
X-tra part (darimu aku belajar ketulusan)
Setelah itu Lusi pun pulang bersama Rian. Lusi senang karena ia bisa membawa suaminya pulang. kondisi Rian memang belum seratus persen pulih. Tapi beruntung keadaan yang sudah lebih membaik.
Mereka pulang di jemput oleh supir pribadi.
Lusi senang dengan kepulangan suaminya. Namun entah mengapa ucapan Erik tadi membuat dirinya hanyut dalam lamunan..
Lamunan yang entahlah bagaimana, satu sisi Lusi merasa tidak habis pikir dengan niat jahatnya Adit. Dimana, Saat Erick bilang bahwa Adit akan menjualnya. Sungguh keterlaluan!!!, Emang Adit pikir Lusi ini apa?? Barang??? Lusi tampak jengkel. Namun satu sisi Lusi juga merasa kasihan pada salsa yaitu anaknya Adit. Lusi yang sudah menganggap salsa seperti adik. Ah bukan lebih dari itu. Bahkan anak. Lusi sedih, Saat ini harus tahu bahwa salsa terbaring di rumah sakit.
Namun sebelum Lusi ke rumah sakit untuk menemui Salsa. Lusi harus pulang dulu. Menemui Fabio dirumah.
"Kamu kenapa diam aja" tanya Rian.
Lusi pun tampak tak bicara, ia hanya melamun sambil melihat jalan. Dan terbawa pada pikirannya sendiri.
"Kamu kenapa" tanya Rian lagi.
Lusi pun masih diam saja. Lalu Rian pun memegang tangan Lusi. "Kamu kenapa?" Tanya Rian lagi.
Lusi pun tampak tersadar. Dan lalu Menunjuk dirinya dengan jari. "Kamu tanya aku"
"Iya kamu" ucap Rian.
"Hmm.. kamu bicara sama aku" tanya Lusi.
"Iya kamu, kamu kenapa sih?"
"Oh aku kira kamu bicara sama pak Edo" pak Edo ini adalah supir pribadi.
Rian pun tampak menghela napasnya.
"Aku gak apa-apa" jawab Lusi.
"Beneran"
"Iya.."
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Rian.
"Boleh"
"Saat aku ditusuk Adit. Yang aku tahu, Kamu kan di bawa kabur adit. Terus Siapa yang tolong kamu?"
"Mmm.. Iya begitu" Lusi pun tampak menghela napasnya. Sambil memalingkan wajahnya melihat jalan lagi. Lusi rasanya enggan sekali mengingat semua.
"Begitu bagaimana, yang jadi pertanyaan aku siapa yang tolong kamu Lusi" ucap Rian.
"Ya begitu, aku Bisa kabur sendiri"
"Gak mungkin, emang kamu makhluk astral bisa kabur dengan mudahnya.." ucap Rian sambil memandang Lusi. "Kamu cerita bagaimana caranya kamu bisa lepas dari Adit?"
"Lupakan saja soal itu"
"Aku hanya ingin tahu", ucap Rian
"Mm baiklah oke akan cerita. tapi.. aku pinta kamu Jangan marah.. saat itu.. aku di bawa Pergi ke sebuah rumah yang entah lah aku tidak tahu. Tangan dan kaki ku diikat. Lalu aku bingung bagaimana caranya lepas dari Adit. Lalu ya... Aku tawarin dia buat ya begitu "
"Begitu bagaimana?"
"Begituan.. kamu paham lah soal itu. Tapi ya itu karena mendesak saja. Tapi kamu tenang aja"
"Tenang bagaimana maksud kamu apa?"
"Aku tawarin dia Biar dia mau melepaskan aku Rian"
"Apa kamu bilang!!??" Rian tampak marah. tak sampai Lusi selesai bicara, Rian pun langsung menyuruh pak supir berhentikan mobilnya.
"Berhenti pak" perintah Rian. "Lusi, kamu turun!!'
"Dengarkan aku dulu"
"Dengarkan kamu bagaimana" ucap Rian marah.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan"
"Aku kecewa sama kamu. Aku bener-bener kecewa sama kamu Lusi." ucap Rian.
"Baiklah jika kamu ingin kecewa. Tapi aku heran kamu kenapa marah. Harusnya kamu jangan marah sebelum aku cerita semuanya"
Rian pun tampak menahan kesal.
