
"Aa, udah siap?" Wanita cantik yang sudah mengenakan high heel nya menatap sang suami yang sedang menyisir rambut.
"Let's go!" jawabnya. Bersamaan dengan pintu kamarnya diketuk dari luar. Pintu dibuka. Sepasang suami istri berwajah etnis Tionghoa berdiri bergandengan tangan dalam busana senada warna hitam.
"Mana Rendi sama Marisa?" Penghuni kamar hotel nomer 212 itu memanjangkan leher. Melihat ke koridor. Yang ditunggu nampak baru keluar dan menutup pintu. Tiga pasang suami istri itu menginap di hotel dan lantai yang sama.
"Ayo! Kak Arya udah nunggu di lobi sama Papa." Yang bernama Marisa menyampaikan pesan kakaknya itu.
"Aduh sebentar. Perutku jadi mules. Mofa, pegangin jas. Aku ke kamar mandi dulu!" Ujarnya membuka jas tergesa-gesa dan menyampirkan pada bahu istrinya. Membuka sepatu setengah terlempar. Lalu berlari ke arah kamar mandi.
"Si Neng Kiki kebiasaan. Tiap mau berangkat mules mulu. Kesel gue." Ucap William sambil berkacak pinggang.
"Ah, Bang Wil mah sesekali liatnya. Aku mah mesti sabar tiap hari." Curhat istrinya Ricky yang bernama Safa. Menghembuskan nafas panjang karena kebiasaan mules dadakan suaminya itu.
Marisa dan Celine mentertawakan wajah penuh kepasrahan seorang Safa.
"Sayang, suruh Arya duluan aja sama Papa." Rendi menatap lembut sang istri yang berdiri di sampingnya. Marisa pun mengangguk.
"Sambil nunggu Ricky, aku ke kamar dulu deh touch up lagi. Berasa belum pede." Ucap Celine istrinya William yang letak kamarnya di samping kanan kamar Ricky.
...***...
Dua pria tampan dalam balutan jas warna berbeda, baru turun dari pelaminan usai mengucapkan selamat kepada pengantin. Kini celingukan mencari kursi kosong yang mojok namun strategis bisa memindai dalam jangkauan yang luas.
"Kak Akbar, Kak Leo. Nyari apa, Kak? Serius amat. Tukang cilok mah udah lewat tadi." Ami terkikik. Usil menggoda Akbar dan Leo yang tidak menyadari sejak lima menit yang lalu ia berdiri di belakang keduanya.
Bersamaan, Akbar dan Leo memutar badan.
"Hais, Neng Ami paling bisa deh bikin kita gemes sama Neng Ami." Leo menarik sudut bibirnya. "Kita nyari kursi kosong nih. Tapi penuh semua."
"Duduk di meja aku aja, yuk. Kursinya ada empat, kosong tiga. Soalnya Ibu sama Aa Zaky kan di pelaminan duduknya. Teh Aul sama Kak Panji di meja Bunda Ratih. Mau nggak gabung?"
"Mau-mau, Mi. Ayo!" Leo menyambut penuh semangat. Akbar sampai geleng-geleng kepala.
"Eit, tunggu. Kak Akbar stop dulu!" Ami merentangkan tangan ke depan menahan langkah Akbar. Membuat pemuda itu mengerutkan kening.
"Ada apa, Mi?" Akbar tak urung bertanya.
"Kak Akbar mundur dua langkah dulu." Ucap Ami serius.
Akbar menurut, mundur dua langkah. Meski masih dengan raut bingung. Sama halnya Leo. Namun sang asisten itu memilih menyimak kelanjutannya.
"Nah ini baru pas. Soalnya Kak Akbar kalau terlalu maju, gantengnya kelewatan. Eeaaaaa." Ami dengan cuek berjalan lebih dulu dengan berlenggak lenggok centil.
Otaknya Ami lempeng-lempeng saja usai menggombali Akbar. Tapi Akbar yang mendapat gombalan, nyengir kuda dengan hidung yang merekah dan wajah yang memerah. Sementara Leo terbahak-bahak sambil memukul-mukul paha.
