Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
Bab 158. Siraman


__ADS_3

"Ayah!" Padma berseru girang. Lebih dulu menyadari kehadiran sosok Ayah Anjar yang berdiri di ambang pintu bersama Papi Krisna. Ia berlari dan menghambur memeluk ayahnya. "Ayah jam berapa dari Bandung?" sambungnya. Tangan merangkul lengan sang ayah dan menggelayut manja.


Enin dan yang lainnya ikut mengalihkan perhatian kepada dua orang yang baru datang mengenakan pakaian kerja.


"Tadi Ayah berangkat jam 6. Langsung ke kantornya Om Krisna." Ucap Ayah Anjar sembari melangkah mendekati Enin untuk bersalaman. Juga menyalami yang lainnya.


Terakhir mengulurkan tangan terhadap Ratih. Bibir tersenyum, sorot mata memancarkan keteduhan. Ia berucap, "Terima kasih sudah menerima Padma."


Ratih mengangguk dan tersenyum. Ada kehangatan menjalar saat kulit bersentuhan dalam jabat tangan yang erat. Ya, rasa itu masih ada.


"Mi, Papi sama Anjar belum makan. Lapar nih." Ucap Krisna yang memang sengaja mengajak Anjar makan di rumah. Kerja di kantor hanya setengah hari. Ada asisten Johan yang menghandle.


"Tunggu sebentar. Mami siapin dulu." Ratna beranjak menuju ruang makan. Ratih seolah ada jalan untuk meninggalkan kebersamaan dengan Anjar. Melepas kecanggungan.


Sementara Ami dan Padma kembali bermain bersama dalam keceriaan dunia anak-anak seusianya. Memisahkan diri di lantai atas.


Krisna menahan Anjar tetap tinggal sampai sore hari. Selalu ada saja topik yang mereka bahas sehingga menciptakan tawa bersama sembari bermain catur di teras belakang. Hingga kemudian Panji datang sepulang dari butik dengan maksud menjemput sang ayah dan adiknya untuk menginap di rumah Rama.


"Panji, buat acara siraman besok apa perlu ayah dikasih seragam juga?" Tanya Ratih yang sengaja menarik Panji ke kamarnya dulu. Bicara empat mata.


"Sebaiknya iya, Bun. Tapi Bunda bikinin nggak baju koko buat Ayah? Kalo gak ada, Panji ambil di butik. Biar Panji gak ngikut seragam keluarga. Jadi couple sama Ayah."


"Ada. Koko buat Ayah Panji sama gamis Padma udah Bunda list. Jaga-jaga kalo mereka datang. Kasian kan kalo Padma nanti lihat Ami yang seragaman."


"Yes kalo gitu. Bunda emang the best." Panji merangkum bahu sang bunda yang sama-sama duduk di tepi ranjang.


"Emang Ayah pake size apa, Bun?" Sambung Panji bertanya serius.


"XL lah." Ratih menjawab pasti.


"Ehmm, Bunda hafal banget." Panji menggoda bundanya dengan sengaja memberi pertanyaan jebakan tadi.


"Kamu ini. Sama orangtua ngerjain ya." Bunda Ratih mengeplak lengan anaknya itu dengan gemas.


"Biasa aja, Bun. Kenapa juga itu pipi sampe merona. Hahaha." Panji tertawa lepas. Menghindar sebelum terkena serangan bundanya lagi.


"PANJI!" Namun teriakan geram Bunda Ratih itu tak mendapat respon karena Panji keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Samar terdengar gelak tawa sang anak yang semakin menjauh dari pintu.


Di sisi lain. Puput yang sengaja ke kantor siang mengantar makanan, ditahan Rama agar tetap menemani di kantor. Damar sudah mulai cuti. Membuat pekerjaan semakin sibuk. Apalagi besok jumat Rama pun akan libur kerja karena acara siraman Cia.


"Huamm." Suara Puput menguap panjang terdengar oleh Rama yang sedang menekuri berkas-berkas. Membuatnya terkekeh.


"Neng, kalo ngantuk ke kamar aja. Biar nyaman tidurnya." Rama menatap Puput yang duduk di sofa sedang bermain ponsel.


