
Tiba di rumah Enin, bertemu Damar dan juga Panji. Puput berbincang santai dengan keduanya sambil menunggu Cia yang tengah bersiap.
"Mumpung ketemu Teh Puput di sini, sekalian mau minta ijin ah. Nanti malam aku mau ajak Aul dan Ami makan di luar ya, Teh." Ucapan Panji mendapat deheman dari Damar. Ia hanya melirik dengan memicingkan mata.
"Awas, Put. Modus itu---" Ledek Damar yang membuahkan kepalan tinju dari Panji.
Puput terkekeh. "Kalau Aul nya mau ya boleh. Tapi maksimal jam 9 harus sudah pulang ke rumah."
"Inget tuh rule nya!" Sahut Damar. Senang sekali menggoda pemuda seusia Cia itu. Dengan lugas Panji menjawab siap.
Puput beralih meninggalkan keduanya setelah melihat Enin keluar dari mushola. Mencium punggung tangan sepuh yang baru selesai shalat Duha itu.
"Enin, insyaa Allah senin besok mau syukuran pembukaan warung nasi. Jika berkenan, kami mengundang Enin sekeluarga untuk hadir. Mulai acaranya jam 10." Puput tidak hanya datang untuk menjemput Cia, sekalian juga menyampaikan pesan Ibu.
"Alhamdulillah, Enin ikut senang. Insyaa Allah nanti datang. Kangen makan pepesan." Enin terkekeh pelan. Beliau juga mewanti-wanti Puput dan Cia yang bersiap pergi, agar hati-hati.
Cia menghampiri Damar yang tengah menyeduh kopi di dapur. Aroma harum kopi hitam menguar tercium indera pembau. "Kak, aku tinggal dulu ya. Kak Damar ditemani Panji dulu. Kalau ngantuk, tidur di kamar Kak Rama aja." Tadi sudah diceritakan jika hari ini mau menemani Puput bertemu WO dan vendor lainnya.
"Oke. Asal nanti malam giliran temani aku cari angin." Damar mengangkat satu alis. Meminta jawaban persetujuan.
Cia penuh senyum menjawab dengan isyarat membulatkan dua jari tangan.
Saat mobil yang dikemudikan Puput melaju cukup jauh meninggalkan rumah, Cia berteriak seolah meluapkan sesak yang menghimpit dada. Membuat Puput terkejut, menoleh sejenak. Namun wajah Cia nampak semringah dan bersemu merah dengan senyum tersungging lebar. Bukanlah teriakan kesedihan atau kemarahan.
"Cia, kamu kenapa?" Puput dibuat penasaran dengan tingkah calon adik iparnya itu. Aneh, tiba-tiba heboh begitu.
Cia belum lantas menjawab. Malah senyam senyum sambil memainkan jemari, menautkan melepas, seperti itu terus. Mengekspresikan rasa yang tidak karuan.
"Put, aku beneran deg degan and salting ketemu kak Damar. Argghh, berarti aku beneran ada rasa sama dia dong ya." Cia tanpa canggung mencurahkan suasana hatinya. Menangkup kedua pipi, beralih menepuk-nepuk pelan.
Puput geleng-geleng kepala. Semakin dekat dengan Cia semakin tahu watak calon adik iparnya yang ternyata heboh itu. Seru juga.
"Ehmm, tinggal nunggu ditembak dong ya, hi hi hi. Gaskeun lah Mas Damar....biar cepat nyusul lamaran juga." Puput sengaja mencolek pinggang Cia. Menggoda gadis yang sama sekali tidak membantah ucapannya. Malah tersipu malu.
Tidak ada kendala jika uang yang bekerja. Semuanya di deal kan oleh Cia dalam satu hari ini setelah dirasa cocok dengan konsepnya. Puput lebih banyak menuruti ide Cia yang tanpa beban menyetujui besaran biaya. Meskipun Rama sudah sekian kali mengingatkan, ia tetap saja segan memakai uang sebanyak itu. Maka keputusannya tepat mengajak Cia. Membiarkan calon adik iparnya itu yang cerewet di depan WO dan vendor lainnya. Selepas ashar barulah bisa pulang.
...***...
Malam minggu yang cerah. Secerah suasana hati Ami yang diajak pergi jalan-jalan bersama Teh Aul dan Kak Panji. Duduk sendiri di jok belakang dengan leluasa menatap kaca jendela kiri dan kanan.
"Kak Panji, kita mau walking-walking ke mana ini?" Ami memecah kesunyian di dalam mobil karena penghuni di baris depan belum ada yang bersuara.
"Kata Teh Aul sih kita main ke AP." Panji menyahut dengan menatap sekilas dari rear vision mirror. Tersenyum geli dengan gaya bahasa Ami. Beralih melirik Aul yang bersamaan pula menolehkan wajah.
"Iyes. Aku suka....aku suka. Bisa cuci mata, ehehehe---"
"Ami, jangan centil!" Aul mengingatkan dengan sekilas menoleh ke belakang. Yang ditanggapi Ami dengan kode jari menggembok bibir.
Sampai di mall yang dituju, langsung menuju cafetaria. Panji memilih meja jajaran sisi yang tidak terganggu lalu lalang pengunjung.
"Aul sama Ami aja yang pesan makanan. Aku tunggu di sini." Panji menyerahkan dompetnya. Aul menggeleng. Enggan menerima dompet kulit berwarna hitam itu.
"Kan gak tau berapa yang harus dibayar. Kalau kurang gimana? Biar nggak bolak balik." Jelas Panji. Faham jika Aul sungkan memegang dompetnya. Akhirnya gadis itu mau menerimanya.
__ADS_1
"Kak Panji mau pesan apa?" Aul menatap paras tampan yang mengenakan polo shirt warna hitam itu. Lalu mengangguk setelah Panji menunjuk apa saja yang diinginkan.
"Kak, aku dibatesin gak harganya? Kan biasanya sama teh Aul nggak boleh lebih dari 50 ribu. Yaah palingan dapat mie ramen sama thai tea." Celetuk Ami yang membuat Aul memelototkan matanya.
Panji terkekeh melihat tingkah kakak beradik di depannya itu. "Bebas, Mi. Tanpa batas harga. Pilih menu sesuka hati Ami."
"Ugh, Kak Panji emang fans aku yang baik deh." Ami berjingkrak girang dan melakukan tos sebelum berlalu.
Sambil menunggu makanan diantar. Ami memilih berjalan-jalan menuju tempat permainan yang tidak jauh jaraknya. Meninggalkan dua orang dewasa duduk berhadapan terhalang meja.
"So, mau dijelasin sekarang?" Panji melipat kedua tangan di meja yang masih kosong.
"Jelasin apa, Kak?" Aul mengerutkan kening. Menyerahkan dompet yang isinya lembaran merah yang tidak tebal, juga terselip tiga kartu platinum dengan logo bank berbeda.
"Titip dulu di tas kamu ya. Nyimpen di saku suka jatuh." Panji beralasan. Menggeser lagi dompetnya ke tangan Aul.
"Jelasin soal nama Pinokio! Aku penasaran banget historynya." Sambung Panji. Ia menangkap rona merah di wajah Aul meski tengah menunduk memasukkan dompet ke dalam tas.
"Hmm itu.... maksudnya positif kok bukan body shaming. Kak Panji kan hidungnya mancung dan ujungnya tajam. Memang nggak nyambung dengan julukan Pinokio. Hanya menurutku kesannya lucu. Dan aku suka sama bentuk hidungmu itu." Aul memalingkan wajah yang merona ke arah kanan, menghindari tatapan Panji yang berwajah semringah mendengar penjelasannya.
"Suka sama hidungnya. Kalau sama orangnya gimana?"
Sayangnya, obrolan harus terjeda dengan kedatangan dua waiter yang membawakan pesanan. Diikuti kedatangan Ami yang membeli satu cup eskrim saus coklat.
