Rian Panik.
Refleks Gery pun langsung menopang tubuh Lusi yang terjatuh saat itu.
"Kamu gak apa-apa" ucap Gery panik. Sambil memandang wajah Lusi yang begitu dekat.
Rian pun tidak bisa berbuat banyak karena ia sedang menggendong Fabio. Rian pun tampak kesal saat tangan Gery menopang tubuh Lusi yang terjatuh itu.
__ADS_1
"Lepasin dia Ger" ucap Rian kesal
"Rian.. istri lu pingsan gue gak mungkin biarkan dia seperti ini"
Dengan cepat Gery pun langsung mengangkat tubuh Lusi yang terjatuh.
"Gery lu bener-bener edan. Lepasin dia.."
Gery pun tampak tidak mendengarkan Rian. Bahkan Gery langsung membawa pergi Lusi. Dengan maksud membawanya ke rumah sakit.
"Arrggghhh..." Rian pun tampak kesal dan langsung mengejar sambil menggendong Fabio.
****
Dengan cepat Gery pun langsung membawa Lusi dengan menggendongnya. Dan turun dengan menaiki lift. Rian yang mengejar Gery sudah membawa Lusi duluan masuk ke dalam lift.
"Argghh sial.."
Lalu saat itu juga tak sengaja Rian bertemu mba Santi.
"Mba Santi tolong jaga Fabio dulu ya. Lusi pingsan" ucap Rian memberikan Fabio kepada mba Santi.
"Nanti saya balik lagi..saya harus mengejar Lusi" Rian tampak panik.
"Oh iya baik-baik"
"Oh ya botol susu dan asi ada diruangan saya. Kamu bisa ambil"
"Baik pak"
Lalu dengan cepat juga Rian turun dan mencari istrinya yang dibawa oleh Gery.
Dan beruntung saat itu Rian melihat mobil Gery dan langsung membuka pintu mobilnya dan melihat Lusi didalam mobilnya. tadi karena bertemu dijalan. jadi Rian tahu mobil Gery yang mana.
Dan sialnya saat itu Gery sedang berusaha untuk memberi napas buatan pada Lusi.
Rian pun emosi dan menarik Gery keluar mobil.
Dan dengan cepat langsung menonjok wajah Gery.
"Kurang ajar kamu Gery" ucap Rian kesal. "Lu berani kurang ajar sama dia"
"Gue cuma mau kasih napas buatan itu aja"
"Lu pikir gue peduli" ucap Rian kesal.
Lalu Rian pun langsung menarik kerah baju Gery dan langsung ingin menonjok wajah Gery sekali lagi. namun tiba-tiba langsung dipisahkan oleh security.
"Sabar.. sabar pak. Bisa diselesaikan semua dengan baik-baik" ucap security.
Gery pun tampak menghela napasnya. Saat tangan Rian yang tidak jadi menonjoknya.
Lalu Rian pun langsung meninggal kan Gery dan menggendong istrinya yang berada didalam mobil Gery.
"Brngsk lu ger..." Ucap Rian pergi .
Selama di perjalanan Rian pun memegang tangan Lusi dengan erat. Rian tidak ingin hal buruk menimpa pada istrinya.
Dan diam-diam Gery pun mengikuti Rian dari belakang.
Sesampainya dirumah sakit...
Lusi pun langsung ditangani dokter. Rian pun tampak menunggu..
Setelah selesai ditangani, dokter pun keluar. Rian pun menemui dokter itu
" Istri bapak sepertinya kelelahan dan sedikit stres" ucap dokter.
"Tapi dia baik-baik aja kan dok" ucap Rian masih belum tenang.
Dokter pun tampak tersenyum.. "Selamat ya pak saat ini istri bapak sedang hamil"
"Ha..hamil dok" ucap Rian yang tampak kaget dengan kehamilan kedua Lusi yang begitu terasa cepat. Mengingat Fabio yang saat ini usia baru tiga bulan.
"Iya hamil"
Rian pun tampak mematung .
"istri bapak sudah mulai sadar sebaiknya bapak temui" ucap Dokter.
Rian pun menemui Lusi. Dan duduk disamping Lusi yang sedang terbaring. Lalu Rian pun memegang tangan Lusi dan mencium keningnya.
Lusi pun tampak membuka matanya secara perlahan. Dan kaget saat tahu dirinya dirumah sakit.
"Mana Fabio Rian.." ucap Lusi panik saat tahu tidak ada Fabio disampingnya.
"Tenang sayang.." ucap Rian.
"Fabio mana?" Lusi masih tampak panik.
"Dia aman.. dia ada sama mba Santi" ucap Rian memenangkan istrinya.
"Rian aku mohon bawa dia kesini"
"Iya pasti. Aku akan membawanya. Tapi Ada berita yang harus aku sampaikan sama kamu dan ini penting" ucap Rian.