__ADS_1
"Semua yang aku lakukan. Itu hanya trick aku aja biar Adit mau lepas ikatan tangan dan kaki aku saat itu. Karena aku diiket gak bisa ngapa-ngapain. Jadi aku menawarakan diri aku saat itu. Aku pun tidak mau. Cuma aku pura-pura mau. Agar apa? Agar aku bisa lepas. Lalu, aku berhasil kabur dengan diam-diam aku ambil konci disakunya. Dan semuanya.. gak sampai terjadi karena aku sudah bisa pergi dari Adit"
"Beneran gak terjadi?" Ucap Rian.
"Aku tidak habis pikir kamu masih saja begitu" Lusi pun langsung keluar dari mobil.
Lusi pun tampak melangkah kan kakinya dan turun dari mobil, tiba-tiba Rian pun langsung memeluk Lusi dari belakang.
"Lusi, maaf kan aku.." ucap Rian.
Lusi pun tampak menghela napasnya.
"Rian, setiap apa yang kamu dengar tentang diri aku. Tolong dengarkan sampai habis. Jangan semua pakai emosi" ucap Lusi.
Rian pun mendekap Lusi dengan erat.. "Iya, Aku minta maaf. Aku akan berubah pelan-pelan untuk kamu, dan tidak seperti ini lagi. Aku mohon kita pulang ya. Aku hanya takut kamu sampai jatuh ke tangan Adit. Aku minta maaf. Aku minta maaf"
" baik lah Tapi janji kamu harus baik sama aku ya"
"Iya sayang, aku janji"
****
Sesampainya di rumah, Rian pun tampak bahagia. Karena dapat melihat putranya.
"Kamu sudah pulang " ucap Renata menyambut dengan senyuman.
"Iya ma Alhamdulilah"
"Ma Fabio mana?"tanya Rian.
"Ada dikamar"
Rian pun langsung kedalam kamar dan mencari Fabio. Rian pun langsung tersnyum melihat Fabio yang begitu, tampan dan menggemaskan itu.
Lusi pun tampak menyusul Rian dari belakang.
"Aku mau menggendongnya Lusi. Mau kamu ajari aku menggendong bayi" ucap Rian.
"Iya. Aku ajarin kamu. Sebenernya aku pun gak terlalu lihai. Tapi sedikit-sedikit bisa lah" ucap Lusi tersenyum.
Lusi pun mengangkat Fabio dari box bayi dan memberikan Fabio kepada Rian.
Rian pun sangat bahagia. Dapat menggendong bayi laki-lakinya itu.
"Lusi, aku mohon kamu jangan tinggalkan aku ya"
"Rian.." Ucap Lusi.
"Iya?"
"Setelah ini.. aku akan lakukan tes DNA." Ucap Lusi.
"Untuk apa?, Kamu tak perlu lakukan itu. Aku percaya Lusi kalau ini adalah anak kita"
"Bukan soal itu.. aku harus tetap lakukan tes DNA, mau kamu percaya atau pun tidak. Aku akan tetap lakukan"
"Apakah kamu marah soal yang tadi"
"Bukan, bukan karena itu?"
"Lalu..."
"karena bukan cuma kamu. Adit juga merasa bahwa ini adalah anaknya juga. Yang aku lebih takut. Suatu hari nanti entah kapan aku tidak tahu, aku takut ia akan membawanya. Aku mengkhawatirkan keselamatan Fabio. Sebelum Adit cari tahu siapa ayah dari anak ini . Aku yang akan beritahunya lebih dulu"
"Hanya saja bagaimana kalau ternyata Fabio adalah bener anaknya Adit. Aku takut kamu pun akan meninggalkan aku juga"
"Rian, aku yang mengandungnya. Aku tahu siapa ayah anak ini. Aku yakin ia adalah anak mu. Jadi kamu tak perlu khawatirkan soal itu"
"Lusi aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku minta maaf"
"Iya.. kamu tenang saja soal ini"
*********
Sore harinya Lusi pun berniat ke rumah sakit harapan kita. Untuk menemui Salsa. Meskipun Lusi membenci bapaknya. Namun tidak untuk anaknya. Sebelum pergi, Lusi tidak lupa menyetok asi untuk Fabio.
Namun saat Lusi ijin untuk pergi ke rumah sakit. Rian meminta ikut. Lusi pun berangkat dengan ditemani Rian.
Sesampainya di rumah sakit Lusi pun. Bertemu dengan Mba Nike. Mba Nike ini adalah Ibu dari salsa.
