Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Meninggalkan Rumah


__ADS_3

Part 122 (Meninggalkan rumah)(sesion2)


Akhirnya, Lusi pun pergi. Meninggalkan rumah Rian.


Dengan berjalan perlahan Lusi pergi. Beruntung Lusi masih memegang uang sekitar dua ratus ribu jadi cukup lah buat naik taksi.


Lusi pun ke kostan Lisa. Karena memang hanyalah Lisa saudara satu-satunya yang tinggal di Jakarta.


Sesampainya dikostan tampak pintu tertutup. Sepertinya Lisa memang belum pulang kuliah.


Lusi pun hanya bisa bersabar menunggu adiknya pulang. Bersandar di tembok sambil memejamkan mata. Seketika Lusi mengingat perlakuan Rian yang begitu menyakitkan hatinya..


aku bingung aku harus menangisi yang mana duluan. Adit yang sangat jahat itu.. atau.. Rian yang sudah tega mengusirku dan tak mau mengakui anak dalam kandungan ku ini. Semua terjadi secara bersamaan dan aku tak tahu dengan cara apa aku dapat mengobati luka dalam hatiku ini. Benak Lusi.


Tak lama Lisa pun pulang dari kampus dengan dibonceng Juna. Sesampainya... Betapa kagetnya Lisa melihat kakaknya yang menjatuhkan air matanya sambil bersandar ditembok. Terlihat berantakan dan terlihat pucat


"Kak lusi, Kakak kenapa disini?"tanya Lisa, sambil memandang kakaknya. " Kakak kenapa?"


Lusi pun tampak menghapus air matanya.


Lalu Lusi pun memeluk sang adik sambil menangis tersedu.


"Kakak kenapa?"


Lusi pun hanya menangis lidahnya serasa kaku untuk bicara.


Lalu Lisa pun membawa masuk kakaknya kedalam kostnya.


Juna pun hanya menatap Lusi dengan penuh penasaran.


Lalu Lisa pun memberikan teh manis hangat. Untuk menangkan kakaknya. Karena melihat kakaknya yang seperti sedih, shock, kusut dan ah.. tidak karuan pokoknya lah.


"Coba kakak cerita kakak kenapa?" Tanya Lisa.


Lusi pun hanya diam.

__ADS_1


Tampak penyakit Lusi kambuh lagi. Yang diam diam dan diam..


Lusi pun malah tampak pergi dari hadapan Lisa. Pergi ke kamar mandi dan Membasuh wajahnya dengan air lalu mengelap wajahnya dengan handuk. Dan mengompres wajahnya yang agak memar terkena pukulan tadi.


"Kamu jangan tanya apa-apa dulu ya. Kakak saat ini cuma butuh istirahat" ucap Lusi.


Tampak Lusi yang langsung tiduran sambil menangis, dan tidak peduli dengan adik ataupun Juna yang ada disampingnya.


Dan Lisa pun tidak bisa memaksakan kakaknya untuk cerita apa yang ia alami. Karena memang Lusi tipikal orang yang tertutup. Jadi Lisa membiarkan kakaknya menangis. Nanti kalau sudah saatnya Lusi pun akan cerita sendiri.


Sorenya harinya benar saja. Tampak Lusi melamun, Dan Lusi pun tampak memulai cerita.


"Kakak sedih, andai saja kakak tahu. Kebahagian kakak terletak dimana. Kakak pasti mengejar kebahagiaan itu. Kakak sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk Rian. Tapi kakak seolah semakin kehilangan arah Lisa. Kakak diam kakak ditindas. Kakak membela dan semua terasa percuma" ucap Lusi menjatuhkan air matanya. "Rian sudah tega bertunangan dengan wanita lain"


Lisa pun tampak kaget mendengar apa yang diucapkan sang kakak.


"Apa..!!!!" Ucap Lisa kaget.


"Iya.. Bahkan bukan sampai disitu Lisa. Yang lebih menyakitkan lagi. Saat ini kakak hamil namun Rian sama sekali tidak mau mengakui anak dalam kandungan kakak" ucap Lusi.


"Rian brngsk!!! Dasar pria bajingan itu aku akan menghajarnya!!!" ujar Juna marah mendengar apa yang diucapkan Lusi.


Lisa pun tampak menarik napasnya dalam-dalam.


Lisa pun memeluk Lusi dan mengelus pundaknya agar tetap untuk tegar.


"Lalu bagaimana kak kedepannya?"


"Tidak tahu.."


Lusi pun tampak menghapus air matanya.


"Kakak tidak pernah menyangka Lisa.. kalau kakak seolah seperti wanita murahan. Bahkan Rian tak pernah sekalipun menganggap kakak sebagai istrinya. Tak pernah sekalipun kakak dianggapnya. Kakak selalu mencoba bersabar dan semua terasa percuma dan menyakitkan. Apakah kakak tidak pantas untuk dijadikan istri. Apakah kakak ini terlihat murahan Lisa. Sehingga kaakak di perlakukan seperti ini. Apa yang salah dari diri kakak Lisa!!! Kakak benci dengan diri Kakak Lisa "


Juna pun hanya mengepalkan tangannya kesal.

__ADS_1


Sedangkan Lisa memeluk kakaknya dan Lusi pun menangis dalam pelukan sang Adik.


Tiba-tiba terdengar suara..


"Apa benar yang kamu katakan itu Lusi"


Suara terdengar dengan jelas di telinga. Suara yang tak asing dan itu ternyata suara ibu.


"Ibu" ucap Lusi.


Lalu Lusi pun berlari dan memeluk ibunya.


Ia tak menyangka bahwa ibunya sudah berada dari kapan di belakang mereka dan mendengar semua yang Lusi katakan.


Lusi pun menumpahkan semua air matanya di pelukan sang Ibu.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita dengan apa yang menimpa padamu nak" ucap Ibu.


"Lusi tak mau bila ibu ikut sedih"


Lusi pun menangis di pelukan sang ibu yang terasa hangat itu.


"Rian tak mau mengakui anak ini Bu" ucap Lusi menangis.


"Iya gak apa-apa nak, kamu wanita yang kuat jangan nangis. Jangan putus asa"


Lusi pun hanya memeluk ibunya dengan erat.


*********


Oke next.. ya..


Like like like.....


Like

__ADS_1


Like


Like


__ADS_2