Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Siap-Siap Apa?


__ADS_3

Part 142 (Siap-siap apa?)(Sesion 2)


Tangan Rian masih terus menggandeng Lusi dengan erat. Setelah dari Aula tadi saat meeting menyadarkan Lusi bahwa kali ini Rian memang benar berubah. Dengan setulus hati Rian menyampaikan kepada seluruh karyawannya bahwa Lusi ini adalah istrinya. Lusi pun tidak bisa menutup kebahagiaannya kali ini. Lusi pun tampak tersenyum selama Rian terus menggandeng tangannya. Dan banyak pasang mata yang tampak memperhatikan dirinya


Sampai Lusi dan Rian naik mobil pun tampak yang lain masih memperhatikan dan tampak sangat penasaran hingga melihat Lusi dan Rian pulang bersama.


Rasanya seperti balas dendam pada mereka yang sudah hujat habis-habisan. Meskipun balas dendam bukan dengan cara menyakiti balik mereka. Hanya dengan cara membuat mereka tercengang saja. Tapi meskipun begitu Lusi tak pernah menyimpan dendam kepada siapa saja yang sudah menyakiti dirinya. Baginya biarlah waktu yang menentukan takdirnya. Dan waktu jugalah yang akan mengubah orang itu untuk jadi orang lebih baik.


Selama perjalanan Lusi pun masih tampak terdiam. Rian pun kembali memegang tangan Lusi.


"Lusi, aku mau kamu kembali ke rumah. Kita kembali tinggal bersama ya.."


Lusi pun tampak terdiam..


"Kamu masih memikirkan mama.."ucap Rian.. "kamu tenang saja. Aku yang akan bicara sama mama. Ini demi keselamatan kamu. Aku gak mau kalau Adit sampai berbuat macem macem lagi. Kamu pulang ya.."


Lusi pun mengangguk.


"Nanti Lisa, juga boleh tinggal bersama kita. Lagi juga rumah aku besar jadi cukup kita untuk tinggal bersama"


"Tapi sepertinya Lisa tidak akan mau" ucap Lusi. Lusi tahu bahwa Lisa sangat lah membenci Renata mana mungkin ia mau tinggal seatap dengan Renata.


"Yaudah kalau gitu adik kamu bisa aku sewakan apartement" ucap Rian


"Apa kamu bilang apartemen" ucap Lusi membulatkan matanya. "Ah.. jangan.." ucap Lusi.


"Loh.. Kenapa...?" Tanya Rian.


"Aku gak mau kalau dia berbuat yang nggak nggak di apartemen"


"Maksudnya" tanya Rian.


"Aku takut kalau Lisa bawa cowok ke apartemen gimana. Lalu.. akh.. aku gak bisa bayangin kalau sampai dia kenapa-kenapa Rian" Lusi menutup wajahnya dengan tangan. sudah membayangkan hal hal yang belum pasti terjadi..


"Ehmm.. dia pindah ke kostan khusus wanita aja, dengan penjagaan yang super ketat. Sekalian cariin ibu kost yang galak. Biar dia gak bawa teman laki lakinya ke kostan"


Rian pun tampak tertawa dengan penuturan Lusi yang sangat over protective pada adiknya itu.


"Lusi..Lusi.." ucap Rian menggelengkan kepalanya. "Lisa itu udah besar. Dia udah tahu mana yang benar dan salah" ucap Rian.


"Rian, ingat setan ada dimana-dimana.. aku gak mau Lisa masuk dalam lubang kemaksiatan"


Rian pun tampak tertawa lagi dan akhirnya menyerah dengan apa yang menjadi keinginan Lusi. "Hehe.. Iya Bu ustadzah. Tenang nanti aku cariin Lisa kostan wanita yang paling bagus aman dan nyaman. Plus satu paket dengan ibu kost yang galak biar dia gak macem-macem"


Lalu Lusi pun tersenyum.


.


.


.


Lusi pun diajak oleh Rian ke rumahnya.


Sesampainya...


Seperti sudah lama sekali Lusi tidak menginjakan kakinya dirumah yang sudah hampir 6 bulan ia tinggalkan itu. Lusi pun menatap setiap dinding rumah besar milik Rian itu. Seketika Lusi teringat waktu ia masih tinggal dirumah besar milik Rian.


Renata pun melihat Lusi datang.


Masuklah Lusi ke dalam rumah besar itu.


Lusi pun hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun. Dan tampak Renata yang memandang Lusi.


"Rian" ucap Renata mengerinyitkan keningnya.


"Iya ma.." ucap Rian menggandeng tangan Lusi dan mendekati mamanya. Lalu tampak Lusi yang salim sama Renata.


Renata pun tampak memandang Lusi tajam. Lusi pun tampak menundukkan kepalanya karena masih takut pada Renata.


"Ma, aku mau kalau Lusi tinggal bersama kita lagi" ucap Rian.


Renata pun hanya memandang tajam Lusi.


"Ma..maaf, kalau kedatangan saya mungkin mengganggu istrihat nyonya. Sebenarnya saya kesini bukan karena keinginan saya.. Emm.. tapi sepertinya kedatangan saya memang tidak diinginkan.." ucap Lusi yang masih takut melihat Renata.


