
Part 117 (Sakit Hatiku Basah Bajumu) (Sesion 2)
Pedih.. Itu yang paling dirasakan Lusi. Belum saja Rian meminta maaf pada Lusi soal pengkhianatan dia pada dirinya. Kini Rian justru menambahnya luka lagi. Dengan beranggapan bahwa Lusi selingkuh darinya. Sakit memang sakit, Rian boleh saja meninggalkan Lusi. Dan membiarkan Lusi memilih pria lain. Lusi pun sangat mudah sekali bagi dirinya untuk mencari yang lain. Tapi Lusi tidak terima bila dianggap bahwa dirinya telah selingkuh. Jangankan memiliki kekasih lain. Sahabat pria saja Lusi tak memilikinya. Rian sungguh tega, hanya karena sebuah paket yang belum tentu kebenarannya. Lusi dianggap selingkuh.
Setelah itu..
Lusi pun berangkat ke kantor. Dengan perasaan yang campur aduk.
Tak lama berselang terlihat Adit menyapa Lusi sambil tersenyum. Namun Lusi tampak menunjukan wajah datarnya karena masih kesal pada Rian yang menuduhnya dirinya selingkuh.
Lalu Lusi pun langsung ke meja kerjanya.
Tiba-tiba entah mengapa, kepalanya pusing dan perutnya terasa mual. Lusi pun memijat kepalanya hingga beberapa kali.
"Kamu kenapa Lusi sakit? " tanya Mba Santi.
"gak tahu pala pusing. Perut lagi ngerasa Mual gitu, kenapa ya"
"Mending kamu pulang aja"
"gak usah, aku kuat kok"
"Yakin? "
"Iya"
Lalu tak lama, Lusi pun dapat perintah menemui Adit di ruangannya..
Dengan berjalan perlahan Lusi menghampiri Adit di ruangannya.
Terlihat pria beranjak tua itu menunggu Lusi di ruangannya duduk sambil tersenyum memandang Lusi..
Lusi pun duduk di hadapannya.
Lalu tak lama Mela pun juga datang memberikan sebuah berkas pada Pak Adit.
"Pak permisi, saya membawa laporan ini. Dan saya butuh tanda tangan bapak" ucap Mela.
"Iya silahkan duduk" ucap Adit. "Saya membaca berkas nya dulu"
Mela pun duduk disamping Lusi. Meskipun Mela dan Lusi sudah tidak jambak-jambakan rambut lagi. Namun Lusi dan Mela rasanya enggan untuk bertegur sapa satu sama lain. Tampak Lusi yang hanya diam. Sedangkan Mela enggan sama sekali melihat wajah Lusi.
"Oia sebelumnya. Bapak memanggil saya ada apa ya? " tanya Lusi.
"Nanti malam kamu mau gak, temenin saya makan malam romantis?" pinta Adit.
Teg..
Hati Lusi pun serasa tidak enak dengan ajakan Adit yang di dengar Mela.
"Mm.. Maaf, Saya kurang enak badan" tolak Lusi.
"Hanya karena ada Mela kamu menolak saya. Saya tahu Lusi, jika saja tidak ada Mela disini. Kamu menerima ajakan saya dengan senang hati kan"
Lusi pun langsung memejamkan matanya. Menahan kesal pada Adit yang ngomong tidak dipikir-pikir lagi.
"Tidak pak. Ini beneran serius saya sedang sakit. Nanti pulang kerja saja. Saya mau langsung ke klinik"
"Kalau gitu saya antar ke klinik"
"Gak pak.. terimakasih saya bisa sendiri"
"Yasudah kamu boleh keluar dari ruangan ini" ucap Adit.
Lalu Lusi pun keluar ruangan Adit.
Mela pun yang pada saat itu berada di dekat Lusi. beranggapan bahwa Lusi memanglah punya hubungan spesial dengan Adit. Padahal sebenernya Lusi tidak pernah suka dengan Adit.
.
.
.
