Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Flash Back 3 (II)


__ADS_3

Part 21 (Kilas Balik 3)


Lalu aku pun menceritakan semua pada Devan. Soal bagaimana Rian memperlakukanku. Devan pun marah besar.


Keesokannya aku mendengar keributan di Kampus. Devan menemui Rian, ia pun langsung marah dan memukuli Rian. Lalu aku menghampiri mereka dan memisahkan mereka. Aku berada di tengah-tengah mereka. Sambil memegangi tangan Devan. Aku melihat Rian sambil melotot dan menunjuk-nunjuk Devan.


"Jangan pernah sekali pun kamu memperlakukan Lusi semena-mena lagi", ucap Devan dengan kesal. Sambil mencoba memukul Rian lagi.


Saat itu Rian mengarahkan pukulannya. Namun malah mengenaiku saat aku sedang memisahkan mereka.


"Awww...", teriakan ku kesakitan.


Lalu Devan pun panik melihat aku terkena pukulan.


Ia pun langsung menarik ku pergi. Ia menyuruh duduk dan memberiku air putih. Ia mengobati luka dipelipis mata ku yang terkena pukulan.


"Maafkan aku, karena aku kamu jadi kena pukul. Gimana sakit?" ucap Devan.


Aku pun menggelengkan kepala. Ungkapan bahwa aku baik-baik saja.


"Aku gak bisa-bisa lama temuin kamu. Aku harus pergi", ucap Lusi ketakutan.


Lalu Lusi pun pergi.


Namun setelah kejadian itu justru malah menjadi bumerang buat diriku sendiri. Rian tidak terima saat Devan memukulinya.


Sampai suatu hari ia menculikku. Dan membawaku ke sebuah gudang kosong. Aku takut sekali dengan keadaan saat itu. Rian juga memukul ku karena aku mencoba melawan dan kabur dari tempat itu. Lalu tangan dan kaki ku diikat. Rian menelpon Devan dengan handphone milikku. Dan aku disuruh bicara padanya.


"Dev.. Tolong aku", ucap aku sambil menangis. Hanya itu yang bisa ku ucapkan padanya.


Lalu Rian menarik kembali Handphone milikku. Dan mulai bicara pada Rian.


"Lu kalau mau... jemput cewek lu sekarang juga, di Hotel Bintang. Tapi dengan syarat, lu jangan beritahu polisi kalau masih ingin lihat Lusi hidup."


Devan pun mengiyakan dan langsung ingin menjemputku.


Aku pun hanya menangis. Karena sebetulnya aku bukan di tempat itu. Aku berada jauh dari tempat itu.


Bak Air susu di balas air tuba. Aku yang sudah menolong Rian dengan penuh keikhlasan. Namun harus berakhir pedih. Karena perkara cinta yang tak terbalaskan.


Lalu Rian pun melepaskan ikatan di kaki dan ditanganku. Lalu ia menggendongku. Dan menjatuhkanku dengan cara membantingkku. Aku menangis sambil kesakitan. Lalu ia mendekatiku.


Setelah itu ia mengambil kehormatanku. Aku di nodai Rian secara sadis. Aku seperti diterkam oleh macan yang mengincar mangsanya.


Dia membabi buta melakukan hal semaunya sendiri dan sesuka hatinya.


Tanpa memikirkan bagaimana perasaan dan sakitnya aku. Yang ia pikirkan hanyalah kepuasan diri dan batinnya.


"Lakukan apa yang aku suruh tanpa harus membantah" ucap Rian sambil menarik badan ku.


"Persetan dengan mu.. lepaskan aku Rian" ucap aku menangis sambil berteriak.

__ADS_1


"Tidak akan aku lepaskan. Aku ingin bermain-main denganmu dulu. Sampai aku puas dan kamu benar-benar hancur"


"Aku benci kamu... Aku benci kamu Rian" ucapku berusaha untuk berdiri dan menjambak rambutnya.


Namun aku malah di pukul Rian. Dan aku langsung tersungkur. Sekuat kuatnya aku sebagai wanita. Aku kalah dengannya walau pun dia hanya satu kali pukul. Namun itu sudah mampu menumbangkan ku. Apalagi ini sudah lebih dari satu kali.


Ia telah mampu membuatku trauma dengan luka pukulan dan tamparan yang aku alami. Aku hanya bisa menangis sambil kesakitan. Namun aku mencoba tetap bertahan. Aku ingin berusaha lepas darinya. Aku tidak mau mati di tangannya. Aku mencari-cari jalan keluar namun aku tidak menemukannya.


