Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
43. Dilamar


__ADS_3

Cia melempar ponsel tepat ke atas bantal. Raut kecewa nampak menghiasi wajah cantiknya. Baru usai bertelepon ria, berbincang melepas rindu hampir 30 menit lamanya dengan Adit. Dengan kesimpulan sang kekasih tidak bisa datang ke Ciamis. Padahal ia sangat mengharap kekasihnya itu akan mengunjunginya setelah setahun lamanya tidak berjumpa secara fisik.


Helaan nafas panjang terdengar kasar. Menenangkan diri sejenak sebelum keluar kamar untuk mengembalikan suasana hati. Mood nya tengah anjlok di momen lebaran ini gara-gara realita tak sesuai ekspektasi. Adit nya meminta maaf tidak bisa datang karena enggan terjebak macet.


"Astagfirullah! Kak Damar---" Cia terlonjak dari duduknya di tepi ranjang. Baru teringat belum menghubungi sahabat kakaknya. Orang yang selalu ada untuknya itu. Dengan wajah ceria, jempolnya bergerak menyentuh tombol panggilan video.


"Kirain dah lupa sama aku---" Sapaan pertama dari Damar saat bertemu wajah lewat layar ponsel. Tak ada senyum, datar saja.


"Ulu-ulu....ada yang ngambek nih. Awas nanti kena stroke lho, Kak." Cia terkekeh menggoda. Namun pria di sebrang sana tetap memasang wajah datar.


"Maaf....bukan lupa, Kak. Di sini baru beres open house. Terus sekarang lagi ada keluarganya Puput, ditahan sama Mami dan Enin. Biasa Kak....masih dalam rangka ngemodusin." Cia beralasan sambil tersenyum lebar. Padahal sebenarnya memang nama Damar terlupakan. Ia tidak ingin pria dewasa itu makin ngambek jika tahu alasan yang sebenarnya.


"Oke deh aku maafin." Damar nampak berjalan beralih tempat menuju balkon. Tangan kanannya memegang kaleng minuman ringan. Ia yang asli Jakarta belum pergi kemana-mana. Saat ini tengah berada di kediaman orangtuanya. Kumpul keluarga.


Di momen lebaran ini Cia pun meminta maaf lahir dan batin. Yang ditanggapi Damar dengan hal yang sama. Kini memasang wajah normal seperti biasanya. Dalam percakapan yang mengalir lebih santai dan diselingi tawa.


"Kak, Adit udah di Jakarta lho." Cia beralih topik. Ia memang selalu terbuka terhadap Damar seperti halnya pada keluarga sendiri.


"Terus aku harus bilang wow gitu?!" Andainya Cia peka. Akan terlihat perubahan raut wajah Damar yang mengeras meski hanya sedikit.


"Ish...Kak, gitu amat responnya." Kini giliran Cia yang memberengut. Berharap Damar ketularan senang malahan bersikap apatis.


"Dia mau ke Ciamis?!" Damar selalu enggan menyebut nama Adit. Lanjut meneguk soft drink tanpa mengalihkan tatapannya dari layar. Melihat perubahan wajah Cia yang menjadi muram.


"Gak bisa kesini katanya...males dengan macetnya karena masih arus mudik." Cia menjawab dengan lesu. Rasa kecewa yang sempat menguap begitu menatap wajah Damar, terungkit lagi.


Damar tersenyum sinis. "Kok cemen ya jadi cowok. Katanya cinta. Bukankah kata kiasan, gunung kan kudaki, lautan kusebrangi demi menemui pujaan hati. Lah ini cuma masalah macet doang....." Lanjut meledek sambil mencebikkan bibir.


"Kaaak---" Cia menegur dengan lemah. Menggelengkan kepala. Lagi malas berdebat. Hanya wajah yang nampak tidak bergairah.


Damar nampak menghela nafas panjang. "Cia....gimana kalau kamu aja yang kasih surprise?! Datang ke Jakarta. Temui dia. Biar aku yang ke Ciamis jemput kamu. Gimana, hmm?!" Ia paling tidak tega melihat wajah Cia sendu. Akan lakukan apapun yang bisa membuat wajah si bawel selalu berhias senyum semringah.


"Aiiihhh, mau....mau banget, Kak." Sontak Cia menegakkan punggungnya dengan semangat. Solusi yang ditawarkan Damar tidak terlintas di otaknya. Mengingat rencana kembali ke Jakarta masih seminggu lagi bersama kedua orangtua.


