Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Kamu Cuma Sedang Munafik


__ADS_3

143 (Kamu Cuma Sedang Munafik)(Sesion 2)


Sesampainya dirumah. Dan terlihat Rian yang menggandeng tangan Lusi dengan erat.


Dan tidak sengaja Rian bertemu Renata yang sudah mengenakan baju tidur dan siap juga untuk beranjak tidur.


"Ma, jangan ganggu Rian ya malam ini ya. Karena malam ini Rian mau kangen kangenan Ama Lusi" ucap Rian.


Renata pun tampak tersenyum.


"Kamu tenang saja, kali ini kamar kamu sudah mama sulap seperti kamar pengantin. Kamu mau tujuh hari tujuh malam pun tidak jadi masalah. Terserah kamu Rian" ucap Renata.


"Ah mama bisa aja"


Renata pun memandang Lusi sambil terssenyum.


"Rian ini persis papa nya, gak bisa menahan. Tapi kalau tidak bisa menahan sama istri sendiri sih gak apa kan. Maaf Lusi.. kamu harus sabar sabar jadi istri Rian, soalnya dia banyak maunya"


Lusi pun hanya tersenyum tipis.


"Udah lah ma. Jangan takut-takutin Lusi begitu. Lusi kan orang nya penakut udah gitu lemah juga. Beda banget sama Rian yang kuat dan suka menyerang"


"Emang kamu mau punya istri yang kaya gimana. Bisa debus.." ucap Renata.


"Gak gitu juga sih ma. Udah dulu ya, Rian udah gak tahan. Rian mau buru buru. Takut ketinggalan kereta" ucap Rian menarik tangan Lusi. Dan terlihat Rian yang sudah tidak sabaran itu.


Lalu Rian pun masuk kedalam kamar bersama Lusi. Dan tidak lupa juga mengunci pintu. Dan juga Memastikan tidak boleh ada yang masuk selama ia melakukan ritual malam ini bersama Lusi.


Dan saat Rian masuk. Rian dan Lusi kaget kamarnya benar-benar disulap seperti kamar pengantin baru dengan sprei putih dan kelopak mawar bertebaran di kasurnya. Di tambah lagi pengharum ruangan yang begitu semerbak.


Rian pun semakin on.


"Kamu mau mandi duluan atau aku yang mandiin" ucap Rian mesum.


"Hey emang aku kucing dimandiin" ucap Lusi. "Emang boleh ya orang hamil mandi malem-malem gini"


"Gak apa-apa kali selama gak ada hadist yang menjelaskan. Kan kamu lebih pintar soal itu" ucap Rian.


Lusi pun tampak terdiam. Lalu Lusi pun mandi karena badannya memang sudah terasa gerah dan lengket sekali. Selama dikamar mandi Lusi pun mandi dibawah shower. tiba-tiba Rian datang tanpa mengetuk.


"Aku mau mandi juga ah" ucap Rian.


"Kamu tunggu di kamar aja gak usah kesini. dikit lagi aku selesai" ucap Lusi panik.


"gak apa-apa mau lihat tontonan gratis"


"Eh..."


Rian pun langsung mencium bibir Lusi dengan penuh gairah dibawah shower.


"Mmmmmmppppp"


Tampak mereka berdua yang basah dengan guyuran air shower yang hangat itu. Dan semakin memanas dengan ciuman Rian begitu panas.


"Mandinya cepetan ya. Aku gak mau kalau kita melakukan ini dikamar mandi. Soalnya licin takut kamu jatuh"ucap Rian. Yang memberhentikan ciuman mautnya itu.


Lusi pun langsung memakai handuknya dan buru-buru keluar dari kamar mandi.


Lalu selesai mandi Lusi pun tampak memakai daster dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Langsung bergegas memejamkan matanya. dengan jurusan andalannya yaitu pura pura tidur.


Lusi pun tampak tidak siap bila melakukannya malam ini. Karena kan Lusi belum punya persiapan yang matang untuk melakukan itu lagi..


