
Ciamis
Libur semester telah usai. Kembali kepada aktifitas belajar. Ami sudah lebih dulu ke pesantren sehari sebelum hari pertama masuk sekolah di mulai. Zaky baru saja pamit kepada ibu berangkat ke sekolah mengendarai Ninja merah pemberian sang kakak ipar. Aul paling terakhir yang akan bersiap berangkat ke kampus.
"Bu, aku bakal pulang sore ya. Pulang dari kampus mau ke rumah Farah rame-rame. Dia ultah dan ngajak makan-makan di rumahnya." Aul sudah tampil cantik mengenakan mini dress pink muda dengan pasmina warna senada serta sepatu sneakers putih.
"Iya. Usahakan pulang sebelum magrib ya." Ibu menatap keseluruhan penampilan anak gadisnya itu yang sedang mengulang berkaca. Ia akan menegur sang anak jika berkerudung tapi pakaian ketat. Tersenyum simpul penuh bangga melihat Aul yang cantik dengan outfit gamis kekinian yang terkesan casual.
"Aku berangkat dulu, Bu." Aul mencium tangan ibu Sekar usai mengenakan jaket. "Assalamu'alaikum." Dengan semangat dan riang membuka pintu utama.
Ibu menjawab salam. Rumah sudah sepi. Waktunya merawat tanaman hiasnya di depan rumah. Meski Puput melarang melakukan pekerjaan rumah dan sudah ada seorang ART yang ditugaskan, Ibu tetap saja tidak bisa dan tidak betah duduk diam. Bersiap keluar, namun matanya menangkap benda di bawah meja. Ia geleng-geleng kepala.
Di pekarangan rumah, Ibu Sekar melihat Aul yang mengobrak-ngabrik isi tas di atas jok motor.
"Nyari ini?" Ibu Sekar mengacungkan dompet kunci motor.
"Hehe. Perasaan udah aku masukin ke tas." Aul cengengesan sembari menghampiri Ibu.
"Bukan perasaan tapi kebiasaan. Kata teteh apa gelarnya Aul tuh. Hmm, oh iya Miss Pelope ya?" Ibu Sekar meledek Aul dengan bibir mencebik. Belum hilang juga kebiasaan teledor anak keduanya itu. Dengan wajah tersipu, Aulbmasih saja cengengesan menanggapinya.
Ibu Sekar mengantar kepergian Aul sampai pintu gerbang yang terbuka setengahnya, dengan mewanti-wanti agar tidak ngebut di jalan. Bersiap menutup pintu gerbang besi berwarna putih itu. Namun suara klakson membuatnya menoleh ke arah mobil yang baru saja menyebrang dan menepi di bahu jalan depan rumahnya. Ia urung menutup pintu.
Sudah hampir tiga minggu tidak bersua dengan Pak Bagja. Karena meski sudah pensiun, ilmu sang laksamana tetap dibutuhkan oleh kesatuannya juga sering diundang oleh perguruan tinggi maupun komunitas pemuda. Sehingga sering bolak-balik ke luar kota. Begitu pesan yang diterima Bu Sekar lima hari yang lalu tanpa ditanya.
Di ruang tamu duduk saling berhadapan. Saling bertanya kabar sudah dilakukan saat di pekarangan rumah. Sejenak tidak ada yang bersuara. Pak Bagja anteng menatap Bu Sekar. Ada kilat rindu tersirat di netranya. Sementara yang ditatap menundukkan kepala dengan pikiran yang berkecamuk.
"Bu Sekar."
"Pak Bagja."
Tanpa dikomando, keduanya berucap serempak. Kemudian sama-sama terkekeh.
"Pak Bagja dulu deh."
Pak Bagja menggeleng. "Mangga Bu Sekar dulu," ujarnya tersenyum mesem. Senyum yang berpadu dengan wibawa yang terpancar di wajah. Mampu membuat sang pemilik rumah mengalihkan pandangan ke sembarangan arah.
"Saya cuma mau nawarin mau minum apa?" Ucap Ibu Sekar.
