Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Lika Liku Luka Hati


__ADS_3

Part 27 (Lika Liku Luka Hati) (seasion 2)


Keesokan pagi harinya terlihat Lusi yang sedang sibuk memberi pupuk pada tanaman-tanaman di pekarangan rumahnya. Dan dalam kegiatan itu ia melamun sambil memikirkan kejadian kemarin. Apa betul pria yang ia lihat itu benar Rian.


Lalu tiba-tiba Ayah keluar dan duduk di depan membaca koran sambil meminum kopinya. Ayah tidak terlalu memperhatikan bahwa di sana ada Lusi. Lalu Lusi pun menghampiri sang Ayah.


"Ayah.. Ada suatu hal yang ingin aku tanyakan" ucap Lusi.


Namun Ayah diam dan hanya fokus pada kopinya dan koran yang ia baca.


"Sebenernya Ayah melaporkan kejadian itu ke kantor polisi atau gak. Karena kemarin aku ketemu Rian di jalan" ucap Lusi.


"Gak... Ayah gak laporin itu ke kantor polisi" ucap Ayah.


Sontak air mata Lusi pun terjatuh dan kaget sekali dengan pengakuan Ayahnya.


"Tapi kenapa yah" ucap Lusi


Lalu Ayahnya pun menatap ke arah Lusi dengan tatapan tajam. Lalu bangun dari kursinya. Dan memandang Lusi lagi dengan tatapan yang tak biasa.


"Kamu gak pernah sadar! kamu itu cuma benalu di keluarga ini. Kamu sudah rusak nama baik keluarga kamu sendiri. Dan itu semua gara-gara kamu yang gak bisa jaga kehormatan diri kamu Lusi!", ucap Ayah dengan lantang.


Lusi pun kaget dengan pengakuan Ayahnya tersebut. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Ia pun menangis. Kini ia tahu kalau ternyata Ayahnya mendiamkan karena alasan itu.


"Maaf Ayah. Maaf.. aku minta maaf" ucap Lusi menangis.


Lalu Ayah pun pergi meninggalkan Lusi. Sedangkan Lusi hanya menangis. Seketika Lusi sangat membenci dirinya sendiri saat itu.


Sontak Ibu pun kaget melihat putrinya menangis.


"Kamu kenapa Lusi?" ucap Ibu


"Lusi benci diri Lusi bu.. Lusi benci" ucap Lusi sambil menangis.


Lalu Ibu pun membawa Lusi ke kamarnya.


"Coba ceritakan. Kamu kenapa?" tanya Ibu.


Namun Lusi hanya diam tak menjawab.


Siangnya...


ia mencoba menenangkan hatinya untuk tidak sedih. Berkali-kali ia mengingat ucapan sang Ayah. Berkali-kali pula ia menangis. Ia mencoba melupakan apa yang Ayahnya ucapkan. Namun semuanya terasa sulit. Ia pun tidak mau keluar kamarnya saat itu. Ia hanya duduk melamun sambil memandang ke arah langit-langit didalam kamar.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Telepon dari nomer yang tidak di kenal. Lalu Lusi pun menjawab telepon tersebut.


"Asalamuallaikum" ucap suara seorang perempuan dari panggilan telepon itu.


"Walaikumsallam" jawab Lusi.


"Apa benar ini dengan Lusi" tanyanya


"Iya benar"


"Saya Elfa, Kakaknya Juna. Saya ingin bertemu dengan kamu mungkin nanti malam jam 07.00, bisa kan?"

__ADS_1


Lusi pun kaget.


"Sepertinya kalau nanti malam aku tidak bisa. Kalau sore aku bisa. Sekitar jam 04.00 sore kalau mau" ucap Lusi


"Yaudah jam 04.00 sore nanti. Tapi kamu jangan bilang Juna ya kalau kita ingin ketemuan. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan " ucapnya.


"i.. Iya" ucap Lusi.


Lusi pun sangat penasaran dalam hatinya. Entah ada apa kakaknya juna menelpon dirinya. Ia pun diajak bertemu dengan janjian di sebuah resto di Bandung.


