Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
I Love You, Goodbye


__ADS_3

Part 36 (I love you, goodbye) (sesion 2)


Setelah pertunangan tadi. Seperti sulit bagi Lusi melupakan kejadian itu. Bayang-bayang wajah Rian terus menghantui dan bersemayam di perasaannya.


Apa mungkin aku mencintainya, ah yang benar saja hanya orang gila yang bisa mencintainya. Tapi, aku kan pernah gila karenanya. Apa mungkin aku mencintainya. Hah, tidak mungkin aku mencintainya. Buktinya aku tidak terlalu suka dengannya. Tapi... kalau diliat-liat Rian tampan juga sih. Laahhh?!? Bodoh sekali aku ini. Baru aja bilang gak suka, kenapa aku menyebutnya tampan. Hah sudahlah... Cuma orang bodoh dan orang gila yang menyebut bahwa Rian itu tampan. Dan dilalahnya Orang bodoh dan gila itu aku. Oh Tuhan, jauhkan perasaan cinta ini terhadap tunanganku sendiri. Doa macam apa yang aku pinta. Pasti Tuhan takan mengabulkan doaku ini. Benak Lusi dalam tidurnya.


Lalu keesokan harinya, Lusi melihat ibu memasang foto prewed Lusi dan Rian di ruang tengah. Lusi pun merasa kaget.


"Ya ampun bu. Malu-maluin aja sih kenapa harus di pajang segala. Kalau aku batal nikah giamana tuh?" ucap Lusi sambil memandang fotonya bersama Rian di ruang tamu.


"Huss. Kamu kalau ngomong sembarangan aja. Ini untuk mengobati rasa ibu. Setiap kali nanti kalau kangen sama kamu dan Rian. Bentar lagi kan kamu balik ke Jogja"


"Ibu boleh aja, kangen sama aku. Tapi masa iya ama Rian juga. Bu pria macem Rian tidak pantas untuk ibu kangenin"


"Gak apa-apa lah kan nantinya dia jadi menantu ibu. Suami kamu Lusi"


Aduh rasanya mau muntah pas ibu bilang Rian calon suami aku. Gak yakin banget pria macem Rian akan jadi suami yang baik. Kayanya sih dia bakal jadi orang yang egois, egois dan egois, benak Lusi.


Setelah itu Lusi melihat Lisa yang sudah siap-siap kembali ke Jakarta. Lalu sebelum berangkat Lisa pun memeluk kakaknya.


"Jaga diri baik-baik ya"


Lusi pun tersenyum " Kamu juga ya"


Lalu Lisa pun berangkat ke Jakarta dengan mobil baru miliknya.


.


.


.


.


.


.


Beberapa hari kemudian, kini bergantian terlihat Lusi yang sedang sibuk mengemas pakaian dan barangnya. Karena hari ini ia harus kembali ke Jogja, untuk melanjutkan kuliahnya. Ia harus lebih fokus lagi, mengingat target tahun ini ia harus lulus kuliah. Lusi ke Jogja dengan naik pesawat. Dan pesawat tersebut berangkat jam 08.00.


Tiba-tiba saja Rian datang dengan tampilan yang berbeda. Ia turun dari mobil sedan mewah berwarna hitam. memakai setelan jas hitam dan dengan rambut teratata rapi. Ia sangat terlihat maskulin. Ditambah lagi dengan badannya yang sangat atletis.

__ADS_1


Lalu Rian menghampiri Lusi yang saat itu sedang menunggu taksi.


"Berangkatnya bareng aja, aku antar kamu sampai bandara" ucap Rian.


Tiba-tiba Lusi sedikit tercengang dan tidak bisa berkata saat Rian terlihat sangat keren di hadapannya.


"Hallo mba, kenapa diem aja. Kesurupan!!!" ucap Rian melambai kan tangan pada Lusi.


"Ya ampun" ucap Lusi menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya.