"Kalau ada teh hijau aja." Pak Bagja tersenyum simpul melihat Bu Sekar yang gugup dan bergegas beranjak ke belakang. Tak lama datang lagi dan duduk di tempat semula.
"Tunggu sebentar lagi dibuatin dulu ya, Pak."
"Santai aja, Bu Sekar. Saya baru pulang dari Solo tadi malam. Tidak sabar pengen ngasih oleh-oleh ini." Pak Bagja menyerahkan paper bag yang berada di samping kirinya. Nama butik batik ternama di Solo tertera di sampul paper bag itu.
"Terima kasih, Pak. Kenapa setiap ke sini selalu bawa oleh-oleh. Kan saya jadi gak enak." Bu Sekar menatap sungkan usai menerima uluran paper bag itu.
"Kan saya yang ngasih bukan kamu yang minta. Santai aja." Pak Bagja selalu suka menatap Bu Sekar yang mengerjap gelisah.
Dua gelas teh hijau disajikan oleh ART di meja. Uap yang mengepul menandakan teh yang masih panas.
"Pak Bagja ada yang ingin saya sampaikan." Bu Sekar menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Berbagai rasa mulai berkecamuk dan menggoyahkan pendirian yang sejak kemarin sudah bulat.
Pak Bagja mengangguk. "Saya akan dengarkan."
Bu Sekar mendongak dan menatap lurus sang tamu yang selalu berekspresi tenang. "Tentang hubungan kita, saya sudah memikirkan ulang dan menimbang dengan menerawang jauh ke depan. Saya seorang ibu rumah tangga yang memiliki empat orang anak. Tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri."
Pak Bagja menyimak dan menunggu kelanjutan ucapan Bu Sekar yang menjeda dengan menelan saliva dulu.
"Tiga orang anak saya sedang beranjak dewasa dan saya ingin tetap mencurahkan penuh perhatian pada mereka. Intinya saya belum siap menikah lagi sekarang. Jadi maaf saya menolak lamarannya Pak Bagja." Pungkas Bu Sekar sembari menangkupkan kedua tangan di dada.
"Belum siap nikah sekarang. Berarti siapnya kapan?" Pak Bagja menaikkan satu alisnya. Sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi terkejut.
Bu Sekar menggeleng. "Saya tidak tahu. Mungkin setelah Aul menikah. Atau mungkin saya memilih tetap menjadi single mom."
"Saya ingin kejujuran darimu. Bagaimana dengan hatimu? Adakah perasaan padaku? Jangan menunduk! Tetaplah menatapku." Pak Bagja tak lagi berkata formal. Tegas namun lembut menatap sang pemilik rumah yang hendak menundukkan pandangan.
"Jangan tunggu saya, Pak. Saya doakan Pak Bagja bertemu dengan wanita yang___"
"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku. Apa harus aku ulang lagi pertanyaannya, hm?" Pak Bagja memotong ucapan Bu Sekar. Tetap tenang tak seperti lawan bicara yang nampak gelisah.
Bu Sekar menghembuskan nafas panjang. Sejenak memejamkan mata seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mulai berucap. "Saya menyukaimu. Tapi perasaan sayang lebih dominan untuk anak-anak. Saya bersyukur dan bahagia dengan pencapaian sampai saat ini. Apalagi sebentarblagi saya akan menjadi nenek." Ujarnya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Terima kasih untuk kejujurannya. Aku seneng mendapat porsi di hatimu meski sedikit." Pak Bagja tersenyum dan mengangguk.
"Jangan menunggu saya, Pak. Saya tidak lagi memberi harapan." Bu Sekar menggelengkan kepala.
"Baiklah. Aku hanya akan menunggu takdir kemana akan membawa hati dan diri berlabuh. Satu permintaanku. Kita tetap menjalin silaturahmi. Kita berteman. Masih mau, kan?" Ucap Pak Bagja dengan sorot mata penuh harap.
Bu Sekar mengangguk. "Saya tidak keberatan jika berteman. Eh, tehnya diminum dulu, Pak."
...***...
Jakarta
Puput mendengarkan cerita ibunya dengan merapatkan ponsel di telinganya. Cerita tentang kedatangan Pak Bagja pagi tadi dan menjadi kesempatan untuk berbicara memberikan keputusan.
