Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
72. Yang Datang dan Pergi


__ADS_3

Rama sudah melangkah setengah jalan saat mendengar teriakan Puput. Kondisi jalan tengah ramai lancar saat ia menyebrang sendirian. Karena Sodiq yang tadi berangkat mengawalnya tengah mampir ke warung kopi. Jelas kaget saat menyadari ada motor melaju kencang mengarah padanya. Sepersekian detik berpikir untuk menghindar mundur atau berlari menyebrang. Mundur resikonya tersenggol mobil.


Jerit kepanikan dari dua pengunjung yang baru keluar dari butik bersamaan dengan tangannya dihentak keras. Terhindar dari pemotor, terhuyung menimpa Puput yang terjerembab karena kehilangan keseimbangan. Sigap satu tangan Rama mengganjal kepala Puput yang akan membentur aspal. Tangan kanan menahan agar badannya tidak lama menindih sang kekasih yang terkungkung di bawahnya.


"Sayang, ada yang sakit?" Rama membantu Puput berdiri dan menatap penuh kekhawatiran sambil memegang bahu.


"Aku gak papa." Puput masih tersengal karena ketegangan setelah aksinya menarik tangan Rama setengah melingkar ke arah kiri. Menghindari pemotor yang berboncengan, yang mata tajamnya menangkap orang yang dibonceng membawa pisau sejenis belati. Ditambah jantung yang berpacu cepat karena tubuhnya sempat tertindih tubuh Rama.


"Itu pasti geng motor. Berani sekali siang-siang bikin ulah. Sekarang emang lagi viral ulah geng motor bikin resah."


"Tapi kalau geng motor biasanya knalpotnya bising. Ah, yang penting mas sama mbak nya selamat deh. Heroik deh istri Mas nyelamitin tadi. Saya jadi teriak panik."


Ucapan dua orang wanita pengunjung butik itu ditanggapi senyum oleh Rama dan Puput. Keduanya segera masuk ke dalam, tidak ingin lama menjadi tontonan orang-orang yang mendekat penuh keingintahuan. Puput baru sadar jika Rama merangkum bahunya setelah tiba di dalam. Pantas saja kedua orang pengunjung tadi mengiranya sebagai pasangan suami istri.


Rama menceritakan peristiwa barusan kepada Bibi Ratih. Tentu saja ditanggapi dengan kaget. Sama-sama melihat rekaman ulang dari kamera pengawas. Tapi motor yang melaju kencang itu tidak terbaca plat nomornya. Masih terus dibahas sampai acara makan siang bersama di restoran. Menduga, benarkah itu ulah geng motor yang random mencari korban ataukah suruhan orang yang sengaja ingin mencelakai. Tidak terpecahkan. Sehingga Bibi Ratih mengingatkan untuk hati-hati saat berada di jalan.


Saat pulang sore hari dari kantor, Rama mengantar Puput sekaligus pamit kepada Ibu Sekar karena besok akan pulang ke Jakarta dengan pesawat pagi dari Tasik. Tak lupa meminta maaf karena tidak bisa hadir saat opening "Dapoer Ibu" yang papan namanya sudah terpasang. Dimana ia baru saja menyempatkan melihat ke dalam bangunan warung nasi yang sudah selesai itu, melihat kedatangan mobil pengangkut meja kursi. Nampak Aul dan Zaky disibukkan untuk menata. Ada Ami juga yang ikut merecoki membantu sebisanya.


Selepas magrib Puput masih diam di atas sajadahnya. Sudah mengaji dua lembar ayat, menunggu waktu isya. Ingatannya melayang pada peristiwa siang tadi. Ia memang bungkam tidak mengatakan jika si pembonceng membawa pisau. Tidak ingin membuat Rama dan Bibi Ratih risau.


"Ini lokasinya di kamar Zara. Waktu aku ada misi mencuri hape barang bukti kejahatan Rio. Aku ceroboh, gak ngira di kamar itu ada cctv. Dia memang agresip mepet-mepet terus."


Puput mencoba menganalisis. Klarifikasi Rama waktu itu soal foto adegan Rama yang berada di atas tubuh Zara. Itu karena sebelumnya ditarik paksa hingga terhuyung menimpa tubuh Zara yang juga jatuh telentang di tepi ranjang.


"Septi gak masuk lagi, Put. Aku denger alasannya nungguin ibunya yang sakit."


Informasi dari Via tadi di kantor, membuatnya harus sabar untuk bisa mengintrogasi supervisor store itu. Ia sangat ingin tahu sejak kapan Septi mengenal Zara. Hingga bisa-bisanya melakukan kerjasama menjebaknya bertemu mantan tunangannya Rama itu. Bertemu hanya untuk mendengarkan citra buruk seorang eksekutif muda, Rama Adyatama.


"Makasih, sayang. Kamu udah nyelamatin nyawa aku." Berkali-kali Rama mengatakan itu saat kembali ke kantor dan di jalan saat pulang. Dengan penuh kebanggaan.


Puput menghela nafas. Semoga saja memang peristiwa tadi siang hanyalah kejahatan jalanan yang bukan disengaja menjadikan Rama sebagai target. Meski ia sedang mencoba menyimpul benang merah dari setiap kejadian. Lamunananya harus terbuyar oleh ketukan di pintu kamar dan suara Aul memanggilnya.


Ternyata bukan hanya Aul, ada ibu juga yang ikut masuk sambil menenteng paper bag kecil pemberian Rama sore tadi. Jadinya bertiga duduk di atas ranjang.


"Teh, aku udah edit iklannya nih. Ada yang kurang nggak?" Aul menyerahkan ponselnya. Memperlihatkan video berdurasi 60 detik tentang iklan Dapoer Ibu lengkap dengan varian menunya.


"Wow keren ini. Bagus...bagus." Puput puas dengan karya adiknya itu. Yang bersiap akan di share di media sosial mulai besok.


"Keputusan Ceu Nining gimana, Bu?" Puput sudah meminta pedagangnya Ibu dulu, untuk menjadi pegawai tetap bagian dapur sebagai asisten ibu. Ditambah satu orang yang masih kerabatnya sudah ia rekrut sebagai pelayan warung nasi.


"Siap, katanya. Ibu udah bilang mulai kerjanya hari minggu." Sahut Ibu yang kemudian beralih membahas paper bag kecil yang dibawanya.

__ADS_1


"Teteh tahu kalau isi kantong ini amplop uang?" Ibu mengeluarkan amplop coklat dari dalam paper bag bersimpul pita itu.


Puput yang masih dalam balutan mukena, menggeleng. "Aku malah baru liatnya pas Aa Rama turun dari mobil. Isinya berapa, Bu?"


"Belum ibu buka. Makanya dibawa ke sini biar teteh lihat. Aul coba periksa!" Dengan antusias Aul membuka amplop yang terlipat dua itu. Mengeluarkan isinya.


Satu gepok uang 50 ribu dengan bandel Bank Indonesia berada di tangan Aul. Bau aroma khas uang baru menguar. "5 juta, Bu." Pekiknya penuh keriaan.


"Alhamdulillah, rejeki yang tidak disangka." Sahut Ibu penuh syukur. Yang saat menerima paper bag tadi, Rama hanya bilang 'ini untuk Ibu'.


...***...


Sabtu pagi menyapa. Cia menatap tampilan dirinya di depan cermin. Memastikan kerapihan baju dan pasmina yang melekat membalut kepalanya. Damar sebentar lagi akan sampai. Begitu kabar yang diterimanya subuh tadi. Sahabat kakaknya itu mengkonfirmasi berangkat dari Jakarta jam 3 dinihari agar jalanan lengang. Sebenarnya ini dari dulu adalah komunikasi biasa. Ditanggapi dengan rasa senang yang juga biasa. Namun setelah mengetahui rahasia tentang Damar yang memendam rasa, pengaruh ke hatinya pun kini menjadi tak biasa. Grogi dan dan jantung berdebar kencang.


"Kak, mau berangkat sekarang?" Sapa Cia yang baru keluar dari kamar, mendapati sang kakak tengah mencium punggung tangan Enin berlanjut ke Bibi Ratih.


"Iya. Dek, jangan lupa agenda hari ini temani Puput!" Rama mengusap kepala Cia yang memeluknya. Mengingatkan sang adik yang sehari ini akan menemani Puput mengurus persiapan acara lamaran. Menemui WO, survey venue, dan hal lainnya.


"Sure. Kakak juga jangan lupa temani Mami belanja barang seserahan!" Semalam sudah ber video call dengan maminya yang memintanya pulang agar ada teman sharing saat memilih barang untuk hantaran. Namun setelah diberi pengertian bahwa ia harus mengurus untuk persiapan di Ciamis, Mami pun mafhum. Dan meminta Rama yang harus segera pulang.


"Jangan lupa jaga kesehatan. Jangan terlalu capek kerja!" Enin mengingatkan sang cucu yang bersiap keluar.


"Iya, Enin."


"Kok bisa barengan?" Rama menerima adu tos dari Damar dan Panji, disusul pelukan saling menepuk punggung.


"Ketemu di Malangbong. Pas nyiap 3 mobil berurutan, eh paling depan ternyata mobilnya Panji." Jelas Damar yang kemudian beralih menatap Cia. Mengulas senyum simpul.


"Wah...ternyata bukan hoax ya. Kamu beneran pakai jilbab." Damar dengan santai melipat kedua tangan di dada, mengamati penampilan Cia dari atas sampai bawah. "So beautiful!" Dua acungan jempol diangkat ke depan.


Membuat Cia salah tingkah dengan wajah tersipu malu. Ia yang biasanya tanpa beban menyambut Damar dengan mencium punggung tangannya, kali ini mendadak canggung dan hanya berdiri dengan tangan memilin ujung blouse.


