
Sawer Panganten. Menjadi prosesi terakhir dan dinanti penuh keriaan seluruh tamu. Makna sawer lebih dari sekadar berbagi rejeki dengan melemparkan uang lembaran dan recehan serta permen. Isi sawer merupakan pepatah dari orang tua kepada anaknya yang akan menjalani kehidupan baru, yakni berumah tangga.
Sebagian tamu undangan tetap duduk di kursinya, sebagiannya lagi merangsek ke depan. Bagaimana tidak antusias, melihat mewahnya acara, para tamu menerka jika sawerannya pun akan wah.
"Aa, ayo turun! Bantuin mulung sawer cepetan!" Ami menarik tangan Zaky yang berasa di pelaminan berdiri berjajar dengan Ibu, Mami Ratna, dan Papi Krisna.
"Nggak bisa, Mi. Minta bantu Teh Aul aja. Aa kan bagean lempar sawer sama Ibu." Ami mengerucutkan bibir turun dari pelaminan dengan raut kecewa. Biasanya setiap menghadiri hajatan, Zaky suka diandalkan untuk membantu menangkap saweran di udara karena tubuhnya yang tinggi. Dan hasil tangkapannya lebih besar dari yang ia dapat hasil memungut di lantai.
Ami mengedarkan pandangan mencari keberadaan kakak keduanya. Sementara acara sawer akan segera dimulai.
"Ami---"
Ami menoleh ke asal suara beserta lambaian tangan. Ia melangkah mendekat ke kursi baris ketiga sambil tetap mengedarkan pandangan.
"Ami nyari siapa!" Cia memang memperhatikan gerak gerik Ami yang turun dari pelaminan yang menekuk wajah.
"Nyari Teh Aul. Pengen minta bantu mulungin sawer biar aku dapat banyak. Aa Zaky gak bisa bantu karena nemenin Ibu nyawer. Kak Cia liat Teh Aul nggak?" Ami gelisah menatap ke depan. Bung MC tengah memberi arahan agar tertib, tidak saling dorong.
Cia menggeleng. "Nggak liat. Dibantuin Kak Damar aja ya! Kan badannya tinggi jadi bisa nangkepin di atas." usulannya dianggukki Ami dengan wajah semringah.
Cia beralih menatap Damar yang mengangkat satu alis. Ia tersenyum dan berbisik, "Ami kocak lho orangnya. Kita jadi bisa ngerasain serunya punya adik. Bantuin ya, kak!" ujarnya diiringi kedipan mata. Sama-sama sebagai anak bontot dari dua bersaudara. Bedanya, kakaknya Damar perempuan dan sudah menikah. Tinggal di Bali bersama keluarga kecilnya.
"Ayo, Mi. Sama Kak Damar dibantuin." Damar bangkit dari duduknya. Mencari posisi yang pas di sebelah kiri dan Ami berada di depannya.
Wajah Puput kembali berseri usai mendapat touch up oleh perias. Tak ada lagi sembab. Duduk bersama sang suami di kursi yang telah disediakan di bawah pelaminan. Rama menggenggam tangannya erat, saling melempar senyum.
Sang pengantin dipayungi dua orang pagar bagus, yang merupakan teman sekolahnya Zaky. Senandung kawih sunda berisi pepeling (petuah) mengalun merdu dibawakan oleh juru sawer, diiringi denting kacapi dan suling. Sangat syahdu. Dengan berakhirnya kidung, hadirin mulai riuh meminta saweran segera dilempar.
Tidak ada recehan. Uang kertas mulai nominal 5 ribu sampai 100 ribu yang dikemas dalam plastik mika bersama permen, dilempar dari atas pelaminan oleh kedua orangtua. Suasana riuh sukacita anak dan dewasa menangkap dan memungut uang yang dilempar sangat banyak itu. Sang pengantin pun ikut melemparkan uang yang disodorkan Mami. Semua tertawa riang.
Cia antusias menyambut kedatangan Damar dan Ami usai saweran berakhir.
