
Part 53 (Biar tekor asal kesohor) (Sesion2)
Setelah fitting baju pengantin. Lusi dan Rian pun sampai rumah.
Ketika sampai terlihat Ayah yang sedang duduk di kursi depan.
"Duduk" ucap Ayah
Lalu kami berdua pun duduk di kursi depan rumah.
"Abis dari mana? " tanya Ayah.
"Abis fitting" jawab Rian.
"saya mau tanya, Mas kawin buat anak saya apa?" tanya Ayah pada Rian.
"Uang" jawab Rian singkat.
"Berapa?" tanya Ayah lagi, kali ini memandang Rian tajam.
Rian pun tidak bisa menjawab karena ia melempar asal tanpa menghitungnya. Saat melempar uangnya ke wajah Lusi saat itu.
Lalu Rian pun bertanya pada Lusi.
"Berapa saya lupa?" tanya Rian pada Lusi.
"900 ribu" jawab Lusi.
"Saya kira emas berlian atau semacamnya. Ternyata cuma uang segitu. Tidak sebanding dengan tingginya jabatan kamu sebagai pemilik perusahaan. " ucap Ayah.
Lalu Rian pun tidak terima dengan ucapan Ayah.
"Baik saya akan membelikan sesuatu yang lebih mahal" ucap Rian.
Lalu Rian pun menarik Lusi.Dan membawanya ke mobil.
Dan pergilah ke suatu tempat. Hingga berhenti lah di toko berlian.
"Pilihlah yang paling mahal" ucap Rian "Mas kawinnya kita ganti dengan cincin berlian"
"Kamu jangan terlalu ambil hati ucapan Ayah barusan" ucap Lusi.
__ADS_1
"Memang itu kan yang kamu mau. Biar sekalian Ayah kamu tahu, kalau aku membeli kamu dengan cara yang mahal. Walaupun kamu itu cuma wanita murahan"
Lusi pun kaget dengan ucapan Rian. dan ia merasa kesal. tiba-tiba saja Lusi ingin menamparnya. Namun sayang tangan Rian lebih dulu memegang kuat tangan Lusi, Sehingga tamparan itu tak sampai ke pipinya..
namun sebaliknya, Rian malah langsung meremas tangan Lusi dengan keras. sehingga mampu membuat Lusi kesakitan atas perlakuannya.
"Semua hal bisa aku beli termasuk kamu!! Cepat pilih!!! " bentak Rian marah.
Setelah itu Lusi pun hanya diam. sambil kesakitan memegang tangannya.
"Awas sekali lagi kamu mencoba tampar saya. tidak akan ada ampun buat kamu Lusi" ucap Rian kesal.
.
.
.
.
Lalu malam harinya...
Ayah dengan wajah datar dan sedikit sangar memakan masakan Ibu. Kalau ibu penuh dengan senyuman menikmati makanan malam.
Lalu Lusi pun memberanikan diri membicarakan soal pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi.
"Kali ini Lusi mau bahas undangan" ucap Lusi dengan wajah tegang.
"Bilang Rian.. Ayah akan mengundang 1.000 undangan. Dan harus sudah disiapkan dan disebarkan dari sekarang" ucap Ayah tegas
Bagi keluarga besar Lusi, 1.000 undangan itu memang sudah biasa. Mengundang orang banyak itu sudah hal lumrah. apalagi bicara soal hajatan pernikahan.
Jangankan saudara dekat atau saudara jauh.. tukang bakso, saudaranya tetangga aja diundang dan nyaris satu kampung Pasti diundang. Makanya ada istilah. biar tekor asal kesohor dan itu benar adanya. sudah biasa terjadi dikeluarga besar Lusi. Apalagi Ayah ini saudara dan temannya banyak.
Tapi kali ini Ayah harus siap mendapati pernikahan anaknya yang jauh dari harapannya itu.
"Nanti Ayah akan melaksanakan acara yang besar. Apalagi Rian anak orang kaya. Harusnya sih mudah saja bagi dia" ucap Ayah dengan keyakinannya.
Lalu Lusi pun menggelengkan kepala dan dengan berat mengatakan. "Undangannya hanya 20 orang.. tidak lebih"
"Apaa?!? Main-main dia rupanya. Dia pikir ini acara kecil. Kalau dia gak sanggup membiayainya. Biar Ayah yang biayai dan Ayah sama sekali tidak keberatan. ternyata pelit juga dia rupanya" ucap Ayah dengan nada sedikit kesal.
__ADS_1
Lusi menarik nafas dan berusaha untuk bicara lagi walau lidahnya terasa berat.
"Ini bukan soal pelit atau tidak pelit. Tapi memang keinginannya. Jadi aku harap, Ayah paham dengan keputusannya. Karena bagaimana pun Rian calon suami Lusi. Jadi Lusi lebih baik mengalah demi kebaikan"
"Otak kamu ini udah di cuci ya sama Rian. Wajah keluarga kita mau taro dimana" ucap Ayah kesal.
"Buat apa pernikahan mewah. Jika tidak ada kebahagiaan di dalamnya"
Lalu setelah itu Lusi pun masuk ke kamarnya tidak peduli lagi dengan jawaban Ayah selanjutnya. Tak lama ibupun masuk ke kamar Lusi.
Lalu ibu duduk disamping putrinya.
"Terkadang menjelang hari pernikahan memang seperti itu. ya perbedaan pendapat lah inilah itulah" ucap Ibu memandang putrinya, yang terlihat murung.
"Bu.. Lusi pasrah dengan pernikahan ini. Lusi juga gak tahu Rian akan baik atau tidak memperlakukan Lusi saat menjadi istrinya nanti. Lusi takut bu.. Lusi takut bila takan kuat bila harus menjadi istrinya"
"Iya ibu paham dengan apa yang kamu rasakan. Kamu harus sabar dengan semua ini. Ibu yakin kamu bisa merubahnya. Yang mungkin awalnya dia pria yang buruk. Tapi kita tidak pernah tahu nanti kan" ucap Ibu.
Lalu Lusi pun sedikit tersenyum.
"Kaya ibu ya.. Ibu bisa merubah Ayah dari cowok palyboy jadi pria yang setia"
"Kamu itu ya. Bisa-bisanya menghina ayahmu playboy"
"ih.. Siapa yang menghina. Ibu mulai pikun ya. Kan ibu sendiri yang bilang waktu itu" ucap Lusi sambil senyum-senyum.
"Ternyata nasib kita sama. Sama-sama di pertemukan pada pria yang titik titik.." ucap Ibu yang bicara tidak sampai selesai.. "Tapi ya sudahlah.. semua itu seiring berjalannya waktu akan berubah. karena kesetiaan dan kesabaran. Siapapun pria yang kita nikahi, kamu harus tetap jadi istri yang soleha ya" ucap ibu tersenyum.
"Iya bu." jawab Lusi.
"Ibu akan selalu mendoakan agar kamu selalu bahagia" ucap Ibu.
"Terimakasih" jawab Lusi.
.
.
.
mohon di likee yaaa
__ADS_1