"Ibu yakin dengan keputusan ibu itu? Ami sudah mulai luluh lho, Bu. Ya...meskipun banyak persyaratan ini itu tapi pada dasarnya Ami hanya takut ibu jadi kurang perhatian aja kalo ibu nikah lagi." Puput ingin memastikan lagi. Memberi kesempatan berpikir ulang.
"Ibu udah mantap, Teh. Dan rasanya sekarang lega udah gak ada beban setelah diungkapin. Ami jadi bahan pertimbangan ibu juga. Dia itu yang paling sebentar merasakan kasih sayang Ayah. Makanya wajar kalo protes karena takut tersisihkan. Ibu gak ingin dia berontak." Jelas Ibu Sekar di ujung telepon.
"Ibu sabar ya. Tunggu Ami dewasa pemikirannya. Bisa jadi nanti malah Ami sendiri yang minta Ibu nikah lagi." Puput terkekeh.
"Ibu udah bersyukur dan bahagia memiliki kalian, anak-anak yang soleh. Apalagi yang mau dicari selain bahagia dan ketenangan jiwa? Ibu udah mendapatkannya."
Puput tersenyum simpul mendengar kalimat bijak sang ibu. "Pokoknya teteh akan selalu dukung apapun keputusan ibu. Ibu harus bicara terbuka sama teteh jangan dipendam sendiri kalo ada apa-apa."
"Ya kan ini ibu udah terbuka sama teteh."
Puput tertawa. Membenarkan ucapan ibunya.
"Oh ya, Bu. Sekalian teteh ngasih kabar. Aa beliin mobil baru buat ibu. Lusa pihak dealer akan ngirim mobilnya ke Ciamis. Surat kendaraan udah diurus dengan plat Ciamis. Pokoknya ibu mah terima beres di rumah." Jelas Puput dengan riang.
"Ya ampun, Teh. Bilang sama Aa Rama gak usah gitu. Uang bulanan aja udah cukup bantu ibu. Batalin, Teh." Tegas Ibu menolak.
Puput terkekeh. "Udah dibayar, Bu. Beli cash. Tadi belinya sore pulang kerja. Kita mampir ke dealer. Teteh juga gak dikasih tau sebelumnya. Ujug-ujug Aa ngajak mampir ke dealer pengen lihat-lihat mobil katanya. Eh taunya buat ibu."
Ibu terdengar menghela nafas panjang. "Bilang makasih sama Aa, Teh. Moga rejekinya makin melimpah dan berkah. Kalian selalu sehat."
"Aamiin. Ibu juga jaga kesehatan. Nanti teteh bilangin sama Aa. Sekarang mau siap-siap ke kondangan dulu ya, Bu."
"Sayang, udah siap?" Rama keluar dari ruang ganti sudah mengenakan setelan jas rapih. Beralih berkaca dan mengoleskan sedikit pomade di rambutnya.
"Udah. Barusan mau telepon ibu ngasih tau soal mobil eh keduluan ibu yang telpon." Puput mendekat untuk mengecek ulang penampilannya.
"Ada kabar apa dari Ciamis?" Rama menyisir rambutnya model belah pinggir. Selesai. Hanya tinggal mengenakan sepatu.
"Nanti deh aku ceritain di mobil." Puput meraih sepatu yang sudah disiapkan dekat meja rias.
"Umma, jangan pakai heels. Ganti!" Tegas Rama menggeleng tidak setuju.
"Tapi aku gak ada keluhan kan, Papa. Lagian ini cuma 5 senti." Puput mengangkat sepatunya untuk memperlihatkan tinggi hak.
"Nggak-nggak. Pakai flat shoes aja. Bentar Aa pilihin." Rama masuk ke walk in closet.
"Si Papa posesif ya, nak." Lirih Puput sembari tersenyum mengusap perutnya.
Rama dan Puput tiba di hotel di daerah Kelapa Gading untuk menghadiri resepsi pernikahan relasi. Suasana mewah terlihat begitu memasuki ballroom tempat acara berlangsung.