"Dapat berapa, Kak? Sini aku bantu hitung." Cia dengan semangat menghitung hasil tangkapan Damar di pangkuannya. Mulai uang 10 ribu sampai 100 ribu. "Wow, dapat 390 ribu."
"Aku dapat 95 ribu." Ami selesai menghitung pendapatannya dengan girang. Baru kali ini dapat sawer uang besar. Biasanya dapat recehan dan lembaran 2 ribuan.
"Nih buat Ami semua." Cia menyerahkan hasil tangkapan Damar.
"Beneran semuanya, Kak?!" Ami membelalakkan mata menatap Cia dan Damar. Yang dijawab anggukkan keduanya dengan senyum.
"Iyes. Alhamdulillah." Ami berlonjak kegirangan. "Makasih, Kak. Mulai sekarang Kak Damar lulus jadi fans aku dong." Dimasukkannya semua uang ke dalam tas selempangnya. Lalu meraih tangan Damar, menciumnya. Berlalu pergi menuju sepupu sebayanya sambil bersenandung.
Cia tertawa renyah melihat Damar yang melongo dengan tingkah Ami. "Udah jangan heran. Pokoknya setiap cowok ganteng yang ngasih upeti sama Ami, bakalan dianggap fansnya. Kamu itu fans ketiga setelah Kak Rama dan Panji." Tawanya masih berderai.
"Eh nggak kebalik ya? Harusnya aku yang jadi idola dong." Damar masih diliputi keheranan.
"Okelah kalian para cowok ganteng di luaran sana jadi idola. Tapi di mata Ami kebalikannya. Aku suka pede nya dia ngasih stempel 'Fans' pada kalean....." Cia tertawa cekikikan.
Damar tersenyum simpul. Senang sekali melihat Cia terlihat riang. "It's oke. Aku juga punya idola yang aku puja sejak dulu."
Cia mengendurkan tawa, menormalkan bibirnya. Matanya memicing dan bertanya penuh penasaran dan curiga. "Siapa?!"
Damar memiringkan badan mendekati telinga Cia dan berbisik, "Kamu."
Membuat Cia memukul bahu Damar dengan wajah merona merah.
...***...
Sesi foto-foto pengantin dan keluarga sudah dilalui. Giliran para tamu naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat yang dilanjutkan dengan santap saji.
"Selamat menempuh hidup baru, jawara. Saya taunya ini acara lamaran. Jadi gak bawa kado. Nanti ya kadonya nyusul." Kang Acil menyalami Puput kemudian Rama. Datang bersama 7 perwakilan anggota SILATurahmi. Kentara turut berbahagia.
"Hehe...judulnya mendadak nikah, Kang. Nggak papa, mohon dido'akan saja." Sahut Puput. Yang kemudian mengabadikan kebersamaan dalam jepretan kamera.
Rata-rata tamu yang bukan keluarga menyampaikan keterkejutannya. Karena undangan digital yang diterima adalah the engagement. Sehingga tidak siap membawa kado. Dan Puput ataupun Rama memberi jawaban yang sama, "Mohon do'anya saja." Pun ia sudah sepakat dengan Rama, tidak menyediakan kotak amplop.
"Put, selamat ya. Aku nggak nyangka kamu nikah secepat ini." Idam. Ia datang secara gentle seorang diri. Karena sampai saat ini belum menemukan wanita yang mengisi kekosongan hati setelah asanya dipatahkan Puput.
Puput tersenyum kecil. "Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi hari esok. Termasuk urusan jodoh. Makasih ya udah mau datang. Jangan lupa undang aku kalo kamu nikah."
Idam mengangguk diiringi senyum. Berusaha tegar meski hati pedih.
__ADS_1
"Makasih ya kehadirannya." Rama buru-buru mengulurkan tangan. Memutus pandangan Idam yang menatap lekat terhadap Puput. Ia bisa membaca raut patah hati di wajah sang tamu itu.
Manajer Hendra datang berdua bersama istri. Dengan tulus mengucapkan selamat dan mendoakan segera memiliki momongan.
