Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Hadiah termahal


__ADS_3

part 138 (Hadiah termahal)(sesion 2)


Ke esokan harinya, tampak Lusi yang siap-siap berangkat ke kantor.


Sesampainya di kantor Lusi pun seperti biasa naik lift. Karena kalau harus naik tangga hingga lantai 7 sudah bisalah dibayangkan gempor kaya gimana.


Di kantor pun tampak banyak mata yang memperhatikan Lusi. Mereka yang pasti bukan memperhatikan wajah Lusi yang cantik jelita ya.. bukan...


Tapi perut Lusi yang membesar. Lusi pun hanya menarik napas dalamnya. Mereka bukan kaget karena Lusi hamil. Tapi status Lusi yang single yang membuat cibiran, gunjingan dan lain-lain. Image jelek sudah pasti. Tapi ya, Lusi berusaha sabar aja. Sekarang sih biarin ajah mereka penasaran. Toh kalau Lusi bilang ini anak boss mereka. Mereka pun gak akan percaya. Jd skip aja lah..


Sesampainya di meja kerja tampak mba Sinta yang memperhatikan Lusi.


"Udah hamil berapa bulan kamu" tanya mba Sinta. Yang ngomong blak-blakan.


"Enam mba" jawab Lusi.


"Udah di USG belum"


"Udah sih mba, tapi lupa nanyain jenis kelaminnya apa"


Mba Sinta pun tampak tersenyum.


"Nih buat kamu" ucap Mba Sinta memberikan sebungkus bubur kacang hijau. "Ini tuh bagus buat wanita hamil. Biar anaknya rambutnya banyak"


"Oh gitu ya mba. Makasih ya"


Lalu Lusi pun tampak sedikit melamun.


"Kamu kenapa kok diem ajah"


"Ya wajarlah mba. Akhir-akhir ini kan aku berasa jadi artis orang-orang pada ngomongin aku. Bagaimana gak stres coba" ucap Lusi.


"Yaudahlah gak usah dipikirin..."


Tiba-tiba Adit datang menemui Lusi dimeja kerjanya. Lusi pun menundukkan kepalanya melihat Adit. Karena males aja liat Adit.


"Lusi emang bener ya kamu hamil" tanya Adit kepo.


Lusi pun tampak diam tidak menjawab.


"Anak-anak lagi gosipin kamu kalau kamu hamil" ucap Adit lagi


"Mmmm" jawab Lusi singkat.


" Nih saya bawain rujak katanya kalau orang hamil itu sukanya makan rujak" ucap Adit.


Lusi pun hanya diam lagi tidak mau menjawab. Lusi juga bingung Ama nih aki-aki yang tau tau ucuk-ucuk bawa rujak. Ya kali pagi-pagi makan rujak. Sekalipun Lusi hamil Lusi tidak pernah sekalipun makan rujak di pagi hari apalagi makan rujak sebelum makan nasi.


"Kamu kalau mau makan sesuatu bilang ya, saya gak mau kalau anak kita ileran. Eh maksudnya anak kamu ileran" ucap Adit.


Lagi lagi Lusi hanya diam seribu bahasa.


"Lusi saya ingin bicara sama kamu. Saya tunggu ya di ruangan" ucap Adit.


Dengan langkah yang berat..


Lalu Lusi pun ke ruangan pak Adit.


"Kamu kenapa gak bilang. Kalau kamu hamil Lusi" ucap Adit. "Ini anak kita kan"


"Bukan, ini bukan anak bapak" ucap Lusi.


"Lusi.. saya tahu ini anak kita. Aku mohon jangan tutupi ini" ucap Adit.


Lusi pun hanya menghela napasnya.


"Lusi saya akan bertanggung jawab" ucap Adit.


"Sudah saya jelaskan ini bukan anak bapak"


"Bukannya terkahir kamu melakukannya sama saya. Saya ingat sekali bagaimana saya melakukannya sama kamu. Begitu terasa melekat dan indah saat malam itu. Bahkan jika kamu mau kita bisa melakukannya lagi" ucap Adit.


"Pak jangan kurang ajar ya"


Lusi pun hanya menghela napasnya dan langsung keluar dari ruangan Adit.


Lusi sebenernya sangat kesal dengan ucapan Adit yang yang sudah kurang ajar. Namun Lusi berusaha menahan sabarnya.


*****


Setelah itu Lusi pun kembali duduk dimeja kerjanya. Dan duduk sambil membuka email masuk. Lalu ia pun tak sengaja membuka email yang ternyata email erick yang belum di log out. Lalu lusi tak sengaja membaca dan membuka email keluar milik Erik yang ternyata berisi laporan keuangan. Lusi pun membukanya dan Perusahaan yang Rian miliki ternyata memiliki laba yang cukup besar. Entah mengapa Erick membuat laporan keuangan lagi dengan hasil berbeda. Apakah ini ada yang di revisi tapi memang sepertinya ada kecurigaan yang memang tidak bisa dipungkiri. Ah sudahlah kita tak boleh suudzon dulu. Bisa saja memang ada kesalahan.