Renata pun hanya memandang Lusi dengan tajam.


"Ma, Rian mau Lusi tinggal disini" ucap Rian.


"Rian jangan paksa mamamu untuk menerima aku. Aku gak apa-apa kok, gak tinggal disini" ucap Lusi tersenyum getir.

__ADS_1


"Siapa juga yang suruh kamu tinggal disini" ucap Renata.


Tuh kan bener benak Lusi.


Lusi pun tampak menghela napasnya. Lusi merasa tidak enak hati melihat Renata yang memasang wajah dinginnya itu.


"Emm kalau gitu saya permisi ya nyonya. Saya permisi pulang" ucap Lusi. Lalu Lusi beranjak melangkahkan kaki untuk pergi dari rumah itu.


Tiba-tiba.. Renata pun tampak memanggil Lusi.


"Tunggu... Siapa yang menyuruh mu pulang" ucap Renata.


Lusi pun menoleh dan menghentikan langkahnya.


Lusi pun tampak diam.


"Saya tanya siapa yang menyuruhmu pulang Lusi" ucap Renata ketus.


"Ti.. tidak ada" ucap Lusi gugup. "Tapi bukannya nyonya bilang sendiri tidak menyuruh saya untuk tinggal disini"


"Tapi bukan berarti saya menyuruh kamu untuk pulang"


Lusi pun memandang Renata.


"Sini peluk mama" ucap Renata melebarkan kedua tangannya. "Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa hadiah paling mahal itu adalah pelukan"


Lusi pun tampak tersenyum dan Merasa terharu apa yang dikatakan Renata.


Lusi seketika dengan cepat menghampiri Renata. Dan memeluknya..


"Mulai sekarang kamu jangan panggil saya dengan sebutan nyonya. Panggil mama saja" ucap Renata.


"Iya ma.. " ucap Lusi tersenyum.


Jika kemarin Lusi yang meminta Renata untuk memeluknya. Kini tampak Renata yang menginginkan dipeluk oleh menantunya itu. Ini seperti mimpi dan kebahagiaan yang tidak ada bandingnya. Sesosok Lusi yang dulu paling di benci oleh ibu mertua nya dulu. Kini berubah menjadi sesosok yang disayanginya.


Lusi tahu orang tua Lusi memang masih lengkap. Tapi lebih lengkap lagi kalau kita masih punya mertua yang kita sayangi dan menyanyangi kita.


"Lusi maafkan mama.. selama ini sudah banyak melakukan salah sama kamu" ucap Renata.


"Mama tidak perlu meminta maaf. Lusi sudah memaafkan semuanya" ucap Lusi.


Memang sebelumnya Lusi sudah memaafkan semua kesalahan Renata. Tanpa perlu Renata meminta maaf.


"Ayo kita makan.." ucap Renata. "Kamu belum makan kan.."


"Iya terimakasih"


Lalu Lusi pun makan bersama. Lusi pun mengambilnya hanya sedikit nasi dan sedikit lauk saja. Mengingat Lusi masih sungkan dengan semua ini. Tiba-tiba Renata menyendokan lagi nasi dan lauk untuk Lusi.


"Kamu makan yang banyak ya. Kamu kan sekarang berdua. Orang hamil makannya yang banyak ya.." ucap Renata.


Lusi pun tersenyum.


"Selama ini mama salah, sudah memisahkan kalian berdua. Seharusnya Mama tidak boleh egois dan tidak boleh seperti itu. Sekarang mama sudah tua, sudah saatnya mama istrihat. Mama ingin melihat kalian bahagia. Dan mama ingin menikmati hari tua mama bersama cucu-cucu mama kelak"


Saat Renata melihat Lusi dan Rian. Renata tampak tersenyum sambil merenung. Dia mengingat dirinya yang kini sudah berumur dan sudah tak lagi muda. Sudah saatnya melihat anaknya kini bahagia dan memiliki keluarga. Bukan sekedar meraih cita-cita Renata yang hanya gila harta.


Seketika Rian pun menggegam tangan mamanya.


Lusi pun juga sama..


"Lusi, kandungan mu itu usianya berapa bulan" tanya Renata


"sekitar 27 Minggu, 6 bulan jalan 7 bulan ma" ucap Lusi jawab dengan detail.


Renata pun tampak mengerinyitkan keningnya. " Kenapa terlihat seperti 8 bulan ya. Apakah kandungan kamu tidak terlalu besar untuk usia yang baru menginjak 6 bulan itu"


Lusi pun menghela napasnya, Lusi pum tersenyum. Karena ia tidak tahu persis orang hamil 6bulan perutnya itu seberapa besar. Maklum saja ini adalah kehamilan pertamanya.


"Mungkin karena terlalu banyak makan kali ma, jadi anaknya gendut di dalem" ucap Rian ngomong seenak jidatnya. Padahal Lusi kalau makan biasa saja gak pernah menambah porsi. Hanya cemilan saja sih yang bertambah.


"Ya mungkin" jawab Lusi.