"Anak saya tiga, otewe empat. Jangan kalah ya!" Terkekeh sambil mengelus perut sang istri yang hamil berusia 4 bulan.
"Wah PaK Hendra rajin ngadonan ya. Oke deh aku juga bakalan lembur." Rama menggoda manajernya itu. Kedua pria itu tertawa bersama. Mengabaikan para istri yang mesem-mesem.
Antrian selanjutnya disambung para staf RPA. Diantaranya ada Septi yang dengan ramah memberi ucapan selamat. Puput menatap seksama manik mata Septi saat menyalaminya.
Band Axel yang digawangi Adi dan satu orang penyanyi wanita, mulai menghibur para tamu yang masih antri mengucapkan selamat dan yang tengah santap saji. Sebuah lagi milik Chrisye, Kala Cinta Menggoda, kini tengah mengalun dengan mimik ceria dibawakan Adi.
Sejak jumpa kita pertama, kulangsung jatuh cinta
Walau kutahu kau ada pemiliknya
Tapi 'ku tak dapat membohongi hati nurani
'Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini
Maka izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah aku sekadar sayang padamu
Maka izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah aku sekadar sayang padamu
"Sayang, mau nyanyi?" Bisik Rama begitu tamu undangan mulai renggang. Ia terkesan dengan lagu yang dibawakan tunangannya Via itu. Karena sangat mewakili perasaannya.
Puput menggeleng. "Malu ah."
"Masa di acara sendiri malu. Di acara umum berani.0 Protes Rama dengan pandangan terfokus pada bibir sensual yang merah dan basah itu. Menggoda.
Puput terkekeh. "Oke deh. Tapi duet sama Aa ya?"
Rama menggeleng. "Aku nggak bisa nyanyi, hanya penikmat. Jagain kamu aja di panggung ya. Nggak boleh ada yang joged di dekatmu!"
Tidak banyak tamu yang diundang. Total dengan keluarga berjumlah 350 orang. Para tamu begitu menikmati pesta malam minggu ini dengan hidangan istimewa serta stan cemilan yang menggugah selera.
"Aw aw, Zaky!" Zaky menoleh pada suara pekikan yang menyebut namanya. Ia yang berdiri mendampingi ibu mendadak mengendurkan senyum melihat siapa yang datang.
"Zaky, kamu ganteng banget sih. Boleh selfie ya!" Tanpa menunggu jawaban, gadis remaja berambut panjang itu membuat pose. Meminta Zaky tersenyum dan merapatkan bahu. Mau tidak mau Zaky menurut. Kalau di tempat umum sudah pasti akan melengos dan kabur dari pengagumnya itu.
"Risa sama siapa kesini? Aku kan nggak ngundang kamu." Setengah berbisik Zaky bertanya pada Clarisa. Bahaya kalau ucapannya kedengaran ibu. Ia akan ditegur karena perkataannya terkesan judes.
"Aku diundang sama Ibu Sekar kok. Kemarin sama Lita aku makan di Dapoer Ibu. Terus ibumu bilang Teh Puput mau tunangan. Aku boleh datang. Eh ternyata jadinya nikahan ya. Untung aku bawa kado." ujarnya dengan menunjukkan kado berwarna pink yang ingin diserahkan langsung kepada pengantin.
"Kamu sih pelit sekali nggak mau ngundang aku. Aku kan fans kamu." Kali ini melayangkan protes terhadap Zaky dengan bibir mengerucut.
Zaky tidak menanggapi lagi. Membiarkan Clarisa bergerak menyalami Ibu dan terus melangkah menjauh sampai turun lagi. Ia memperhatikan dua temannya yang tertawa tanpa suara ke arahnya. Terlihat puas meledek.
"Aduhh, maaf---" Aul terkaget saat berbalik usai mengambil eskrim, menubruk dada pria sehingga sebagian eskrim tumpah ke kemeja pria tersebut. Menatap rupa tampan yang terlihat kecewa.