Bahkan setelah itu, cacian dan makian seolah aku wanita rendahan dari mulutnya ia lontarkan bertubui-tubi. Seolah baginya aku ini pelacur di hadapannya. Aku wanita baik-baik dan selalu menjaga kehormatanku. Namun harus berakhir di tangan Rian yang bejat dan penuh kesengsaraan ini.


"Perempuan murahan seperti kamu. Memang layak mendapatkan ini", ucap Rian.


"Rian... aku tidak pernah Dihina orang ataupun menghina orang sampai seperti ini. Salah aku apa sama kamu."


"Salah kamu apa. Pikir aja sendiri" ucap Rian


"Apakah ini cara kamu berterimakasih pada orang yang telah menolong mu", ucapku sambil menangis.


"Kamu mau uang berapa?, aku akan memberikan berapapun yang kamu mau".


"AKU TIDAK BUTUH UANG KAMU" teriakan ku.


"Heh.. wanita jalang aku bisa membeli mu kalaupun aku mau"


"Kamu pikir semua hal bisa di beli dengan uang" ucap ku


Namun Rian malah menghajar ku lagi.


Aku diculik hampir tiga hari. Aku tidur tanpa beralaskan apapun. Aku kedinginan disini. Tak ada selimut ataupun bantal untukku. Rian pun memaksa ku untuk makan. Dengan menyuapi aku secara kasar. Dan penyiksaan demi penyiksaan berikan kepadaku. Apakah ini yang disebut cinta. Cinta macam apa yang kuterima kali ini. Luka dan duka batin yang kurasakan sangat kental kini kurasakan. Air mata ku seharian tidak berhenti keluar. Saat aku membuka mata sampai aku memejamkan mata saat tertidur pun aku selalu menangis. Jika ini memang mimpi tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Aku ingin semuanya segera berakhir. Aku ingin menyudahi ini semua.


Setelah itu... tubuhku terasa sakit. Wajah ku bengkak dan lebam. Keperawanan ku pun kini telah sirna di ambilnya. Badanku terasa lemas. Pakaianku lusuh dan sudah tak utuh. Wajah ku penuh derai air mata. Rambutku pun berantakan, namun aku mencoba berjalan dan berdiri. Aku melihat ada beberapa kamera disampingku. Entah berapa banyak kejadian kamera itu merekamny. Dan aku tidak tahu. Aku berjalan sambil membungkuk dan berjalan pelan. Karena kaki sangat terasa lemas. Beberapa kali aku terjatuh, namun aku berusaha tetap berdiri.


Lalu tak lama Rian datang menghampiri ku. Ia datang membawakan ku Roti dan segelas susu.


Aku menatapnya dengan tajam sambil menangis.


"Gimana tidurnya nyenyakkan", ucap Rian sambil tertawa.


"Oh bukan, bukan nyenyak tapi enak kan".


Aku merasa jijik sekali dengan perkataan Rian.


Aku pun langsung meludahi Rian. Aku sangat benci kepadanya.


Namun Ia langsung melempar makanan itu ke wajahku.


Praaakkkkk


Dan menyiram aku dengan susu yang dibawanya. Menyiram dari atas kepalaku lalu jatuh ke tubuhku. Lalu ia mendorongku hingga aku jatuh.


"Kamu tega Rian sama aku. KAMU TEGA ! Kamu gak punya perasaan". Ucap ku sambil menangis terisak.

__ADS_1


Lalu Rian hanya tersenyum. Aku tidak banyak melawan disaat ia mencoba menodaiku lagi, karena tenaga ku sudah habis. Tubuh ku terasa lemah.


Dan tiba-tiba aku teringat bagaimana aku begitu baik padanya saat menolongnya. Aku serahkan darah ini mengalir di tubuhnya. Tapi mengapa ini yang aku dapatkan. Aku tidak menyesali aku pernah baik kepadanya. Karena aku tahu setiap kebaikan akan ada balasannya. Tapi kenapa harus ini balasannya.


Sampai keesokan hari. Aku mendengar kabar dari Rian sendiri. Bahwa Devan kecelakaan mobil saat ingin menolongku dan ia tewas di tempat.


Tangisku semakin pecah setelah aku tahu semua itu. Aku menangis tiada henti. Aku merasa sangat bersalah saat aku melibatkan dirinya dengan masalah yang ku hadapi. Hingga kini ia telah pergi selamanya dan takan pernah kembali. Siapa yang kini menemani dan menguatkan aku. Aku sendiri dalam bayangan hitam kelam yang tak bertepi. Hatiku hancur berkeping-keping. Harga diriku sirna. Aku tidak tahu.. Rian akan berbuat nekat apalagi padaku. Aku hanya menangis meratapi nasibku sendiri.


