
Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Tiba di Jakarta sore hari, memanfaatkan malam untuk beristirahat dengan tidur berkualitas. Pagi ini Rama bersiap berangkat ke kantor. Tanggung jawabnya sebagai pemimpin tertinggi di perusahaan, tidak bisa diabaikan. Agenda kerja yang sudah dikirim Nova lewat email sangat padat.
Segala keperluan sudah disiapkan Puput di ruang ganti. Pakaian dalam dan setelan jas tinggal pakai. Rama mengenakan dengan cepat dan semangat.
"Neng, pasangin dasi!" Pinta Rama menghampiri Puput yang sedang merapihkan tempat tidur. Bukan tidak bisa memasangkan sendiri. Namun ia ingin bermanja dengan sang istri.
"Nanti makan siang mau masakan rumah atau beli?" Puput mengusap dasi yang sudah terpasang rapih sebagai finishing.
"Hari ini ada meeting di luar jam 11. Bakal sekalian makan siang sama Mas Mizyan dan Mas Satya. Itu loh Neng, temenku yang di Bandung itu. Tadi malam Aa udah confirm."
Puput mengangguk. "Ayo, sarapan dulu!"
Kembali ke rutinitas harian usai puas tour honeymoon seminggu lamanya itu. Puput mengantar Rama sampai teras. Mencium tangan dan dibalas mendapat kecupan kening dari sang suami. Tidak melakukan kemesraan lebih yang biasanya morning kiss di ruang tamu. Karena di lingkungan rumah kini ada ART dan juga sopir serta sekuriti.
Puput naik ke lantai dua. Kembali ke kamarnya. Oleh-oleh pakaian kotor belum sempat dikeluarkan dari koper. Karena semalam Rama mencegahnya. Malah mengajak bersantai sambil review hasil jepretan selama di Turki.
"Neng, sama bibi aja." Bi Lilis mencegah Puput yang datang ke ruang laundry membawa pakaian kotor. Yang mulai menyalakan mesin cuci.
"Ini nggak papa sama aku aja, bi. Aku lagi santai kok. Bibi mengerjakan yang lain saja." Tolak Puput. Ia memilah-milih mana yang akan dimasukkan ke mesin cuci, mana yang harus dicuci tangan.
"Ini tugas bibi, Neng. Mana Eneng masih cape baru datang dari Turki." Bi Lilis membujuk.
Namun Puput tetap dengan pendiriannya. Ia bukanlah istri manja. Tidak mentang-mentang nyonya rumah. Tidak biasa bermalas-malasan. Toh mencuci pakaian tidaklah menguras waktu dan tenaga, karena mesin yang bekerja. Ia hanya mencuci dengan tangan untuk kerudung dan pakaian tipis lainnya.
Akhirnya Bi Lilis mengalah. Beralih bersih-bersih seluruh ruangan.
Jam sembilan pagi usai mencuci, Puput naik ke lantai dua. Mulai membongkar satu koper besar khusus berisi oleh-oleh. Memilih duduk di karpet ruang keluarga sambil menyalakan televisi. Ia mulai memilah-milah barang untuk setiap orang yang akan dibagi. Menyusun barang-barang yang akan dipaketkan untuk keluarga di Ciamis.
Ponsel Puput diletakkan tripod. Memulai panggilan video dengan Ibu yang sudah dirindukannya. Namun dua kali sambungan belum ada jawaban.
Puput beralih menghubungi Aul. Sama pula tidak ada jawaban. Bisa jadi adiknya itu sedang berada berada di kampus. Menghubungi Zaky pun tidak mungkin karena sedang jam pelajaran di sekolah.
Tak lama ponselnya berdering. Panggilan video balik dari Ibu. Puput menggeser ikon terima dengan berucap salam.
"Teteh udah di rumah? kapan pulang dari Turki?" Ibu nampak semringah usai menjawab salam. Melihat latar belakang sang anak yang sudah dikenalnya sebagai rumah tinggal sang anak.
"Iya, Bu. Kemarin sore udah sampe rumah. Ibu sehat? Ibu lagi sibuk di dapur?" Puput tersenyum lebar menatap sang ibu yang duduk di kursi makan.
"Alhamdulillah Ibu mah sehat. Semua yang disini juga sehat. Barusan abis ada tamu. Hape Ibu di meja makan."
"Tamu siapa, Bu?" Puput menaikkan satu alisnya.
"Hm, itu....Pak Bagja." Jawab Ibu yang kemudian meneguk air minum.
Puput membaca gelagat tidak biasa pada ibunya. Kenapa Ibu jadi gugup.
