Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
143. Kasih Putih


__ADS_3

Pangandaran


Menggelar tikar di pasir pantai di spot Pangandaran Sunset. Panji dan Aul duduk santai menghadap pemandangan laut lepas dengan ombak yang mulai meninggi.


Sampai siang tadi cuaca mendung, tapi menjelang ashar sampai sekarang cuaca berubah cerah. Sehingga beruntung bisa melihat semburat jingga di ufuk barat. Bak mengawal laju sang mentari yang bergerak turun seolah akan tenggelam ke dasar samudra.


Ami dan Padma tidak betah duduk. Mereka berlarian sambil tertawa saat ombak menepi dan akan mengenai kaki. Tidak ada kata lelah meski tadi pagi sudah berenang.


"Hari ini luar biasa buat aku. Dapat triple bahagia." Panji tersenyum lebar sembari tidak lepas mengawasi Ami dan Padma yang berada di zona dilarang berenang. Kedua anak gadis itu berlomba lari saat ombak mengejar ke tepian.


"Oh ya. Apa aja tuh, Kak?" Aul menatap penasaran.


"Pertama, bisa liburan bareng ke Pangandaran. Kedua, Bunda udah welcome sama Padma. Ketiga....." Panji menggantungkan ucapan sembari mengulum senyum.


Aul menaikkan satu alisnya. Setia menunggu kelanjutan ucapan Panji.


"Ketiga, aku bahagia bisa quality time sama kamu, Aulia." Panji tersenyum dan menatap hangat.


"Duh. Jadi tersanjung aku." Aul menyentuh dada sembari melebarkan mata dengan berbinar. Beralih memperhatikan Ami dan Padma. Berteriak memberi peringatan agar jangan basah-basahan lagi.


Panji tersenyum tipis. Reaksi Aul yang dilihatnya biasa saja. Sama sekali tidak mendapati wajah yang merona. Sabar. Sepertinya butuh waktu lama untuk bisa menyentuh hati gadis di sampingnya itu yang nampak konsisten dengan prinsip tidak pacaran sebelum lulus kuliah.


"Jadi malam ini Padma akan nginep di Enin, Kak?" Aul mengalihkan topik pembicaraan.


Panji mengangguk. "Bunda sendiri yang minta. Alhamdulillah udah mau buka pintu dan buka hati buat Padma. Moga seiring waktu Bunda juga mau buka pintu hati lagi buat Ayah." Harapannya masih sama. Menginginkan keluarga yang utuh. Meski ia tidak mungkin memaksa bundanya.


"Minta yang terbaik aja, Kak. Yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah. Terlalu tinggi harapan bisa bikin kita sakit hati dan kecewa mendalam." Ucap Aul.


"Kamu benar." Panji mengangguk kuat.


"Tapi kamu pengecualian. Aku akan tetap meninggikan harapan menunggumu. Meski nantinya berujung sakit hati dan kecewa mendalam." Ucap Panji. Yang hanya bisa bermonolog dalam hati.


Adzan magrib terdengar berkumandang. Panji memanggil Aul dan Padma untuk naik ke mobil. Waktunya pulang.


"Sholat dulu dong, Kak! Jangan langsung pulang. " Padma mengingatkan. Berjalan bersama menuju parkiran.


"Iya dong. Sambil keluar kita mampir ke masjid dulu." Sahut Panji mulai menyalakan mesin mobil.


Sudah cukup seharian ini mengisi liburan dengan berenang, naik perahu ke pasir putih, naik ATV keliling pesisir pantai, makan fresh seafood, serta menutupnya dengan menikmati panorama sunset. Usai magrib berjama'ah di masjid, mobil meluncur ke arah pulang.


"Sekarang markimil, Padma." Ami menjentikkan jari dengan riang.


"Apa itu markimil?" Padma mengernyit.


"Mari kita ngemil, hehe." Ami mulai membuka kantong kresek berlogo minimarket yang sebagian isinya sudah dimakan saat di pantai.


"Hihi lucu, markimil." Padma terkikik.


"Padma tau Google singkatan apa?" Ami mulai membuka kemasan roti isi pisang coklat.


"Nggak tahu. Apa tuh?" Padma ikutan memakan roti yang sama.