Sudah banyak tamu yang hadir sehingga tidak terlalu lama mengantri menuju pelaminan. Sang mempelai pria yang merupakan relasi Rama nampak semringah menyambut dan berpelukan. Sudah tahu jika calon ayah itu melaksanakan ngidamnya sang istri yang senang dengan aroma minyak telon. Dan kebersaman dengan sepasang pengantin itu diabadikan dalam jepretan kamera.
Tidak perlu repot mencari tempat duduk di acara standing party itu. Karena Rama terdaftar sebagai tamu VIP. Dengan sajian menu yang dekat dengan meja. Nama Rama Adyatama dan Putri Kirana terdapat di meja nomer A19.
"Sayang, mau makan apa?" Ucap Rama usai menarik kursi untuk Puput duduk.
"Hai, Rama. Hai Putri. Seneng deh bisa ketemu kalian di sini."
Puput baru membuka mulut untuk menjawab namun lebih dulu seorang perempuan dengan gaun seksi dengan belahan dada rendah datang menyapa.
"Hai, Karen. Datang dengan siapa?" Puput tersenyum ramah. Berbeda dengan Rama yang duduk acuh menatap layar ponsel.
"Aku datang sama pacar. Dia lagi ngobrol sama temannya. Bosen deh yang diomongin soal bisnis. Maklumlah CEO yang diomongin gak jauh-jauh dari itu. Eh gak sengaja deh lihat kalian. Makanya aku ke sini. Boleh gabung, kan?"
"Sebaiknya cari meja lain. Ini udah di set untuk berdua. Lihat aja table name nya." Sahut Rama dengan pandangan tetap ke layar ponsel karena ia sedang membalas pesan.
__ADS_1
"Maaf ya Karen, aku lagi mual kalo nyium bau parfum. Makanya Aa aja pakainya minyak telon biar bisa dekat aku." Puput menutup hidung dengan selembar tisu yang tersedia di meja. Keningnya mengernyit seolah menahan rasa mual.
"Kamu hamil?!" Tanya Karenina dengan intonasi kaget.
"Iya. Mau jalan empat bulan. Maaf Karen, bukannya ngusir ya. Aku dah mulai mual nih. Bau parfummu gak enak." Puput meringiskan wajah.
"Sayang, apa kita pulang aja?" Rama menatap cemas. Namun dijawab gelengan kepala oleh Puput.
"Oke-oke. Aku pergi." Ucap Karenina setelah mendapat tatapan tajam Rama.
Melihat Karenina sudah menjauh, Puput tersenyum miring. "Hanya prank kok. Aku tau Aa risih liat dada yang diobral itu."
"Bukan risih lagi tapi jijik." Rama bergidik. Kemudian ia mengambil makanan jenis dessert sekadar mencicipi. Karena sebelum berangkat ia dan Puput sudah makan.
"Aa, aku ke toilet dulu pengen pipis." Puput bangun dari duduknya.
Rama mengangguk. "Mau diantar gak?"
"Gak usah." Puput beranjak meninggalkan mejanya.
Sudah lega rasanya perut setelah buang air kecil. Puput mencuci tangan di wastafel sembari bercermin memastikan kerapihan kerudungnya. Hingga dari pantulan cermin ia melihat seseorang berdiri di belakangnya dan beradu pandang.
"Gue gak percaya itu anaknya Rama." Karenina mulai menunjukkan sikap aslinya yang membenci Puput.
Puput memutar tubuh sehingga saling berhadapan dengan model cantik dan seksi itu. Dengan tenang melipat kedua tangan di dada. "Apa alasannya lo gak percaya?"
"Orang kampung yang datang ke kota pasti akan jual diri demi gaya hidup high class." Sinis Karenina.
"Apa lo lagi ngomongin diri sendiri?" Puput menaikkan satu alisnya.
"Kurang ajar." Karenina melayangkan tangan untuk menampar wajah Puput.
"Siapa yang sebenarnya kurang ajar?" Puput lebih dulu sigap menahan tangan Karenina. Bahkan mencengkram kuat pergelangan sang model yang kini meringis kesakitan.
