
Enam bulan kemudian
Bandung
Di taman kampus. Topi toga dilempar ke udara dengan sedikit lompatan serta senyum paling lebar. Di sisi kiri dan kanan ada Ayah Anjar dan Bunda Ratih tak kalah bergaya bebas dengan wajah semringah. Juga Padma berdiri paling depan memasang gaya imut. Jepretan kamera beberapa kali mengabadikan kelulusan Panji yang telah selesai menempuh program studi magister manajemen dengan gelar M.M
Penuh syukur di wisuda S2 nya itu, Panji ditemani keluarga lengkap. Yang kemudian Ayah Anjar membawa keluarga menuju restoran di kawasan Dago untuk melanjutkan perayaan dengan makan siang spesial.
Ayah Anjar dan Bunda Ratih sepakat membagi waktu dan tempat tinggal dengan bolak-balik Bandung - Ciamis selama enam bulan ini. Dengan alasan menunggu Padma selesai sekolah satu semester lagi. Sehingga saat minggu besok pindah rumah ke Ciamis, Padma memulai ajaran baru kelas enam di kota yang terkenal dengan oleh-oleh Galendo.
"Yah, abis ini liburan dulu ya? Sebelum pindah ke Ciamis." Ucap Padma penuh harap. Meja makan persegi panjang dipenuhi oleh hidangan lezat menggugah selera.
"Bunda, gimana?" Ayah Anjar meminta pendapat sang istri.
"Boleh, sayang. Besok kita ke Jakarta dulu ya, baru deh liburan. Padma pengen pergi kemana?"
"Hm, kemana ya?" Padma bingung sendiri. Mengetuk-ngetuk pelipis. "Kak, enaknya pergi kemana ya?" Ia beralih bertanya meminta pendapat pada Panji.
"Ke Bali aja deh. Lagi butuh healing ke pantai." Sahut Panji.
"Yes, Padma juga setuju. Bunda, boleh ajak Ami gak? Ada Ami seru. Ramenya berasa se RT. Hihihi." Padma langsung terbayang wajah si selimut. Membuatnya terkikik.
"Boleh. Kabarin aja Ami nya. Eh Ami udah di Jakarta apa masih di Ciamis ya?" Tanya Bunda Ratih.
"Semalam vc an masih di Ciamis. Kalo ibunya udah di Jakarta. Nanti katanya mau nyusul sama Teh Aul." Sahut Padma melapor dengan riang.
Tiba di rumah Ayah Anjar saat lembayung senja menghias cakrawala. Panji masuk ke kamarnya. Menyimpan jubah dan toga di kapstok. Ia lalu merebahkan badan di sofa. Dengan sedikit kurang bergairah meraih ponsel yang disimpan di meja. Membaca ulang pesan dari Aul jam 8 pagi tadi.
[Kak Panji, yeay...Alhamdulillah. Selamat untuk gelar barunya]
[Semoga ilmunya bermanfaat]
[Maaf gak angkat tlpnya. Lagi di RS, nemenin ibunya Kak Anggara]
Panji menyimpan kembali ponselnya. Menghembuskan nafas panjang dengan mata terpejam.
Aul, sebetulnya hatimu akan berlabuh pada siapa?
Ya Allah, apakah aku serakah dalam meminta. Keluargaku sudah utuh dan aku bersyukur. Tapi juga berharap jodohku adalah dia.
Hatinya gelisah. Kedekatan selama ini dengan Aul sangat menyenangkan. Tapi dibilang pacaran, bukan. Bersahabat, iya. Tapi perhatian mojang Ciamis itu berasa kekasih. Apalagi saat momen menyuapi es krim atau cemilan karena ia sedang tanggung fokus membalas email. Panji tersenyum miris. Lagu Gantung- Melly Goeslaw serasa pas untuknya.
...***...
Jakarta
Alhamdulillah. Telah lahir dengan persalinan normal jagoanku, Rasya Ruzain Adyatama. Do'akan agar menjadi anak sholeh.
Rama memposting foto bayi berusia dua hari di status juga di grup Brotherly Club. Sang jagoan mungil baru saja pulang ke rumah di dampingi Oma dan neneknya. Anteng tertidur lelap meski onty nya berkali-kali mengganggu agar bangun.