"Berita apa??"
"Hamil, Kamu hamil.."
Lusi pun tampak kaget dan tak percaya.
Lusi pun langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya hamil lagi disaat dirinya baru tiga bulan lalu melahirkan.
"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Rian pada Lusi yang terlihat shock.
Lusi pun tampak menjatuhkan air matanya.. rian pun juga bingung entah apa yang merasuki istrinya.
"Hey kamu menangis" Tanya Rian lagi
__ADS_1
"Gak tahu Rian. Kenapa aku menangis. Aku tidak mengerti. Kenapa bisa secepat ini ya"
Rian pun tampak memegang tangan istrinya.
"Sudah tidak apa-apa" ucap Rian menghapus air mata Lusi. "Ini bukan salah kamu. ini rejeki untuk kita. Fabio punya adik itu kan bagus Lusi. Punya anak lagi bukan suatu hal yang buruk kan"
Lusi pun tampak mengangguk.
"Abis ini kita jemput Fabio ya..." ucap Rian.
"Iya"
"Aku tinggal sebentar ya. Aku mau ambil dompet ketinggalan di mobil. Nanti abis ini kita pulang"
***
Saat di parkiran hendak Rian mengambil dompetnya. Ia pun bertemu Gery lagi. Gery pun menghampiri Rian.
"Gue minta maaf soal tadi" ucap Gery.
Rian pun tampak tak menghiraukan.
"Lu masih marah sama gue, lu gak mau maafin gue" ucap Gery.
Rian masih terdiam.
"Rian.. tadi itu gue cuma refleks bantu istri lu. Karena gue cuma gak mau. Lu kehilangan istri lu. Sama halnya saat gue kehilangan nyokap gue"
Rian pun tampak menghela napasnya. Dan masih terdiam.
Gery pun masih berusaha meminta maaf pada Rian.
"Rian maafin gue lah. persahabatan kita udah lama. Gue gak mau persahabatan kita hancur hanya karena kesalahpahaman ini" ucap Gery.
"Gue peringatin sekali lagi. Jangan pernah lu pengang istri gue apalagi lu berusaha menciumnya. Kalau diri lu gak mau berakhir dirumah sakit, paham???"
"Okey gue janji gak akan. Gue akui gue salah. Terus gimana keadaan istri lu"
"Hamil"
"Hamil lagi?"
"Iya kenapa?"
"Ya.. Gak nyangka lu bakal punya anak lagi. Anak lu udah mau dua"
"Sementara gue nikah aja belum. Hebat lu bro!"
"Buruan lu nikah"
Gery pun tersenyum. "Doain ya biar gue cepet dapet jodoh hehhe"
"Iya bro!!!"
"Lu gak marah lagi kan sama gue"
"Harusnya sih gue masih marah.. cuma kali gue masih maafin lo"
"Oke Makasih bro"
"Mmm..."
"Oia gimana kabarnya Marisa"
"Gue gak tahu"
"Masa lu gak tahu. Lu bukan gak tahu kali. Lu pura-pura gak tahu"
"Gue beneran gak tahu. Pas gak lama lu keluar sekolah. Gak lama gue juga keluar dari sekolah"
"Kenapa?"
"Adalah pokoknya. Bokap ada proyek dibali waktu itu, yaudah gue pindah"
"Jalan proyek bokap lu di Bali"
"Gagal..."
"Kok gagal"
"rugi alias buntung. Yaudah balik lagi Jakarta"
"Terus"
"Terus apa?"
"Marisa"
"Mana gue tahu. Lu cari tahu sendiri aja ya. Gue gak tahu"
"Oh cari tahu dong.."
"Daripada gue ngurusin lu buat cari marisa mending gue ngurusin Lusi"
"Hehhe iya bro gitu aja marah.. lagi juga kan kita bertiga sudah sahabatan lama. Kurang lah kalau tanpa Marisa"
"Marisa juga udah lupa kali sama gue. Pasti dia udah punya suami dan anak kagak ngurusin kita. Emang nya lu!!! masih gini-gini aja"
"iya juga sih. Yaudahlah gue balik dulu ada meeting. Mau bahas proyek penting"
"Ok Good luck ya"
"Thank you"
Lalu Gery pun pergi....
*******
Entar cerita selanjutnya ada di buku selanjutnya... Bukan disini.
__ADS_1
Rian dan Lusi masih ada keterikatan... Tapi..... Rian dan Lusi bukan pemeran utamanya ya guys.. yang pemeran utamanya, Marisa dan Gery... ceritanya gue gak berharap akan bagus. Wkwkkwkwk. Maklum amatiran. Kalau jelek mohon maaf ya. Maklum cuma hiburan.