Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
127. Pulang


__ADS_3

Rama lebih dulu terbangun. Menggeliat melepas pelukan yang melingkar di perut Puput dan menatap jam. Matanya melebar sempurna.


"Astagfirullah!" Rama terduduk sambil mengusap muka menyadari bangun subuh kesiangan. Jam setengah enam. Selimut yang kini melorot setengah badan itu menampilkan tubuh Puput yang mengenakan lingerie. Segera menutupkan kembali karena berefek ada yang menggeliat di bawah.


"Neng, bangun." Rama mengusap pipi sang istri yang masih lelap dan terlihat lelah. Hanya direspon geliat sambil mengeratkan selimut sampai leher.


Rama menarik sudut bibir. Ini semua hasil perbuatannya semalam. Ia membiarkan dulu Puput yang kelelahan. Segera beranjak untuk mandi cepat. Barulah usai mandi ia sengaja membungkuk di depan wajah Puput. Tetesan air dari rambutnya jatuh tepat di kelopak mata. Membuat Puput mengerjap.


"Sayang, liat jam!" Rama mengulum senyum sambil menunjuk dengan dagu ke arah jam dinding.


"Ya Salam!" Puput yang sedang mengucek mata, memekik kaget sambil membuka selimut. "Ini gara-gara Aa maen banyak jurus. Maafin Puput, Ya Allah. Subuh kesiangan. " Sambungnya sambil melangkah gontai menuju kamar mandi.


Rama terkekeh. Tidak salah memang. Ia yang membuat Puput begadang sampai jam tiga dinihari. Semangatnya menggebu setiap kali mendengar racauan istrinya itu. Jurus dari Suhu sangat bermutu.


Rama selesai salat saat Puput baru keluar dari kamar mandi. Tergesa istrinya itu meraih mukena karena sudah jam enam.


"Hayati lemes, Akang....." Puput menghampiri meja makan dimana Rama sudah menyiapkan dua gelas air putih hangat. Rambut panjangnya yang masih basah dibiarkan tergerai. "Lebih capek ini daripada waktu gelut di hutan pinus." Segelas air hangat sudah berhasil menyegarkan tenggorokan yang kering. Beralih membuka kotak berisi pastry berbagai rasa yang sudah ada di meja sejak semalam. Lapar melanda.


Rama tertawa. Dengan gemas mengacak-ngacak rambut Puput. "Abisnya yang ada pada dirimu bikin nagih, Neng."


"Jangan ngegombal pagi-pagi. Cacing di perut dah disko nih. Mana nih belum dikirim sarapan. Apa kita harus turun ke resto?" Puput memperhatikan Rama yang menyalakan ponsel. Menyimpan dagu di bahu suaminya itu.


"Sarapan kita lagi disiapin, Neng. Tunggu paling lama 15 menit lagi katanya. Aku sih lapar yang ini." Sahut Rama sambil mengarahkan tangan Puput ke inti tubuhnya.


"Oh, tidak. Kang panci sekarang nambah predikat jadi Kang mesum." Puput menjaga jarak. Berpindah ke sofa sambil menyalakan ponselnya.


Rama terkekeh. Mengikuti berpindah duduk. Ponsel yang sudah menyala menampilkan puluhan pesan sejak semalam yang belum dibuka. Ia melebarkan mata melihat ada grup baru dengan nama Brotherly Club. Tersenyum lebar saat membaca deretan isinya yang membahas tentang dirinya juga tema kopi. Dan ternyata sama-sama salat subuh kesiangan.


Ricky : [Gara-gara kopi Mesir, gue sakit pinggang. Subuh kesiangan]


Rendi: [Kayak aki². Berarti lo kurang olga. Stamina lo payah, Ky]


Rendi : [Tanggung jawab si Mizyan. Gue juga kesiangan]


Satya : [Gue melek sampe jam tiga. Jadi mager nih. Mana jam 9 mau meeting di Kelapa Gading 🥱]


Arya: [Wah-wah. Kesiangan kabeh ini mah. Demo tuh si bule]


Mizyan: [Enak z pada nyalahin gue. Awas kalo nagih minta lagi kopi. Btw, tolong gedorin kamarnya si Willi. Gue telpon masih gak aktif. Ada perlu nih]


Ricky: [otewe. Kamarnya di samping gue]


Arya : [Rama woy.... Jangan ngintip! Masuk aja. Kita udahan kok anu nya]


"Aa kenapa ketawa?" Puput menatap heran melihat Rama yang tiba-tiba tertawa lepas.


"Ini, sayang. Aku dimasukin grup hot daddy sama Mas Mizyan." Rama memberikan ponselnya. Ia bersikap terbuka pada Puput. Mengizinkan mengakses bebas alat komunikasinya.


"Ish, pada geser semua nih otaknya." Puput geleng-geleng kepala membaca semua chat. Menyerahkan lagi ponsel pada pemiliknya.


Rama: [Thank, Mas Mizyan bisikan semalam. Goks 👊]


Untuk pertama kalinya Rama mengirimkan pesan balasan.


Ricky: [Wuih, panganten anyar bakal ngegas tiap hari pastinya. Honeymoon kemana bro?]


Rama: [Turkey, Bro. Besok terbang]

__ADS_1


Mizyan: [Gaskeun, Bro. Enjoy your trip]


Arya: [Right. Jangan dibebani dengan harapan harus 'jadi'. Jalani, nikmati, syukuri. Allah akan hadirkan buah hati di waktu yang tepat menurutNya]


Rama: [Makasih para Suhu. support n nasihatnya]


Petugas datang membawa trolly berisi menu sarapan. Free service dari hotel. Rama menyudahi kegiatan berbalas pesan. Beralih memulai sarapan romantis, saling menyuapi. Diselingi obrolan ringan membahas Ibu yang akan pulang ke Ciamis siang ini.


Kedua keluarga saat ini sedang sarapan bersama di restoran. Puput sudah mengabari tidak bisa bergabung karena sudah mendapat menu sarapan yang diantar ke kamar. Sayang kalau tidak dimakan. Jam 10 nanti semuanya janjian akan check out bersama.


...***...


"Teh, nanti bakalan ke Cappadocia nggak?" tanya Ami saat semuanya sudah pulang ke rumah. Ia menyimak pembicaraan kakak iparnya dengan Ibu saat berkumpul bersama di ruang tengah. Yang menyampaikan akan berangkat ke Turki besok.


"Iya, Mi. Itu jadwalnya di hari ketiga." Sahut Puput. Jadwal tour selama honeymoon seminggu itu sudah terkonsep.


"Wow. It's my dream, Teh. Not her." Ami memperagakan kalimat viral itu dengan ekspresif.


Rama dan Panji tertawa paling keras. Si bungsu selalu saja meramaikan suasana.


"Ibu doakan perjalanan Teteh dan Aa lancar. Berangkat dan kembali dengan selamat." Ucap Ibu yang akan masuk ke dalam mobil. Bersiap kembali ke Ciamis.


"Amiin, Bu. Ibu juga selamat sampai rumah. Sehat selalu ya, Bu." Rama mencium tangan mertuanya itu dengan khidmat lalu memeluknya. Puput pun melakukan hal yang sama.


"Nji, jangan ngebut!" Rama mengingatkan sang sepupu usai berpelukan saling menepuk punggung.


"Siap, Kak. Jangan lupa oleh-oleh Turkey. Syukur-syukur dapat oleh-oleh calon keponakan juga." Panji menaikkan satu alisnya menggoda Rama. Yang membalas dengan toyoran di bahu.


Aul dan Ami yang sudah berpelukan dengan Puput, beralih mencium tangan Rama. Keduanya begitu girang saat sang kakak ipar berucap akan dibawakan oleh-oleh dari Turki.


"Malam ini libur dulu ya? Persiapan tenaga buat besok." Puput melirik Rama yang beralih memeluk pinggangnya sambil berjalan menaiki tangga.


"Hmm, gak janji ya. Aduhhh!" Rama sontak mengaduh keras karena mendapat capitan kepiting di pinggangnya.


"Neng, kita kan penumpang kelas bisnis. Kalo besok lemes tinggal tidur aja. Super nyaman kok gak bakalan pegel."


"Bukan gitu. Mending anunya di sana aja biar terasa dulu lapernya." Puput membuka lemari untuk memilih pakaian yang akan dibawa.


"Aa mah tiap nempel sama Eneng suka tiba-tiba lapar. Nih buktinya...." Rama memeluk Puput dari belakang. Menekankan sesuatu yang mengeras.


"Haisss, Aa udah ketularan sama anggota grup mesum itu ya." Puput masih mengambil satu persatu pakaian meski geraknya jadi terbatas karena diganggu Rama.


Rama terkekeh. "Mereka itu circle orang baik meskipun ada yang non muslim. Bahasan mesum juga untuk ilmu. Obat agar hubungan suami istri selalu harmonis."


...***...


Perjalanan jauh menuju Ciamis dengan dua kali istirahat di jam ashar dan magrib, tiba di rumah pukul delapan malam. Zaky menurunkan dua dus berisi oleh-oleh souvenir pernikahan untuk dibagikan pada kerabat yang tidak datang. Juga untuk teman-temannya serta untuk genk sahabatnya Aul. Ada pula untuk gurunya Ami.


"Kak Panji, masuk dulu yuk!" Ajak Aul. Yang tentu saja disambut anggukkan Panji.


Di sofa ruang tamu, Panji duduk merebahkan punggung ke sandaran sambil meluruskan kaki yang pegal usai menyetir lama.


"Kak Panji mau minum apa?" tanya Aul.


"Ada minuman apa aja?" tanya balik Panji.


"Ada kopi, teh, susu, sirop." Aul mengabsen dengan jari.

__ADS_1


"Susu aja deh. Suka nyenyak tidur kalau abis minum susu." Sahut Panji.


"Susunya bukan kental manis. Tapi susu bubuk low fat. Gak papa? Aul ingin memastikan.


"Itu lebih bagus. Less sugar." Panji mengacungkan jempol.


"Oke. Tunggu sebentar ya, Kak!" Aul mengangguk dan tersenyum.


Ponsel Panji berdering saat Aul berlalu ke dapur. Menghela nafas panjang melihat nama yang tampil di layar.


"Assalamu'alaikum." Panji mulai menyapa meski sebenarnya enggan menerima panggilan itu.


"Aku lagi di Ciamis. Besok malam baru ada di Bandung."


"Jangan nginep di rumahku. Bicara di luar aja. Ketemuan rabu aja di cafe blue sky jam tiga sore."


Panji menatap kedatangan Aul yang kemudian menyimpan gelas di meja. Lalu duduk di sofa single.


"Nggak bisa. Aku kuliah pagi sampai jam dua belas. Jam satu ada meeting di kantor. Waktu luangku dari jam tiga. Gimana?" lanjut Panji sambil memelankan suaranya.


Aul memangku bantal sofa sambil menopang dagu menunggu Panji selesai bertelepon. Menggoyangkan telapak kaki tanpa berniat menguping percakapan dengan raut wajah serius itu.


"Aul, ingat ya. Punya utang yang belum dibayar."


Aul menegakkan punggungnya. "Eh, udahan teleponannya?" kaget karena tidak mendengar penutupan percakapan. Yang dijawab Panji dengan anggukkan.


"Kapan aku pinjem duit, Kak?" Kening Aul berkerut mencoba mengingat-ngingat.


Panji tersenyum tipis. "Bukan utang duit. Utang dinner waktu game TOD."


"Aihh, kirain itu cuman iseng game aja, nggak jadi utang." Aul menepuk kening.


"Jadi utang dong. Kan itu tantangan serius dari Kak Rama."


"Oke deh. Mau kapan?" Aul berpasrah.


"Nanti aku kabarin waktunya. Besok siang aku harus berangkat lagi ke Bandung. Seminggu ini bakal sibuk pekerjaan di kantor sama kuliah pagi." Panji menyeruput segelas susu hangat. Langsung habis sekaligus.


"Aku pulang sekarang ya!" Panji melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


Aul mengangguk dan segera memberitahu Ibu.


"Nak Panji, makasih ya. Udah terus-terusan direpotin sama keluarga Ibu." Ucap Ibu usai Panji mencium punggung tangannya.


"Tidak apa-apa, Bu. Meskipun tidak membawa keluarga Ibu, Panji tetap sama akan datang ke Jakarta. Jadi sama sekali tidak direpotin." Panji mengulas senyum manis.


"Ami kemana, Bu?" Panji memanjangkan leher, melihat ke ruang tengah.


"Abis salat langsung tidur. Besok harus ke pondok jam 6 pagi jadinya tidur awal."


Panji mengangguk. Ia keluar usai berucap salam. Melambaikan tangan pad Aul yang mengantar sampai pintu pagar besi.


Tiba di rumah Enin suasana sepi. Hanya ada ART sepasang suami istri yang dipercayakan menjaga rumah. Bunda Ratih dan Enin baru berangkat dari Jakarta jam empat sore.


Panji memasuki kamarnya dan menjatuhkan badan telentang di kasur empuk. Penelepon tadi, kini mengusik pikiran. Kedua tangannya dilipat menjadi bantal kepala. Pandangannya menerawang menembus plafon kamar.


Sosok yang dulu pernah dirindukan kehadirannya kini merayu untuk kesekian kali, ingin bertemu. Dan Panji mengalah dari ego. Menyiapkan hati untuk bertemu di hari rabu nanti.

__ADS_1


__ADS_2