"Pak Bagja sering ke rumah, Bu?" tanya Puput hati-hati.
"Nggak kok, Teh. Terakhir ke sini dua minggu yang lalu. Barusan Pak Bagja ngambil pesanan lima ekor bakakak ayam kampung. Lalu ngobrol-ngobrol dulu."
Puput manggut-manggut. Tak ingin membuat ibunya merasa malu, ia beralih topik membahas oleh-oleh siap kirim. Bahkan menunjukkan satu persatu.
...***...
__ADS_1
Hari pertama kerja setelah cuti honeymoon, Rama disambut dua tumpukan berkas yang diantarkan Nova.
"Nova, ada masalah apa kamu sama saya. Sampai dendam gini." Rama menatap tajam dengan kedua tangan terlipat di dada.
Nova terkekeh. Ia tahu bossnya itu sedang becanda. "Semua manajer divisi pada menunggu tanda tangan Pak Rama.
"Oey, yang baru pulang honeymoon. Mana oleh-olehnya?" Damar nyelonong masuk melihat pintu ruangan Rama terbuka lebar. Adu tos dengan sang direktur utama.
"Kayaknya Puput lupa masukin nama lo dalam list." Sahut Rama santai.
"Lah. Punya kakak ipar pelit gini." Damar mencebik. Menarik kursi yang berada di depan meja kerja Rama. Duduk di sana.
Nova hanya mengulum senyum. Sudah biasa melihat canda boss dan asisten itu. Ia pamit keluar usai dua balikan mengantar berkas.
"Nov, ada oleh-oleh buatmu. Nanti ya. Istri saya masih cape." Ucap Rama sebelum Nova berbalik badan.
"Alhamdulillah, Pak. Terima kasih sebelumnya. Nggak papa, santai aja Pak." Nova pun undur pamit dengan berbinar.
Rama urung membuka membuka berkas. Melihat gestur Damar, ia sudah bisa menebak jika sahabatnya itu akan bicara serius. Ia memusatkan atensi sambil duduk santai bertumpang kaki.
"Bro, gue udah bicara sama Om Krisna dan Tante Ratna. Udah memilih waktu nikah tanggal 17 Desember." Ucap Damar.
"Syukurlah. Gue ikut seneng. Venue dimana?" Rama menyambut gembira.
"Masih compare diantara tiga hotel. Aku sih gimana nyamannya Cia." Sahut Damar.
Obrolan santai itu beralih pembahasan serius. Damar melaporkan kinerja selama seminggu menghandle pekerjaan kantor di tampuk tertinggi.
Rama berkutat serius, mulai tenggelam membaca setiap berkas sepeninggalnya Damar. Hingga di jam sepuluh Nova mengingatkan akan janji pertemuan dengan Mizyan dan Satya di jam sebelas nanti.
"Ram, sudah lama gak sidak depo RPA yang di Malang." Ucap Damar saat mobil berhenti di lampu merah.
Rama menghentikan membaca email yang baru masuk dari New York. Keningnya berlipat pertanda berpikir keras.
"Lo bener. Udah hampir setahun ya gak sidak ke sana. Atur jadwal akhir bulan ini kita sidak!" Tegas Rama. Damar mengangguk setuju.
Tiba di mall yang dituju. Langkah lebar dua pria tegap berpakaian jas itu mengarah pada restoran Jepang yang sudah direservasi. Sama sekali tidak melirik ke kiri dan ke kanan di pusat perbelanjaan ternama itu.
"Pak Rama!"
Sontak Rama dan Damar menghentikan langkah dan memutar badan. Rama tersenyum lebar menyongsong kedatangan dua orang yang mendekat.
Semuanya adu tos dan berpelukan penuh persahabatan.
"Pak Satya boss properti, apa kabarnya nih?" Rama menyapa dengan gaya menggoda.
"Bisa aja boss depo bangunan and pewaris Adyatama Group." Satya meninju bahu Rama.
Semuanya tertawa lepas. Kumpulan empat pria tampan itu menjadi pusat perhatian kaum hawa di sekitarnya.
"Yang baru pulang honeymoon seger banget." Mizyan melebarkan mata memindai wajah Rama dengan sengaja.
Rama tergelak. "Makasih ilmunya, Suhu." ujarnya dengan seringai penuh arti.
__ADS_1
"Ck, Suhu mesum menyebar virus pada semua skuad." Satya berdecak diiringi geleng-geleng kepala. Sontak yang lainnya tertawa.
"Nanti ilmunya aku bakal turunin sama calon adik ipar." Rama menepuk-nepuk bahu Damar.