...***...
Di sebuah cafe kawasan pusat kota Ciamis, diiringi alunan live musik akustik, ada dua sejoli yang juga tengah menikmati cerahnya malam minggu. Berbincang santai penuh canda dan kehangatan. Duduk di salah satu meja dengan pencahayaan lampu terang namun estetik.
"Karena adekku ini setelah berhijab makin cantik. Jadi betah pengen natap terus. Juga karena besok sore aku harus kembali ke Jakarta. Makanya dari sekarang puas-puasin mandang. Soalnya kamu gak bisa ikut pulang bareng aku." Damar malah dengan sengaja mencondongkan punggung dengan satu tangan menopang dagu.
"Ish nggak boleh natap terus. Dosa. Harus banyak tundukkan pandangan. Kalau sama pasangan halal sih boleh. Malah wajib. Biar hubungan makin mesra dan harmonis." Cia menghalangi pandangan Damar dengan telapak tangannya, dibumbui ceramah.
Damar perlahan menurunkan tangan Cia sampai ke bawah. "Kalau gitu ayo kita jadi pasangan halal. Biar aku bisa sering natap kamu tanpa berbuah dosa."
"Kak----" Ucapan Cia tercekat di kerongkongan. Kaget serta jantung mendadak berdegup kencang. Mungkinkah Damar akan menembaknya sekarang? Mendadak panas dingin.
"Aku serius, Cia. Aku sejak lama sayang sama kamu. Selalu ingin melindungimu. Selalu sabar, mengalah, dan menunggu, saat kamu memilih Adit. Dan kini aku ada kesempatan mengungkapkan rasa karena statusmu yang single."
Cia menyimak sambil menundukkan wajah dan menjalin jemari. Sambil berusaha membuat normal kerja jantung.
"Cia, bersediakah kamu menjadi calon makmumku, pendamping hidupku? Aku ingin menyempurnakan separuh agama dengan menikahimu."
Hening lima detik.
"Aku ingin setiap pagi mendengar omelanmu untuk sarapan, bukan lagi lewat hape, tapi langsung di telinga."
"Kak Damar----" Cia mendongak dengan mata berkaca-kaca. Tersentuh hati mendengar kata demi kata yang begitu tenang terucap serta tersusun rapih.
Damar merogoh saku celananya. Sebuah kotak kecil dibuka dan di simpan di hadapan Cia.
"Aku menantikan momen ini sudah sangat lama. Yang baru terwujud dalam mimpi saja. Berharap malam ini dream become true."
"Aku, yang selama ini kau anggap sebagai kakak, memberanikan diri melamarmu untuk menjadi istriku. Tidak ada janji yang muluk-muluk soal materi. Tapi aku berjanji akan selalu memberi bahagia."
__ADS_1
Air mata tak bisa dicegah. Luruh membasahi kedua pipi Cia. Terhanyut dengan tutur kata lugas bak ksatria.
"Citra Adyatama. Jika kamu terima lamaranku ini, please pakai cincinnya."
"Tapi jika kamu menolak, aku yang akan pakaikan cincin itu di jarimu."
Cia menyeka air matanya, lalu mendelik. Suasana haru nan syahdu berubah ingin tertawa. Namun ditahannya. "Lamaran aneh. Biasanya juga kalau nolak, tutup kotaknya atau balikin lagi." Sewotnya.
Damar tersenyum simpul. "Karena aku nggak terima penolakan. Aku udah sabar menjadi secret admirer. Aku selalu usaha dengan nikung di sepertiga malam. Berdo'a penuh harap agar kamulah jodohku."
Membuat Cia menundukkan kepala dengan kedua pipi yang semakin panas dan merona. Ucapan Damar tidak terkesan bualan umumnya pria yang mencari perhatian lawan jenis. Terasa kesungguhannya.
Hening sejenak melingkupi. Damar diam menunggu dengan kedua tangan terlipat di meja.
Cia mengangkat wajah usai memejamkan mata beberapa detik lamanya. Dengan berucap bismillah dalam hati. Diambilnya cincin bermatakan satu butir diamond itu. Disematkan di jari manis kiri, namun longgar. Berpindah ke jari manis kanan, pas. Indah berkilau pada jemari nan lentik itu.
"Alhamdulillah. YESS!" Damar berdiri dan berteriak sangat kencang dengan mengacungkan tinju ke udara. Sehingga semua mata memandang ke arahnya. Cia memilih menutup wajah karena malu.
...***...
Yang tengah dinner di mall bersiap beranjak pulang. Panji dan Aul berdiri bersisian menunggu Ami yang tengah antri membeli donat. Meski bukan donat madu seperti biasanya, anak gadis yang akan segera mondok di pesantren itu tidak keberatan. Bersedia masuk antrian panjang.
"Lanjutin obrolan yang tadi kepotong." Panji menatap Aul dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
"Hmm yang mana ya?" Aul nampak berpikir mengingat-ngingat. Ia sama sekali tidak peka akan maksud Panji.
"Kamu suka sama hidung aku. Sama orangnya gimana?" Panji mengulang pertanyaan itu.
Aul memilih menatap lurus ke depan mengawasi Ami yang tengah menunjuk-nunjuk jenis donat yang dimau. "Kalau aku nggak suka sama orangnya, aku nggak akan berada di sini."
Panji tersenyum lebar. Sebuah kemajuan komunikasi dari seorang gadis cuek yang mendadak menjadi pendiam setiap bersamanya. Mungkin malu. Tidak salah membawa Ami sebagai pencair suasana. Sepertinya butuh kesabaran ekstra untuk bisa terus mendekati.
"Udah selesai. Pulang yuk, Kak." Aul merangkum bahu Ami yang datang dengan menenteng kantong donat dan memberikan uang kembalian.
"Ami mau beli apalagi. Pizza mau?" Tawar Panji.
Ami menggeleng. "Lagi bosen pizza. Kan kemarin udah dari Kak Rama. Udah ini aja, Kak. Udah kenyang makan segala macem." Sahutnya sambil mengusap-ngusap perutnya.
Panji menepati aturan. Sampai di rumah jam 9 malam. Puput yang membukakan pintu meyuruhnya masuk dulu.
"Makasih, Teh. Sudah malam....lain kali aja." Panji pun pamit terhadap Aul dan Ami.
"Teh, salim dulu dong teh!" Ami yang baru saja mencium punggung tangan Panji, dengan polosnya menyuruh sang kakak dengan mencolek pinggang.
"Ish, Ami sana masuk!" Aul mengusir sang adik yang sering saja membuatnya malu di depan Panji. Ia lantas mengantar Panji sampai depan pagar besi yang masih terbuka lebar. Melambaikan tangan saat pemuda itu mulai melajukan mobil.
"Astagfirullah---" Aul memekik kaget. Terlonjak dari rebahannya di sofa di samping Puput. Sudah tidak ada Ami yang memilih masuk ke kamar menemui Ibu.
"Apa sih, bikin kaget aja." Puput mengambil ponselnya yang terjatuh ke pangkuan karena gerakan kasar Aul. Ia tengah senyam senyum berbalas pesan dengan Rama. Malam mingguan LDR-an.
Aul membuka tas, merogoh isinya. "Dompet Kak Panji ketinggalan. Tadi kan nitip di tas aku, Teh. Duh gimana ini----" wajahnya berubah menyesal. Menggaruk kepala yang tidak gatal. Bisa-bisanya sampai lupa untuk mengembalikan.
"Hmm, mau heran tapi ya begitulah Aulia. Miss Pelope." Decak Puput, memutar bola mata. Memilih berpindah duduk ke single sofa. Melanjutkan chat sambil menunggu Zaky pulang. Ia tidak akan bisa tidur sebelum ketiga adiknya lengkap berada di rumah.
__ADS_1