__ADS_1
"Neng Ami, malam ini cantik banget." Leo menatap Ami yang duduk sambil mengunyah pastry strawbery. Bagian dari hidangan yang memenuhi meja VIP itu. Ia sendiri mencicipi minuman dalam dispenser mini yang ternyata jus buah naga.
"Udah cantik dari orok, Kak. Aku gak ge er. Semua orang udah tau kalo Ami itu cantik dan imut." Sahut Ami santai menikmati hobinya ngemil.
"Hahaha...." Akbar tergelak melihat Leo mati kutu, garuk-garuk tengkuk. Rencananya mau mojok dengan Leo untuk mengamati cewek-cewek cantik yang semoga aja ketemu calon jodoh, menjadi teralihkan karena penghiburan Ami.
"Kak Akbar, Kak Leo, udah nikah belom?" Ami bertanya out of the box.
"Belom, Mi. Kita mblo. Eh bukan kita, tapi Kak Akbar. Aku sih udah punya calon." Leo berbangga diri sambil melirik Akbar yang mendelik.
"Emang Ami punya sodara yang mau dikenalin?"Akbar antusias penuh harap.
Ami menggeleng. "Bukan itu. Nanti kan ada acara dansa. Yang boleh dansa hanya yang udah nikah. Jadi Kak Akbar sama Kak Leo jadi penonton aja nggak boleh ikutan ya."
"Kirain..." Sahut Akbar dengan nada kecewa. Membuat Leo menahan tawa.
Leo mencondongkan ke arah Akbar. "Your future wife in here." bisiknya sambil menunjuk dengan dagu pada Ami yang sedang melambaikan tangan dan tersenyum cerah pada anak gadis seumurannya di beda meja.
"Jangan ngaco. Pantesnya jadi adek." Akbar menoyor kening Leo dengan telunjuknya.
...***...
Sepasang pengantin terus menerus mengumbar senyum lebar menyambut kedatangan tamu yang menyalami. Rona bahagia kentara di wajah Rama dan Puput yang mengenakan busana pengantin bak Prince and Princess. Tampan dan cantik, dan selalu memamerkan kemesraan.
"Selamat berbahagia, Bro." Seorang tamu pria beradu tos lalu berpelukan dengan Rama. Diiringi ucapan doa tulus. Lalu istri yang digandengnya ikut menyalami.
"Teh Andina, dimohon nanti ke stage musik ya. Harus nyanyi!" Pinta Rama setengah memaksa.
"Aduh, malu ah. Suaraku jelek." Andina menolak halus.
"Jangan merendah, Teh." Rama tersenyum mesem. "Sepertinya harus minta izin sama pemiliknya dulu nih." Sambungnya. Menatap Arya yang kemudian terkekeh dan memberi izin. Sebelum turun, kebersamaan itu diabadikan dulu dalam jepretan kamera.
Antrian tamu sudah terurai tak lagi mengular. Suara merdu penyanyi yang diiringi orkestra mengalun mengiringi kebahagiaan semua orang sepanjang acara.
Rama antusias mendengarkan wejangan Mizyan yang menepuk-nepuk bahunya sambil berbisik hal pribadi. Bisikan dari sang expert yang memberikan tip dan trik agar selalu strong tanpa obat kuat. Obrolan sambil berbisik itu hanya milik mereka berdua. Yang pada akhirnya tergelak bersama.
Begitu juga Puput yang antusias berbicara dengan Rahma karena teringat pertemuan pertama kali saat mobil mogok depan rumahnya. Dan sekarang seolah temu kangen.
"Mbak, kenapa anak-anak nggak diajak?" Tanya Puput yang masih menggenggam tangan istrinya Mizyan itu.
"Anak-anak sama kakek neneknya dulu, Teh. Ini....suami ngajakin pacaran dulu." Sahut Rahma terkekeh malu.
Kebersamaan dengan sepasang tamu itu pun diabadikan dalam jepretan kamera.
...***...
__ADS_1
Meja Enin terisi penuh oleh empat orang yang duduk. Ada Enin dan Bunda Ratih serta Panji dan Aul. Menikmati hidangan di meja sambil menerima tamu yang datang menyapa.
"Aul, nyanyi ya!" Pinta Bunda Ratih menatap Aul yang mengenakan gaun warna salem seperti yang dikenakannya. Karena memang dresscode keluarga.