Puput beranjak ke meja kerja Rama. Menarik kursi yang menghadap sang direktur. "Aku tuh sejak hamil bawaannya ngantuk dan mudah lapar. Tadi pagi ditimbang, udah naik enam kilo aja." lapornya sembari menopang dagu dengan satu tangan.


"Bagus kan, Neng. Daripada mual muntah dan susah makan." Sahut Rama yang memperhatikan wajah Puput memang lebih chubby.


"Iya sih. Tapi nanti badanku lama-lama bakal melar melebar. Awas ya Aa jangan ilfeel karena bodyku ga singset lagi. Itu semua karena hasil perbuatan Aa." Tegas Puput dengan tatapan galak.


Rama tertawa lepas. "Mana ada ilfeel, Neng. Jatah dibatasi malah bikin baby kecil sering bangun. Apalagi itu makin gede. Bawaannya haus terus. Pengen nyu...."


"Heup! Stop! Jangan mulai omes deh." Puput membungkam mulut Rama dengan seiris mangga harumanis yang ia simpan di meja sebagai cemilan suami itu.


Rama mengangkat kedua tangan tanda menyerah sembari mulut mengunyah dan menahan senyum.


"Ngomong-ngomong soal ini, bra aku udah sesak. Nanti pulang mampir dulu ke mall ya, Papa. Beli size baru." Puput meraba dadanya yang semakin berisi.

__ADS_1


"Iya, Umma. Sekalian dinner di mall aja ya. Kita pulang abis magrib." Rama membuka mulut. Meminta Puput menyuapi lagi potongan mangga.


Kembali menguap untuk yang kesekian kali, Puput memutuskan tidur di kamar pribadi yang tak nampak pintunya. Dengan meraba dinding dan menggesernya barulah terlihat kamar tidur yang luas dengan jendela kaca tebal. Dimana bisa menyaksikan secara luas, pemandangan lalu lintas serta pemandangan gedung-gedung tinggi perkantoran, mall dan hotel yang menjulang.


...***...


Pulang ke rumah usai mampir dulu ke mall. Kedatangan Puput dan Rama disambut Ami dan Padma yang berdiri di teras dengan wajah semringah.


"Teh, bawa oleh-oleh gak?" Ami to the point pada tujuannya menyambut. Memperhatikan kakaknya yang baru turun dari mobil hanya memegang tas selempang.


"Nggak. Ami gak pesan sih." Sahut Puput kalem. Menghampiri Ami dan Padma yang memakai setelan piyama sama dan seukuran. Merupakan baju yang dibeli Padma di Bandung. Sengaja ingin kembaran.


"Yaah. Batre Ami soak kalo gak ada cemilan." Kepala Ami terkulai ke bahu Padma. Padma yang tidak siap menjadi senderan, tubuhnya oleng dan keduanya terjerembab ke lantai. Berakhir cekikikan bersama.


Rama terkekeh melihat keabsurdan dua anak gadis itu. Merangkum bahu Puput yang sedang tertawa, ia berkata "Ami sama Padma, tolong keluarin yang ada di bagasi!"


Rama sengaja menahan sopirnya agar tidak menurunkan kantong belanjaan yang ada di bagasi. Ia dejavu pada kenangan di Ciamis tiap kali datang ke rumah Ibu Sekar, Ami lah yang ditugaskan mengeluarkan oleh-oleh dari mobil.


"Ih, si teteh ngeprank." Ami terperanjat bangun dengan semangat. Menarik tangan Padma agar juga berdiri. Sama-sama menuju bagasi mobil. Matanya langsung berbinar melihat banyak kantong belanjaan berjajar.


Puput hanya geleng-geleng kepala melihat kehebohan Ami. Tentu ia sudah tahu dengan kebiasaan si bungsu sejak dulu. Yang selalu menagih oleh-oleh setiap habis pulang dari luar.


Masuk ke dalam rumah, sayup-sayup terdengar petikan gitar dan nyanyian. Rama menyerahkan jas dan dasinya pada Puput yang akan naik ke kamar. Ia melangkah ke teras belakang. Nampak Anjar, Panji, dan Zaky sedang hiburan. Panji dan Zaky yang bernyanyi. Anjar yang memetik gitar.


"Nih, gitaris senior. Tohpati aja lewat, Kak." Ucap Panji. Yang membuat Anjar tergelak.