Harusnya aku tahu. kalau ini akan terjadi lagi kalau aku pulang ke rumah ini. Aduh kenapa perasaan gak kuat deg-degan gini. Ah elah.. benak Lusi memejamkan matanya agar Rian beranggapan bahwa Lusi tidur.


Tiba-tiba Rian datang menghampiri hanya dengan sehelai handuk menutupi bagian bawahnya.


Lah, ini perempuan malah dia tidur. Kali ini aku tidak akan tertipu lagi. Aku pastikan dia hanya pura-pura tertidur. Aku yakin ia pun sangat menginginkannya malam ini. Lisa kan udah bilang bahwa Lusi hanya muna. Ucap Rian memandang Lusi.


Rian pun langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Lusi. Dan semakin terlihat Lusi yang sangat seksi dengan daster rumahan yang ia kenakan.


Oh my God, ini kenapa dia narik selimut aku segala sih.. benak Lusi.


"Aku tahu kamu pura-pura tidur kan" ucap Rian. "Gak usah malu-malu sayang" ucap Rian mengelus pangkal paha Lusi.


Rian pun langsung mencium pipi Lusi dan menciumi leher Lusi.


Lusi pun tampak kegelian dan tidak tahan.


"Ihh... Rian kamu tuh apa apaan sih. Aku lagi tidur kamu jangan ganggu aku" ucap Lusi kesal.


"Aku sudah lama tidak melakukan ini Lusi. Sudah enam bulan. Masa kamu tega sama aku" ucap Rian.


"Heh.. Emang kamu nafsu sama wanita hamil" ucap Lusi.


"Iya justru semakin nafsu malah. Gunung kembar kamu ajah sekarang semakin besar. Mana mungkin aku bisa menahannya"


"Heh.." ucap Lusi.


Lalu Rian pun mencium bibir Lusi yang sangat seksi. Dan melakukan ciuman yang lain pada bagian tubuh Lusi.


Lusi pun hanya memejamkan matanya antara mau, malu tapi mau lagi.. ah wanita suka seperti ini. Tapi bukan Lusi namanya kalau tiba-tiba vulgar dan mau mau ajah. Hahaha.


"Ingat Rian aku lagi hamil. Melakukannya yang bener. Aku gak mau anak kita kenapa Napa" ancam lusi.


"Kali ini aku akan melakukan secara perlahan karena aku tidak mau kalau anak dalam kandungan kita kenapa-kenapa kok" ucap Rian. "Sayang.. papa mau menengok. Ingat ini papa kamu ya. Jangan sampai ketuker sama yang lain"


Lusi pun tampak tak bisa menolak disaat Rian melakukannya lagi. Rian pun tampak sangat bersemangat sekali melakukannya. Rasanya keinginan Rian untuk melakukan itu memang sudah di ubun-ubun. Lusi pun hanya bisa menerima. Disaat Rian melakukannya dengan sangat bersemangat. Sehingga membuat ruangan semakin terasa panas kala malam itu.


"Lusi kamu mau teriak atau apa.. lakukan saja. Disini takan ada yang mendengar, kamar mama dilantai bawah. jadi tak ada seorang pun yang mampu mendengar desahan kamu Lusi"

__ADS_1


"Riaaann....kamu jangan pancing-pancing aku untuk mesum ya.. aku malu" ucap Lusi dengan wajah merahnya.


"Tau ah gelap" Rian pun langsung melakukan serangan lagi..


Dan lagi .........


*****


Setelah itu,


terlihat Lusi yang tertidur disamping Rian. Hanya dengan ditutupi selimut tebal. Rian yang sengaja menyuruh Lusi tidur tanpa pakaian. Karena Rian ingin leluasa saat melakukannya lagi. Meskipun bukan malam pertama. Tapi bagi Rian seolah ini adalah malam pertama, setelah telah lama ia tidak melakukannya lagi.


Rian pun terbangun dan melihat sang istri disampingnya seperti mimpi. Dicium keningnya dan dicium juga perut sang istri. Rasanya seperti mimpi melihat Lusi kini telah kembali ke pelukan dirinya lagi.


Lusi pun seketika terbangun dan melihat Rian disampingnya.