"Tapi gak apa-apa yang penting anak kamu sehat sehat ya" jawab Renata.


.


.


.

__ADS_1


Lalu setelah makan malam bersama. Lusi pun masih harus pulang. Untuk mengemas pakaiannya. Karena kan harus pindah. Dan harus ke tempat kostan yang baru untuk Lisa.


Dan Lisa pun mendapatkan kostan baru milik temannya Rian. Yang kali ini lebih bagus dan aman. Lisa pun terima terima saja yang penting itu pastinya lebih bagus dan lebih mewah.


Dan sampailah mereka di kosan barunya. Terlihat Lisa yang sedang merapihkan pakaiannya dan masuk ke dalam lemari.


Sementara saat itu Lusi sedang berada di toilet.


"Lisa, kalau aku bawa kakak kamu pulang kerumah gak apa-apa kan" ucap Rian.


"Oh jelas gak apa-apa.. selama ini kak Lusi sering menangis loh selama kehilangan kak Rian" ucap Lisa.


Kali ini tampak Lisa yang memanggil Rian dengan sebutan kakak..karena pada dasarnya Rian memang lah Kakak iparnya.


"Ah masa sih" ucap Rian sambil tersenyum.


"Iya beneran" ucap Lisa meyakinkan. "kalau kak Lusi bisa menangis darah. Mungkin sudah ia lakukan dari kemarin kemarin kali. Kak Lusi Sangatlah merindukan kak Rian. Sampai meronta ronta nyaris pingsan" ucap Lisa bohong bahkan sampai melebih lebihkan. Padahal Lusi sih sebenarnya memang menangis. Tapi ya biasa saja menangisinya, tidak sampai meronta ronta karena rindu.


"Jadi Lusi sangat mencintaiku ya Lisa" ucap Rian memastikan lagi.


"Uuuhhh sangat sangat cinta"


"Tapi kemarin kemarin biasa ajah, gak yang gimana gimana.."


"Yah, yaulah wanita itu kan suka muna kak.. apalagi seorang Lusi mana pernah ucap kata cinta di bibirnya. Bisa bisa ujan geledek kali kalau dia bilang cinta" ucap Lisa cengar cengir. "Udah sikat aja dia mah.. gak usah nunggu balasan kata cinta. Tar juga dia klepek klepek sendiri" ucap Lisa yang semakin tertawa karena berhasil ngerjain kakaknya.


"Aduh jadi gak sabar.." ucap Rian sambil tersenyum.


"Gak sabar apa.."


"Buat bawa pulang kakak kamu. Gak sabar buat kembali lagi kaya dulu"


"Kaya dulu gimana" tanya Lusi memancing Rian.


"Ah kamu pasti ngerti lah kamu kan sudah 21 plus. Udah paham lah soal itu"


Lisa pun semakin cengar cengir melihat Rian yang otaknya sudah mulai traveling.


Tidak lama pun Lusi yang baru saja keluar dari toilet muncul dihadapan Rian dan Lisa.


"Sstt.. stt... ada orang.. ada orangnya" ucap Lisa melihat kakaknya.


"Ngomongin apa kalian berdua. Ngomongin kakak ya.." ucap Lusi melihat sinis.


"Ge-er.. lagi juga emang kakak artis apa di omongin" ucap Lisa.


"Awas aja kalau ngomongin. Eh.. Ngomong-ngomong kamu gak apa-apa nih tinggal sendiri di kostanan yang baru"


"Yailah kak, ga apa-apa santai aja"


"Ingat kakak gak mau kalau kamu sampai bawa teman pria ke dalam kostan ya" ucap Lusi pada adiknya.


"Ya ampun. Tenang aja.. aku bukan kakak yang suka bawa temen pria ke dalam kostan kali"


"Eh sembarangan kamu. Emang kamu pikir kakak kaya gitu"


"Yaudah sana kakak pulang. Kak Rian udah nungguin tuh"


Lusi pun menoleh ke arah Rian. Terlihat Rian yang senyum-senyum sendiri kaya orang stres.


"ih. senyum senyum.. obatnya abis ya" celetuk Lusi memandang Rian.


Lalu Lisa pun mendekati Lusi dan sedikit berbisik.


"Siap siap ya kak ntar" ucap Lisa.


"Siap-siap apa?" Ucap Lusi heran.


"Ya siap-siap aja" ucap Lisa.


"gak jelas..ikh.."


Lalu setelah itu Rian pun membawa Lusi kembali ke rumah. Sementara Lisa kini tinggal di kostan yang baru. Yang katanya sih lebih nyaman, lebih bagus dan aman.


Saat di mobil.. terlihat Rian yang tersenyum sambil membawa mobilnya.


"Lusi.. aku mencintai kamu" ucap Rian sambil tersenyum. lalu mengelus elus paha Lusi.


"Hah.. eh.." ucap Lusi risih mendorong tangan Rian.


"Kamu tidak usah jawab pertanyaan aku yang tadi ya. karena aku sudah tahu jawabannya"

__ADS_1


Lusi pun hanya diam melihat Rian heran.


__ADS_2