"Golongan orang-orang single. Seperti teh Aul." Sahut Ami dengan pipi menggembung karena menggigit roti dalam ukuran besar.


"Ami mah teteh bae yang jadi sasaran." Aul menoleh ke belakang sembari mendelik.


"Tapi Kak Panji juga single lho. Jadi teh Aul ada temennya sesama Google, hihihi." Padma membela Aul. Ia menjadi banyak tertawa selama bersama Ami.


Panji terkekeh. Aul hanya geleng-geleng kepala.


"Padma dekat Ami lama-lama bisa terkontaminasi." Ucap Aul menoleh pada Panji yang menyetir sembari mendengar celotehan di belakang.


"Haha, iya. Tapi biarin aja, biar kebawa ceria terus." Sahut Panji.


"Kalo aku tuh ibarat selimut, Padma." Ami selalu saja tidak bisa diam apalagi ada teman seumurannya.


"Hah. Selimut?" Padma mencoba berpikir apa artinya.


"Ami si selimut. Alias selalu terlihat imut." Ucap Ami sembari menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan.


"Hahaha. Masuk pak Eko." Padma mengacungkan dua jempol. Lalu keduanya adu tos.


"Ayo Padma belajar bikin singkatan juga. Seperti ini nih aku contohin lagi. Bentar iklan dulu." Ami meraih botol minum. Meneguk sebanyak tiga tegukkan.


"Teh bilang BILAL sama Kak Panji." Pinta Ami.


"Nggak mau ah. Ami suka aneh-aneh soalnya." Tolak Aul.


"Nggak atuh, bestie. Ayolah pelissss." Ami merajuk."

__ADS_1


Aul menghembuskan nafas panjang. Mengalah. "Kak Panji. BILAL." ujarnya menoleh sekilas pada sang driver.


"Artinya?!" Panji tetap fokus menatap jalanan yang berkelok dan menanjak. Yang sepanjang jalan disuguhi pemandangan hutan jati.


"Bimbing aku sampe halal. Uhuyyy!" Ami bersorak diikuti oleh Padma.


Panji tertawa lepas. Meski ini hanya candaan, dalam hati ia aminkan.


"Kan...kan bener ini jebakan." Aul mendelik terhadap Ami.


"Ecieee ada yang malu-malu pisang." Ami menggoda kakaknya itu.


"Mana ada malu-malu pisang, Ami. Ada juga malu-malu kucing." Ralat Padma yang terkikik dengan candaan Ami.


"Ada dong. Itu teh Aul malu-malu pisang. Pingin disayang. Hihihi." Ami semakin ketagihan menggoda Aul yang kini menutup kuping.


Panji dan Padma tertawa kencang tidak bisa direm. Suasana perjalanan pulang sangat menyenangkan seperti saat perjalanan berangkat tadi pagi. Sumber keseruan tentu saja Ami.


"Padma juga punya singkatan." Padma mengacungkan tangan.


"Cakeeppp." Ucap Ami.


"Ih, belum, Ami." Padma menoyor bahu Ami. Keduanya pun cekikikan.


"Kak Panji itu GANBATE." Ucap Padma.


"Artinya?!" Ami menyahut.


"Ganteng tapi mulut bau pete. Hihihi." Padma menutup wajah dengan telapak tangan karena mendapat tatapan tajam sang kakak di spion tengah.


"Bhuhahaha. Masuk Pak Ekooooo. Padma keleeen." Ami tertawa kencang sembari bertepuk tangan.


"Enak aja bau pete. Sungguh fitnah yang kejam." Panji mendecak sebal.


"Hahaha. Baguslah Kak Panji kebagian juga dikerjai bocah." Aul turut tertawa lepas.


"Kak Panji itu bukan ganbate kok, tapi SUPERMAN." Ami meralat.


"Apa tuh?" Padma antusias menunggu jawaban.


"Suka perempuan beriman. Seperti teh Aul." Ami menaik turunkan alisnya.


"Uhuyyy. Witwiwww." Giliran Padma berseru menggoda.


Aul geleng-geleng kepala. Sudah berapa kali terkena serangan Ami yang membuatnya malu terhadap Panji.


Memasuki daerah Banjarsari, suasana di dalam mobil berubah senyap. Sumber kehebohan sudah tidak terdengar. Dua anak gadis di jok belakang sudah tepar.


"Kak Panji kalo ngantuk istirahat dulu. Jangan dipaksain." Ucap Aul usai memberikan roti. Dirinya sebenarnya sudah mengantuk. Namun tidak tega membiarkan Panji melek sendirian.


"Aman, Neng. Temenin ngobrol aja biar nggak sampai melamun." Panji menoleh sekilas diiringi senyum tipis.


Aul tersenyum kikuk. Mendadak jadi grogi dipanggil Neng oleh Panji.


...***...


Bali


Puput selesai sholat magrib di mushola bergantian dengan Rama. Hendak kembali ke mejanya, namun tiga orang perempuan menghalangi langkahnya di luar mushola.


"Gue pengen bicara sama lo!" Satu orang berambut pirang menunjuk ke arah dada Puput dengan gaya songong.


"Ada urusan apa ya? Aku nggak kenal kamu." Puput menaikkan satu alisnya. Tetap tenang.


"Ikuti kita aja. Nanti lo bakal tahu." Satu orang yang mengenakan mini dres menggerakkan kepala agar mengikutinya. Satu orang lagi mengawal di belakang Puput.


Puput dengan tenang dan waspada meladeni permintaan trio seksi itu. Menuju ke sebuah gazebo yang lengang.


"Jauhi Rama kalo mau hidup lo tenang. Lo pulang kampung sana!" Ucap perempuan berambut pirang tanpa basa basi.


"Kalo nggak ?!" Tantang Puput.


"Kalo ngeyel, hidup lo nggak akan tenang. Lo bakal ada yang neror terus. Lo bakal diintimidasi. Gue ngasih tau gini karena kasian aja sama lo. Fans Rama itu banyak. Lo bakal minder dapat rival cewek-cewek cantik dan seksi yang biasa ngelilingi para eksekutif." Lanjut si rambut pirang.


"EGP. Emang gue pikirin." Puput mengangkat bahu. Mengangkat kepala dengan tatapan menantang.


"Ah, lo bener-bener ngeyel ya." Ucap perempuan yang mengenakan hot pant warna biru. Bersiap menyiramkan minuman yang dipegangnya.


"Anda sopan saya segan. Anda nantang, saya lawan." Ucap Puput yang sigap menahan lengan perempuan itu di udara. Berbalik arah mengucurkan gelas minuman beraroma menyengat ke dada terbuka itu.

__ADS_1


Sontak membuat dua perempuan lainnya memelototkan mata. Tidak menyangka salah lawan.


"Kurang ajar lo!" Perempuan yang mendapat siraman minuman mengangkat tangan siap menjambak hijab Puput.


"Awww!" Dia malah menjerit kesakitan karena tangannya dipelintir oleh Puput.


"Kalian mau dapat hadiah juga?" Puput menatap tajam pada perempuan berambut pirang dan yang mengenakan mini dress. Yang mendapat jawaban gelengan kepala.


"Kalian yang ngaku cewek kota tapi attitude kayak IQ jongkok. Mana ada cowok baik yang mau milih modelan kalian buat pasangan hidup. MIKIR! Selera Rama itu tinggi. Mana mau beli jajanan yang bebas dipegang-pegang, diacak-acak bekas tangan orang lain." Ucap Puput lugas.


"Bilang! Siapa yang nyuruh kalian!" Puput menambah tekanan tangan perempuan yang dipelintir ke belakang punggung itu. Yang bertambah mengaduh tapi gengsi untuk memohon dilepaskan.


"Tidak ada yang nyuruh. Ini inisiatif kita." Sahut perempuan yang memakai mini dress.


"Aku malas basa-basi. Sekali lagi gak bilang. Tangan kiri lo patah." Ancam Puput tak kalah galak.


"Lo bakal masuk penjara kalo ngelakuin itu!" Perempuan berambut pirang tersenyum sinis.


"Hm, mesti diingetin ya lo pada. Suamiku horang kaya. Mertuaku yang punya Adyatama Group. Bikin kalian hilang tanpa jejak juga perkara kecil." Puput tersenyum menyeringai menakut-nakuti trio seksi yang berubah mengatupkan bibir.


"Gue hitung sampe tiga, oke. Siap-siap tangan kiri temanmu ini patah. Satu...." Puput menjatuhkan sanderanya hanya dengan sekali sepakan di tulang kering. Hingga terjatuh telungkup di pasir pantai.


Belum ada yang membuka mulut. Si perempuan berambut pirang dan yang mengenakan mini dress hanya saling pandang. Sementara temannya yang disandera meringis dan terus memberontak.


"Dua...." Puput menarik tangan sanderanya itu dan membawanya berdiri lagi dan dihadapkan pada dua teman sanderanya itu.


"Aww. Ampuuun!" Teriak si sandera memekik keras karena tangannya makin dipelintir. Namun suaranya samar oleh suara live musik yang mulai dimainkan.


"Ti....."


"Karenina. Dia yang nyuruh kita." Akhirnya si sandera buka mulut. Tidak sanggup lagi menahan sakit. Tubuhnya terhuyung saat tangannya dilepaskan oleh Puput.


Puput menepukkan kedua telapak tangan seolah membersihkan kotoran yang menempel di tangannya.


"Bilangin sama dia. Kalo berani ganggu gue lagi, bisa dipastikan out dari Jakarta." Ancam Puput sembari melibaskan tangan di leher sebelum beranjak pergi.


Puput hendak menuju mejanya. Namun berpapasan dengan Rama yang wajahnya nampak cemas.


"Sayang, dari mana? Aa susul ke mushola tapi nggak ada." Rama nampak lega bisa menemukan Puput. Yang tak bisa dihubungi karena tasnl sang istri ada padanya.


"Hehe, maaf. Abis lihat-lihat dulu ke sebelah sana." Puput meringiskan wajah. Merasa tidak perlu menceritakan peristiwa barusan. Hanya akan membuat cemas suaminya itu. Tapi jika nanti setelah dikasih peringatan tetap berulah, ia akan bicara.


"Masih betah disini atau mau pulang ke vila?" Rama merangkum bahu Puput. Masih berdiri di tempat sembari melihat ke arah panggung musik.


"Aku lapar. Tapi makannya jangan disini. Pindah tempat ya, A'." Puput mengusap perutnya.


"Lapar lagi?! Kita kan baru aja makan, Neng." Rama mengeratkan pelukan dengan gemas.


"Beda ih. Barusan spageti. Kalo belum makan nasi artinya belum makan." Puput bermanja dengan memeluk pinggang Rama.


Rama terkekeh. "Oke, Nyonya. Ayo kita kulineran. Aa juga jadi ketularan lapar." Sambil berpelukan, keduanya meninggalkan cafe outdor itu.


"Mau makan apa, Neng. Nasi campur khas Bali, ayam betutu, sate lilit." Rama mengabsen satu persatu kuliner khas Bali.


"Pengen makan orang sebenarnya mah." Sahut Puput sambil terkekeh. Ia merasa gemas ingin sekali bertemu Karenina yang kini sudah ketahuan motifnya.


"Itu mah nanti di kamar. Aa dengan senang hati siap dimakan dari atas sampai bawah, depan belakang." Tangan Rama mulai nakal mencuri-curi kesempatan meraba dada Puput.


"Neng, kayaknya makin gede ya." Ucap Rama bahkan sengaja menghentikan langkah dulu. Seringai penuh arti menghiasi wajah tampannya.


"Ah, nyesel bahas-bahas makan orang. Jadinya mesum Aa kambuh." Puput dengan gemas mencubit perut Rama yang kemudian tergelak.


Lagu yang baru dinyanyikan oleh vokalis terdengar jelas ke tempat Puput dan Rama. Membuat keduanya sejenak terdiam dan meresapi. Rama beralih memeluk Puput dari belakang sembari menyandarkan dagu di bahu, serta membelitkan kedua tangan di perut istrinya itu.


Terdalam yang pernah kurasa


Hasratku hanyalah untukmu


Terukir manis dalam renunganku


Jiwamu jiwaku menyatu


Biarkanlah kurasakan


Hangatnya sentuhan kasihmu


Bawa daku penuhiku


Berilah diriku

__ADS_1


Kasih putih di hatiku


(Glenn Fredly - Kasih Putih)


__ADS_2