"Ah paling nutupin rambut salah potong ya?!" Keisengan Panji yang menggosokkan tangan di atas kepalanya, sedikit membuat Cia keluar dari rasa canggung. Mengeplak lengan sepupunya itu sambil mendelik. Damar yang menyaksikan hanya terkekeh.


"Gue berangkat dulu. Jangan lupa senin masuk kerja. Awas!" Rama memperingati Damar sebelum masuk ke dalam mobil.


"Ck, baru juga nyampe dah diwarning aja." Protes Damar. Mencoba nego cuti sehari, namun Rama menggeleng.


"Gue bakal repot nemenin Mami prepare lamaran. Jadi lo harus stay di kantor." Tegas Rama. Lalu melambaikan tangan usai mengucap salam.


"Masuk yuk, Kak!" Cia mengajak Damar mengikutinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Panji yang sepertinya tengah menelpon.

__ADS_1


Panji memang tengah antusias menghubungi seorang gadis. Mengingatkan akan hutang janji yang harus dibayar. Tidak lama panggilannya tersambung dengan ucap salam terdengar dari sebrang sana.


"Aul, apa kabar?" ujar Panji usai menjawab salam dengan wajah semringah.


"Alhamdulillah baik, Kak."


Jawaban singkat terdengar kaku dan gugup. Panji menunggu Aul bertanya balik, namun yang ada hanya keheningan.


"Hm, Pinokio mau nagih penjelasan. Nanti jam 7 malam aku jemput ya. Jelasin sambil dinner. Oke?" Panji menahan tawa akan aksi modusnya itu.


"Hmm gimana ya?!" Suara Aul terdengar bingung.


"Kenapa? Apa akan ada yang ngapel?"


"Nggak ada. Aku cuma nggak mau pergi berduaan. Boleh nggak ngajak yang lain?"


Panji menghela nafas. Padahal inginnya malam mingguan berdua. Sengaja pulang dari Bandung bukan hanya kangen pada sang bunda tapi juga untuk pendekatan sama gadis yang saat bersamanya menjadi pendiam kalau tidak ditanya lebih dulu. "Mau ngajak siapa?"


"Sama Ami. Kalau keberatan, maaf aku gak bisa pergi."


"Oke. Deal."


...***...


Ruang tunggu bandara Wiriadinata di akhir pekan ini nampak ramai oleh calon penumpang tujuan Jakarta. Rama dan Puput duduk bersisian. Masih leluasa waktu menunggu waktunya take off. Sengaja Rama menjemput sang kekasih yang ikut mengantar sampai bandara, lebih awal untuk memanfaatkan quality time.


"Coba ada jadwal terbang tiap hari. Jadi aku bisa besok pulangnya. Aku masih kangen sama calon istri." Keluh Rama. Dengan satu tangan melingkar di sandaran kursi Puput. Merasa berat untuk pergi.


Puput terkekeh. "Hanya berpisah seminggu, sabar. Nanti kan bisa vc an." Memang jadwal penerbangan Tasik-Jakarta belum rutin tiap hari. Hanya Selasa, kamis, dan sabtu. Dan bisa dibilang belum lama beroperasinya.


"Neng, aku ingin acara lamaran nanti berkesan manis untuk kita dan para tamu. Jadi kamu jangan sungkan pakai uang berapapun juga. Ini moment sekali seumur hidup." Rama mengusap puncak kepala Puput. Diiringi harapan dalam hati semoga mojang Ciamis itu menjadi jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untuknya.


"Baiklah." Puput penuh senyum menatap manik mata hitam yang memancarkan binar cinta itu. Tanpa terasa waktunya berpisah tiba.


"See you next saturday." Rama berdiri dengan enggan. Kembali mengusap puncak kepala Puput.


"Fii amanilah, calon imam. Bekerja dengan tenang. Dan jangan ragukan kesetianku." Lugas Puput. Lalu mengambil tangan Rama dan menciumnya.


Sebuah kemajuan sikap terbuka mengekspresikan rasa. Yang membuat senyum di wajah Rama merekah sempurna. Ia sangat senang diperlakukan demikian oleh kekasihnya itu. Dada penuh luapan bahagia. Membuat langkahnya ringan dan tenang meninggalkan kota kecil itu. Dua kali membalikkan badan sekadar untuk melambaikan tangan sebelum pandangan terhalang sekat kaca pemisah.


Puput masih betah dalam posisinya duduk di ruang tunggu. Saat pesawat benar-benar pesawat telah mengudara, barulah melangkahkan kaki meninggalkan bandara kecil itu. Beranjak menuju parkiran.

__ADS_1


Mobil Pajero sengaja ditinggalkan Rama dengan memilih pulang jalur udara. Selain untuk memangkas waktu perjalanan, ia ingin memfasilitasi sang kekasih untuk mobilisasi yang nyaman.


Puput bersiap menjemput Cia. Mulai hari ini sampai seminggu ke depan ia diharuskan cuti kerja oleh Rama. Demi keleluasaan mempersiapkan opening Dapoer Ibu dan juga persiapan acara lamaran minggu depan.


__ADS_2