"Lo dari dulu seneng banget ngehina gue cewek kampung. Asal lo tau ya Ciamis itu daerah modern dengan fasilitas kota segala ada. Penduduknya berpendidikan tinggi. Dengan banyak kearifan lokal yang jadi destinasi wisata dari berbagai daerah. Jangan sombong mentang-mentang tinggal di ibukota."
"Ini peringan terakhir ya. Jauh-jauh deh dari gue. Karena yang berurusan dengan gue berakhir gantung diri di penjara." Pungkas Puput dengan melepas tangan Karenina sehingga perempuan itu terhuyung sembari memegang pergelangan tangan.
Tanpa kata, Puput berjalan menuju pintu keluar.
"Hei, jangan dulu pergi!" Karenina menarik bahu Puput dari belakang.
Tanpa diduga, pintu toilet wanita itu terbuka dari luar. Rama berdiri dengan wajah kaget melihat Puput terjatuh di lantai.
"Sayang." Rama mengangkat tubuh Puput yang meringis sembari memegang perutnya.
"Lo!" Rama menunjuk wajah Karenina dengan ekspresi marah. "Sudah kubilang dulu. Jangan ganggu kehidupan gue atau lo balik lagi ke Paris."
"Rama, gue gak ngapa-ngapain istri lo. Sumpah. Gue cuma narik bahunya pelan." Karenina berubah pucat pasi. Kemarahan Rama tidak bisa dianggap sepele. Membahayakan karir modelnya di Jakarta karena Rama memiliki bukti skandal dirinya.
"Siap-siap aja lo angkat koper dari Jakarta!" Rama keluar sembari membopong Puput.
Rama melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit Adyatama. Rumah sakit milik keluarganya. Sudah menghubungi direktur rumah sakit agar dokter spesialis kandungan siaga di lobi rumah sakit.
"Aa, aku gak papa kok. Pulang ke rumah aja ya." Puput justru gelisah melihat Rama yang menyetir dengan wajah mengeras. Raut marah terhadap Karenina masih tergambar. Padahal tadi sengaja menjatuhkan diri untuk memberi pelajaran pada Karenina karena dari celah pintu terlihat wajah Rama yang akan masuk. Tak menyangka efeknya seperti ini. Rama begitu cemas sehingga memerintahkan ke pihak rumah sakit untuk siaga.
"Aa akan tenang dan percaya kalo kamu udah diperiksa dokter. Kamu tuh jatuh seperti itu bahaya buat janin."
Puput terdiam. Tak menyangka Rama akan secemas ini. Padahal ia sudah antisipasi saat jatuh dengan tangan lebih dulu bertumpu di lantai. Membuatnya merasa bangga. Dicintai begitu dalam oleh suaminya itu.
Tiba di lobi rumah sakit. Ada lima orang berdiri menyambut kedatangan mobil sport Rama. Dokter dan perawat.
Puput duduk di kursi roda. Didorong dengan cepat menuju ruang pemeriksaan. Puput hanya meringis dalam hati melihat drama yang diciptakannya itu. Semua orang jadi direpotkan karena intruksi Rama.
"Rahim dan janin Bu Putri baik-baik saja, Pak Rama. Sehat dan kuat." Lapor dokter Sani memperlihatkan hasil USG di layar monitor.
"Dokter pastikan sekali lagi. Istri saya jatuh terduduk. Itu kan bahaya." Keukeuh Rama.
Puput memegang lengan Rama dan tersenyum lembut untuk menenangkan suaminya itu. "Dokter gak mungkin salah, Aa. Aku juga gak ngerasain sakit atau mules kok."
Namun Rama keukeuh dengan pendiriannya. USG kedua kali dilakukan dan hasilnya sama. Sehat dan kuat. Barulah ia bernafas lega. Mencium kening Puput dengan dalam dan lama.
__ADS_1
Puput terharu sekaligus merasa bersalah sudah membuat Rama secemas tadi. Namun hikmah dari aksi diving nya itu, membuat Karenina tidak akan lagi mengganggunya. Sang suami bersiap mengambil tindakan tegas.