Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
123. Selamat Datang Di Resepsi RamPut


__ADS_3

Menyambut sabtu pagi dengan penuh keriaan. Bukan saja karena hari ini Rama memulai cuti kerja, tapi karena vibes buka puasa semalam yang menambah semangat sejak bangun tidur.


"Spesial pagi ini, aku yang akan bikin sarapan." Rama memeluk Puput dari belakang. Mengendus rambut setengah basah yang tergerai. Sang istri sedang merapihkan tempat tidur yang acak-acakan karena peperangan semalam suntuk.


"Emang Aa bisa masak?" Nada tidak percaya terlontar dari bibir Puput.


"Bisa lah. Tapi bukan masak nasi goreng. Kan aku pernah lama di US. Ada tuntutan harus bisa masak karena gak mungkin tiap makan mesti ke resto atau beli fast food. Nggak sehat." jelas Rama lalu melepas pelukannya bersiap turun ke dapur.


"Sok atuh, aku tunggu sarapan buatan chef Rama. Udah lapar nih. Tenagaku tersedot habis gara-gara Aa." Puput memasang wajah lemas sambil melipat bed cover di ujung ranjang.


"Abis sarapan, lagi ya Neng?" Rama mengerling nakal.


"Nggak-nggak. Kan jam 10 mau ada pelatih dansa datang. Terus Mami sama Cia mau jemput ke spa bareng." Puput menolak tegas.


Rama tergelak karena penolakan galak. Menjawil dulu dagu Puput dengan gemas sebelum keluar kamar.


Aroma harum masakan terendus saat Puput menuruni tangga menyusul Rama ke dapur. Dan suaminya itu terlihat keren mengenakan apron. Membawa dua piring saji oval mengarah ke meja makan. Dua gelas teh chamomile sudah tersaji di meja makan.


"Silakan, Nyonya. Salmon sandwich ala chef Rama sudah bisa dinikmati." Rama membuka satu tangan dan sedikit membungkukkan punggung ala pramusaji di restoran hotel bintang lima. Membuat Puput terkekeh dan menghadiahkan satu kecupan di pipi sebelum duduk di kursi.


"Gimana sayang, enak nggak?" Rama antusias menunggu ulasan Puput yang sudah menggigit sandwich yang dipadu sayuran selada dan tomat buatannya itu.


"Hmm, maknyus." Puput mengacungkan dua jempol. "Gak nyangka deh Aa jago masak. Bumbu salmonnya pas. Apa aja nih bumbunya?"


"Pakai bumbu cinta." Rama mengedipkan mata sambil mengunyah sandwich hangat miliknya.


"Aeh, pagi-pagi kang panci mulai gombal nih." Puput tersenyum mesem. Lebih dulu menghabiskan sarapannya. Kentara sekali kombinasi lapar dan doyan. "Aku dah habis. Enak banget ini, kayaknya pakai micin ya, A'? Terasa ada manis manisnya gitu." Sambungnya sambil menjilati ujung telunjuk yang terkena mayones.


Rama menggeleng. "Nggak, Neng. Aku gak suka masakan pakai micin. Lagian mana ada micin manis." Ia pun sedang mengunyah gigitan terakhir. Menatap Puput dengan kening mengkerut.


"Ada dong. Micintaimu selamanya." Puput tertawa melihat Rama yang tersedak sedang meneguk teh. Ia lantas mengusap-ngusap punggung suaminya itu dengan sisa tawa yang masih melengkung di bibir.


"Hatiku meleleh denger gombalanmu, Neng. Maut banget." Rama menangkup wajah Puput dengan gemas. "Jangan lupa nanti malam harus bayar upah karena aku udah bikinin sarapan spesial ini." senyum dan tatapannya penuh arti.


"Ih, nggak ikhlas geuning." Puput mengerucutkan bibir. Yang langsung disambar Rama dengan pagutan dan ******* lembut. Masih, kedua tangan menangkup wajah Puput yang kini merona karena terpancing gairah.


"Udah ah, aku mau anu." Puput mengusap bibirnya yang basah. Beranjak dari kursinya.


"Mau apa, sayang?" ucap Rama yang melihat Puput membuka pintu belakang.


"Renang." Jawab Puput tanpa menoleh. Ia memang sudah berencana untuk berenang. Sudah mengenakan pakaian renang di balik dress selutut yang dikenakannya.


