
Part 99 (Kertas tak bernyawa) (sesion 2)
Malam hari...
Malam yang sunyi.. saat purnama membawa keheningan malam itu ku merasakan kesendirian.
Mendadak aku merindukan suamiku yang jauh disana.. Aku merasa bukan apa-apa disini. Kesendirianku disini tak ada artinya sama sekali... Sekalipun Rian adalah sosok yang paling ku benci... Namun aku tak bisa pungkiri saat semua yang kumiliki dalam hidupku sudah ia miliki secara perlahan...
Apakah ia merasakan yang sama.. Atau kah... Telepon yang ku gengam ini. Tak mampu menyampaikan betapa rindu yang ku miliki. Nomer handphonenya sulit ku hubungi. Kemana dirimu Rian.. Mengapa aku begitu merindukan mu saat ini. Bisakah sejenak saja kau menelpon ku.
Aku pandangi pakaian kerjanya dilemari. Ku pandangi satu persatu dimana ia selalu mencariku setiap ingin bekerja. Aku merindukannya seketika.
Keesokan harinya Lusi berangkat kerja dengan naik ojek lagi. Karena lupa mengurusi ban mobil yang kempes itu.
Sesampainya di kantor...
Tampak Lusi yang duduk mengerjakan tugasnya..
Tiba-tiba seluruh karyawan tampak berdiri memberi hormat kepada seseorang yang datang. Dan ternyata itu adalah Renata.
"Lusi ada boss besar datang"
"Siapa? "
"Bu Renata... "
"Apaa... " ucap Lusi kaget.
Semua memberi hormat dengan cara berdiri dan mengucapkan 'Selamat Pagi'..
Aku tak menyangka bila bu Renata sangat di hormati sampai seperti ini. Benak Lusi.
Tampak Bu Renata melewati Lusi dengan tatapan mata yang tajam. Lusi pun hanya menundukan kepalanya.
"Kamu tahu Lusi. Bu Renata itu boss yang paling tegas dan paling di hormati disini" Ucap Intan menjelaskan.
__ADS_1
Lusi pun mengangguk paham...
Karyawan yang lain tidak tahu bahwa Lusi ini adalah menantu dari Bu Renata.
Tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri Lusi.
"Kamu di tunggu di ruangan bu Renata sekarang"
Yang lain pun tampak kaget saat Lusi di panggil Bu Renata.
Padahal Lusi yang di panggil tapi entah mengapa mereka yang kaget.
"Ikh.. Kok anak baru itu bisa di panggil Bu Renata ya.. "Sahut karyawan lain.
Lalu Lusi pun ke ruangan Renata yang sangat mewah yang berada di lantai paling atas.
Dengan sedikit langkah yang berat Lusi menghampiri ruangan Renata. Rasa tegang terus berkecamuk pada diri Lusi yang bingung mengapa dirinya di panggil.
Lusi pun masuk dengan mengetuk pintu.. Dan sambil menundukan kepalanya.
Baik" ucap Lusi duduk di hadapan Renata.
Terlihat Renata sedang berdiri dan melipat tangannya di dada.
"Kamu tahu.. Kenapa dirimu di panggil disini" tanya Renata dengan tatapan sinis.
"Tidak nyonya" jawab Lusi tegang.
"Saya akan memberikan harta saya sebanyak 25 persen sesuai janji saya yang dulu kepadamu.. Tugas mu sudah selesai.. Sekarang kamu mendapatkan itu.. Dan tinggalkan Rian... " ucap Renata memandang Lusi tajam.
Lusi pun mendadak mengangkat kepalanya dan kaget dengan ucapan Renata.
"Ta.. Tapi nyonya saya sudah menyobek kertas perjanjian itu.."
"Saya tidak peduli.. Saya akan Membuatnya lagi. Dan kamu tinggal mendandatanganinya lagi. Mulai hari ini saya jelaskan.. Kamu sudah resmi bercerai dengan Rian"
__ADS_1
"Saya kalau ingat surat itu, saya sungguh sangat membencinya.. Karena saya pernah hampir mati, di hajar oleh putra anda hanya karena surat perjanjian yang tak bernyawa itu"
"Saya tidak peduli"
"Tapi saya tidak bisa bercerai. saya bisa bercerai saat ucapan itu terlontar dari mulut Rian sendiri"
"Segera tinggalkan dia.."ucapan Renata.
"Asal Nyonya tahu. Saya sudah pernah meminta cerai kepada putra anda. Hanya saja ia tidak pernah mau. Aku bisa apa bila kata cerai tak pernah ada dari mulutnya"
"Kamu pikir.. Dia akan setia kepadamu.. Besok malam.. Kamu datang ke Hotel xxx. Kamu akan tahu betapa tidak setianya ia kepadamu"
Lusi pun menjatuhkan air matanya.
"Kamu akan tahu yang sebenernya..Selama ini kamu hanya di jadikan istri simpanan yang takan pernah dianggap. Apa kau tak sadar itu.." ucap Renata tegas.
Lusi pun tampak menangis.
"Apakah selama ini kamu pernah dianggap sekalipun sebagai menantu apalagi istri dikelurga saya.. Tak pernah sama sekali kan.. Kamu cuma istri bayangan untuk Rian. Dan takan pernah menjadi nyata. Kamu cuma sebagai alat untuk saya.. Alat untuk menyelamatkan Rian dari hukuman penjara.. Tugas mu sudah selesai Lusi.."
Hati Lusi terasa hancur kala itu.. Rindunya tadi malam tak disangka seperti sebuah balasan pengkhiantan untuk dirinya.
"Keluar dari ruangan saya sekarang!!!!" ucap Renata lagi.
Lusi pun keluar dari ruangan dengan berlinangan air mata. Karyawan yang lain pun tampak terkejut melihat Lusi yang menangis sehabis dari ruangan Renata.
"Kamu kenapa kok nangis kamu di pecat" tanya Intan.
"Gak Tan" ucap Lusi sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa menangis"
Lusi pun tampak terdiam..
Memang besok kepulangan Rian dari Bali.. Dan aku harus datang ke hotel itu biar aku tahu semua.
__ADS_1
#Like yahh guys..