Lalu jam 04.00 sore pun Lusi sudah tiba di tempat yang di janjikan. Namun tidak terlihat juga kakaknya Juna datang. Sampai jam 05.00 sore ditunggu namun belum datang juga. Lalu ia pun memesan minuman untuk menghilangkan kejenuhannya menunggu. Hari mulai terasa gelap, tidak terasa waktu sudah berada di pukul 06.00 sore. Sudah tiga es teh di minum Lusi. Namun masih belum datang juga. Lalu Lusi pun mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kak Elfa. Kak Elfa hanya menjawab Lusi disuruh menunggunya. Sampai pada akhirnya adzan maghrib berkumandang. Lusi pun memutuskan solat maghrib dulu. Selesai solat maghrib Lusi pun kembali duduk di resto tadi. Dimana tempat yang sudah di janjikan. Tepat jam 07.00 malam pun Lusi masih menunggu kedatangan kak Elfa. Saat Lusi memutuskan untuk pulang. Seketika Lusi melihat seorang wanita datang dan duduk di hadapannya. Dengan wajah yang begitu terlihat dingin sambil memandang Lusi. Wanita itu terlihat sudah berumur sekitar diatas 35 tahunan.


Mungkin ini orangnya, apakah benar wanita dihadapanku adalah kakaknya Juna. Benak Lusi


"Saya Elfa, kakaknya Juna" ucapnya.


Ah benar saja kan, dalam hati Lusi.


Lalu seketika Lusi pun memandangnya dengan sedikit tegang.


"Apa benar kamu yang bernama Lusi"


"I-iya kak"


"Dari tampilannya sih cantik. Dan Saya ingin tahu umur kamu berapa?" tanya kak Elfa memandang Lusi sambil melipat tangan didadanya.


"24 tahun" jawab Lusi


"Kuliah atau kerja" tanyanya lagi.


"Oh begitu rupanya" ucap kak Elfa


Lalu Elfa menarik nafas panjangnya.


"Ada hal yang perlu saya sampaikan ke kamu. Semenjak Juna mengenal kamu. Ia tidak hentinya meminta di nikahkan dengan wanita yang bernama Lusi", ucapnya lagi.


Lusi pun kaget mendengar apa yang diucapkan kak Elfa.


"Lusi.. saya meminta pengertian kamu. Kamu jangan ngebet minta buru-buru dinikahi oleh Juna. Harusnya kamu paham itu. Dan seharusnya Juna sedang fokus kuliah. Bukan fokus ingin segera menikah."


Lusi pun tambah kaget dengan apa yang di ucapkan Elfa.


"Tapi saya tidak pernah meminta untuk dinikahkan oleh Juna kak"


"Lusi.. Kamu tidak usah berkilah. Saya tahu kamu sudah berumur. Mana mungkin Juna meminta buru-buru menikah. Kalau bukan kamu duluan yang mengajaknya. Saya gak mau ya kamu ganggu kuliahnya Juna"


"sepertinya ada kesalapahaman kak" ucap Lusi


"Saya tidak peduli. Saya peringatkan sekali lagi. Kamu jangan pernah ganggu Juna lagi. Dan biarkan dia fokus kuliah" ucap Kak Elfa.


"Baik kak. Aku gak akan ganggu Juna lagi" ucap Lusi


Lalu seketika air mata Lusi terjatuh. Ia pun mengusapnya dan langsung pergi. Ia berusaha tetap tegar dan tak ingin menangis. Karena semakin ia menangis semakin membuat hatinya terasa hancur. Lalu Lusi pun langsung memblokir nomor milik Juna di ponselnya.


Saat pulang dari sana tak ada satu pun taksi. Ia pun memutuskan pulang dengan menaiki ojek. Namun di tengah jalan, hujan turun deras. Ia pun meneduh sebentar. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam. Hujan masih belum reda juga. Lusi pun memaksakan diri. Untuk menembus hujan walau harus basah kuyup.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sudah pukul 22.30 malam. Terlihat Ayah sudah menunggu di depan ruang tamu. Ayah pun memandangku dengan tatapan tajam. Lusi hanya menununduk dan takut melihat Ayahnya.


"Dari mana saja kamu. Pulang malem terus bisanya" ucap Ayah marah


"Ada keperluan yah" ucap Lusi pelan.


"Emang gak ada waktu selain malam. Kenapa harus pulang malem. Nanti kalau di nodain orang lagi gimana?"


Ia pun kaget saat Ayah bicara seperti itu.


