
Part 132(Sop Ayam)(sesion 2)
Keesokan harinya, tampak Lusi yang sudah bangun pagi-pagi sebelum subuh. Lalu masuk sayur sop ayam. Meskipun itu dikostan. masih bisalah buat masak. Kan jaman udah canggih gak perlu kan pakai kayu bakar. Cukup kompor listrik dan selesai deh.
Lusi pun sengaja membuat makanan itu. Karena ia akan memberikannya untuk Rian dan juga adiknya yang akan berangkat kuliah nanti.
Tiba-tiba, Lisa menghampiri. Hari sudah tampak subuh. Lusi pun sudah melaksanakan solat.
"Kamu solat dulu sana" ucap Lusi kepada adiknya yang masih muka bantal kucek kucek mata seperti anak kecil.
"Kakak terlalu percaya diri" ucap Lisa dengan gampangnya.
"Maksudnya?"ucap Lusi heran.
"Ngapain kakak masak. kaya enak aja masakannya"
Lusi pun tampak kaget dengan ucapan adiknya yang gak diayak ini.
"Heh.. punya ade mulutnya gak diayak. Gak apa-apa lagi..gak enak. Yang penting kan bikinnya pake cinta bukan pake racun. Betulkan?" Ucap Lusi sambil tersenyum kesal pada adiknya.
"Iya iya ajalah. Enak banget kak, walaupun gak enak. yang penting kakak senang" ucap Lisa dengan wajah polosnya. Dan cus langsung ke kamar mandi.
"Aduh.. enak amat itu bocah kalau ngomong" gumam sang kakak.
Lalu Lusi pun memasukan makanan itu kedalam tiga wadah tempat makan. Satu untuk adiknya di bawa kuliah dan satunya lagi untuk Rian. Dan satunya lagi disimpan untuk dirinya. Sebenarnya Lusi pun ingin membawakan buat Renata namun Lusi tidak pede. Karena yang sudah-sudah Renata selalu menghina masakannya.
Tiba-tiba adiknya pun melihat.
"Buat siapa aja ini kak.. banyak banget"
"Buat Kakak satu, buat kamu satu. Satunya lagi!?" Ucap Lusi tersenyum. "Buat siapa ya..?" Ucap Lusi yang penuh tanda tanya
"Siapa kak?"
"Buat Rian"
"Ya ampun kakak masih aja baik sama dia. Dia kan udah jahat sama kakak"
"Iya kakak kasihan sama Rian. soalnya nungguin mamanya di rumah sakit. Pasti dia belum makan"
"Yang seharusnya dikasihanin tuh kakak, bukannya Rian" ucap Lisa ketus. "Siapa kak yang kakak bilang sakit, emaknya Rian sakit"
"Iya"
" Alhamdulillah.." ucap Lisa dengan senang
"Ehh.. kamu kok gitu sih" ucap Lisa mencubit lengan Lisa. "Siapa yang ngajarin kamu kalau orang ketimpa musibah malah di Alhamdulillahin"
"Ya biarin aja. Dia kan dah jahat sama kakak. Kena Azab tuh Mak lampir"
"Ya ampun Lisa. Kamu gak boleh ngomong gitu" ucap Lusi menggelengkan kepalanya.
"Biarin aja. Baru aja tu emak lampir ngerasain siksa di dunia. Belum lagi nanti akhirat"
"Ya Allah Lisa jangan ngomong gitu ya. Kita harus doain yang baik sama orang lain Lisa"
"iya.. Iya kakak ku yang paling kece" ucap Lisa gak ikhlas.
Lisa pun tidak tahu. Soal Adit yang sudah menjadi suruhan Renata untuk menjebak Lusi. Kalau saja Lisa tahu. Mungkin dia akan lebih marah dan mencaci Renata. Lusi sengaja tidak beritahu pada Lisa. Karena Lisa itu nekat dan berani. Lusi tidak mau kalau terjadi sesuatu hal. Yang lebih lebih lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba dan tak lama..
Tin..tin..suara motor. Ketika di cek ah.. itu ternyata Juna.
Juna pun menghampiri dengan cepat saat melihat Lusi yang berada di dalam kostan lisa.
"Hallo zeyeng" ucap Juna.
"Sejak kapan Lo alay Jun" ucap Lisa.
"Sejak hari ini" ucap Juna. "Lagi juga gue bukan manggil lu kali Lisa. Gue manggil kakak lu"
Lusi pun yang mendengar Juna berbicara seperti itu hanya tersenyum. Sambil merapihkan makanan yang ia buat untuk dimasukan kedalam tas bekal.
"Hemm.. wanginya harum banget. Siapa sih ini yang masak" ucap Juna mengendus masakan Lusi.
"Gue Jun" sahut Lisa.
"Apa.. Lisa. Gue gak percaya. Lu mah gak pernah masak dalam hidup lu. Kak Lusi pasti ini yang masak. Ya,kan.. tau aja sih kak , kalau aku belom makan" ucap Juna.
