
Part 23
(Perkara Monstera jadi serba salah) (sesion 2)
Pagi hari yang cerah. Matahari telah bersinar, burung pun berkicau menambah serta keindahan pagi itu. Terlihat Lusi yang sedang sibuk mengorek dan menggali tanah di pekarangan rumahnya. Ia terlihat sedih karena tanaman mawar yang pernah ia tanam kini telah mati. Ia pun menggantinya dengan pohon kaktus. Memang ia tidak suka dengan pohon itu. Tapi ia sengaja menggantinya mengingat kini ia harus kuat sekokoh pohon kaktus yang ia tanam.
Mawar memang tajam bila di sentuh. Namun masih mudah untuk di petik orang. Berbeda dengan pohon kaktus. Ia tidak terlalu banyak disukai dan disentuh orang. Namun ia sangat kuat dalam kondisi apapun.
Meskipun begitu Lusi tidak pernah membenci bunga mawar yang ia tanam. Justru ia ingin menambah koleksi bunga yang lain. Mengingat ia sangat suka dengan keindahan.
Tiba-tiba saja Ibu datang membawa tanaman baru. Ia pun langsung menaruh disamping pohon kaktus milik Lusi.
"Ini pohon apa bu?" tanya Lusi.
"Kamu mah payah masa ini aja gak tahu. Lihat dong tanaman Ibu yang baru. Ini namanya Monstera alias Janda Bolong."
Lalu Lusi pun diam.
"Kamu kenapa?" tanya Ibu.
"Pohon itu mirip Lusi ya bu." ucapnya.
"Apa..." ucap Ibu heran
"Dari namanya mengingatkan. Kalau aku sudah tak gadis lagi bu" ujar Lusi murung
__ADS_1
Lalu ibu pun mendekap putrinya.
"Kamu jangan melihat sesuatu itu dari sebelah mata saja." ucap Ibu
Lalu Lusi memandang wajah sang Ibu.
"Jangan salah tanaman ini banyak di cari orang dan sangat berharga bagi pencintanya. Seperti hidup ini seperti apapun namanya. Kamu jangan pernah menganggap rendah, hanya karena sebuah nama atau image seseorang. Seperti kamu Lusi.. Seperti apapun anggapan orang dalam menilai kondisi kamu. Kamu jangan pernah menganggap diri kamu rendah dan tak berharga. Kamu adalah orang yang sangat berharga untuk orang-orang yang sangat kamu cinta" ucap Ibu
Lalu Lusi menarik napas panjang.
"Lalu bagaimana kalau ternyata aku yang membenci diriku sendiri?"
Kali ini bergantian Ibu yang menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
"Mulai sekarang kamu harus belajar mencintai diri kamu sendiri. Seperti kamu mencintai Ibu dan orang-orang yang kamu cintai".
Lalu setelahnya Lusi pun masuk ke dalam untuk membersihkan diri. Mengingat tangan dan pakaiannya sedikit kotor karena tanah.
Tiba-tiba ia kedatangan tamu. Yaitu Nila sepupunya. Ia sepantaran Lusi. Dan sudah memiliki seorang anak perempuan yang lucu usianya 6 bulan.
"Maaf ya, gak bisa jenguk waktu kamu kecelakaan. Karena kamu jauh di Jakarta" ucap Nila.
"Gak apa-apa" jawab Lusi
Disitu juga ada Ibu dan juga Lisa.
__ADS_1
"Oia bagaimana ceritain dong. Kenapa sih waktu itu kamu bisa gila" tanya Nila.
Lusi pun hanya diam. Lalu tiba-tiba Ibu menjelaskan.
"Biasalah Nila, anak muda. Lusi Depresi. Karena Devan meninggal sedangkan Lusi udah sayang banget saat itu" ucap Ibu.
Lusi pun hanya tersenyum. Mungkin Ibu membantu jawab pertanyaan Nila. Mengingat Ibu tidak ingin melihat Lusi sedih. Memang Lusi sedih saat kehilangan Devan. Namun tidak sesedih saat ia harus menceritakan kembali, saat kehormatannya telah teerenggut oleh orang lain.
Lalu Lusi pun mengalihkan pembicaraan dan mengajak main baby Alena. Alena adalah anak perempuan Nila.
"Ciluk ba... Ini anak siapa sih cantik banget. Mirip mamanya ya.. Atau mirip tante Lusi" ucap Lusi tersenyum.
"Kamu mau gendong" tanya Nila.
"Gak Nila gak usah. Takut Alena menangis" ucap Lusi.
Lalu Nila memberikan Alena ke pangkuan Lusi. Lalu Lusi pun menerima dan menggendong baby Alena.
"Ishh.. Lucu banget sih kamu de" ucap Lusi sambil menggendong.
"Udah cocok banget kamu Lusi, kapan nyusul" ucap Nila.
Lusi pun tersenyum.
"Waah tenang aja. Kak Lusi bukan cuma menyusul. Tapi langsung menyalip dan mendahului kak Nila" ucap Lisa meledek.
__ADS_1
"Apaan sih kamu Lisa. Emang balapan mobil" ucap Lusi.
Lalu mereka pun tertawa mendengar canda garing dari Lisa...