"Ma..maaf ayah"


"Lusi kamu itu harusnya mikirin masa depan kamu. Jangan kelayapan terus. Sekarang mana ada pria yang mau menikahi wanita seperti kamu. Pernah di nodai orang dan pernah gangguan jiwa pula. Mana ada pria yang mau wanita 'bekas' seperti kamu Lusi"


Lalu air mata Lusi pecah saat sang Ayah berkata seperti itu. Bak tersambar petir mendengar ucapan Ayahnya yang begitu menyayat hatinya.


"Kamu itu cuma bikin malu keluarga Lusi. Ayah kecewa sama kamu. Karena kamu sudah gagal menjaga kehormatan kamu sendiri Lusi"


"Ayah maafin Lusi. Aku minta maaf. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi meminta maaf pada Ayah", ucap Lusi langsung berlutut dihadapan Ayahnya sambil menangis.


Namun Ayahnya hanya diam. Sambil membuang wajahnya.


Lusi pun hanya menangis sesegukan.


Tiba-tiba Ibu datang dan kaget melihat pemandangan tersebut. Lalu Ibu pun menghampiri Lusi dan menyuruhnya untuk berdiri.


"Sudah Lusi. Kamu masuk kamar, baju kamu basah. Nanti masuk angin" ucap Ibu membawa Lusi untuk berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.


"Tapi bu. Ayah marah sama Lusi", ucap Lusi sambil menangis.


"Sudah.. Sudah.. Ayo", ucap Ibu lagi.


Lalu Lusi pun masuk ke kamarnya dengan di antar Ibu. Ia pun mengganti pakaiannya yang basah.


Dikamar ia pun menangis. Karena ia tidak menyangka Ayahnya akan berkata seperti itu. Hatinya teramat hancur dan sangat kecewa. Dan dari kejauhan Lusi mendengar lagi bahwa Ibu marah pada Ayah.


"Ayah harus minta maaf sama Lusi. Ayah bicara apa sama dia sampai dia menangis"


"Bu, Lusi adalah anak pertama. Ia harusnya patut jadi contoh untuk Lisa. Namun kenapa bisa-bisanya ia jadi bandel begini" ucap Ayah.


"Setahu Ibu Lusi anak yang baik"


"Bu, lihat saja dari kemarin Lusi itu kelayapan terus Ayah perhatikan. Kuliah gagal dan nikah gagal itu anak maunya apa. Dari kecil Ayah selalu keras sama dia. Buat giat belajar dapet nilai bagus. Agar Lisa mencontohnya. Mana hasilnya bu.. Anak seperti ini tidak bisa kita harapkan" ucap Ayah kesal


"Ayah tidak boleh berkata seperti itu. Secara langsung Ayah sudah menyakiti perasaannya Lusi", ucap Ibu.


Saat mendengar keributan Ayah dan Ibu. Hati Lusi malah semakin hancur. Air matanya tak hentinya terjatuh. Perasaan sedih, kecewa serta marah pada dirinya. Terus menyelimuti didalam hatinya.


Lalu Lisa pun terbangun mendengar suara keributan Ayah dan Ibu. Ia pun mendengar percakapan Ayah dan Ibu. Lisa sangat kaget saat mendengar semua yang disampaikan Ayahnya. Dan Lisa baru tahu bahwa selama ini ternyata kakaknya itu selalu menjadi yang terbaik karena ada paksaan dari Ayah. Agar menjadi contoh untuknya. Lisa pun merasa bersalah. Karena sebelumnya ia pernah iri dengan kakaknya yang selalu rangking di sekolah. Padahal semua itu dilakukan hanya untuk menjadi contoh untuk dirinya.


Lalu Lisa pun masuk ke dalam kamar Lusi. Dan melihat kakaknya yang penuh derai air mata. Lalu Lisa pun memeluk kakaknya dan menguatkan.


"Kak.. Kakak yang sabar. Kakak harus kuat. Lisa gak nyangka bahwa hidup kakak lebih berat daripada apa yang Lisa kira. Maaf kak sebelumnya Lisa salah mengartikan selama ini" ucap Lisa.


"Iya Lisa", ucap Lusi.

__ADS_1


Lalu setelah kejadian itu. Lusi semalaman tidak berhenti menangis menyesali diri sendiri. Ucapan sang Ayah terus terngiang di dalam hati. Apalagi saat Ayah bilang bahwa aku ini cuma 'wanita bekas orang'. Apakah aku sehina itu??? Bila mengingat itu semua itu rasanya Lusi ingin segera mengakhiri hidupnya sendiri.


__ADS_2