"Wow, judulnya Asisten Menikahi Adikku, dong." Mizyan menaikkan satu alisnya.
"Haha, bener bro. Desember dia nikah. Tunggu aja undangannya. " Rama tertawa. Damar hanya nyengir menjadi bahan godaan.
Berpindah ke restoran Jepang dengan menyewa ruang privat. Ruang yang memiliki ornamen khas negeri Sakura juga meja makan duduk yang khas. Pembahasan serius berupa ajakan investasi yang ditawarkan Satya pada Rama, mulai bergulir usai semuanya memesan menu yang akan diantar tepat jam 12 nanti.
...***...
Puput sudah siap di dengan ponsel yang terpasang di tripod. Sore ini sudah janjian dengan Aul dan Zaky untuk video call grup. Tidak menunggu lama, kedua adiknya itu muncul di layar. Zaky masih mengenakan seragam silat karena baru selesai latihan di Padepokan nya Kang Aris. Aul nampak berada di kamar dengan headset terpasang di telinga.
"Ada apa sih, Teh? Kayaknya serius amat." Zaky mulai bertanya heran. Sejak siang sudah diwanti-wanti-wanti untuk tiba di momen ini. Aul diam menyimak jawaban Puput.
"Teteh mau diskusi penting sama kalian. Ini soal Ibu."
Tidak ada yang menyela. Baik Aul maupun Zaky menunggu kelanjutan ucapan sang kakak.
"Tadi pagi Teteh vc sama Ibu. Awalnya gak diangkat. Pas setengah jam kemudian Ibu vc balik. Ternyata Ibu abis kedatangan tamu Pak Bagja."
Puput menghela dan menghembuskan nafas dulu.
"Ini mah ya, misalkan Ibu ada yang ngelamar, menurut Aul sama Zaky gimana?" Puput menatap serius.
"Memangnya Pak Bagja mau ngelamar Ibu?"
"Memangnya Ibu suka sama Pak Bagja?"
Puput menyimak pertanyaan dari Aul juga Zaky.
"Sebenarnya Teteh tadi liat gestur Ibu yang gugup saat Teteh nanya soal Pak Bagja. Sepertinya Ibu suka sama Pak Bagja. Welcome gitu tiap Pak Bagja bertamu. Tapi gak tau juga sih. Kita lihat aja perkembangannya."
"Hanya sekarang Teteh mau nanya. Kalian ngizinin nggak kalau Ibu nikah lagi?" Puput langsung pada maksud tujuannya.
"Kalo dari aku sih secara ego, aku nggak setuju Ibu nikah lagi. Kenapa? Karena nggak ada yang bisa ngegantikan sosok Ayah sampai kapanpun. Tapi jika Ibu memang menginginkan pendamping hidup lagi, ya mau gak mau aku ngalah. Demi kebahagiaan Ibu." Ucap Aul.
"Zaky?" Puput menatap adik laki-laki satu-satunya itu yang belum bersuara.
"Bingung, Teh." Zaky terdengar menghela nafas berat.
"Teteh kasih gambaran aja. Aul suatu saat akan nikah dan dibawa pindah sama suami. Zaky akan meninggalkan rumah untuk lanjut kuliah. Bahkan kalau jadi, mungkin di luar negeri menerima tawaran Papi. Ami misalkan SMA nya lanjut sambil pesantren lagi. Ibu nanti sama siapa?" Puput berusaha bijak menjadi penengah.
Aul dan Zaky nampak termenung, mengatupkan bibir seolah baru menyadari kebenaran ucapan Puput.
"Aku sih terserah Ibu aja. Nggak akan nyuruh atau ngelarang. Yang penting Ibu bahagia." Zaky membuat keputusan tegas.
"Idem aku juga." Ucap Aul.
Puput manggut-manggut. "Kan kalo sudah diskusi gini enak. Kita udah satu suara mendukung kebahagiaan Ibu. Ini pun belum pasti apa Ibu mau menerima lamaran. Tidak terpaku pada Pak Bagja. Sama siapa saja yang deketin Ibu pokoknya."
"Yang terberat mah nanya Ami, Teh." Celetuk Zaky sambil cekikikan karena terbayang wajah adik menyebalkan tapi tetap disayanginya itu. Tiba-tiba jadi kangen.
__ADS_1
"Hu um. Sama Ami mah ngobrolnya gak bisa vc gini. Harus dibawa jalan-jalan dulu, makan enak. Baru deh ngelobi." Aul pun terkekeh.
Puput ikut tertawa. "Iya, nanti kalo nikahan Cia. Pas mulai libur semester itu. Jadi Ami bisa liburan di Jakarta lama."