Ya. Ibu Sekar sudah berada di Jakarta tiga hari yang lalu saat Puput sudah mengabari sering kontraksi. Mami Ratna siaga menginap di rumah Rama karena tidak mau terlewatkan ingin mengantar ke rumah sakit. Tak ingin terlewat momen menyambut cucu pertamanya itu.
Ucapan selamat dari semua member hot daddy bermunculan. Juga dari teman-teman dan relasi yang membalas status nya itu. Rama tersenyum semringah. Lepas sudah dari ketegangan saat menyaksikan dan mendampingi Puput yang berjuang melahirkan bayi berbobot 3,2 kg. Yang lahir pas adzan isya.
Rama dan Puput sudah mempersiapkan momen persalinan dengan menyewa jasa Birth Photography. Kelak, akan menjadi kenangan dan diperlihatkan kepada sang buah hati saat sudah beranjak besar.
"Rasya, bangun dong. Ish, ini bibir gemes banget pengen dikaretin." Cia masih betah berada di samping box bayi. Beberapa kali memfoto. Yang diganggu tetap bergeming dengan tidur lelapnya karena sebelumnya sudah menyedot ASI dengan rakus.
"Bayi kalo siang memang suka anteng tidur. Nanti malam begadang deh Umma nya." Sahut Ibu Sekar. Cia manggut-manggut mengerti.
"Udah kita keluar dulu yuk. Puput harus istirahat." Mami Ratna menepuk bahu Cia mengajak keluar kamar menyusul Ibu Sekar yang sudah lebih dulu keluar barusan.
Rama menatap lembut Puput yang kini berbaring di ranjang. Beberapa kali menguap, terlihat sekali mengantuknya karena semalam kurang tidur. Ia kecup keningnya. "Tidurlah, sayang. Aa yang jaga Rasya."
"Aa juga tidur aja. Nanti juga kalo Rasya haus bakal merengek." Puput menepuk bantal sebagai isyarat. Karena Rama pun kelihatan kurang tidur. Selama di rumah sakit selalu menjadi Papa siaga.
Rama tak menolak. Ikut berbaring di sebelah kiri Puput. Dengan tangan saling menggenggam, keduanya segera terlelap dengan damai.
...***...
Ciamis
"Teteh, aku pengen ke Jakarta sekarang atuh lah." Ami merajuk. Ia sudah dua hari pulang ke rumah memulai libur kenaikan kelas. Di saat Ibu sudah berada lebih dulu di Jakarta.
"Sabar atuh, Ami. Teteh masih ada kuliah. Tunggu sabtu." Untuk kesekian kalinya Aul menenangkan Ami yang merajuk.
"Walah dua hari lagi. Lammaaa. Aduh keburu Rasya bisa merangkak atuh teteh. Aku naik travel aja sendiri berani kok." Ami mengekori Aul yang berjalan ke arah kulkas mengambil minuman dingin. Kakaknya itu baru saja pulang dari kampus.
"Ibu gak ngizinin. Sabar dong, Mi. Nanti kita berangkat bertiga pakai mobil baru. Ami kan seneng duduk di belakang sendirian sama sesajen. Kalau naik travel mana bisa gitu. Biar gak boring ikut Aa Zaky ke Padepokan gih." Bujuk Aul.
"Lagi males latihan ah." Ami menggedikkan bahu. Berjalan dengan langkah berat menuju sofa dan menjatuhkan tubuh menelungkup di sofa. Padma sudah mengabari lagi di perjalanan. Sekeluarga menuju Jakarta untuk menengok bayinya teh Puput. Dan Padma mengajaknya cepat-cepat menyusul karena mau diajak liburan ke Bali.
"Aha!" Ami terperanjat bangun. Mendadak ide terlintas di pikiran. Ia meraih ponsel dengan wajah berbinar.
...Guys, aku lagi gaslow pengen ke Jakarta. Pengen bertemu keponakan ucul namanya Rasya Ruzain Adyatama. Tapi harus sabar nunggu tetehku libur kuliah sabtu âšī¸đ...
__ADS_1
Status sudah terpasang. Ami berharap ada fans yang menolong. Untuk menghilangkan gabut, ia menonton Upin Ipin.
10 menit kemudian. Tring.
Ami bergegas membuka pesan dengan semangat.