"Gaul sama anak muda, berasa Paman jadi kebawa muda nih, Ram." Anjar menatap Rama yang masih berdiri dan bertepuk tangan.


"Kereeen. Nanti resepsi Cia, Paman harus naik panggung ya! WAJIB!"


"Iya, Yah. Ayah harus nyanyi spesial buat Bunda. Momen pas lho, Yah." Panji menaikkan turunkan kedua alisnya. Diiringi senyum penuh arti.


"Tergantung misi besok ya. Kalau goal, siapa takut." Ucap Anjar.


"Don't worry, Paman. Aku suporter garis depan." Rama menepuk dada. Yang dibalas tawa bersama. Ia lalu pamit untuk berganti baju dulu. Dan akan bergabung lagi.


Di ruang tengah.


"Teh, Ibu udah sampe mana?" Tanya Ami dengan mulut penuh kunyahan pie buah. Duduk bersama Padma dan Teh Puput.


"Satu jam lagi sampe." Puput baru saja dapat update pesan dari Aul.


"Yes." Ami berseru girang.


"Ami sama Padma, tolong ini bawa ke belakang ya. Buat yang lagi nyanyi-nyanyi. Biar ada tenaga. " Puput mencampurkan beberapa kue dalam satu piring. Serta sepiring jeruk Medan kualitas super. Dengan patuh dua anak gadis itu pergi bersama.


Yang ditunggu akhirnya datang. Ibu Sekar dan Aul tiba jam sembilan malam. Memakai mobil Bunda Ratih dengan sopir dari kantor butik Sundari.


"Aul, lancar di jalan?" Panji sengaja mengekori langkah Aul ke dapur setelah barusan berkumpul bersama di ruang tengah. Ia memang sangat menanti kedatangan gadis pujaannya itu.


"Alhamdulillah lancar, Kak. Belum weekend mah lancar jaya." Aul membuka kulkas. Mengambil sebotol air mineral dingin. Tinggal di Jakarta harus siap-siap kegerahan dengan udaranya yang panas. Sejuknya hanya ada di dalam ruangan karena ada AC.


"Besok di resepsi Cia, kita duet ya!" Panji mengikuti Aul yang menarik kursi makan dan minum sambil duduk.


"Ih nggak siap aku." Aul menggeleng. "Aku jadi penonton kak Panji aja deh."


"Aku nervous kalo nyanyi sendiri. Ada waktu sehari besok kita latihan biar tampil maksimal. Deal ya!" Panji mengangkat jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Ih, ini sih pemaksaan kehendak." Aul mendesah kasar. Tak urung menautkan jari kelingkingnya.


...***...


Pagi menyapa. Hari jumat tiba. Pengajian dan siraman akan digelar jam setengah dua siang. Sejak jam sembilan pagi, Rama dan yang lainnya bertolak ke rumah Mami Ratna. Rumah besar itu kini ramai karena diisi keluarga besar.


Para pria berangkat dengan satu mobil menuju masjid untuk melaksanakan sholat jum'at. Di rumah, semua wanita pun mulai sibuk mempersiapkan diri. Tim MUA sudah datang. Setelah sholat Duhur, calon pengantin lebih dulu akan dirias.


Di pelataran masjid, usai sholat jum'at bubar, Krisna mengajak semuanya duduk bersama. Memberikan briefing untuk acara spesial hari ini sampai lima belas menit lamanya.


"Bismillah. Semoga Allah Subhanahu Wata'ala memberi kemudahan dan kelancaran pada hajat kita ini."


"Aamiin." Kompak Anjar dan yang lainnya. Semuanya beranjak masuk ke dalam mobil.


Pengajian mulai berlangsung di dalam rumah yang sudah dihias elegan. Tamu undangan semuanya ibu-ibu kelompok pengajian komplek juga teman-teman dari Mami Ratna serta kerabat. Keluarga besar kompak mengenakan seragam gamis dan baju koko warna krem.


"Kak Cia geulis pisan." Bisik Ami yang duduk di sisi kiri mengapit sang calon pengantin. Sementara Padma mengapit di sisi kanan. Masih mengikuti jalannya pengajian yang berlangsung khidmat.


