Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
USG


__ADS_3

Part 128 (USG) (sesion 2)


Beberapa selang kemudian..


Lusi pun membuka matanya secara perlahan dan melihat Rian yang sedang menunggunya.


Lusi pun sedikit terkejut disaat melihat Rian di hadapannya.


Lalu Lusi pun berusaha merubah posisinya untuk duduk.


"Aduh" rintih Lusi memegang pingangganya yang sakit karena habis jatuh tadi.


Rian pun membantu Lusi untuk duduk. Dengan menopang badannya.


"Jangan paksa untuk bangun, tidur aja" ucap Rian.


"Gak apa-apa kok" jawab Lusi.


Rian pun membantu Lusi untuk duduk dengan bersandarkan bantal dibelakangnya.


Rian pun seketika memandang Lusi lama namun tak bisa berkata apa-apa. Dan kali ini Rian hanya menatap wajah Lusi.


Lalu tak lama terdengar suara handphone. Dan saat di cek oleh Rian ternyata itu dari Zelda.


Lusi pun juga tahu kalau yang menelpon itu adalah Zelda.


Rian hanya menatap layar ponselnya, namun seolah enggan untuk mengangkat telepon dari tunangannya itu.


Seketika Lusi pun merasa dirinya tak penting untuk Rian.


"Kalau memang kamu ingin mengangkatnya, angkat saja telepon itu. Siapa tahu itu memang penting, mungkin Zelda membutuhkan mu saat ini" ucap Lusi dengan wajah datarnya.


Rian sejenak terdiam dan langsung mereject telepon dari Zelda.


"Tidak, tidak ada yang penting" jawab Rian.


"Pergilah, terimakasih kamu sudah mengantar ku sampai sini" ucap Lusi.


Rian pun langsung memandang Lusi dan tidak peduli dengan ucapan Lusi yang menyuruhnya pulang.


"Aku masih mau disini, aku ingin memastikan bahwa dirimu baik-baik saja. Dan aku juga ingin..." Ucap Rian.


"Ingin apa?" Tanya Lusi.


"Ingin memastikan juga kandungan mu itu baik-baik saja"


Seketika Lusi pun tercengang dan kaget, dengan ucapan Rian. baru kali ini Rian peduli dengan anak didalam kandungannya Itu. sungguh membuat Lusi merasa sedikit haru mengingat bagaimana perlakuan Rian selama ini terhadapnya.


Setelah itu mereka pun saling diam tak banyak bicara dan hanyut dalam keheningan.

__ADS_1


Hati Rian berdegup seperti tak biasanya membuat Rian tidak bisa berkata apa-apa.


Lusi pun sepertinya juga merasa canggung pada Rian.


Lalu tak lama dokter pun datang, dan mencairkan rasa canggung diantara mereka.


"Bagaimana keadaanya ibu, apa masih pusing" ucapnya sambil mengecek tensi darah pada tangan Lusi. "Tekanan darahnya rendah sekali, di minum vitaminnya ya dan istirahat yang cukup" ucap Ibu dokter.


"Iya dok, lalu bagaimana dengan kandungan saya. baik-baik saja kan dok, Karena siang tadi saya habis jatuh"


Rian pun tampak kaget dengan ucapan Lusi yang bilang bahwa dirinya habis jatuh. Rian pun menatap Lusi lama dengan rasa khawatir.


"Iya, kita akan mengeceknya melalui USG ya bu" ucap dokter.


"Boleh saya menemaninya" ucap Rian.


"Tentu boleh" jawab dokter.


Lalu Lusi pun beranjak dari tempat tidur untuk ke ruangan USG. Dan Rian dengan sigap membantu Lusi untuk bangun.


"Sini biar aku bantu" ucap Rian yang memegang tubuh Lusi.


"Tidak usah aku bisa sendiri" tolak Lusi.


"Ssttt.. nurut aja ya" ucap Rian langsung menggendong Lusi dan membawanya ke kursi roda.


Lalu Lusi pun dibawa ke ruang USG. Lusi pun kembali di gendong oleh Rian, untuk berbaring di tempat tidur.


Lalu dokter pun memberikan gel pada perut Lusi yang sudah hampir membesar itu. Lalu mulai lah sang dokter menggunakan alat USGnya.