"Giliran minta makan aja dah lu manggil Lusi pake kakak. Kemarin-kemarin Lusi Lusi aja lu manggil"
"Hehehe biarin"
Lusi pun langsung memberikan satu untuk Juna.
"Nih Jun kamu bawa aja satu, buat dikampus nanti" ucap Lusi.
"Gak mau, maunya makan disini. Disuapin sama kak Lusi" ucap Juna.
"Idih apan sih gelay banget gue dengernya" ucap Lisa jengkel.
"Biarin"ucap Juna pada Lisa.
Lusi pun tampak terdiam.
"Yaudah kalau gak mau.. aku marah" ucap Juna.
"Heh ini anak udah minta, gak tau diri. Pake minta disuapin segala" ucap Lisa jengkel.
"Ayolah kak. Latihan suapin aku sebelum suapin anak kakak beneran" ucap Juna manja pada Lusi.
"Oke satu suap aja ya" ucap Lusi menyerah, lalu duduk dihadapan Juna.
"Ah siaaapppp"
Hati Juna pun tampak senang sekaligus berdebar saat Lusi duduk di hadapannya.
"A A.." ucap Lusi menyodorkan.
Aaaaaa... Ammm... Nyam nyam..
"Enak banget masakan kamu. Apalagi kalau disuapin sama yang empunya masakan. Sumpah ini masakan paling enak yang pernah aku makan" ucap Juna gombal.
"Masa sih?" Ucap Lusi gak percaya.
"Iya"jawab Juna.
"Kamu tau gak Jun. Sebenernya kak Lusi masak itu buat Rian tau" ucap Lisa.
__ADS_1
Uuuuuhhuukk.. uhhhuukk.tampak Juna yang tersedak.
"Kenapa Jun masakannya gak enak ya" ucap Lusi. Juna pun langsung minum.
"Kaget aja pas Lisa bilang nama Rian" ucap Juna.
Lisa pun langsung tertawa bahagia. Melihat Juna yang langsung mati kutu setelah tahu bahwa masakan Lusi untuk Rian.
Lalu setelah itu Juna dan Lisa pun berangkat kuliah. Sementara Lusi pergi ke rumah sakit dengan taksi.
Sesampainya di rumah sakit. Suasana tampak hening. Terlihat Rian yang duduk disamping mamanya sambil memegang tangan mamanya. Sepertinya ia masih sangat shock saat tahu sang mama masih belum sadar. Alias koma.
Lalu Lusi pun melihatnya dengan tatapan haru. Karena maklum saja, orang tua yang Rian miliki satu-satunya adalah mamanya. Lusi yang masih memiliki orang tua lengkap itu tidak bisa membayangkan bila berada di posisi Rian. Lalu Lusi pun menghampiri dan mengusap punggung Rian.
Rian pun langsung tersadar saat Lusi berada disampingnya.
"Kamu yang kuat. Kita harus terus berdoa semoga orang tua kamu cepat pulih" ucap Lusi.
"Iya"
"Kita makan dulu yuk. Aku tahu kamu belom makan. Aku sudah buatkan kamu sup ayam" ucap Lusi.
"Iya Lusi terimakasih" jawab Rian.
Lalu Rian pun keluar ruangan. Untuk makan makanan yang Lusi bawa.
Rian pun memandang Lusi.
"Terimakasih ya"
Lusi pun tersenyum "sama sama"
"kalau kamu mau pulang, pulang aja. Gantian nanti aku yang jagain mama kamu. Siapa tahu kamu mau mandi dan ganti pakaian kamu" ucap Lusi.
"Iya. Tapi gak apa-apa nih. Kalau kamu yang jaga"
"Tenang aja Rian. Aku gak akan ngapa-ngapain ibu kamu kok. Emang tampang aku nih tampang kriminalitas apa, kamu kaya ragu gitu"
"Ya gak sih, gak gitu juga. Cuma aku khawatir sama kamu takut kecapean"
"Gak kok"
"Btw, ini siapa yang masak?" Tanya Rian.
"Kenapa, gak enak ya..?"
"Enak sih, cuma sayang. Keasinan"
"Mm.. masa sih? Padahal ini udah paling pas menurut aku"
"Iya kata orang kalau masak keasinan itu tandanya minta kawin"
"Hah.. Ngada-ngada aja ah.. "
Rian pun hanya nyengir. Rian sepertinya manusia paling jujur terkait masakan Lusi di bandingkan Juna. kalau saja Rian tahu kalau masakan Lusi ini udah di coba Juna duluan. sudah pasti dia akan marah. tapi biarin aja lah dia makan dengan lahap..
Lalu setelah itu Rian pun pulang dan kini langsung Lusi yang gantian menjaga Renata.
*********
__ADS_1
Jangan like nanti lanjut lagi.
Like like like like like like like