"Aduh maaf ya, Kak. Aku gak tau ada orang. Maaf sekali lagi." Panik, ia mengambil tisu dalam sling bag nya. Sigap mengelap eskrim yang meleleh membasahi dada kiri. Mencetak basah di kemeja slimfit berwarna navy itu.
"Aku maafin tapi ada syaratnya." Pria tersebut mulai bersuara selesai Aul mengelap noda itu.
"Apa syaratnya?" Dengan berat, Aul bertanya.
Pemuda itu tersenyum kecil. "Kita kenalan. Masukkan nomer hapemu di sini." Diserahkannya ponsel miliknya ke tangan Aul.
"Namaku Anggara. Aku temannya Puput. Nama kamu?" ucapnya sambil memperhatikan Aul yang seolah terpaksa mengetikkan nomer.
"Aulia." Diserahkannya lagi ponsel milik pemuda bernama Anggara itu. "Sudah ya berarti." lanjutnya bersiap pergi.
"Sebentar!" Anggara melakukan miss call untuk memastikan nomer yang diketik Aul benar. Terdengar dering dari dalam tas gadis itu. Ia tersenyum senang. "Save nomerku ya. Dan makasih untuk nodanya."
Aul tersenyum kaku. Sedikit menganggukkan kepala, ia berlalu dari depan stan eskrim itu. Tidak tahu, jika sedari tadi ada sepasang mata yang menyaksikan interaksinya.
Tiba waktunya bung MC memberi kehormatan kepada pengantin yang akan bernyanyi. Puput memilih tetap berdiri di panggung pelaminan, berdiri lebih maju ke depan.
__ADS_1
Intro dimainkan. Lagu slow yang romantis mendukung adegan sepasang pengantin yang berdiri berhadapan. Tangan kiri Puput berada di pundak Rama. Sementara kedua tangan Rama memeluk pinggang Puput. Adegan romantis yang mengundang perhatian semua tamu tertuju padanya.
Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hatiku terdalam
Sungguh aku cinta padamu
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku
Kontak mata keduanya tiada putus. Puput begitu menghayati lagunya dengan sorot mata berbinar. Rama mengulas senyum meresapi lirik lagu sebagai curahan hati istrinya itu.
Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini kulakukan
Karena kamu memang untukku
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku
Seumur hidupku
(Afgan - Bukan Cinta Biasa)
Di sudut panggung musik. Via tersenyum lebar melihat keromantisan sahabatnya itu. Ia ikut bahagia melihat Puput yang selama ini jaga gengsi tidak memperlihatkan ketertarikan kepada sang boss RPA. Nyatanya malam ini, isi hati tercurah lewat lagu.
"Adi, nanti nikahan kita jangan kalah romantis ya. Issh mereka bikin baper." Via memekik gemas. Menoleh pada sang calon suami yang tengah makan.
"Iya, yank. Nanti aku yang nyanyi, kamu salto ya!" ucapnya dengan santai. Berbuah hadiah cubitan di pinggang sampai ia mengaduh dan terkekeh.
...***...
Acara berakhir pukul 10 malam. Keluarga pun sudah kembali pulang ke rumah. Meninggalkan dua insan yang bergandengan tangan menuju kamar pengantin.
Wangi semerbak bunga tercium saat pintu dibuka. Pintu kamar tidak lupa dikunci setelah masuk. Rama menahan tangan Puput yang mau mengurai pegangan.
"Aku mau ganti baju." Sorot mata Puput meminta pengertian.
"Nanti dulu." Rama menghentak tangan Puput. Sehingga tubuh ramping itu menubruk dadanya yang tengah bersandar di pintu. Pandangan keduanya beradu dengan tubuh saling menempel rapat.
Dalam heningnya malam, keduanya diam sesaat seolah saling mendengarkan degup jantung yang berdetak kencang karena dada saling menempel tanpa celah. Rama mengurai tangan yang merengkuh ketat pinggang Puput. Beralih menangkup wajah istrinya itu yang bersemu merah.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
"Lagi pada nunggu apa?"
__ADS_1
"BUBAR. BUBAAAARRR!"