
Part 101 (Pelukan Viola) (Sesion 2)
Dalam hidup aku tak pernah merasakan sebuah kisah cinta yang paling menyakitkan seperti ini. Langit seperti runtuh. Aku telah gagal menjalin cinta... Lalu bagaimana dengan rumah tanggaku..benak Lusi.
Lusi pun memejamkan matanya.
Terlihat dirinya seperti putus asa sambil menyandarkan diri di kamar.
Jam sudah menunjukan pukul 09.00 pagi. Kegalauan hidup menyertai dirinya kala itu.
Dari pagi ia hanya diam sambil melamun.
Seharusnya..
Ia tak boleh melamun dengan pikiran yang kosong. Mengingat dirinya pernah mengalami gangguan jiwa.
Tiba-tiba ia ingat Lisa.. Bahwa Lusi berjanji akan memulangkan mobilnya saat Rian pulang dari Bali..
.......
Sementara itu...
Dikantor.
Terlihat Rian yang baru sampai kantor. Tiba-tiba ia melihat mobil merah terparkir.
"Seperti aku mengenal mobil ini" ucap Rian memandang ban mobil yang terlihat kempes. "Kenapa bannya kempes semua.. Kasihan sekali pemilik mobil ini. Pasti ia tidak bisa membawa mobilnya pulang"
Lalu Rian pun memanggil security. "Pak tolong urus mobil ini. Kembalikan bannya seperti semula dan cuci bersih" perintah Rian pada seorang security.
"Baik boss" jawab security.
Tiba-tiba Viola datang menemui Rian di parkiran.
"Jadi mobil ini pemberian bapak untuk Lusi" ucap Viola.
"Apaa.. Jadi pemilik mobil ini Lusi. Pantas saja aku seperti mengenalnya. Pasti ini milik adiknya"
"Eh.. Saya kira ini mobil pemberian bapak untuknya"
"Bukan Viola"
Lalu pak Rian pun bergegas ke dalam kantor. Tampak Viola yang berjalan mendampinginya.
"Selamat pak.. Atas pertunangan bapak kemarin" ucap Viola berjalan cepat mengikuti Rian yang berjalan dengan langkah kaki yang begitu cepat juga.
"Em.. Terimakasih" ucap Rian.
Lalu Rian pun menaiki lift bersama Viola.
__ADS_1
"Saya tidak menyangka bahwa bapak akan secepat ini menyakiti perasaan Lusi. Pasti hari ini perasaanya sedang hancur sekali"
Rian pun tampak terdiam..
"Bapak sudah renggut semua yang ia miliki. Sebagai perempuan saya ikut merasakan kesedihan yang sama. Bila mengalami apa yang Lusi rasakan"
Rian pun masih diam dan tertunduk. Namun Viola masih terus berbicara dengan nada halus dan menyindir.
"Aku salutkan bila hari ini Lusi bisa masuk kerja. Karena saya yakin sulit baginya untuk menerima keadaan yang menyakitkan seperti ini"
Lalu Rian pun memandang lama padahal pintu lift terbuka. Rian tampak melamun.
"Pak ayo keluar. Pintu lift sudah terbuka.. Bapak melamun"
Pandang Rian pun buyar dan sadarkan dari lamunannya.
"Iya Viola saya melamun" ucap Rian. Lalu Rian pun keluar lift dan bergegas ke ruangannya.
******
Setelah itu..
Jam sudah menunjukan jam 09.00 pagi. Lusi langsung bergegas ke kantor mengingat dirinya harus memulangkan mobil milik Lisa yang ia tinggal di kantor.
Sesampainya di kantor seperti biasa Lusi datang terlambat. Seharusnya ia masuk jam 08.00 pagi. Namun 09.30 ia baru sampai. Karena tadinya ia memang tidak ingin masuk kantor tapi mengingat mobil milik Lisa harus dibereskan. akhirnya ia berangkat juga.
Ia pun kaget ban mobil itu telah kembali sempurna dan tampak bersih. Lusi pun merasa heran.
"Ini mobil kamu" ucap Security.
"Iya pak"
"Tadi.. Sudah di benerin bannya sama boss Rian. Ia menyuruh saya untuk membereskannya"
"Oh begitu baik terimakasih"
Lalu Lusi pun berjalan masuk kedalam kantor. Dengan muka tebal ia datang terlambat tidak peduli bila harus pak Sultan memarahinya.
"Kamu telat lagi. Telat lagi.. " ucap Pak Sultan marah.
Lusi pun hanya diam tak menghiraukan
Tiba-tiba pak Adit datang bagai seorang pahlawan.
"Lusi masuklah.. Jangan marahi dia pak.."
Lusi pun tampak terdiam dan lalu masuk. Dan meninggalkan Pak Adit dan Pak sultan.
Lalu Lusi pun duduk di meja kerjanya sambil melamun dengan mata yang masih sembab karena habis menangis.
__ADS_1
Dikantor pun ramai semua karyawan membicarakan soal pertunangan Rian dan Zelda. Lusi yang mendengar cerita itu semakin perih terasa di hati. Air matanya ingin sekali terjatuh namun tertahan rasa malu. Ia pun hanya diam dengan pandangan sayu menahan kesedihan.
Banyak dari karyawan yang membicarakan Zelda. Sesosok wanita itu.. Wanita yang cantik dan kaya raya.
Rian memang lebih pantas dengan tunangannya itu dibanding aku. Aku hanyalah apa.. Wanita yang menjadi pendamping Rian ku yakin adalah wanita yang kaya Raya dan orang yang hebat.. Aku tidak boleh menangis di depan mereka.. Aku harus kuat.. Benak Lusi.
Dan di kantor hanya Viola dan Adit yang tahu. Soal Lusi yaang memiliki hubungan asmara dengan Rian.
Tiba-tiba ponsel Lusi berbunyi. Lusi pun mengangkat.
"Kak mobilnya sudah aku ambil di parkiran kantor Rian ya"
"Iya.." jawab Lusi datar.
"Iya.. Aku memiliki kunci cadangannya jadi aku ambil sendiri aja"
"Iya.. "jawab Lusi singkat.
"Kakak kenapa kok jawabnya begitu. Kakak sakit.. "
"Gak Lisa kakak sehat.." jawab Lusi.
"Oh yaudah.. " ucap Lisa menutup telepon.
Setelah itu..
Lusi pun tampak terdiam. Pekerjaannya pun tak satupun yang ia kerjakan. Ia tampak melamun..
Tiba-tiba Viola menghampiri dan memeluk Lusi.
Lusi pun seketika menjatuhkan air matanya. Mereka berdua berpelukan tanpa berbicara. Viola mengerti apa yang Lusi rasakan tanpa perlu Lusi menjelasan.
Lusi pun menangis di pelukan Viola.
Karyawan lain pun tampak heran melihat Lusi yang menangis di pelukan Viola. Viola yang melihat Lusi menangis eh.. Malah ikutan menangis.
Tampak Intan dan Mba Santi memperhatikan.
"Mba.. Aku baru tahu kalau Lusi itu bersahabat sama Viola" ucap Intan kepada mba Santi.
"Sama mba juga baru tahu" jawab mba santi.
"Apa jangan-jangan mereka suka sesama jenis kali ya.." ucap Intan melantur.
"Huss.. Sembarangan ajah kamu. Mereka itu normal semua.. Pikiran kamu yang gak normal"
"Heheh maaf mba"
like....
__ADS_1