Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Jakarta i'm comming


__ADS_3

Part 59 (Jakarta i'm comming) (Sesion 2)


Terlihat Lusi, Lisa, Ayah dan Ibu. Sedang menikmati santap pagi bersama. Namun karena Semaleman Lusi tidak tidur, sesekali membuat Lusi menguap karena rasa kantuk yang melanda.


" Rian mana gak kamu suruh sarapan" ucap Ibu pada Lusi.


"Masih tidur.. Biarin aja lah. Nanti juga kalau laper dia bangun sendiri" ucap Lusi.


"Kamu gak bangunin" ucap ibu.


"Biarin ajalah bu. Kalau dia mau bangun juga bangun sendiri"


"Kakak gue gak kreatif di tanya apa. Jawabannya itu lagi itu lagi" ucap Lisa.


"Hooaaamm.. Emm... Begitu. Yaudah maaf ya" ucap Lusi sambil sarapan dengan mata ya tinggal lima wat.


"Kamu bawain makanan buat Rian gih" ucap Ibu.


"Iya bu tar juga dia bawa makanan sendiri" ucap Lusi gak nyambung.


"Bawa sendiri dari mana kak. Ya kali.. dia bawa bekel dari rumah. Kakak nih gak nyambung. Gak tidur ya semaleman. Pasti deh gak tidur abis begadang" ucap Lisa meledek kakaknya.


"Hemm.. Kakak tidur kok. Cuma gak pules aja" ucap Lusi.


Lalu Lisa pun menahan tawa..


Ayah dan Ibu pun memandang Lusi dengan tatapan tak biasa.


Ah.. Jadi malu.. Dah lah kabur aja dari suasana yang canggung ini, benak Lusi.


"mmm yaudah aku kamar dulu ya. Bawain Rian sarapan" ucap Lusi membawa makanan di nampan.


Lalu Lusi pun masuk kamar. Terlihat Rian yang sedang tidur nyenyak.


Enak sekali dia bisa tidur nyenyak begini. Huhuhu.. Pengen tidur juga sih sebenernya tapi jaga image juga di depan Ayah ibu. Ketahuan banget kalau abis begadangnya. Benak Lusi.


Lalu dengan perlahan Lusi pun membangunkan Rian. Dengan sentuhan lembut yang mendarat di pipinya.


"Rian bangun.. Sarapan dulu yuk" ucap Lusi.

__ADS_1


Lalu Rian pun terbangun.


"Hmm itu ada sarapan di meja. Kalau kamu lapar langsung di makan aja" ucap Lusi.


"Iya.." Ucap Rian mengucek matanya.


Lalu Lusi pun beranjak pergi. Namun tiba-tiba Rian memanggil.


"sini.. " panggil Rian. "Besok kamu harus bersiap diri pagi-pagi sekali kita akan ke Jakarta. Karena mulai Lusa aku sudah harus kembali bekerja" ucap Rian.


Lusi pun mengangguk paham.


Sebagai istri Lusi hanya bisa mengikuti kemana pun kaki suaminya melangkah.


Setelah itu Lusi pun keluar kamar. Dan sesekali Lusi memejamkan matanya di Ruang tengah. Lisa dan ibu pun tidak berani membangunkan Lusi yang tertidur itu. Mungkin mereka sudah paham.


.


.


.


.


Sesekali Ibu pun memandang anaknya dengan tatapan sedih.


"Kamu kalau ada apa-apa telepon ibu ya" bisik Ibu pada Lusi.


"Iya bu.. "


"Jaga diri kamu baik-baik" ucap Ibu menangis merelakan kepergian anaknya. Sebenarnya Ibu menangis bukan karena perpisahan. Tapi Ibu takut bila Lusi pulang hanya tinggal nama. Mengingat suaminya ini adalah Rian.


"Ibu jangan sedih ya... Doakan Lusi selalu ya bu" ucap Lusi.


"Iya pasti"


.


.

__ADS_1


.


.


Beberapa jam perjalanan menuju jakarta. Akhirnya Lusi dan Rian sampai diistana milik Rian. Ya memang untuk ukuran rumah tampak seperti istana. Rumahnya begitu luas dan megah.


Hmm.. Sungguh tidak adil. Kenapa pria jahat seperti Rian. Harus memiliki rumah sebagus ini. Hah apa-apaan aku ini. Bagaimana pun kini ia adalah suami ku. benak Lusi.


Lusi pun memandang ke semua penjuru rumah besar itu. Tampak terlihat terawat, dan cukup bersih. Tapi sayang Lusi tidak melihat seorang pun asisten rumah tangga di rumah Rian.


"Asisten rumah tangganya mana ya. Daritadi aku tidak melihatnya"


"Baru hari ini aku pecat semua" ucap Rian.


"Loh kenapa? " tanya Lusi.


"Sengaja. Aku tidak ingin ada yang menggangu kita berdua sekalipun dia cuma pembantu" ucap Rian.


Lusi pun hanya diam mendengar ucapan Rian.


Lalu Rian pun menggendong Lusi. Menaiki setiap anak tangga dan di bawa masuk kedalam kamar. Rian pun menjatuhkan Lusi ke tempat tidur. Dan tampak Rian yang besiap diri melepas pakaiannya. Dan Lusi pun hanya diam sambil mengerinyitkan keningnya. Antara ingin tak ingin untuk melakukan ini. Namun Lusi tetap bersiap diri bila itu terjadi.


Tiba-tiba saja suara ponsel milik Rian berbunyi. Rian pun langsung mengecek ponselnya.


Dan ternyata ada panggilan telpon dari Zelda. Rian pun tidak jadi untuk melakukannya. Dan langsung pergi meninggalkan Lusi.


.


.


.


.


Like yaa..


Sebernarnya pengen cepetin ceritanya biar bisa tidur nyenyak. Soalnya aku kalau belum selsai gak tahu kenapa masih penasaran. Gak mau maraton terus ceritanya di otak. Pengen cepet-cepet end. Tapi diotak nih udah terlanjur ada alur ceritanya sudah termainset gitu ceritanya... jadi harus di utarakan biar gak penasaran trus... Yaaaahh pengen cepet kelar sih biar bisa bebasssss..... Sabarin ajalah dulu.. ...


Oke oke oke. aini (berbicara pada diri sendiri)

__ADS_1


besok besok aku kayanya nulis cerpen aja deh. untuk menghilangkan lelah di pundak ini.... berasa ngerjain pr bro setiap harinya.


__ADS_2