"Ikuuuuttt." Rama meneguk sisa tehnya. Beranjak setengah berlari menaiki tangga untuk mengambil celana renang.


Puput melihat Rama datang. Membuka kaos dan celana boxer disampirkan di kursi santai. "Beneran renang ya. Aa, jangan macem-macem!" ucapnya yang sedang melakukan stretching di pinggir kolam. Lalu membuka dress nya setelah dirasa cukup pemanasan.


Rama menelan ludah melihat Puput dalam balutan baju renang one piece warna hitam, yang mencetak lekuk tubuh singsetnya serta menonjolkan dada yang penuh. Kulit putihnya begitu kontras.


"Nggak akan macem-macem, Neng. Cuma satu macem." Rama tersenyum penuh arti.


...***...


Minggu siang, rombongan keluarga Rama dan Puput tiba di hotel bintang lima yang terletak di kawasan Jakarta Selatan. Karangan bunga ucapan Happy Wedding sudah berjajar sepanjang area menuju lobi hotel. Kiriman dari para relasi dan teman. Kamar-kamar sudah disiapkan untuk menginap keluarga. Tentu juga kamar pengantin yang paling istimewa di kelas president suite.


"Lihat kebunku penuh dengan bunga...." Ami riang bernyanyi memutari dekorasi bunga-bunga cantik berwarna putih di venue pernikahan kakaknya itu. Ia dan keluarga tiba di rumah Puput tadi malam bersama Panji yang menjadi sopirnya.

__ADS_1


Puput dan Rama sedang melakukan gladi resik untuk setiap sesi acara, yang dipandu tim WO. Juga mempraktekan hasil privat dansa kemarin di stage khusus.


Grand ballroom disulap begitu mewah bak negeri dongeng. Rama sangat puas melihatnya. Sudah sesuai ekspektasinya. Ingin memberikan resepsi terbaik sebagai tanda cinta pada sang istri yang tidak pernah neko-neko meminta ini itu. Menurut saja apa yang sudah diplanning olehnya.


Banyak sekali bunga-bunga putih menghiasi setiap sudut ruangan serta penataan cahaya yang indah membuat venue pernikahan semakin elegan.


"Teh Aul sama Kak Panji nanti dansa juga?" Ucap Ami yang juga berdiri di bawah panggung, menonton Rama dan Puput yang sedang berdansa digoda oleh Damar dan Cia.


"Ya nggak. Yang boleh ikutan untuk yang udah nikah." Aul menjawab cepat. Panji hanya terkekeh.


Ami mengangguk dah ber oh ria. Ia lalu berjalan menghampiri Cia dan Damar yang sedang tertawa meledek Rama.


"Kak Cia dan Kak Damar dilarang ikutan dansa ya. Itu khusus untuk yang udah nikah." Ami memberi ultimatum. Padahal sepasang kekasih itu sudah tahu dengan rules nya.


"Yaaah Mi, tapi Kak Damar pengen dansa sama Kak Cia. Gimana dong?" Damar merajuk.


"Ya harus mendadak nikah dulu. Sekarang aja, Kak. Biar nanti malam.... 🎶 Dansa yo dansa buat apa kau bermuram durja


Habis waktumu dengan percuma hati nelangsa buat apa 🎶." Ami lanjut menjawab dengan bernyanyi dan mempraktekan sambil berjoget berputar-putar.


Damar dan Cia tertawa lepas oleh sifat Ami yang selalu riang, narsis dan percaya diri itu.


"Nah, kalau mbak Via sama Aa Adi boleh dansa. Hallalll." Lanjut Ami menodong kedatangan Novia dan Adi yang baru selesai berswafoto.


"Mbak Via gak akan dansa, Mi. Tapi mau salto." Sahut Adi yang kemudian mendapat cubitan di lengan oleh Via. Membuat Ami terkikik.


Di sudut lain, Zaky sedang bervideo call dengan dua sahabatnya yang kepo ingin melihat suasana ruang pesta pernikahan. Karena nanti malam bisa jadi Zaky sibuk berdiri di pelaminan mendampingi Ibu.


Zaky lanjut berkeliling di stand makanan yang masih kosong. Ia menyorot setiap tulisan yang berada di setiap stand.