"Aih, makasih Ami." Cia tersipu malu. Pujian anak kecil tentunya jujur tanpa modus. Ia memang nampak anggun dalam balutan gamis warna ungu muda. Warna favoritnya.


Hingga tiba waktunya prosesi siraman adat sunda. Cia berganti busana dengan kebaya berwarna hijau mint serta rompi terbuat dari untaian bunga melati. Semua hadirin sudah berpindah lokasi ke area tenda VIP di pekarangan rumah.


Duduk di kursi yang ada di pelaminan, pasangan Papi dan Mami serta Rama dan Puput, selaku keluarga inti.


Juru kawih mulai menyanyikan tembang berisi petuah diiringi petikan kecapi dan suling. Suasana berubah penuh keharuan saat sang calon pengantin berjalan perlahan naik ke pelaminan menghampiri Papi Krisna dan Mami Ratna. Bersimpuh dan mencuci telapak kaki kedua orangtuanya itu dalam dalam wadah terbuat dari kuningan. Lalu menyemprotkan minyak wangi di kaki yang sudah dikeringkannya dengan handuk.


Cia dengan menundukkan kepala lantas berucap dengan suara serak karena menahan tangis. Meminta maaf atas segala kesalahan. Memohon izin bahwa besok akan melangsungkan pernikahan dengan pria pujaannya. Mengharap ridho kepada Papi dan Mami, akan pergi meninggalkan rumah mengikuti kemana sang suami kelak membawanya.


Papi Krisna memeluk Cia dengan erat diiringi do'a terbaik untuk sang putri. Mencium keningnya dengan penuh sayang. Hal yang sama pula dilakukan Mami Ratna. Yang nampak tak bisa menahan tetesan air mata haru dan bahagia. Saling berpelukan dan bertangisan cukup lama.


"Kak Rama, maafin Cia." Ucap Cia saat ia beralih sungkem kepada kakaknya yang duduk satu kursi dengan Puput. Saling berpelukan erat.


Rama mengusap-ngusap punggung sang adik penuh keharuan. Terbayang kilas balik perjalanan hidup selama ini. Ia selalu tampil maju melindungi jika ada teman sekolah Cia yang membully adiknya itu. Dan besok adik satu-satunya itu akan dilepas. Beralih tanggung jawab ke tangan Damar.


"Kakak berdoa semoga Cia bahagia bersama Damar." Rama mengecup kening Cia penuh kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya.


"Bismillah ya Cia. Besok akan memulai hidup baru. Semoga dilimpahi keberkahan." Ucap Puput begitu berpelukan dengan Cia.


Papi Krisna menjadi orang pertama memberi siraman air kembang ke kepala Cia diiringi mengucap do'a. Berlanjut oleh Mami Ratna, lalu Rama juga Puput. Enin mendapat giliran kelima disusul Bunda Ratih dan Ibu Sekar.


Penutupan acara siraman berubah semarak dan penuh keceriaan karena adanya sawer.


"Kak, bantuin Padma mulung sawer ya. Nanti uangnya buat Padma semua ya, Kak." Ucap Padma terhadap Panji.


"Lah aku minta bantuan siapa ya?" Ami mengedarkan pandangan. Harus cepat-cepat mendapat bala bantuan karena sawer akan segera dimulai.


"Aa, uang sawernya nanti setor ke aku ya!" Ucap Ami terhadap Zaky.


"Oh tidak bisa, Marimar. Kayak preman terminal aja minta setoran. Aa butuh buat nambah beli sepatu bola." Zaky memeletkan lidah. Berpindah posisi.


"What. Seorang Ami yang imut tidak boleh dicuekin." Gerutu Ami sembari matanya mengedar mencari orang yang cocok dimintai bantuan.


Mata Ami membelalak dengan wajah berbinar cerah. Segera berlari menuju dua orang yang baru masuk gerbang. Karena mobil tidak bisa masuk ke dalam.


"Kak Akbaaaar. Cepetan bantuin mulung sawer. Buruan!" Ami berteriak heboh. Menarik tangan Akbar dan berjalan cepat karena juru kawih mulai menyanyikan tembang saweran.


Banyak orang yang sudah merangsek ke depan. Bersiap berebut uang saweran yang akan dilempar dalam pecahan koin seribu hingga lembaran lima puluh ribuan.

__ADS_1


__ADS_2