Lalu Rian pun melepaskan ku dengan syarat. Aku dilarang cerita dengan siapapun apa yang ku alami pada saat itu. Ia pun mengancam jika itu terjadi ia akan mengulanginya. Bahkan lebih parah dari ini. Lalu baju ku di gantinya dengan lebih layak. Dan untuk menutupi wajah ku yang lebam dan memar ia menutupinya dengan masker dan kaca mata hitam. Ia mengantarku pulang sampai depan kostanku.


Setelah itu...


Aku ketakutan dan tidak pernah berani keluar kostan lagi. Sampai-sampai aku tidak berani untuk datang ke Kampus. Aku hanya bisa menangis sampai berhari-hari. Aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku merasakan putus asa dan tak tahu harus bagaimana. Aku tidak berani menceritakan ini pada ibu. Aku mencoba menghubungi Lisa saat itu. Namun Lisa tidak pernah menjawab telponku. Aku tidak berani cerita pada siapapun bila mengingat Rian begitu jahat dan nekat padaku.


Duka mendalam telah menyelimutiku. Semua terasa berat dan gelap bagiku. Mungkin air mata ku kini telah habis. Pikiran ku mulai kosong. Aku sedih namun tidak bisa lagi menangis. Sampai suatu hari.. Kurang lebih seminggu kemudian, aku mulai mengalami gangguan kejiwaan. Namun tak ada seorang pun yang tahu. Dan untuk makan aku memang selalu menyetok makanan instant di kost-an. Jadi aku tidak pernah kemana-mana lagi. Setelah itu pun aku sering melamun dan tidak ada semangat hidup. Dan aku tidak ingat apa-apa secara jelas. Pikiran ku mulai kacau. Dan aku seperti bukan diriku lagi.... Sampai pada akhirnya aku benar-benar mengalami gangguan kejiawaan.


Orang-orang tidak ada yang mengira aku mengalami gangguan jiwa karena di nodai dan aniaya oleh orang lain. Karena selama itu juga aku tidak pernah keluar rumah. Jadi orang-orang menganggap aku baik-baik saja. Ditambah lagi luka di wajah yang ku alami pun seiring berjalan waktu berangsur pulih. Jadi tidak banyak meninggalkan bekas. Meskipun begitu, berbeda dengan hatiku yang butuh waktu seumur hidupku untuk menyembuhkan luka ini.


.....


"iyaa.. Begitulah ceritanya", ucap Lusi sambil menangis terisak.


Usai Lusi menceritakan masa lalunya.


Kemudian semua menangis mendengar cerita Lusi. Kecuali Juna ia berusaha tegar tidak menangis dan hanya menahan air matanya.


Lalu Lisa pun memeluk kakaknya. Lisa mengelus pundaknya agar tetap tabah. Lusi pun memeluk erat tubuh adiknya sambil menangis.


"Sudah kak. Kakak harus tetap kuat. Kakak jangan sedih lagi. Disini sekarang ada Lisa yang akan selalu bersama kakak", ucap Lisa.


Lusi pun mengangguk.


"Dan Lisa memohon maaf sebesar-besarnya sama kakak. Karena telah banyak berbuat jahat sama kakak".


Lalu Lusi pun mencium kening adiknya dan menghapus air mata di pipinya.


"Tidak Lisa. Lisa tidak salah sama sekali", ucap Lusi.


Akhirnya Lisa dan Lusi kini menjadi kakak beradik yang utuh. Dan Lisa tidak lagi menyimpan dendam pada sang kakak. Ia kini mulai menyayangi dan mencintai kakaknya sepenuh hati....


(Maaf klo ceritanya mengandung wikwik dan kekerasan padahal sebisa mungkin saya tidak ingin menulis ini secara detail)


(saya di sini lebih ke sebuah rasa yang dialami Lusi. Biar otaknya gak traveling kemana-mana. Wkwwkwkkwk)


(dan terkahir apa yang dilakukan Rian jangan ditiru ya gaes. Ini cuma ke haluan penulis dalam membuat cerita. aku harap sih emang kaga ada orang yang kaya Rian)


(dan ingat ini cuma cerita ya gaes.. Tidak sungguhan tolong camkan itu aku harus wanti-wanti banget jangan di tiru.. ini cuma hiburan semata)


Tamat ....


abis ini lanjutin ke seasion 2 ya...

__ADS_1


__ADS_2