
" Siapa nama kamu?"
" Kala Adiguna, Pak."
" Besok kamu bimbingan langsung dengan saya. Jam sepuluh pagi, no telat. Di kampus pusat! Selanjutnya..."
Kala menghembuskan napas tertahannya sembari mengklik menu 'stop share screen' pada layar laptopnya. Ia tak mendengarkan lagi apa yang lelaki paruh baya dalam laptop itu ucapkan dan memilih menekan simbol 'mute' serta 'stop video'.
Ini adalah pertama kalinya Kala mengikuti bimbingan daring setelah mengajukan judul proposal skripsi yang masih abstrak. Jaraknya kira-kira satu setengah bulan setelah judulnya diterima.
Ketika teman-teman seperbimbingannya sudah mendapat revisi berkali-kali, bahkan seorang yang paling terkenal di kampus, proposalnya dari Bab satu sampai Bab tiga sedikit lagi di-acc, Kala justru sibuk memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa membayar seluruh tagihan dari Fakultas semester ini. Nilainya tak main-main. Dua belas juta rupiah. Sedangkan Kala baru membayar tak lebih dari dua juta sebagai persyaratan mengajukan judul skripsi.
Rupanya, menginginkan pendidikan tinggi tak semudah membalikkan telapak tangan. Kala menyingkirkan laptopnya dan merebahkan tubuh. Sambil mendengarkan perkataan Pak Rahmat selaku dosen pembimbingnya, sebisanya. Pikirannya mengawang. Berjalan-jalan pada masa dimana ia menyelesaikan SMA-nya dengan baik.
Begini-begini, Kala pernah menjadi populer semasa sekolah dulu. Seiring dengan berjalannya waktu, Kala meredup seperti kunang-kunang tak bernyawa. Ketika ia menginginkan melanjutkan pendidikan, minimal satu jenjang lebih tinggi dari mayoritas orang, Kala tak bisa seperti dulu. Kala harus tahu, jika nasibnya tak seperti mereka yang bisa melanjutkan kuliah dengan biaya orang tua. Mendaftar - berangkat setiap hari - diberi uang bayaran dan uang jajan - hidup tentram. Nyatanya Kala tak bisa seperti itu. Kala harus merelakan waktu setahun pertamanya setelah lulus SMA untuk bekerja membantu perekonomian keluarga yang sangat tidak baik jika hanya mengandalkan Ayahnya yang lima tahun lalu berusia tiga puluh delapan tahun. Sehari-hari hanya mengandalkan uang dari menjaga parkir di depan minimarket atau jika sedang ada kerjaan, Ayahnya akan ikut pemborong dan bekerja sebagai kuli bangunan.
Sebagai anak pertama, apalagi lelaki, Kala merasa tak boleh egois. Adiknya tiga. Semuanya perempuan. Yang pertama bernama Lila yang sekarang masih kelas tiga SMA, Raya masih duduk di kelas dua SMP dan Vita yang masih kelas lima SD. Mereka, termasuk Kala hidup dari uang Ayahnya yang sedikit dibantu Ibunya berjualan nasi uduk setiap pagi di depan rumah.
" Kala!"
Kala mendengar suara cempreng itu, tapi ia diam saja. Tahu jika diabaikan pun perempuan genit bernama Cinta itu akan masuk ke kontrakan tiga ruangannya dengan harga sewa tujuh ratus lima puluh ribu sebulan. Kala memejamkan mata, sudah tak mendengar lagi suara Pak Rahmat berkoar-koar di laptopnya.
" Kala! Aku bawain kamu buku-buku DKV nih!"
Kala hanya melirik perempuan itu tanpa minat. Seperti yang selama ini Kala yakini, Cinta sudah melempar paper bag bertuliskan nama toko buku terkenal di Indonesia dan duduk berselonjor di sebelahnya.
" Kala, bangun! Jangan pura-pura tidur. Nih aku bawain es."
Kala membuka mata, merasakan dingin di pipinya, " Cinta! bisa nggak sih biasa aja."
Cinta tertawa. Perempuan itu memang begitu adanya. Usianya setahun lebih muda dari Kala. Kala dua puluh dua dan Cinta dua puluh satu. Tapi, tingkah Cinta benar-benar tak menunjukkan jika dirinya sudah berusia dua puluhan.
" Nih, buat kamu."
__ADS_1
Kala mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menerima satu cup kecil es capucino cincau seharga lima ribuan di depan gang. Bagi mahasiswa yang merantau dan punya uang pas-pasan, minuman lima ribuan sudah lebih dari cukup.