"Kak Damar emang the best." Cia memberi kiss bye dengan roman cerah ceria. Hal sederhana itu tanpa diketahuinya justru membuat senyum tipis selalu terbit di bibir Damar. "Kapan mau kesini, Kak?!" sambungnya sudah tidak sabar.


"Lusa aja ya. Besok masih ada acara keluarga."


"Oke, Kak. Aku akan tunggu. Salam buat Om dan Tante ya!" Cia mengakhiri sambungan video sambil memberi kiss bye sekali lagi. Moodnya membaik. Ia keluar kamar untuk bergabung lagi dengan yang lainnya.


"Kok sepi. Pada kemana, Nin?!" Cia menghampiri Enin yang tengah menonton berita sore ditemani Papi Krisna.


"Mami kamu di dapur sama Bibi Ratih dan ibunya Puput. Panji sama Aul keluar, Enin suruh beli susu. Rama sama Puput di teras kayaknya." Enin tetap memfokuskan pandangan menatap layar televisi.


Cia mengkerutkan kening. "Kan stok susu masih ada di lemari. Aku beli 2 dus kemarin."

__ADS_1


"Ssttt----" Enin menoleh sambil memasang telunjuk di depan bibirnya.


"Ihhh Enin...." Cia geleng-geleng kepala dengan tatapan menyipit.


"Pih, Enin mah pantas dapat gelar Suhu Modus ya?!" Cia beralih meminta dukungan papinya. Yang menanggapi dengan terkekeh. Sementara Enin hanya tersenyum tipis.


...***...


"Rileks....jika Titanic ada Jack and Rose. Rumah pohon ada Rama and Putri."


Puput menatap pantulan dirinya di depan cermin meja rias. Masih terngiang suara bariton yang penuh perasaan itu. Bahkan hembusan nafas aroma mint itu serasa masih menempel di pipi kirinya hingga sekarang.


Ia baru saja pulang dengan Ibu diantar oleh Rama, usai makan malam bersama. Memilih pulang lebih dulu karena Aul masih di jalan terjebak macet. Bagaimanapun, momen berdua di rumah pohon meski hanya sebentar, telah meninggalkan rasa grogi. Masuk lagi ke dalam rumah, ia lebih banyak diam dan mengurangi interaksi pandangan dan percakapan dengan Rama.


"Udahan ah. Aku gak bisa rileks...malah tegang."


Puput memilih membuka mata dengan berkata jujur menoleh ke samping kirinya. Sehingga pandangan yang saling bersirobok tak bisa dihindari. Rama lebih dulu tertangkap basah tengah menatapnya intens. Membuat kerja jantungnya tidak normal.


Waras Put, waras..... gak boleh punya perasaan lebih.


Pantulan diri di cermin menggambarkan realita. Puput menepuk-nepuk kedua pipinya yang memanas dan merona lagi. Kilas balik di rumah pohon masih tergambar dengan jelas. Padahal hanya sebentar karena ia meminta turun lagi. Beralasan bahwa sebentar lagi adzan magrib. Padahal alasan sebenarnya ia tidak ingin Rama dapat membaca gestur yang mewakili isi hatinya.


Puput membuka kedua telapak tangannya. Masih terasa kuatnya genggaman tangan Rama yang menuntunnya turun. Bergantian, menuntun tangan kiri dan kanan. Membuat tengkuknya kini meremang.


Puput bermonolog di depan cermin. Mensugesti diri. Jatuh cinta saat ini bisa membuat planning and actuating yang sudah disusun untuk masa depan keluarganya berantakan.


"Nyari susu sampe mana, Aul? Kok baru pulang." Puput yang baru menuruni tangga, ikut duduk di meja makan. Menatap Aul yang meneguk segelas air sampai habis.


Aul membuka kerudungnya sebelum menjawab. Mengurai rasa gerah dan lengket karena berkeringat. Roman kesal nampak menghiasi wajah cantiknya.


"Sebenarnya tiap mart yang disinggahi ada stok susu Anl*** tapi ukurannya kecil. Kata Kak Panji harus sesuai permintaan Enin, yang gede yang 900 gram. Katanya kalo udah tua sikapnya kembali seperti anak-anak. Jadi kalau gak diturutin bisa ngambek. Akhirnya pas magrib dapet di simpang lima. Eh...mau pulang macet. Jadinya Kak Panji ngajak makan dulu ke cafe. Langsung deh nganterin aku pulang."


Puput menyimak penjelasan panjang sang adik.


"Mana sekarang Panji nya?!" Puput melongokkan kepala ke arah pintu ruang tamu yang menjadi penyekat dengan ruang tengah.