Aa Zaky : [Lebay ih, Marimar đ]
Padma: [Sabar ya, Bestie. Padma ke Bali nya nunggu Ami kok]
Kak Cia : [Ulu-ulu....ada yg gaslow. Tenang...Kak Cia bakal tunggu Ami datang đ]
Ami malas membalas. Bibirnya mengerucut dengan wajah ditekuk. Tiba-tiba dering panggilan masuk terdengar. Secercah asa terbit.
"Assalamu'alaikum, Kak Akbar." Ami menyapa dengan semangat.
"Wa'alaikum salam. Mi, Kak Akbar lagi di Tasik. Mau pulang sekarang ke Jakarta. Ayo bareng aja. Nanti Kak Akbar jemput. Mau?"
Ami terlonjak berdiri dengan wajah semringah. "Cius, Kak?"
"Iya dong. Kak Akbar udah dua hari di Tasik nengokin hotel. Jadi gimana mau ikut gak?"
"Bentar, Kak. Mau izin dulu sama Teh Aul." Ami memutus panggilan.
Aul berada di Dapoer Ibu. Mengambil alih bagian kasir yang sedang sholat. Dengan ramah melayani tamu yang hendak membayar makan.
"Teteeeeh." Teriakkan Ami yang datang membuat Aul menempelkan telunjuk di bibir.
"Teteh, Kak Akbar lagi di Tasik. Sekarang mau pulang ke Jakarta. Ngajak aku bareng. Boleh ya, teh? Teteh telepon aja kalo gak percaya." Ami dengan antusias menggoyang-goyangkan lengan Aul di saat tamu ke kasir sudah kosong.
"Bentar teteh mau telepon ibu dulu. Izinnya harus dari Ibu." Aul mengeluarkan ponselnya. Tak lama kemudian tersambung dengan Ibu. Lalu ia sampaikan ucapan Ami. Terdengar pula suara ibu yang meminta pendapat Rama.
Tiga puluh menit kemudian, mobil vellfire hitam terparkir di depan rumah Ibu Sekar. Dua orang pemuda tegap turun dari mobil dan masuk ke pekarangan rumah.
"Kak Akbar, Kak Leo, nitip Ami ya. Keukeuh pengen ke Jakarta sekarang." Ucap Aul yang berdiri di samping Ami yang senyam-senyum.
"Iya, Aul. Emang aku yang ngajak kok. Langsung jalan aja yuk. Biar gak kemalaman sampainya." Akbar melirik jam di pergelangan tangannya.
Dengan membawa satu travel bag dan satu paper bag berisi cemilan serta boneka bantal, Ami berpamitan mencium tangan kakaknya itu. Zaky masih di Padepokan berlatih silat.
"Mi, paper bagnya mau simpan di bagasi juga?" Tanya Leo yang sudah menyimpan tas Ami.
"Nggak ini mah cemilan aku buat di jalan. Biar gak bosen." Sahut Ami.
Ami tak menyangka jika di dalam ada penumpang lain. Seorang wanita cantik sedang bermain ponsel di jok sebelah kiri. Bersikap acuh.
"Kak Leo duduk di belakang juga ah sama Ami." Ucap Leo yang menyusul paling akhir. Sementara Akbar sudah duduk di baris tengah sebelah kanan. Sopir pun mulai melajukan mobil.
"Pacarnya Kak Akbar." Sahut Leo tak kalah berbisik. Dan Ami membulatkan bibir.
Sudah hampir satu jam perjalanan penuh keheningan. Dan bagi Ami ini sangat membosankan. Ia melirik Leo yang anteng dengan Tab nya. Juga Akbar yang menunduk sepertinya sedang menekuri ponsel. Pun perempuan cantik itu senyam-senyum sendiri menatap layar ponsel.
"Kak Leo speak-speak atuh. Kasian itu mata disuruh kerja terus." Celetuk Ami yang sekilas menatap layar tab isinya grafik. Ia mulai merogoh ke dalam paper bag.
Leo terkekeh. "Bener juga. Untung Ami ngingetin. Ngapain ya kerja terus bikin si boss makin kaya."
"Heh, mulut lo." Sahut Akbar sembari memutar badan ke belakang. Mendelik kepada Leo.
"Mending kita makan ini deh. Mangga potong. Siapa mau? Ayo garpunya ada dua." Ami membuka kotak makan berisi potongan mangga harumanis.
"Pak, stop dulu!" Akbar meminta sopir menghentikan mobilnya. Meski heran, sang sopir menurut.