"Lusi apa kabar?" Tanya mba Nike.
__ADS_1
"Alhamdulillah"
"Ini suami kamu"
"Iya"
Kebetulan Lusi memang kenal dengan Mba Nike karena Devan pernah mengenalkan Lusi dengan Mba Nike sebelumnya.
Devan ini adalah pacar Lusi yang dulu telah meninggal.
"Keadaan Salsa bagaimana mba?" Tanya Lusi.
"Dia masih kritis" ucap Mba Nike sedih. "Dalam keadaan seperti ini. Mba gak tahu harus bagaimana?"
"Kita lakukan terbaik untuk kesembuhan salsa mba"
"Lusi, mba sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan untuk saat ini Mba sudah tidak tahu lagi harus membayar rumah sakit uang dari mana. Mas Adit pun tidak memiliki apa-apalagi"
"Mba... Mba tidak usah pikirkan soal itu. Soal biaya biar aku yang urus"
"Biaya operasinya sangat lah mahal Lusi"
"Segera tangani. Aku akan biayai semuanya"
"Lusi, jangan kamu akan berat.."
"Mba, aku mohon ini demi keselamatan salsa" ucap Lusi.
"Lusi..." Lalu mba Nike pun memeluk Lusi. "Terimakasih"
"Iya mba sama-sama"
Lalu Lusi pun ke bagian administrasi untuk mengurus semua biaya rumah sakit.
Rian pun tampak menemani. Semua biaya rumah sakit, di tanggung semua oleh Lusi. Lusi memakai uang yang Renata berikan untuk membiayai pengobatan salsa.
"Rian, aku pakai uang dari mama. Gak apa-apakan" ucap Lusi.
"Lusi, lakukan semua yang terbaik untuk salsa. Simpan uang mu pakai uang ku saja"
Lusi pun tersenyum. " Tidak apa-apa. Uang yang mama kamu berikan akan sangat bermanfaat dalam keadaan seperti ini. Lagi pula uang nya cukup. Bahkan lebih dari cukup"
"Lusi, jika kamu kurang uang bilang ya"
Lusi pun tampak tersenyum.
Lalu setelah itu... Lusi pun menyelesaikan semua transaksi.
Setelah itu tampak Rian yang tersenyum sambil memperhatikan Lusi.
"Lusi, terimakasih" ucap Rian.
"Untuk apa?"
"Untuk semua pelajaran. Dari mu aku belajar ketulusan dan keikhlasan. Padahal kamu tahu sendiri. Bagaimana Adit sudah jahat sama kamu. Tapi kamu masih terlihat peduli" ucap Rian.
"Kita memang tidak pernah tahu, kepada siapa kebaikan kita akan kita berikan. Tidak peduli dengan orang yang kita benci, atau pun bukan. Dalam hidup, setiap manusia memang pernah melakukan kesalahan. Dan disaat kita tahu ada orang yang sudah jahat dengan kita. Dan bukan berarti kita harus membalas dengan kejahatan juga. Paling penting adalah ikhlas. Dan, Allah pun akan membalas kebaikan kita lebih dari apa yang kita berikan"
"Disaat aku jahat sama kamu apa yang kamu paling rasakan"
"Belajar ikhlas dan kuat. Karena semua memang sudah menjadi takdir. Dan selalu berharap yang terbaik dan berharap juga aku akan menemukan kebahagiaan di akhir nanti"
Rian pun tampak tersenyum dan mendekap Lusi.
******
Heheh ternyata masih ada kelanjutan nya lagi... Soalnya kalau di tumpuk semua disini kepanjangan yang nulis atau pun baca akan pegel..
Dari Lusi aku belajar hidup..
cielahhh...
Bahwa menjadi orang itu harus baik.. entah untuk pasangan kita, orangtua kita, saudara kandung, teman atau pun siapa yang sudah jahat... Intinya mau siapapun itu..
Dan.. kalau kita sudah baik ... Ternyata orang itu melupakan bagaimana kebaikan kita. Kita tak perlu kecewa..
Karena masih ada Allah yang tahu bagaimana kita sudah baik. dan bahwa kita ikhlas dalam melakukan kebaikan kepada orang lain.
Dan paling penting dalam hidup itu adalah bersyukur dengan apa yang setiap kita miliki. Karena saat itulah hati bisa lebih tenang...
Hehhe sok nasehatin. diri sendiri aja blm bener..
__ADS_1