
Part 28 (Lamaran diatas perjanjian) (Sesion 2)
Keesokan harinya..
Terlihat mata Lusi yang membengkak akibat semalaman menangis. Dalam dirinya ia terus berfikir.
Sepertinya aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Menangis takan pernah mampu menyelesaikan masalah. Aku harus membunuh Lusi yang dulu. Aku harus membunuh Lusi yang lemah. Sekarang sudah tak ada lagi Lusi si wanita cengeng dan lemah itu. Yang ada hanyalah Lusi yang selalu kuat dan ceria. Oke, siapkan diri Lusi. Takan ada lagi air mata hari ini. Benak Lusi menguatkan dirinya.
Lalu setelah itu Lusi pun mandi. Dan selesai mandi ia langsung sarapan di meja makan. Namun di meja makan tidak terlihat Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu saat itu sedang keluar. Yang terlihat hanya Lisa yang duduk sambil berleha-leha sambil main ponselnya. Lalu Lusi menghampiri.
"Kamu masih libur"
Lisa sedikit kaget melihat Lusi yang sudah tidak sedih lagi.
"Masih. Eh kakak udah gak sedih lagi"
"Udah gak. Buat apa di tangisin. Capek nangis mulu ah" ucap Lusi.
"Nah gitu dong"
Lalu Lusi pun keluar dan menyiram tanaman di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba beberapa mobil mewah parkir di depan. Entah siapa yang datang Lusi tidak tahu. Lalu ia pun melihat sosok wanita yang sekitar berumur 50 tahunan namun tetap terlihat cantik. Dengan balutan pakaian mewah nan elegan wanita itu turun dari mobil. Berikut juga dengan ajudan serta bodyguard nya. Lalu Lusi pun sedikit tercengang atas kedatangannya.
"Apa benar ini kediaman rumah milik wanita yang bernama Lusi" ucapnya mengahampiri Lusi.
"Iya betul. Dan saya sendiri orangnya"
"Boleh saya masuk" ucapnya lagi
__ADS_1
"Silahkan"
Lalu Lusi pun mempersilahkan masuk dan duduk. Lalu terlihat beberapa ajudannya membawa sederet barang mewah seperti tas, jam dan sepatu Branded. Dan diletakan di hadapannya.
Lalu Lisa pun duduk di samping kakaknya. Karena ia penasaran dengan tamu yang datang kala itu.
"Kenalkan saya Renata. Saya adalah orang tua dari Rian. Saya mau kamu anggap saja. Suka sama suka atas kejadian kamu sama Rian", ucap Renata.
Lalu Lusi pun hanya menarik napas panjangnya seolah ia tak percaya ini.
Sedangkan Lisa marah mendengar ucapan Renata. Dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Dan menghardik Renata.
"Emak ama anak kelakuan sama aja. Sama-sama licik" ucap Lisa kesal.
Lalu Lusi pun menarik tangan adiknya dan menyuruhnya duduk.
"Lisa. Duduklah. kita dengarkan dulu" ucap Lusi.
"Saya turut berduka atas kepergian beliau", ucap Lusi.
"Sebetulnya kamu bukanlah menantu idaman saya. Namun saya harus mengambil jalan ini. Sebagai bentuk pertanggung jawaban dan untuk mencapai jalan damai. Saya ingin kamu menikah dengan Rian. Dan itu masih bagus. Bila mengingat kamu tidak sampai hamil. Saat Rian melakukannya"
Lusi pun hanya terpaku mendengar ucapan Renata.
Ya ampun. Kejutan apalagi hari ini dalam hati Lusi.
"Selain itu, ada penawaran lagi. Kamu juga mendapatkan harta sebanyak 25 persen. 25 persen bukan angka yang kecil kalau dilihat dari harta keluarga saya yang banyak ini. 20 persen berupa saham di perusahan kami, 5 persennya berupa uang tunai. Dan saya butuh jawaban kamu sekarang" ucap Renata.
__ADS_1
Lusi pun hanya diam.
"Bagaimana?" tanya Renata.
"Sebenarnya di lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin sekali menjebloskan anak kesayangan anda ke penjara. Apalagi bila mengingat, Ia memperlakukan saya secara tidak hormat dan manusiawi" ucap Lusi.
"Ya saya tahu itu berat buat kamu. Dan asal kamu tahu, saya tahu siapa ayah kamu. Keluarga kamu. Saya mudah saja menjatuhkan bisnis ayah kamu. Saya harap jawaban kamu tidak mengecewakan saya" ucap Renata.
Lalu Lusi pun menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
"Saya setuju" ucap Lusi sambil menjatuhkan air matanya. Lalu mengusapnya dengan tangan sambil menundukan kepalanya.
Lisa pun kaget mendengar jawaban sang kakak.
"Kakak sadar gak sih dengan ucapan kakak barusan" ucap Lisa kesal.
Lalu Lusi pun menggengam tangan adiknya. Karena sebenarnya perasaan Lusi sangatlah hancur. Saat ia mendengar harus menikahi pria yang sudah mengahancurkannya. Namun Lusi berusaha tenang. Karena Lusi tahu, saat ini yang ia hadapi bukanlah orang sembarangan.
"Saya setuju tapi dengan tiga syarat. Yang pertama, saya menikah setelah lulus kuliah. Kedua, saya tidak mau Rian buntuti kemana pun saya pergi. Dan ketiga, saya tidak mau Rian berbuat kasar lagi kepada saya" ucap Lusi.
Lalu Renata pun menganguk.
"Baik kalau begitu. Mudah saja" ucap Renata.
Lalu ia memberikan dua buah kertas perjanjian. Yang pertama, soal pembagian hartanya sebanyak 25 persen. Dan kertas perjanjian kedua, bahwa Lusi tidak akan menuntut Rian ke penjara. Dengan keterangan dilakukan atas dasar suka sama suka. Dan akan ada pernikahan setelahnya.
Dengan berat hati Lusi pun menandatangani kedua kertas perjanjian tersebut. Lalu Lusi pun menyimpan surat perjanjian yang pertama. Dan Renata menyimpan surat perjanjian yang kedua.
__ADS_1
"Oia Lusi anggap saja hari ini saya melamar kamu. Jadi terimalah barang yang saya bawa. Karena ini sudah deal jadi saya permisi" ucap Renata langsung pergi.
Setelah Renata pergi. Tanpa sadar air mata Lusi pun jatuh. Ia tidak menyangka bila harus menikahi Rian, orang yang paling ia benci dalam hidupnya. Namun ia tetap berusaha tegar dan tetap tenang. Walau hatinya sangat sedih dan kacau. Karena ia telah berjanji pada dirinya sendiri. Bahwa ia tak ingin sedih lagi.