"Tukeran duduk. Gue pengen di belakang!" Akbar menatap Leo.
"Oh tidak. Gue lebih betah sama Ami. Banyak makanan. Apaan ini mobil eksekutif isinya air mineral doang." Leo bergeming.
"Ami geser duduknya di tengah!" Akbar mengacuhkan sindiran Leo. Ia kemudian duduk di sisi kanan.
"Sayang, kenapa di belakang? Aku sama siapa?" Wanita cantik dengan model rambut curly itu menatap protes.
"Kita masih semobil kok. Jangan manja. Lagian kamu juga lebih asyik sama hape." Sahut Akbar datar. Tak ada lagi protes terdengar. Mobil pun melaju lagi.
"Aduh, ini judulnya dikawal dua bodyguard tampan." Ami tersenyum menatap ke kiri dan ke kanan. "Markiman. Kak. Mari kita makan," sambungnya. Lebih dulu menusuk mangga dengan garpu.
"Kakak cantik, mau mangga juga?" Tanya Ami kepada penumpang di tengah.
"Ogah." Jawabannya judes.
Akbar lebih dulu mengambil potongan mangga. Lalu bergantian dengan Leo.
"Kak Leo, sebutkan minimal 3 macam buah dalam waktu 1 detik." Ami mulai riang karena kini penumpang mobil mau diajak bicara.
"Ya gak bisa sedetik. Harus tiga detik lah." Sahut Leo.
"Ah, kalah smart sama gadgetnya." Ami mendecak. Membuat Akbar yang sedang mengunyah mangga, terkekeh.
"Heh, jangan ketawa. Emang bisa jawab juga?" Hardik Leo kepada Akbar.
__ADS_1
"Kan yang ditanya juga elo." Akbar beralasan.
"Dah lah. Sama-sama gak smart. Jawabannya adalah rujak. Tau kan rujak isinya macem-macem buah." Ami menepuk dada merasa sudah menang.
Akbar dan Leo terkekeh bersamaan. Tidak kepikiran jawaban satu detik dengan menjawab rujak.
"Buah buah apa yang banyak dosanya, Kak?" Lanjut Ami dengan mulut penuh mengunyah.
"Mi, kalo nanyanya pergerakan saham, Kak Akbar bisa jawab." Sahut Akbar dengan bernada menyerah. Leo pun menggeleng tidak tahu.
"Jawabannya....SALAK-AN SAJA AKU TERUS." Ucap Ami dengan drama wajah sedih.
"Bhuhahaha." Akbar dan Leo tertawa lepas bersamaan. Perjalanan lama tidak lagi membosankan karena kehadiran Ami.
Mobil dua kali berhenti di waktu ashar dan magrib yang sekaligus makan malam. Itu pun Ami yang mengingatkan untuk sholat dulu. Semuanya menurut, kecuali pacarnya Akbar yang beralasan sedang halangan.
Perjalanan baru memasuki tol Cipularang. Ami mulai terkantuk-kantuk memeluk boneka bantal. Posisi duduk sudah berubah. Ia hanya berdua dengan Akbar. Hingga tak terasa bantal terlepas dan kepalanya mulai terkulai ke kanan.
Akbar sigap mengambil bantal yang akan jatuh. Menyimpannya di paha. Perlahan menarik bahu Ami karena kasihan dengan posisi tidur yang tidak nyaman itu. Merebahkan.
"Sayang, kamu bikin aku cemburu." Pacarnya Akbar itu hendak menyentuh tangan Ami yang kini tertidur miring di paha Akbar. Hendak membangunkan. Sigap Leo membentengi jalan di bagian tengah itu sembari menggelengkan kepala.
"Kamu ngomong apa sih. Ami ini anak SMP. Udah kuangggap adik. Sudah kubilang jangan ikut ke luar kota. Kamu bukannya jadi moodboster tapi bikin bad mood. Tiap aku deket cewek, cemburu. Bikin malu." Sahut Akbar bicara pelan menahan kesal.
"Itu karena aku posesif, sayang. Cewek Tasik pada jelalatan matanya liatin kamu." Sang pacar beralasan.
"Kamu childish, Vero. Dan aku gak suka." Sahut Akbar dingin.
Pertengkaran dua orang dewasa itu sama sekali tidak terdengar Ami yang terlelap nyaman memakai bantal di pangkuan Akbar. Tahu-tahu punggungnya ditepuk dan mobil tak lagi berjalan karena sudah tiba di depan rumah Rama.