Rian pun kembali mencium bibir sang istri penuh dengan gairah."mmmpppppp"


"Mmmppppppppp...Rian sudah cukup, sudah cukup. Ini sudah masuk subuh. Kita mandi ya" ucap Lusi.


"Oke kita lanjut lagi nanti ya. Di kantor.." goda Rian.


"Gak suka. Gak mau kalau di kantor malu sama Viola" ucap Lusi. "Lagi juga aku sebel sama kamu. Ingat gak bilangnya pelan pelan. Karena aku lagi hamil. Nyatanya apa.. aku suruh gaya ini gaya itu. Aku tuh gak suka kebanyakan gaya. Kamu itu ih, gak suka aku tuh..." Ucap Lusi kesal namun sangat terlihat manja. Dan semakin membuat Rian gemas


"Tapi aku suka banget kok .. maaf ya, abis pikiran kotor ini udah numpuk dari kemarin kemarin. Jadi sekalinya ketemu sama yang punya gawang. Aku jadi lupa diri deh. Biasa, jiwa pemain bola aku meronta saat melihat istri mulus aku ini"


"Hissss kamu tuh ya"


"Tapi enak kan" ledek Rian "Oia aku lupa, kamu seharus gak ditanya enak atau gak. Karena ujung-ujunganya pasti jawabannya gak enak. Kamu kan orang paling munafik" ucap Rian tersenyum.


"Munafik, kamu tuh ya.. udah gagahi aku semaleman dengan mudahnya kamu bilang aku munafik"


"Heii... Adik kamu sendiri yang bilang kamu itu munafik. Kamu cinta sama aku kan. Cinta sama aku sampai pingsan pingsan kan"


"Lisa bilang begitu" ucap Lusi kaget.


"Iya"


"Ha... Hissss.... Liiiissssssaaaaa" ucap Lusi kesal. "Aku gak pernah begitu"


"Sudah.. sudah kamu gak perlu klarifikasi apa-apa. Kamu cuma sedang munafik aja. Lagi juga kasih pelayanan suami itu ada pahalanya loh. Mana katanya mau jadi istri soleha masa gak ikhlas gitu ngelayaninnya. Kamu kalah sama wanita malam. Dia cuma dapet duit doang gak dapet pahala. bisa sepenuh hati. Laaah kamu.. ngelayanin aku Dapet duit juga dapet pahala juga double dapetnya. Masih gak ikhlas aja"


"Iya sih" ucap Lusi menyerah.


"Nah gitu dong mengakui..." Ucap Rian.


Lalu mereka pun solat subuh berjamaah.


Setelah selesai Lusi mandi dan setelah mandi Lusi mengenakan pakaian kerjanya. Dan tidak lupa juga menyiapkan pakaian kerja Rian secara detail. Mulai dari yang paling dalam sampai yang paling luar.


"Sepertinya seperti mimpi melihat mu disini lagi" Rian tersenyum memandang Lusi yang sedang memakaikan dasinya. Lalu Rian pun mencium kening istrinya.


"Jika kamu saja seperti mimpi apalagi aku" tutur Lusi sambil tersenyum.


.....


"Kamu tidak usah bantu bantu. Karena mama sudah menambah lagi asissten rumah tangga yang baru. Namanya mba Meti"


Mba Meti pun tersenyum melihat Lusi.


"Sudahlah duduk sini langsung makan saja" ucap Renata.


Lusi pun akhirnya duduk dan sarapan bersama. Lalu Rian pun duduk dihadapan Lusi.


"Nih kartu sakti dari aku. mulai sekarang belilah apa yang kamu butuh dan ingin kan" ucap Rian menaruh dua kartu diatas meja.


Lusi pun hanya diam dan memandang kartu debit dan kredit di hadapannya itu.


"Ambilah Lusi itu hak kamu. Karena kamu istrinya Rian jadi wajar bila kamu menerimanya" ucap Renata.


"Iya itu nafkah dari aku"


"Ayo ambil" ucap Renata.


"I..iya ma" Lusi pun mengambilnya.


"Kamu masih mau kerja" tanya Rian.


"Iya ada tugas yang harus dikerjakan"


"Istri boss masih mau kerja aja" tutur Rian sambil menyantap sarapan paginya.


"Gak apa-apakan Rian"


"Iya terserah kamu saja"


........


Lalu Lusi pun berangkat ke kantor bersama Rian. Kali ini tampak dengan mobil mewahnya. Lusi pun duduk disamping Rian.


"Peluk aku dong kaya orang-orang. Suami istri kan biasanya romantis" ucap Rian.


"Nanti kamu susah nyetirnya"


"Gak lah.. yang penting kamu jangan halangi pandangan aku aja buat nyetir" ucap Rian.


Lusi pun tampak tersenyum.


Selama perjalanan.. Lusi pun hanya senyum senyum sendiri. Membayangkan bagaimana reaksi teman kantornya terutama Mela.

__ADS_1


Sesampainya di kantor terlihat Lusi yang digandeng oleh Rian. "Kamu jalan duluan ajah ya. Gak usah gandeng aku. Aku malu" ucap Lusi.


"Oke terserah kamu aja" ucap Rian yang jalan didepan Lusi.


Sesampainya di depan kantor tampak karyawan yang menyapa Rian. Dan kali ini harus satu paket juga dengan istrinya yaitu Lusi.


"Selamat pagi pak.. Bu.." ucap karyawan.


"Selamat pagi..." Kata kata itu yang terulang tedengar dari para karyawan.


Rian dan Lusi pun tampak tersenyum.


Lusi pun yang memang pada dasarnya tidak sombong ini dengan pegelnya menjawab semua sapaan dari karyawan yang memberikan ucapan selamat pagi kepadanya. Serasa jumpa fans..


"Selamat pagi" ucap Lusi berulang kali menjawab sapaan.


Tiba-tiba ada pak Sultan.


"Selamat pagi pak" sapa pak sultan.


"Selamat pagi" jawab Rian.


Dan pak sultan sontak kaget melihat bidadari surga dibelakang Rian. Tidak lain tidak bukan itu adalah Lusi.


"Eh ada kamu juga.. Se..selamat pagi Bu Lusi" ucap sultan terbata. Seolah kaku memanggil ibu pada Lusi yang dulunya bawahan kini menjadi istri boss.


Lusi pun tampak tersenyum bahagia yang akhirnya pak Sultan tunduk juga dengannya hahahha.


"Pak, maaf ya saya datang terlambat biasa lah jalanan suka macet" ucap Lusi.


"Oh gak apa-apa ibu Lusi. Mau macet sampai besok juga gak apa-apa"


"Ah gak ah. Saya takut nanti bapak kasih sp ke saya lagi"


"Oh gak bakal. mau gak masuk sebulan juga gak bakal saya kasih sp kok. Mau telat selamanya juga gak apa-apa bu" ucap Pak Sultan tersenyum.


"Ah. Pak Sultan ini bisa aja. Nah gitu dong pak. Ini baru pak sultan. Yang memudahkan orang disetiap kesulitan" Lusi pun tersenyum dan langsung ngacir meninggalkan pak Sultan.


Lusi pun tampak tertawa geli melihat dirinya hari ini bak cerita sinetron.


"Haduh mimpi apa aku semalem... Manggil bocah pembuat onar itu dengan sebutan ibu. Untung aja istri boss kalau bukan dah aku pites" ucap pak Sultan.


*Heheh seneng ya Lusi hari ini kamu..*


Dan tak sengaja saat di loby Lusi pun melihat Mela di hadapannya. Lusi pun auto menggandeng tangan Rian yang ada didepannya. Rian kan suaminya wajar ya menggandeng. Dan kali ini menggandengannya dengan mesra dong ya. Agar Mela ketar ketir dan tahu rasa.


Mela pun hanya menunduk kepalanya melihat Lusi. Dan Lusi pun hanya tertawa geli melihat Mela yang tampak malu itu.


Rasanya senang sekali bisa membalas Mela dengan cara yang elegan.


Lalu saat naik lift tidak sengaja juga bertemu Viola. Kalau viola ini kan temen Lusi yang baik jadi Lusi sih senang saja saat bertemu dengannya. Gak perlu harus balas dendam apa-apa.


"Haduh enak ya yang jadi istri boss digandeng terus kaya trek gandeng" ucap Viola.


"Eh kamu Viola" ucap Lusi tersenyum.


"nah jelas kan kalau aku sudah menikah sama Lusi. Jadi aku sudah pasti bertanggung jawab dengan anak yang Lusi kandung" ucap Rian menjelaskan.


"Nah gitu dong pak.. romantis. Lagian bapak berita pernikahan diumpetin mana tahu kalau bapak sudah menikah" ucap Viola.


"Makanya jangan suudzon jadi bawahan"


"Makanya pak jangan diumpetin"


.....


Lalu Lusi pun turun di lantai 7. Sedangkan Rian di lantai 9.


Sesampainya Lusi dimeja kerjanya tampak mba Santi yang menyambut Lusi dengan senyuman. Dan langsung merangkul. Dan tampak intan yang justru tersenyum kecut melihat Lusi. Karena wajar saja, intan kan selama ini mengincar pak Rian.


"Nah ini nih istri boss Rian. Yang udah dengan lancang nge prank kita.. kenapa sih gak bilang dari awal kalau kamu itu istrinya si bos" ucap mba Santi.


"Mba kan dari awal sudah saya bilang. Biarin ajalah bapak anak ini yang ngaku sendiri. Eh benerkan dia mengakui juga akhirnya heheh"


"Syukurlah Alhamdulillah"


Tiba tiba intan menyahuti.


"Ah sialan lu Lusi. Yang ngincer boss Rian kan gue.. yang dapetin malah elu. Elu nyolong start dari gue. Emang dasar lu ya. Parah parah parah" ucap Intan.


"Sorry deh gak bermaksud begitu.. abisnya. Aku udah terlanjur nikah sama pak Rian. Kamunya baru ngincer. Bukannya nyolong start tapi kamunya yang telat Tan"


"Lagian ngapain sih.. lu kerja duit dah banyak. Gue juga jadi bingung nih harus bagaimana ya sama lu. secara lu istri boss gw ngeri ngeri sedap juga bergaul sama lu. Takut takut salah brabe urusannya" ucap intan.


"Eh kamu yang sopan dong, masa panggil istri boss lu gua.. lu gua ajah. Gak sopan ya.. dasar.. karyawan gak ada akhlak" ucap mba Santi.


"Uuuhhh maaf khilaf.. maaf Bu Lusi jangan pecat ya.. please" ucap Intan tersenyum.


"Ih.. udah santai ajah. Aku mah tetep jadi Lusi yang kalian kenal. Gak berubah jadi apa-apa. Santai aja .. oke" ucap Lusi tersenyum.


Intan pun tampak tersenyum. Dan menedekati Lusi. "Ini temen kita ya mbak. gak nyangka loh. Auto jadi nyonya besar. Perasaan baru kemarin di hujat mati matian. Eh sekarang jadi kupu-kupu" ucap Intan


"Ya itulah kehidupan Tan. seperti roda yang terus berputar" ucap Lusi.


Lalu mereka pun memeluk Lusi yang notabene memang sahabat mereka sendiri.


.......


Rasanya seneng akhirnya mau menamatkan cerita ini. Haduh capek eeeuuuyyy... Pen kembali ke dunia nyataku. Dunia nyataku .. mana dunia nyataku.. jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau tua disini. 6 bulan lebih menulis cerita itu bukan waktu yang sebentar. Apalagi aku orangnya gak pintar tp juga gak bodoh. Jadi menulis ini cukup menguras tenaga dan pikiran ku...

__ADS_1


Sebenarnya aku pun juga gak mau nulis lagi setelah ini. Soalnya suka meninggalkan bekas mata panda gitu deh... Hahah.. gue jd mendadak mikirin penampilan.


Dan sebenarnya aku tuh orangnya paling males nulis. Bales wa ajah lebih sering voice note daripada ngetik. Tapi demi dapetin karakter Lusi aku rela nulis panjang lebar begini. Aku juga gak mau membuat sebuah kisah yang menggantung. Biar yang baca dan menulis sama sama trpuaskan...


__ADS_2