"Anjirr, Ky. Nama-namanya english kabeh. Nggak ada siomay ya di pesta horang kaya?" Seru Ibeng dengan hebohnya.


Zaky tergelak. "Nanti tengah malam tungguin aja di pengkolan biasa. Aku bakal nyuruh kurir pake jasa kilat khusus.


"Cius, Ky." Kompak Fatur dan Ibeng.


"Cius. Entar ada kuntilanak terbang nganterin paket makanan." Zaky tertawa lepas melihat dua sahabatnya mengepalkan tinju.


Ibu Sekar yang sudah lepas gift namun belum boleh mengangkat yang berat-berat, menyaksikan kemewahan venue dan menonton ji ar anak dan menantunya dari meja VIP bersama Mami Ratna dan Papi Krisna. Hati kecilnya terharu dan penuh syukur, anak sulungnya itu diterima dengan penuh kasih dikeluarga Rama yang secara status sosial tidak setara dengannya. Rona bahagia seorang ibu terpancar di wajahnya.


Waktunya semua keluarga beristirahat di kamar masing-masing. Bersiap untuk mulai bersolek selepas magrib nanti. Satu tim MUA ternama akan turun tangan mempercantik penampilan seluruh keluarga.


Puput menatap takjub dua gaun pengantin yang terpajang di manekin yang berada di kamar. Berdampingan dengan dua tuksedo milik Rama. Ia tidak memilih ingin memakai gaun pengantin seperti apa. Hanya melakukan fitting dan selanjutnya menjadi urusan Mami Ratna.


"Sayang, kok nangis. Ada apa?" Rama terkaget melihat Puput terisak dan menyeka pipi yang basah oleh lelehan air mata.


"Surprise nya wow banget, Aa. Aku gak nyangka semewah ini. Di luar ekspektasi aku lho. Terharu deh. Makasih Aa...." ucap Puput menatap Rama dengan berlinang air mata haru dan bahagia. Ia memang tidak diajak Rama terlibat konsep itu semua. Sengaja ingin menjadi kejutan katanya.


Rama tersenyum hangat. Membantu menyeka pipi Puput yang basah. "Kan aku udah bilang, Neng. Mau ngadain resepsi yang mewah, sebagai ganti karena kita melewatkan momen lamaran. Udah ah, jangan nangis. Aku lebih suka denger kamu men desah." ujarnya sambil memeluk istrinya itu penuh sayang, diselingi godaan. Membuat Puput mencubit pinggangnya dengan keras.


...***...


Sepasang suami istri asal Bandung sudah rapih dengan setelan pesta. Menginap di hotel yang tidak terlalu jauh dari tempat wedding party. Dia adalah Arya dan istinya, Andina. Merupakan teman sekaligus relasi bisnisnya Rama.


"Sayang, hape bunyi!" Arya memberikan tas milik istrinya yang tergeletak di sampingnya duduk.

__ADS_1


"Anak-anak, Pih." Sahut Andina yang baru merogoh ponsel dari dalam tasnya. Ia mengusap ikon panggilan video dengan berucap salam.


"Mamaaa.... masyaa Allah cantik banget. Tapi tetep cantikkan Lala." Lengkingan suara anak gadisnya yang riang dan ceriwis membuat Andina meringis.


Arya ikut bergabung sambil merangkum bahu Andina.


"Wuahh Papiiihhh. Papi juga ganteng sekaleee. Tapi lebih ganteng kakak Athaya ah. Kakak sini, Kak." Terlihat si ceriwis Lala menoleh ke arah kiri melambaikan tangan.


Arya dan Andina sama-sama terkekeh mendapat pujian namun tetap saja kalah perbandingan oleh Lala.


"Mama sama Papi udah ke undangannya?" Athaya yang lebih kalem menyapa sambil memegang buku.


"Baru mau berangkat, sayang. Kakak lagi apa?" Andina mewakili menjawab.


"Lagi latihan story telling tentang kisah Nabi Isa Alaihi salam, Ma." Athaya menunjukkan buku bacaannya.


"Lala jadi pendengarnya, Ma. Nanti bobo juga pengen didongengin sama Kakak." Lala tak kalah memberi laporan. Ia juga mengarahkan kamera, menunjukkan ada kakek dan neneknya sedang menonton berita.


"Anak-anak Papi dan Mama keren deh. Baik-baik di rumah ya sama Aki dan Nenek. Sampai ketemu besok, sayang. Love you." Arya mengakhiri sambungan video karena orangtuanya yang juga diundang, sudah menunggu di lobi.


"Love you too, Papi, Mama. Assalamu'alaikum." Kompak kedua anaknya sambil melambaikan tangan. Andina dan Arya pun Kompak menjawab salam sambil kiss bye.


"Sayang, Papa Mama dan Satya Rade udah nungguin kita di bawah. Kita berangkat satu mobil aja." Arya merapihkan dasi kupu-kupunya sambil bercermin memastikan kesempurnaan penampilannya.


"Ayo. Papi udah ganteng maksimal. Nggak usah ngaca terus." Andina mengusap bahu suaminya itu dengan mengulas senyum manis.


"Istrinya lebih perfecto. Jadi pengen dikurung aja di kamar. Nggak rela si lesung ini pipi tersenyum manis pada semua orang." Arya mengecup pipi istri tercintanya penuh sayang. Selalu gemas melihat pipi putih itu merona merah setiap dipujinya.


...***...


"Sepasang suami istri turut mengantri memasuki venue pernikahan. Wajah tampan blasteran Jawa Jerman itu tak lepas menggenggam tangan sang istri melewati pemeriksaan ketat protokol keamanan. Para tamu tidak hanya harus menunjukkan passcode sebagai bukti nama tamu undangan, tetapi juga pemeriksaan metal detector sesuai prosedur keamanan. Dengan ramah para petugas akan mempersilakan masuk usai lolos pemeriksaan.


"Bun, kita ke stage itu dulu yuk. Kita ucapin happy wedding buat Rama. " Mizyan Abdillah, pemilik wajah blasteran Jawa Jerman itu menunjuk panggung mini tempat tamu yang ingin mengucapkan selamat pernikahan. Ada dua kameramen yang stanby bertugas menyorot tamu yang akan naik ke stage.


"Ayo, Pa. Aku juga pengen ngucapin selamat buat Teh Puput." Rahma, sang istri mengangguk setuju.


Di dalam grand ballroom yang disulap bak negeri dongeng itu, para tamu mengantri panjang di karpet merah menuju pelaminan. Crew WO nampak bekerja profesional mengatur ketertiban para tamu yang mengular.


"Hubby, Mizyan sama Rahma sudah masuk belum?" Wanita cantik dan anggun mengenakan gamis pesta berwarna navy, yang berdiri di depan suaminya itu, menoleh ke belakang. Dia, Fatimah Malati. Istri dari Mark Cornelius.


"Sepertinya sudah. Tadi waktu Mizyan nelpon, lagi antri di pintu masuk katanya." Sahut sang suami yang kemudian melingkarkan tangan di perut istrinya itu.


"Hubby, jangan gini, malu." Bisik Fatimah yang ingin mengurai belitan tangan kekar Mark di perutnya. Namun suaminya itu malah mengeratkan pelukan.


"Malu itu kalau aku meluk istri orang, Bunny. Sstt, diam aja liat ke depan. Antrian padat merayap gini. Biar nggak jenuh nunggu, mending sambil gini...." Mark tidak hanya mengeratkan belitan tangannya tapi juga menyandarkan dagu di bahu istrinya itu.


"Hmmm." Terdengar helaan panjang Fatimah yang pasrah akan kelakuan suaminya itu.


"Jangan mendesah di sini, Bunny. Nanti aja di kamar hotel." Bisik Mark. Yang lalu mendapat cubitan sang istri di punggung tangannya.


"Kita langsung pulang ke Bogor ya? Anak-anak kasihan. " Fatimah berbisik pula.


"No. Kita nginep semalam ini. Anak-anak biar sama pengasuh dulu. Kita juga butuh quality time, Bunny. Tahu sendiri tiap pengen anu, si kembar malah ngajak begadang." Ujar Mark dengan nada merajuk. Fatimah menahan tawa.


Tbc

__ADS_1


...****************...


Besties, sabar ya....bab resepsi terlalu panjang jika dibuat satu bab. Ayo antri dulu aja. Jangan lupa kado teristimewa buat RamPut. 🥰


__ADS_2