"Nak Akbar, nak Leo, santai dulu di sini minum dulu ya." Ibu Sekar membujuk dua orang pemuda yang sedang berbincang dengan Rama di ruang tamu.
"Makasih, Bu. Ini udah malam. Mau lanjut nganterin teman ada di mobil, nunggu gak mau turun. Lain waktu aku kesini lagi. Belum ngasih kado buat baby born." Sahut Akbar tersenyum sopan.
"Kalo gitu makasih banyak udah nganterin Ami. Dari kemarin rewel pengen buru-buru kesini." Ibu mengusap kepala Ami yang duduk manja memeluk tangannya.
"Sama-sama, Bu. Pas banget aku mau pulang ke Jakarta dan baca status Ami." Akbar terkekeh.
...***...
Di hari ketujuh. Acara aqiqah baby Rasya telah berlangsung khidmat. Tamu undangan telah pulang. Seluruh keluarga besar hadir mengisi rumah Rama. Penuh keceriaan dan kebahagiaan melingkupi semua orang.
Baby Rasya kini berada di pangkuan Enin yang menatap penuh syukur karena masih bisa menyaksikan kehadiran cicit pertama. Di kiri dan kanannya ada Ami dan Padma yang antusias selalu ingin dekat dengan bayi montok itu. Sang bayi mengerjap-ngerjapkan mata menatap sekeliling. Mungkin merasa heran dengan keberisikan dua anak gadis itu.
"Ayang, mau makan sama apa?" Cia menghampiri Damar yang baru selesai menerima telepon di sudut taman.
"Mau makan kamu aja. Kan biar cepet jadi CiDa junior." Damar mendekap sang istri penuh sayang dan mengecup keningnya.
"Modus terus. Kalo tiap hari anu malah kurang bagus buat promil katanya." Cia mencubit punggung Damar yang masih mendekapnya.
"Ah teori. Kita nikmati aja, yang. Soal anak sedikasihnya aja kapanpun." Damar mengajak Cia masuk ke dalam rumah.
Di kursi kolam renang.
"Kak, makan dulu es krimnya tuh mau cair." Aul mengingatkan Panji yang anteng bermain game di ponsel.
"Tanggung. Dikit lagi naik level." Panji bergeming dengan gamingnya.
Aul menghela nafas. Ia mengambil cup es krim milik Panji itu. "Aku suapin aja ya?"
Panji tersenyum dan mengangguk.
Suara tangisan Baby Rasya terdengar kencang di pangkuan Enin. Ami dan Padma balapan berlari menuju lantai dua.
"Ummaaaa.....dedek Rasya mau ne nen." Kompak Ami dan Padma tanpa dikomando. Keduanya pun terkikik bersama.
Puput yang baru keluar kamar sampai geleng-geleng kepala. Tangisan bayi terdengar makin jelas dan dekat. Rupanya Rama membawanya.
"Ateu Ami, Ateu Padma, nanti lagi ya mainnya. Rasya mau bobo dulu." Ucap Puput dengan lembut. Kedua anak gadis itu mengangguk dan berlalu menuruni tangga.
Di dalam kamar. Rama duduk di samping Puput yang sedang meng ASI hi. Memperhatikan dengan senyum takjub aksi sang jagoan yang menyedot sumber nutrisi dengan rakus.
"Sayang, terima kasih. Kalian udah melengkapi kebahagiaan hidup Aa." Rama merangkum bahu Puput. Mengecup pipi sang istri penuh sayang.
"Sama-sama, Papa sayang. We love you." Puput menoleh dan tersenyum manis. Kedua bibir saling memagut di tengah sang baby anteng menyusu.
...T A M A T...
...1 Desember 2022...
...****************...
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Swt. Perjalanan kisah KCM selama 8 bulan sampai ke ujung cerita. Sebenarnya tak ingin usai. Namun setiap awal akan ada akhir.
Singkat saja. Terima kasih tak terhingga untuk semua yang telah mendukung dalam berbagai bentuk dukungan. Hanya Allah Swt sebaik-baik pemberi balasan.
Follow ig @me_niadar untuk tahu karya berikutnya.
__ADS_1
Pamit dari KCM. đ¤â¤ī¸â¤ī¸â¤ī¸
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh