Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Air mata jatuh ke lantai


__ADS_3

Part 111 (Air mata jatuh ke lantai) (Sesion 2)


Triitt... Tritt.. Triit Suara printer printer ada di kantor. Seolah saling bersahutan. Suasana kantor tampak ramai dengan suara printer itu.


Tiba-tiba Erick datang dari bagian staff akunting meminjam komputer Lusi. Dengan alasan komputer yang ia miliki eror dan tak tersambung ke Internet. Lusi yang saat itu merasa tidak sedang memakainya pun memberikannya. Karena tugasnya sudah selesai.


Saat komputernya sedang di pinjam. Lusi pun mengerjakan tugas lain, seperti memfotocopy dan merapikan File-file di meja kerjanya.


Saat di meja kerja tampak Erick yang memperhatikan Lusi. Sambil menatap Lusi sedikit tajam sambil tersenyum.


Lusi pun hanya diam tak mempedulikannya.


"Eh.. Lo yang berantem sama Mela itu kan" ucap Erick


"emang kenapa.." tanya Lusi sambil merapikan kertas yang ada dimeja kerjanya.


"Gak apa-apa.. Cuma mau kasih tahu. Kalau Mela itu cewek gue"


"Siapa..? "


"Mela"


"Siapa nanya!!!" ucap Lusi judes.


Erick pun tampak tersenyum hambar dengan jawaban Lusi.


Lusi pun merasa sama sekali tidak penting, soal dia tahu atau tidak pacarnya Mela siapa.


waktu pun berjalan...


Tiga jam kemudian..


Erick pun selesai dengan tugasnya. Dan ia pun bergegas kembali ke meja kerjanya


"Heiii... Cewek judes!!? gua balikin komputer lo nih" ucap Erick berdiri.


"Akhirnya selesai juga. Sekian lama saya bosan menunggu" ucap Lusi melipat tangannya kesal karena Erick meminjam komputernya terlalu lama.


"Eh boleh minta nomer lu gak"


"Gak boleh... " jawab Lusi singkat.


"hmm.. Percuma lu gak kasih Lusi. Gue pun udah tau nomer lu dari group kantor"


"Trus.. Kalau udah tau ngapain nanya" ucap Lusi ketus.


"Pengen tahu respon lu aja.. oia, Thanks ya.. komputernya.. Mantap jiwa.. "


"Apaan sih gak jelas" Ucap Lusi menyipitkan matanya.


Erick pun pergi kembali. Ke tempat dimana ia berasal.


Lalu Lusi pun kembali duduk, didepan komputer miliknya.


Saat Lusi membuka komputer miliknya...


Lusi pun di buat kaget dengan beberapa file yang ada dikomputernya.


Apa-apaan ini.. Tidak ku sangka.. Komputerku telah ternoda. Kenapa banyak video porno disini. Benak Lusi kesal sambil menghapus semua video itu.


Itu orang gak ada akhlak.. Udah di tolongin malah download video gak jelas..


Tampak Intan yang memperhatikan Lusi yang memasang wajah cemberut, sambil memainkan komputer yang ada di hadapannya..


"Kenapa sih lo.. ? Muka lo kesel banget tuh kayanya.." tanya Intan.


"Tau gak sih.. Aku nungguin komputer miliku berjam-jam. pas aku buka ternyata Erick malah download video-video ini"


"Video apa sih..? " tanya Intan


"Video porno.. ngeselin gak sih.."


Intan pun tertawa cekikikan sambil memandang Lusi.

__ADS_1


"ga apa-apalah mungkin kenang-kenangan buat lo kali"


"Hah.. Kenangan apa Tan. Unfaedah gitu jadi kenangan"


Intan pun tertawa geli lagi. "Maksudnya kenangan buruk.. hah.. jangan-jangan itu video bukannya lo hapus malah lu simpan lagi"


"Sembarangan.. gak lah Tan.."


.


.


.,m


Beberapa selang kemudian..


Tiba-tiba Rian pun memanggil Lusi untuk datang ke ruangannya.


"Lusi... Di panggil sama Boss. Segera ya.. " ucap Viola menghampiri


"Hah.. Adaapalagi sih..?" tanya Lusi.


"Entahlah" ucap Viola.


Lalu Lusi pun menemui Rian. Di ruangannya..


Sesampainya..


Terlihat Rian yang duduk di kursinya. Sambil menopang dagu menunggu kedatangan Lusi.


"Jalanmu lama sekali.. Apakah kamu tahu.. Aku sudah menunggu mu lama.." ucap Rian memandang Lusi.


"Bukankah menungu itu sudah biasa. Yang tak biasa itu adalah menunggu hal yang tak pasti" ucap Lusi memandang Rian. "Jadi ada perlu apa? kamu memanggil saya kesini"


Rian pun tampak tersenyum. Sambil memandang Lusi lama.


"sepertinya... Badan saya terasa pegal sekali. Saya butuh pijatan dari seseorang seperti mu" ucap Rian sambil memegang pundak dan lehernya.


"apakah perlu saya memanggil tukang pijat ke sini" ucap Lusi memandang Rian.


"Tapi maaf saya kerja disini bukan untuk jadi tukang pijat"


"Mulai hari ini saya akan membayar mu lebih untuk jadi tukang pijat pribadiku. Sejam pun sudah cukup untukku" lalu Rian pun berdiri dan menarik tangan Lusi. Lalu memandu tangan Lusi untuk memegang pundaknya.


"Ayolah pijat pundakku sekarang" perintah Rian lalu duduk dikursinya.


Dengan terpaksa Lusi pun memijat pundak milik boss besar yang ada di perusahaan itu. Yang tidak lain tidak bukan itu adalah Rian suami Lusi sendiri yang super ngeselin.


"hmm.. Enaknya jadi boss. bisa suruh ini .. suruh itu..." sindir Lusi.


"Hahaha" Rian pun tertawa terbahak bahak melihat wajah Lusi yang melas..


Lusi pun hanya manyun sambil memijat Rian.


10 menit kemudian..


" Ah sudahlah Lusi.. Pijatan mu kurang enak untukku. aku harus memberi contoh kepadamu. Pijatan enak itu seperti apa.. " ucap Rian berdiri. Dan menyuruh Lusi untuk duduk di bangkunya.


Lalu posisi pun berganti, kali ini Rian di belakang Lusi dan memijat Lusi yang duduk .. Rian pun memijat pundak Lusi dengan lembut.


"Bagaimana enak kan rasanya" ucap Rian tersenyum sambil memijat pundak Lusi.


"Hmm... Sama saja seperti pijatan aku barusan. Gak ada istimewanya" ucap Lusi.


"bagaimana kalau yang ini" ucap Rian.


Lalu Rian pun memijat lembut area sensitif Lusi pada bagian dada.


Lusi pun sontak mendorong tangan Rian..


"Rian.. Stop.. Aku mohon kali ini jangan di kantor lagi kamu melakukannya" ucap Lusi menolak dengan tegas.


Rian pun tak menghiraukan Lusi.

__ADS_1


Lalu Rian pun memutar kursi ke hadapannya. Rian pun menggengong Lusi dan memangkunya.


"Jangan pernah lari dari ku" ucap Rian.


Dengan bergairah dan tanpa basa basi Rian pun mencium bibir Lusi..


Rian pun memeluk erat sehingga Lusi tak mampu berkutik lagi.


"Lepaskan aku Rian..!!!" pinta Lusi.


"Lusi.. kamu harus menikmatinya.. Aku sangat menginginkan mu.. " ucap Rian mencium bibir Lusi dengan gairah yang membara.


Saat Rian sedang asik-asiknya..


Tiba-tiba..


terdengar suara pintu terbuka.


Ceklek...


Rian yang terlalu fokus dan memejamkan mata sambil berciuman pun tak menghiraukan siapa datang saat itu. Rian sangat bernafsu dan hanya befikir bahwa itu adalah Viola sekertarisnya. Namun ternyata bukan.


"RIAN...!!!!" teriak Zelda.


Rian pun tampak kaget. Saat membuka matanya. Tampak Zelda yang datang saat itu.


Lalu Rian pun melepaskan Lusi dan berdiri di hadapan Zelda dengan wajah tegang.


Dengan cepat Zelda pun menapar Rian.


Plaaakkk...


"Aku pikir!!! Kamu baik. Dan ternyata apa.. Buktinya apa!!!." ucap Zelda kecewa.


Dengan rasa marah.. Lalu Zelda melangkah kan kaki keluar ruangan Rian dengan cepat.


Dan tampak Rian yang merasa bersalah pada Zelda. Rian pun dengan cepat juga mengejar Zelda.


Lusi pun menyaksikan betapa Rian sungguh takut kehilangan Zelda saat itu. Rian pun sampai berlari mengejar Zelda. Tanpa peduli sama sekali dengan keberadaan Lusi disampingnya.


Lusi pun keluar ruangan Rian..


Namun tak sengaja saat itu..


Lusi pun melihat Rian dan Zelda dari kejauhan..


Tampak dari jendela, Lusi melihat Rian memeluk Zelda di halaman kantor. Terlihat Zelda yang menangis tersedu dalam pelukan Rian saat itu. Selain itu.. Rian pun tampak mencium kening Zelda.


Lusi yang melihat itu..


Seketika air matanya pun turut terjatuh.


Hati Lusi bak tertusuk pisau, terasa begitu sakit dan perih.. Ketika suaminya lebih mementingkan perasaan orang yang baru saja menjadi tunangannya, ketimbang dirinya sendiri sebagai istrinya.


Lusi pun menangis saat melihat kesungguhan Rian meminta maaf pada Zelda..


Hal yang paling menyakitkan untuk Lusi adalah..


Perasaan Lusi sama sekali tidak di hiraukan Rian dan terabaikan. Air mata Lusi tak mampu di tebendung lagi. Turun begitu derasnya saat menyakaksikan itu semua. perasaan sakit yang bekecamuk semakin besar dalam hatinya.


Lusi yang selalu menemani tidurnya. Melayani Rian dengan jiwa raganya. Merasa seolah tak dianggap sama sekali.


Jika air mata Zelda saja bisa dihapus oleh Rian. air mata Lusi kenapa Rian tak mampu menghapusnya. Sampai jatuh ke lantai ribuan kali pun.. Rian tak datang untuk menghapus airmata Lusi.


Lusi memandangi Rian sambil memegang kaca dan bersandar pada kaca.


*********************************


Like... Yaa...


Like... Ya...


Like.. Ya...

__ADS_1


sebagai penulis biasa aku pun butuh Like juga guys. 😉😊👍


__ADS_2