Aul menggeleng. "Nggak bisa nyanyi dan suaraku jelek, Bunda. Yang pinter nyanyi mah Teh Puput.
"Hm, jangan bohong. Bunda pernah lihat Aul nyanyi lagu Sinaran nya Sheila Majid. Enak banget suaranya. Itu lagu angkatan Bunda dan penyanyi favorit Bunda juga. Hayoh waktu di mana coba?" Bunda Ratih menodong Aul sambil tersenyum tipis.
Aul membulatkan mata dan menutup mulut dengan rona malu. Tak menyangka pernah terciduk oleh ibunya Panji. Sama halnya Panji yang terkejut dan menatap Bundanya dengan kening mengkerut.
"Kapan, Bunda? Bunda kok gak cerita sama Panji?" Todong Panji yang nampak kecewa karena melewatkan sesuatu tentang Aul.
"Bunda ih kenapa nggak nyapa aku. Aku nggak tahu ada Bunda di sana. Kan jadi malu aku." Sahut Aul yang wajahnya masih merona.
Bunda Ratih terkekeh. "Emang sengaja gak nyapa. Bunda lagi sama teman-teman arisan waktu itu. Mejanya di jajaran belakang. Aul di meja depan, kan? sama teman-temannya berapa orang tuh, empat apa lima orang ya. Kalau nyapa, takutnya Aul gak lanjut nyanyi. Kan Bunda jadi bisa denger Aul nyanyi dua lagu. Keren deh suaranya." ujarnya sambil mengacungkan jempol.
"Bunda, lihat dimana sih?" Panji tidak sabar karena Bundanya belum menjawab pertanyaannya tadi.
"Di Kampung Kuring, nak. Bunda lupa cerita. Sekitar tiga minggu yang lalu ya, Aul. Malam minggu pokoknya mah." Jelas Bunda Ratih.
"Panji juga bisa nyanyi lho, Aul. Jago main gitar juga. Duet aja sama Panji sekarang ya. " Bunda Ratih mempromosikan anaknya sambil melirik Panji yang awalnya kecewa kini tersenyum mesem.
"Wah, masa? Kok Kak Panji gak pernah cerita sih. Aku suka kagum kalau cowok jago main gitar." Aul merasa takjub. Tak menyadari jika pujian tulusnya justru membuat hidung mancung Panji mengembang.
"Takut demam panggung ah, Bun. Ini tamunya beda sama di rumah makan." Lanjut Aul yang memperhatikan ke arah lalu lalang tamu yang rata-rata berbusana necis dan glamour.
"Biasa aja, Aul. Jangan minder. Hanya beda kemasan aja karena ini lagi acara pesta. Kalau udah di rumah mah ganti dasteran sama koloran. Sana kalian berdua nyanyi!" Sahut Enin yang dari tadi menyimak. Mendukung dua cucunya itu naik panggung.
Ponsel dalam sling bag Aul berdering. Sejenak obrolan terjeda. Anggara calling.
Aul permisi beranjak dulu keluar dari kursinya untuk menerima telepon.
"Kak Angga di meja mana?"
Panji mendongak saat ucapan Aul sampai ke indera pendengarannya.
"Iya, tunggu. Aku ke sana."
Panji menatap tajam Aul yang memasukkan ponsel ke dalam tas. Suaranya jelas terdengar. Yang kemudian gadis cantik dan anggun itu menuju mejanya lagi.
"Enin, Bunda, Kak Panji, aku tinggal dulu ya. Mau nemuin Kang Acil dan rekan-rekan komunitas silat di sana." Ucap Aul sambil menunjuk dengan dagu pada meja panjang di sudut kiri. Tidak menyebut nama Anggara. Yang disebut hanya nama tetuanya saja.
"Iya, Aul. Jangan lupa nanti duet sama Panji ya!" Bunda Ratih tersenyum, bersikap bijak. Panji tidak bersuara, entah karena tanggung sedang mengunyah steak, entah karena moody.
"Hehe. InsyaAllah ya, Bun." Sahut Aul yang masih bimbang. Ia melangkah pergi dengan ringan, dalam iringan tatapan Panji yang menatap punggungnya dengan raut wajah datar.
__ADS_1
Tbc