Lalu Lusi pun menoleh ke arah mba Sinta.


"mba kemarin ada yang pinjem komputer aku gak selama aku di rumah sakit" tanya Lusi.

__ADS_1


"ada Erick kemarin.."jawab Mba Sinta. "emangnya kenapa? "


"Gak apa-apa kok mba.. " jawab Lusi.


Sepertinya ini memang aku rahasiakan dulu. Untuk aku cari tahu kebeneranya. Benak Lusi


Lalu Lusi pun duduk kembali sambil sedikit termenung.


****


Keesokan harinya Lusi pun tampak datang ke kantor seperti biasa. Lusi hari ini sengaja ingin menemui Rian di meja kerjanya karena penasaran dengan laporan keuangan yang ia temukan saat itu.


"Saya mau lihat laporan keuangan kamu selama ini" ucap Lusi.


"Emang kamu siapa mau sok-sokan ngeliat"


"Sebentar doang"


Lalu Lusi pun tersadar. Kalau ada kejanggalan dengan laporan keuangan. Bahwa ada pemalsuan dilaporan keuangan itu.


"Rian coba kamu cek. Aku punya laporan keuangan ini. Menurut kamu apa ada yang salah" ucap Lusi.


Rian pun tampak memperhatikan dan membandingkan dengan laporan yang selama ini ia terima. Dan banyak sekali kejanggalan.


"Lusi. Selama ini ada yang menggelapkan uang perusahaan. Aku harus mengurusi ini semua" ucap Rian sambil melihat laporan itu. "Perusahaan memang sudah kehilangan uang yang cukup besar"


Lalu tampak Rian yang langsung menelpon mamanya.


Dan entah apa yang dibahas Lusi pun tidak berani menanyakan. Setelah itu tampak Rian yang sangat sibuk memanggil satu persatu divisi keuangan. Selama ini memang perusahaan mengalami banyak kerugian bahkan jika itu terus terjadi bisa saja perusahaan akan gulung tikar.


Dan memang ternyata di balik itu semua banyak oknum yang tidak bertanggung jawab. Telah mengambil dana perusahaan dan menggelapkanya untuk keperluan pribadi. Dan itu semua ternyata dalangnya adalah Adit selaku direktur keuangan. Yang berkejasama dengan para rekan kerjanya.


*******


Disisi lain tampak Adit yang merasa kalang kabut karena kedoknya terbongkar.


"Erick kenapa bisa ketahuan" ucap Adit kesal.


"Mm maafkan saya pak. Saya tidak sengaja"


"Siapa yang sudah membocorkan semua" ucap Adit lagi.


"Waktu itu saya tidak sengaja membuka email di komputer Lusi. karena kompuer saya dalam perbaikan. Dan saya lupa me log outnya. Sehingga disitu masih ada laporan asli dan yang palsu"


"Kemungkinan iya pak" jawab Erik.


"Bodoh kamu Erik bisa-bisanya kamu sebodoh ini. Bisa bisa kita di pecat asal kamu tahu" ucap Adit memandang Erik kesal.


"Maafkan saya pak" Erik takut.


"Panggil Lusi sekarang!!"


Lusi pun yang memang tidak tahu menahu. tentang uang perusahaan yang selama ini digelapkan oleh Adit dan rekan kerjanya. Apalagi Lusi memang tidak bertugas dalam mengurusi laporan keuangan. namun kali ini Lusi harus menerima omelan Adit yang tidak terima kasusnya terbongkar.


Lalu Lusi pun di panggil oleh Adit.


Tampak Adit yang langsung marah pada Lusi.


"Beraninya kamu membocorkan semuanya. Kamu pikir kamu siapa!!" ucap Adit kesal. "Kamu kan yang melaporkan semua itu"


"Pak. Saya tidak tahu kalau akhirnya sampai seperti ini. Saya hanya tahu email erik nyangkut dikomputer saya. Dan saya tidak tahu kalau ternyata... selama ini bapak yang terlibat." ucap Lusi tidak terima.


"Lusi beraninya kamu. Kamu saya pecat" ucap Adit kesal.


Lusi pun tampak kaget dengan ucapan Adit. Namun sebenarnya Lusi pun masa bodoh juga kalau harus di pecat.


Lalu tak lama Rian datang. Dengan wajah yang kesal pada Adit.


"Tidak ada yang bisa memecat Lusi. Sekarang bapak ke ruangan saya sekarang" ucap Rian tegas.


******


Diruangan Rian.