"Udah pulang barusan, gak lama duduknya. Ngobrol sama Ibu sebentar meminta maaf. Terus pamit. Motor mah besok mau dianterin katanya." Pungkas Aul yang kemudian pergi ke kamar untuk mandi, menyegarkan badan.


...***...


Malam di hari kedua lebaran, Via dan Adi datang bersilaturahmi ke rumah Puput. Mereka baru kembali dari Banyumas tadi siang bersama kedua keluarga. Karena ada kerabat yang akan menikah besok di Ciamis. Sepasang kekasih yang tidak lama lagi akan melepas lajang, berbaur dengan keluarga Puput di ruang tengah tanpa canggung karena sudah akrab.


"Wah ini kesukaan aku.....ini juga." Ami paling semangat membongkar oleh-oleh dalam paper bag yang dibawa Via. Mengabsen satu-satu makanan khas Banyumas. Ada getuk goreng, jenang jaket, dan nopia. Semua di claim sebagai makanan kesukaannya.


"Halahhh....apa sih yang bukan kesukaan Ami. Semua yang dibawa pasti dibilang 'ķesukaan aku'. Modusmu tuh...biar dibawain lagi." Via meledek dengan mencebikkan bibir.

__ADS_1


Ami terkikik sambil membuka besek bambu yang isinya getuk goreng berbalut gula merah. "Mbak Via pinter deh....gak kayak Teh Puput," ujarnya kalem. Satu getuk digigit dan dikunyahnya dengan ekspresi menikmati.


"Eh enak aja ngatain Teteh!" Puput mendelik sebal. "Kamu lagi, ngapain dukung si centil," sambungnya mendelik ke arah Via yang mengacungkan satu jempol.


"Lah emang kamu kayak siput sih. Lambat....gak peka sama kode orang." Jawab Via santai.


"Bahas apa sih ini?!" Puput mengerutkan kening. "Kalau sama aku gak usah kode-kodean lah. Daripada bikin salah faham, mending to the point bilang." Sambungnya tak kalah santai.


"Aku pengen kembaranmu yang isinya durian!" Pinta Puput kepada Via meminta dipilihkan rasa kue bernama nopia itu. Sontak membuat Ami dan Zaky tertawa geli karena Novia memilihkan rasa dengan bersungut-sungut.


"Ini pasti ibunya mbak Via dulu ngidamnya makan nopia ya. Jadi pas lahir dikasih nama yang mirip." Aul ikut tertawa meledek. Ia kebagian memakan nopia isian gula merah.


Via tambah mendelik kesal karena sekarang kebagian menjadi bahan bully an.


"Put, besok ikut reuni SD gak?! Aku ngisi di sana." Adi mengalihkan topik candaan menjadi topik serius. Ia bersama grup bandnya diundang sebagai pengisi acara hiburan reuni SD Pitaloka.


"Iya ikut. Wuih asyik dong....aku pengen duet ah. Request lagu Chrisye ya, Di!" Puput mengepalkan tangan ke udara penuh semangat usai Adi menyetujui. Adi sudah tahu pasti lagu favorit apa yang dipintanya.


Ibu memisahkan diri dari kumpulan anak-anaknya. Menuju dapur begitu melihat Via yang beranjak pergi ke kamar mandi.


"Via, sini!" Ibu berkata pelan begitu Via keluar dari pintu kamar mandi yang berada di lorong sebelum ruang dapur.


"Ada apa, Bu?!" Via tak kalah berkata pelan. Mendekat dengan raut penasaran melihat Ibu Sekar celingukkan memperhatikan situasi.


"Besok bisa kesini gak, mumpung Puput mau pergi reunian. Ibu mau ngobrol hal penting soal Puput."


"Besok aku kondangan dulu. Paling abis dhuhur bisanya. Ada apa sih bu, bilang sekarang aja....aku jadi kepo akut deh." Via berubah tidak sabar melihat raut serius di wajah Ibu Sekar.


"Besok aja kita bicara empat mata."


"Tuh kan nambah penasaran ah. Clue nya dulu lah, Bu. Plis!" Jiwa kepo Via semakin meronta.


"Jangan heboh ya! Puput dilamar." Bisik Ibu.


Via membelalak sambil membekap mulut karena spontan memekik kaget.


...***...



Ini Nopia. Salah satu oleh-oleh khas Banyumas.


Dari luar, nopia berwarna putih, namun di dalamnya makanan ini memiliki isian gula merah. Beberapa nopia juga diisi dengan coklat, durian dan juga pandan.


Sc : gotravelly.com

__ADS_1


__ADS_2