"Nah ini bagian kepalanya pak" ucap Dokter kepada Rian.


Rian pun tampak serius memperhatikan layar datar yang berada di ruangan itu. Dan itu pengalaman pertama untuk Rian melihat langsung bayi yang berada di dalam perut. Begitu juga dengan Lusi.


"Baby-nya aktif. Dan semuanya baik-baik saja. Detak Jantungnya pun dalam kondisi stabil" ucap Ibu dokter sambil menggerakan-gerakan lembut alat USG itu di perut Lusi.


Lusi pun tampak tersenyum manis sambil menjatuhkan air matanya. Merasa terharu dapat melihat anak dalam perutnya itu. Dan bersyukur anak di kandungannya dalam keadaan baik-baik saja.


Rian pun juga merasa bahagia dapat melihat bayi dalam perut Lusi itu sehat walafiat.


Setelah selesai, Lusi pun kembali ke ruangan rawatnya, masih dengan di bantu Rian.


Rian pun membawa Lusi dengan kursi roda untuk menuju ruang rawatnya.


Sesampainya, Lusi pun kembali ke tempat tidurnya


"Kata dokter, besok kamu sudah boleh pulang" ucap Rian. "Tapi kamu jangan pulang dulu ya, sebelum aku menjemput mu. aku yang akan mengantar mu pulang"


Seketika perasaan Lusi semakin berdegup kencang dengan ucapan Rian yang menaruh simpati padanya.

__ADS_1


Apa.. apakah aku tidak mimpi dengan ucapannya barusan. Benak Lusi.


"Tidak usah aku bisa pulang sendiri"


"Tidak apa-apa, intinya kamu harus tetap menunggu aku untuk menjemput mu ya" ucap Lusi. "Baiklah sepertinya aku harus kembali"


Lalu Rian pun pulang. Sebenarnya Rian ingin sekali pulang dengan meninggalkan kecupan di kening Lusi, atau mungkin di pipinya. Atau mungkin juga di bibirnya. Namun Rian sangat lah canggung dan tidak enak hati pada Lusi. baru kali ini Rian merasakan canggung pada wanita yang adalah istrinya sendiri. Rian pun hanya melambaikan tangannya.


"Dadah, aku pulang ya" ucap Rian melambaikan tangannya. sambil memandang Lusi sambil tersenyum.


Lusi pun hanya tampak heran pada Rian, sambil tersenyum.


Sejak kapan Rian saat pergi melambaikan tangannya. Selama ini juga kalau mau pergi, Rian langsung pergi. Tanpa salam apapun. Apalagi dadah-dadah kaya gitu. Seperti bukan Rian Benak Lusi.


Lalu Rian pulang,


Selama di perjalanan...


Rian pun tampak tersenyum di sepanjang perjalanannya.


"Mengapa aku bisa sebahagia ini berada disamping Lusi" ucap Rian sambil menyetir. "Padahal aku tidak pernah seperti itu sebelumnya. Rasanya Ingin sekali aku memeluknya"


.


.


.


Sesampainya di kantor. Tampak Viola yang tiba-tiba mengomel pada bossnnya itu.


"Bapak kemana aja sih, bukannya bapak sudah tau kalau jam 10.00 pagi kita akan ada meeting" ucap Viola kesal.


"Maaf Viola tadi aku ada urusan"


"Urusan?, Urusan apa?"


"Tadi aku baru saja mengantar Lusi ke rumah sakit"


"Apa, mengantar Lusi ke rumah sakit" ucap Viola. "Aku senang dengar nya pak"


"Hey, kau jahat sekali. Kenapa senang mendengar orang masuk rumah sakit"


"Bukan masuk rumah sakitnya, tapi saya senang karena bapak yang mengantarnya"


Rian pun tersenyum. "Kalau gitu kamu bilang sama partner kerjanya bahwa Lusi saat ini sedang berada di rumah sakit ya. Takut mereka mencari Lusi"


"Tenang saja soal itu" ucap Viola "swit..swit. bapak mulai perhatian lagi nih kayanya" ledek Viola.


Rian pun hanya tersenyum mendengar ucapan Viola yang meledeknya.

__ADS_1


__ADS_2