Lalu setelah itu, terlihat Rian yang menggandeng Zelda di kantor. Kali ini mereka berdua bukan hanya sekedar pasangan biasa. Tapi mereka adalah pasangan bisnis yang saling melengkapi satu sama lain. Mereka ingin melaksanankan kerja sama.
Tampak Rian dan Zelda Saling berpegangan tangan. Dan terlihat Rian yang merangkul mesra pundak Zelda sambil tersenyum.
Lusi yang melihatnya pun hanya bisa menahan air matanya. Namun ternyata air matanya tak mampu ia bendung lagi. Lusi berlari ke wastafle dan langsung menangis.
Menumpahkan seluruh air matanya. Tak sanggup melihat seseorang yang baru saja Memadu kasih dan menikmati malam berdua. Dan sekarang justru melihat Bermesraan bersama wanita lain. Sakit itulah yang paling dirasakan Lusi dalam hatinya.
Aku tidak pernah menyangka, bahwa aku memang seperti wanita murahan. Yang bisa dinikmati tanpa dicintai sedikit pun. Kenapa sulit rasanya, sekali saja untukku menikmati cinta seutuhnya. Kenapa cintaku bisa sesakit ini. ya Tuhan berikan lah aku kesabaran aku tak sanggup melihat ini semua. Benak Lusi tak mampu menahan air matanya.
Lalu tak lama saat Lusi menangis. Viola datang dan melihat Lusi. Sontak Viola pun kaget.
"Kamu kenapa? " tanya Viola.
Lusi pun hanya diam sambil menangis.
Viola pun sudah paham pasti Lusi sedih karena melihat Rian bersama Zelda.
__ADS_1
Viola pun langsung memeluk Lusi. Dan Lusi pun menangis di pelukan Viola. Karena yang ia tahu Lusi adalah pacarannya Rian. Jadi wajar bila Lusi menangis.
"Sabar ya, Lusi. Sabar" ucap Viola mengelus pundak Lusi. "Udah ya jangan sedih. Kamu harus kuat. Kamu bisa kok dapet yang lebih dari dia. Dan.." ucap Viola berhenti sejenak. "Dan terima kamu apa adanya"
Lusi pun hanya menangis di pelukan Viola. Yang Viola tahu saat itu adalah Rian itu cuma pacar yang sudah pernah meniduri Lusi.
"Emang dasar pak Rian brngsk. Udah dapetin semua dari kamu. Eh sekarang dia malah bertunangan dengan wanita lain" ucap Viola marah.
Lusi pun hanya menangis tersedu di pundak Viola.
Setelah air matanya tumpah semua. Lusi pun melepas pelukan Viola.
"Maaf Viola.. Sudah.. Membuat bajumu basah karena air mata" ucap Lusi berbicara terbata.
Viola pun tersenyum.
"santai aja Lusi. Basahnya bajuku tidak sebanding dengan rasa sakit hatimu. Jika aku diposisimu mungkin aku akan lebih dari itu" ucap Viola.
"Terimakasih kamu sudah hadir untukku"
"Sama-sama Lusi"
Lalu setelah itu Lusi pun kembali ke meja kerjanya.
Lalu saat jam 17.00, Lusi pun melihat Rian dan Zelda jalan berdua. Tampak Zelda dan Rian ingin pulang.. Lusi yang tidak sengaja berpapasan hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Mentegarkan hatinya untuk kuat. Rian yang lewat di hadapan Lusi sama sekali tak memandang Lusi sedikit pun. Kali ini Lusi memang harus extra sabar, dengan semua yang ia hadapi. Karena jika tidak, semua bisa saja kembali ke titik nol. Dimana Lusi kembali mengalami gangguan jiwa dan tak bisa apa-apa.
Dan tak lama seorang OB datang menemui Lusi dan memberikan sebuah amplop.
"Ini untuk Mba Lusi. Dari Nona Zelda. Katanya gratis kalau mau berobat"
"Ini apa ya"
"Coba cek aja sendiri Mba ? "
Lusi pun menerimanya dan membuka amlop itu. Ternyata itu sebuah kartu nama, Seorang psikiater.