" Buku apa tuh?" Kala melirik paper bag yang dibawa Cinta. Tak berniat membuka isinya yang memusingkan.
" Itu buku DKV, buat bantu nyusun Bab dua kamu nanti," Cinta mengulas senyum. Wajahnya memang tak terlihat jika ia berusia dua puluh satu tahun. Matanya yang besar, hidungnya yang bangir dan bibirnya yang tipis, serta ekspresi wajahnya yang polos membuatnya terlihat seperti anak lima belas tahun.
" Bab satu aja beluman!"
" Yaa... emang kenapa? kamu sih males!"
Bukan males, tapi dituntut kampus untuk menyelesaikan pembayaran! Sibuk kerja, jadi nggak ada waktu buat nyusun.
" Kala... lagian kenapa sih kamu kuliah di jurusan yang ribet?"
Kala menarik paper bag berisi buku-buku tentang DKV (Desain Komunikasi Visual) pemberian Cinta. Tiga buku yang penulisnya lumayan sering ia dengar. Kala melotot melihat harga yang tertera di bagian belakang buku. Dua ratus ribu, seratus lima puluh ribu dan seratus tujuh puluh sembilan ribu. Cinta yakin semua buku-buku ini untuknya?
" Ini buat aku?" Kala memastikan. Ia tidak terlalu yakin Cinta membeli buku-buku ini dengan uangnya. Mengingat perempuan itu bukan keturunan keluarga yang kaya-kaya amat. Bisa dibilang keluarga sederhana yang tekun dalam berwirausaha hingga membuahkan hasil yang lumayan untuk biaya pendidikan anak-anaknya.
Cinta mengangguk, " buat siapa lagi Kala."
" Stttt, no komen ya."
" Cinta... kamu dapat uang dari mana?"
Perempuan itu tersenyum dan memandang Kala jahil, " kamu mau tahu banget ya?"
" Ya udah. Aku nggak mau terima!"
" Eh... iya... iya. Aku baru aja dapet honor nulis dari salah satu media."
Kala membelalak, " sejak kapan kamu nulis?"
" Sebulan yang lalu."
__ADS_1
Kala memandang perempuan di sebelahnya dengan heran. Bukannya selama ini, Cinta tak berminat pada bidang apapun? Jika ia sekarang kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, itu karena Cinta tak mau masuk ekonomi yang membosankan. Bahkan Cinta pernah mengaku jika ia sama sekali tidak ada bakat dan minat dalam setiap mata kuliah yang wajib ia ikuti.
" Hebat, kan?"
" Hebat!" Kala mengacak poni Cinta yang baru saja disisir dengan jemarinya sendiri.
" Kala, berantakan!" Protes Cinta.
Kala tak mendengarkan. Ia malah semakin menjadi dengan mengacak rambut ikal sepunggung milik Cinta. Membuat pemiliknya berteriak marah dan memukul lengan Kala.
" Sakit!"
" Bodo amat. Kenapa jail banget sih?"
Kala tertawa, " hobi."
Cinta memukul lengan Kala lagi, sambil berceloteh mengenai proposal skripsinya yang sudah hampir selesai. Dosen pembimbingnya yang meraja. Teman-teman seperbimbingannya yang banyak tanya. Serta dirinya sendiri yang mengeluh mulai bosan kuliah. Ingin segera lulus. Secepatnya!
Begitu pula dengan Kala. Jika mau begitu, Kala harus lebih giat mencari uang. Ia harus mengejar target lembur di tempat kerja paruh waktunya dan mengejar yang lainnya menyusun latar belakang penelitiannya yang bahkan belum terpikirkan.
Suara Cinta menghilang ketika tiba-tiba pintu kontrakannya diketuk seseorang. Suara lelaki mengucapkan 'permisi' membuat ia dan Cinta saling pandang.
Sebagai mahasiswa yang bisa-biasa saja, Kala tak banyak bergaul dengan teman sekelasnya jika tidak terlalu perlu. Jadi, ia tak punya banyak teman yang rela repot-repot main ke kontrakannya jika tidak ada maunya.
Kala berdiri dan berjalan ke arah pintu. Di belakangnya, Cinta mengekor. Kala semakin bingung ketika melihat dua orang lelaki berbadan besar dan kekar menatap tajam ke arahnya. Kala melirik Cinta, berusaha bertanya apakah dia punya hutang kepada dealer sampai debt collector menagih ke tempat tinggalnya?
" Kala Adiguna?" Tanya seorang lelaki berkepala botak.
" Ya, saya sendiri."
" Boleh ikut kita ke kantor?"
" Kantor polisi?"
__ADS_1
***