Hah.. Apa-apaan aku ini. Masa terkesima sama pemeran jahat dalam hidup aku sendiri. Sungguh pembunuhan karakter ini sih namanya. Oke fokus jangan lihat Rian lagi. Benak Lusi.


Lalu selama di perjalanan. Lusi tampak diam dan tidak mau memandang Rian. Entah kenapa hatinya bergetar setiap kali ia melihat calon suaminya itu.


"Aku juga hari ini akan kembali ke Jakarta. Hari ini meeting perdana aku. Sekalian aja antar kamu" ucap Rian sambil menyetir.


"Oke" ucap Lusi sambil memandang ke arah jalan.


"Kamu udah makan?" tanya Rian


Lusi pun hanya mengangguk.


"Kenapa sih daritadi diem aja" ucap Rian.


Aku diem supaya aku gak deg-degan lihat kamu Rian, benak Lusi sambil menarik napas dan membuang napasnya .


"Beneran gila nih orang. Senyum-senyum sendiri" ucap Rian.


Lusi pun hanya diam.


Selang beberapa saat mereka pun sampai.


"Eh tunggu, sebelum kamu pergi seharusnya kita ada salam perpisahan. Ya, mungkin saja" ucap Rian langsung menarik tangan Lusi dan mencium pipi Lusi.


Lusi pun kaget dan diam. Tiba-tiba saja hatinya bertambah berdebar.


"Aku mau cium bibir kamu. Tapi takut marah"


Bibir!!! Untung bukan bibir, kalau sampai bibir aku gak akan bisa tidur malam ini. benak Lusi.


"Tapi sepertinya aku tidak bisa menahan diri lagi" ucap Rian memeluk Lusi dengan erat.

__ADS_1


Tiba-tiba saja dunia seolah berhenti berputar. Sulit bagi Lusi memunafikan pelukan itu. Dirinya seolah pasrah saat Rian memeluknya erat.


Sumpah demi apapun?!? Bisa-bisanya pasrah saat Rian memelukku. Benak Lusi dalam hati.


Tiba-tiba saja Lusi menjatuhkan air matanya.


"kamu menangis Lusi" tanya Rian


"sepertinya aku akan merindukan mu"


Lalu Rian pun mencium kening Lusi.


"Aku pun sama akan rindu. Atau aku yang akan lebih merindukan mu"


"Yaudah dah dulu ya" ucap Lusi langsung turun dari mobil.


Rian pun turun. Dan mengeluarkan koper milik Lusi di bagasi.


"Oia aku mau tanya sama kamu. Kenapa sih tiba-tiba kamu mau nikah sama aku"


Lalu Lusi pun kaget. Dengan apa yang dikatakan Rian.


"Jadi selama ini kamu gak tahu soal perjanjian itu" ucap Lusi.


"Nggak.. Perjanjian apa sih?, Aku taunya cuma disuruh nikahi kamu aja" ucap Rian.


Saat Lusi ingin menjelaskan.


Lalu tiba-tiba saja, ponsel milik Rian berbunyi. "Aku angkat telepon dulu ya" ucap Rian.


Karena sudah terpepet waktu. Lusi pun pergi meninggalkan Rian. Dan terlihat Rian yang masih sibuk dengan teleponnya.


Kakinya seolah terasa berat melangkah sambil memikirkan apa yang ingin Rian tanyakan tadi.


Apakah soal pembagian harta itu. Apakah Rian tahu tentang pembagian harta itu, atau malah sebaliknya ia belum tahu. Benak Lusi yang terus menghantui.


Tak lama waktu berselang.


Lusi pun take off. dan selama di pesawat. Lusi memikirkan lagi soal perjanjian itu. Lusi merasa takut kalau terjadi salah paham antara dirinya dan Rian bila mengingat soal harta 25 persen itu...


Aku akan menjelaskannya nanti saat aku sampai Jogja.

__ADS_1


Entah mengapa aku sesedih ini berpisah dengan mu Rian.


"selamat tinggal dan sampai jumpa kembali Rian."


__ADS_2