Lusi tampak kaget.
Zelda sengaja memberikan kartu nama seorang psikiater karena yang Zelda tahu Lusi ini jiwanya memang tergangu. Memang Lusi pernah gangguan jiwa tapi itu kan dulu..
Ya Ampun, aku tak menyangka bila Zelda bener-benar menganggap ku gangguan jiwa. benak Lusi sambil menarik napas panjangnya.
.
.
.
Lusi pun hanya bisa menerima itu saat Pak Adit membuat perintah tersebut.
Jelas-jelas Adit tahu bahwa Lusi ini sedang sakit. Namun Adit juga yang memberikan lembur pada Lusi. Ah,, sedih memang punya atasan yang perhatian. Tapi Perhatian palsu.. Bukannya disuruh pulang cepat. Malah dapat tugas kerjaan sampai malam.
Lalu setelah lembur.
Lusi pun pulang sekitar jam 20.00 malam. Lusi pun keluar kantor dengan tubuh yang sangat letih. Ditambah, Lusi belum sempat makan malam.
Dan tampak wajah Lusi yang lelah dan ingin segera pulang untuk rebahan. dan sepertinya besok saja untuk datang ke klinik karena hari sudah malam. Namun entah mengapa taksi tidak ada yang lewat.
"Nih taksi pada kemana sih. Gak tahu amat sikon. Mau pulang, Susah amat. udah capek rasanya" ucap Lusi jengkel sambil memandang jalanan.
Dan Tiba-tiba ada motor berhenti di hadapannya. Dan itu sepertinya itu tukang ojek.
"Neng ojek " ucap abang-abang.
Ah kebeneran.. Lusi yang pada saat itu merasa mau pulang dan butuh pun. Mau menaiki ojek itu.
Selama di perjalanan..
Lusi pun mengarahkan si tukang ojek untuk ke rumahnya.
Namun entah mengapa..
Ojek yang Lusi tumpangi malah mengarahkan jalan yang lebih jauh. Dan ke tempat yang dia tak pernah lewati sebelumnnya. Banyak pohon-pohon dan tampak sangat asing bagi Lusi.
"Bang, kok malah kesini sih. Ini bukannya semakin dekat malah semakin jauh dari rumah saya" ucap Lusi.
"Ikutin aja ya neng. Karena jalan yang disana ditutup" jawab abang ojek.
Tiba-tiba motor itu berhenti disebuah tempat sepi yang Lusi tidak tahu itu dimana.
"Bang kenapa berhenti" ucap Lusi.
Tiba-tiba tampak tiga orang bergaya seperti preman datang dengan wajah seram menghampiri Lusi. Dengan badan yang penuh tato dan berotot. Lusi yang saat itu tampak takut sekali dengan kedatangan mereka pun hanya menundukan kepala.
Kenapa, perasaanku tidak enak begini. benak Lusi menarik napas panjangnya.
"Bang kenapa kita berhenti. Ayo jalan lagi." ucap Lusi.
"Tujuan kita memang kesini"
"Serius bang, jangan bercanda" ucap Lusi takut dan panik.
__ADS_1
Ah benar saja. Lalu tiga orang itu pun menarik Lusi untuk turun dari motor. Dan memegangi tangan Lusi.
"Salah saya apa. Kenapa saya di pegangin begini" ucap Lusi ketakutan.
"Ikut kita.. " tegas pria itu.
Lusi pun tampak menelan salivanya dalam-dalam. Dirinya pun bingung harus bagaimana. Tangannya dipegang kuat oleh mereka.
"Sa..saya mohon. Saya akan kasih apa saja. Asal kalian lepasin saya" ucap Lusi ketakutan sambil memohon dan mengeluarkan handphone di tasnya "Saya punya handphone lihat ini. Ini harganya mahal keluaran terbaru, dan ini cincin berlian lihat ini. Ini mahal harganya, dan jam tangan saya ini. Bahkan jam tangan saya ini limited edition. Kalian bisa ambil semua. Tapi saya mohon jangan diri saya" ucap Lusi yang memang memiliki barang mahal itu, sebagain memang dari Renata saat dirinya dilamar.