Tak lama Renata datang, kali ini tampak Renata yang datang. Dengan wajah yang masih pucat karena pulang dari rumah sakit. Tampak Renata yang sudah harus kembali ke kantor untuk mengurus semuanya.


Tak lama Adit pun datang menemui Renata.


Dan duduk dihadapan Renata.


"Kamu adalah orang kepercayaan saya Adit. Namun kenapa kamu juga yang sudah membuat saya kecewa seperti ini. Padahal semua jeri payah kamu sudah saya hargai mahal. Entah mengapa kamu berani mengambil uang perusahaan saya dengan lancang" ucap Renata kesal pada Adit.


"Maafkan saya nyonya"


"Kali ini saya tidak bisa memaafkan mu. Dengan terpaksa saya memecat mu dan semua yang terlibat dalam penggelapan uang perusahaan ini saya juga akan memecatnya"

__ADS_1


"Tapi nyonya maafkan saya nyonya"


"Masih untung saya tidak membawa kasus ini ke kantor polisi.. Sekarang kamu boleh keluar"


Adit pun tampak keluar dengan wajah yang sangat kesal.


Adit pun tampak memerah wajahnya. Baru kali ini ia di perlakukan seperti ini oleh Renata. Dengan cepat Adit pun kembali memanggil Lusi.


"Duduklah" ucap Adit kesal.


Lalu tiba-tiba Adit langsung menampar Lusi.


Plaaaaaakkkkk...


"Gara-gara kamu saya di pecat" ucap Adit.


Lusi pun tampak kaget dan menjatuhkan air matanya.


"Maafkan saya pak. Saya tidak maksud untuk membuat bapak dipecat dari sini"


"Asal kamu tahu Lusi. Kamu akan menyesal. Kamu akan tahu akibatnya.." ucap Adit mengancam Lusi dengan tatapan tajamnya.


Lusi pun hanya menghela napasnya. Dan tidak banyak bicara.


*******


Sementara itu..


Tampak Rian yang berada di ruangan bersama Renata.


"Sekarang mama liat kan. Selama ini orang kepercayaan mama lah yang sudah membuat kecewa. Bahkan orang yang selama ini mama benci, sudah berhasil membuka kedok Adit yang sudah jahat itu ma" ucap Rian.


"Memangnya siapa yang sudah membuka kejahatan Adit" tanya Renata.


"Lusi.. ma.. Lusi yang sudah membongkar semuanya"


Renata pun semakin kaget dan bersalah pada Lusi.


"Iya Rian. mama mengakui semua itu kesalahan mama" ucap Renata.


Sore harinya..


tiba-tiba Lusi di panggil keruangan Renata. Kali ini Lusi masih tampak takut pada Renata.


"Saya terimakasih dengan kamu karena sudah berani membuka kejahatan Adit selama ini" ucap Renata. "Saya tidak tahu sudah berapa lama Adit melakukan ini"


Adit selama ini memang hanya memikirkan keuntungannya sendiri. Tanpa peduli uangnya dari mana.


"Lusi sore ini saya akan mengajak mu keluar" ajak Renata.


"keluar kemana nyonya?"


"Jalan-jalan"


"Oh baik nyonya" ucap Lusi tersenyum.


Lalu Lusi pun diajak Renata untuk keluar. Tampak Renata yang tidak lagi menatap Lusi dengan tatapan benci. Lusi pun baru kali ini naik mobil berdua dengan Renata bersebelahan. Dan rasanya itu antara senang dan deg-degan.


Tampak Renata yang mengajak Lusi kesebuah toko tas branded.


"Kamu pilih apa yang kamu inginkan. Saya akan memberikannya sebagai hadiah untukmu" ucap Renata.


Lusi pun tampak tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak terimakasih, nyonya tidak perlu memberi hadiah apapun untuk saya" jawab Lusi.


"Lalu kamu mau apa"


"Saya... Hanya ingin dipeluk nyonya" ucap Lusi tersenyum.


Renata pun tampak kaget dengan ucapan Lusi.


Renata pun sedikit haru mendengar ucapan Lusi. yang diluar dugaannya


lalu Renata pun tersenyum dan memeluk Lusi.


Seketika air mata Lusi pun terjatuh.


Sungguh ini adalah hadiah yang paling mahal dalam hidupku. Dari dulu aku ingin sekali dipeluknya hanya saja itu terasa sulit.benak Lusi sambil menjatuhkan air matanya berkali-kali.


Lalu Renata pun menghapus air mata Lusi dan memeluknya dengan erat sekali.


Dan kali ini Renata pun tersadar bahwa Lusi ini memiliki hati yang baik dan tulus. Renata pun tampak menyesal selama ini sudah membenci dan jahat padanya. bahwa nyatanya orang yang sudah ia bayar mahal malah justru mengkhiantinya.


Sementara orang yang selama ini ia benci justru baik padanya..

__ADS_1


__ADS_2