Tiga orang pria itu pun tampak tertawa melihat Lusi yang ketakutan. Mereka pun tak menghiraukan sama sekali ucapan Lusi soal benda berharganya. Lalu Lusi pun tetap ditarik paksa oleh tiga orang yang tak dikenalnya itu. Lusi pun tak bisa melepaskan kedua tangannya yang di pegang erat oleh tiga orang yang tidak kenal itu.
Lalu Lusi pun berteriak minta tolong.
"Tolong..tolong !!????!!!! " Teriakan Lusi dengan sekuat tenaga. Hingga suara Lusi serak sampai kehabisan volume suaranya.
Lalu mereka pun malah membekap mulut Lusi dengan tangan. Agar Lusi tak berteriak. Lusi pun hanya bisa menangis karena tidak ada yang bisa menolongnya kala itu.
Lalu Lusi di tarik paksa kesebuah tempat yang lebih sepi dan gelap..
Ya, Allah siapapun aku mohon tolong aku benak Lusi sambil menangis.
Lalu mereka pun mencoba melecehkan Lusi dengan menciumnya bibirnya hingga beberapa kali. Lusi pun berusaha melawan meski di rasa itu sangatlah sulit dan tak mungkin.
Dan lebih parahnya, Baju Lusi disobek oleh mereka secara kasar. Tangan Lusi dipegang kuat. Lusi pun menangis sejadinya. Saat dirinya seolah tak berdaya di hadapan mereka.
Lusi pun berusaha berteriak meminta tolong. Namun mulut Lusi di ikat dengan sapu tangan. Lusi pun sangat ketakutan sambil menangis ketika itu.
Sungguh ia tidak mau kejadian kelam dulu yang pernah menimpanya terulang kembali. Satu kali saja sudah membuat dirinya hampir mati. ditambah lagi dengan tiga orang tak di kenal itu. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Besar kemungkinan Lusi akan bunuh diri. Atau mengalami trauma yang lebih berat dari sebelumnya.
Tangan dan kaki Lusi di pegangi. Tampak satu orangnya lagi berusaha melecehkan Lusi. Dengan meraba dan memegang bagian sensitif milik Lusi, sambil mencium bibir. Hati Lusi sangat sakit dan jijik saat melihat mereka perlakukan Lusi seperti itu.
air mata Lusi pun mengalir deras.
Tiba-tiba...
Seseorang pria datang...
Dan menghentikan itu semua..
"Stop!!!" teriak Adit yang menghentikan itu semua.
Tanpa basa basi..
Lalu Adit menantang mereka untuk berkelahi dengan ketiga orang itu. sementara Lusi, pun hanya terlihat menangis.
"Ayo sini lawan saya" tantang Adit
Entah dapet kekuatan darimana, Adit pun berani.
Tampak Adit berkelahi dan memukul mereka satu persatu.
Bag..
Bugg..
Bag.. Bug..
.
.
Beberapa selang kemudian..
Akhirnya...
Adit pun tampak menyelesaikan perkelahiannya itu.
Terlihat Adit yang mampu mengalahkan tiga pria seram itu.
Lusi pun tampak masih sangat shock sekali. Ia pun terlihat menangis dan bersembunyi Sambil menutupi tubuhnya karena bajunya sudah tak utuh lagi. Bajunya Sudah sobek pada bagian depan dan samping.
Lalu Adit pun menghampiri Lusi yang terlihat menangis. Dan Memakaikan jasnya ke tubuh Lusi. Untuk menutupi bajunya yang sobek-sobek itu.
Adit pun memandang Lusi sambil mengusap air mata Lusi.
******
Like guys...
Like..
Like..
Like..
Like..
tolong sukain atau vote jg boleh.. krn menulis itu tak semudah membalikan telapak tangan. terimakasih..
.
__ADS_1
.