Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
107. Fans Lama


__ADS_3

"TUNGGUIN!" Cia berteriak keras lalu mengerucutkan bibir. Jaraknya dengan Damar tertinggal cukup jauh. Ia tak mampu lagi berlari mengejar karena capek. Nafasnya sudah ngos-ngosan.


Damar menghentikan larinya dan memutar badan. "Lambat!" Ledeknya sambil memeletkan lidah menyambut Cia yang mendekat dengan berjalan cepat.


Semburat sinar mentari pagi terlihat memantul di air yang menggenangi sawah. Hampir semua hamparan petak sawah yang membentang sedang dalam proses membajak. Geliat para petani penggarap mulai terlihat di jam 6 pagi ini. Datang dengan membawa mesin traktir. Ada pula yang menuntun kerbau.


Cia meninju bahu Damar dengan mata mendelik. "Enak aja bilang lambat. Kamu aja kakinya yang panjang. Jadinya langkah kita beda. Wajar aja aku ketereran." Kemudian ia mengibas-ngibaskan tangan sambil meringis.


"Kenapa?" Damar mengernyit heran.


"Ish, bahumu dari besi ya? Malah tanganku yang sakit." Cia mencebikkan bibir.


Membuat Damar tertawa lepas. "Kan biar nanti kuat gendong kamu kalo udah jadi pengantin," ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata.


"Hidih, apaan sih!" Cia berjalan cepat mendahului. Agar tidak terlihat oleh Damar jika wajahnya itu berubah merona merah.


Damar cukup mudah menyusul mensejajari langkah Cia. Keduanya beralih joging menyusuri jalan desa dengan keringat yang sudah bercucuran.


"Cia?"


"Ya?" Cia menolehkan wajah pada pria yang berjalan di sisinya sambil melakukan peregangan tangan.


"Pengen acara lamaran dimana? Konsepnya gimana? Aku mau mulai prepare."


Cia menghentikan langkah. Membuat Damar ikut berhenti. Keduanya saling tatap dan saling melempar senyum manis.


"Setelah semuanya kondusif, aku pengen segera lamaran dan cepet nikah. Mau kan, adekku jadi Nyonya Damar?" ujar Damar tersenyum miring, menggoda Cia dengan panggilan adek.


Cia menggeleng kuat. "Nggak!"


Damar menyipitkan mata melihat Cia yang dengan santai berjongkok membetulkan tali sepatu yang terlepas usai menjawab. "Cia, serius ih!" Ia ingin memastikan lagi jawaban gadis yang diam-diam disukainya sejak lama itu.


Cia berdiri dan harus mendongakkan kepala karena tingginya hanya sebatas bahu Damar. "Nggak akan nolak ayang," ujarnya sambil berlari lebih dulu karena malu diiringi tawa dan wajah yang merona.


Damar tersenyum lebar dengan wajah semringah. "Hei, tungguin!" Bukan hal yang sulit mengejar langkah Cia yang sudah menjauh. Dalam hitungan detik, dengan langkahnya yang lebar, sudah berhasil menangkap tangan gadis itu dan menguyel-nguyel kepalanya dengan gemas.


"Kita discuss soal konsep lamarannya setelah semuanya balik ke Jakarta ya, Kak."


Damar mengangguk setuju. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena mendengar suara kerbau di belakangnya. Spontan memutar badan, diikuti pula oleh Cia.


"Itu kayaknya kerbau yang dulu ngejar aku deh." Damar menyipitkan mata menyelidiki tubuh kerbau yang sedang dituntun petani, berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Cia membulatkan mata. "Emang masih kenal? Kerbau kan semua sama. Sama-sama item nggak pake baju." Ledeknya melihat Damar yang percaya diri.


Damar menyentil pelan kening Cia dengan gemas. "Aku masih inget pangkal hidung si kerbau itu merah. Beneran ini mah dia...." ucapannya menggantung begitu binatang yang digibahnya berhenti dan menatapnya.


"Eh, hayu burukeun....!" si penggembala menarik-narik tembang yang mengikat kerbau itu karena malah diam tidak bergerak.


Giliran Cia menatap silih bergantian pada Damar dan kerbau dengan menahan tawa.


"Mang, ieu teh jalu atawa bikang? (ini jantan atau betina)" Cia beralih menatap si penggembala.


"Bikang, Neng. Osok ngudag mun aya jalmi nu dipikaresep teh. (Betina, Neng. Bakalan ngejar kalau ada orang yang disukainya)."


"Oh, pantesan____" Cia tertawa lepas sambil mendelik ke arah Damar.


"Translete, Cia! Aku nggak ngerti." Saat protes terhadap Cia, kerbau itu bersuara lagi dan memberontak ingin lepas.


"Hei! Hus...hus!" Damar terkejut karena kerbau itu bergerak memaksa mendekatinya. Ia mengibas-ngibaskan tangan.


"Ha ha. Jangan diusir apalagi lari, Kak! Dia pengen diusap-usap kayaknya."


Damar mengindahkan ucapan Cia. Ia memilih berjalan mundur. Nyatanya kerbau itu malah mengejarnya karena talinya lepas. Sontak ia berlari kencang. Si penggembala pun ikut berlari mengajar kerbau.


"Ahahaha!" Cia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. Sebuah pemandangan yang membuatnya terhibur. Tak masalah ditinggalkan oleh Damar juga. Tak lupa aksi kejar mengejar itu diabadikan dengan kamera ponsel.


"Krisna, gimana kelanjutan kasus si Zara?" Enin duduk di kursi kebesarannya, kursi goyang.


"Aku udah ajukan minta penanganan kasusnya diambil alih polda Metro Jaya. Karena TKP nya lintas wilayah, bukan hanya di Tasik, tapi juga Jakarta dan Tangerang. Itu yang pelaku di tol udah ditangkap semua. Mereka mengakui dibayar Zara untuk menculik Puput." Jelas Krisna seperti yang barusan diceritakan pada istrinya.


"Astagfirullah, itu perempuan bisa-bisanya punya jiwa penjahat seperti itu. Kirain cuma ada di felem." Enin berkomentar sambil geleng-geleng kepala.


"Kan turunan bapaknya itu, Bu." Ratna menimpali setelah menyesap tehnya.


"Woi, kenapa Mas?" Fokus Panji mendengarkan obrolan teralihkan oleh kedatangan Damar yang basah kuyup tanpa alas kaki. Karena sepatu ditenteng oleh Cia yang berjalan sambil terkekeh-kekeh. Membuat atensi semua orang pun tertuju pada Damar dan Cia.


Cia yang akan menjawab malah didahului tawa berderai tanpa bisa dicegah. "Kak Damar dikejar fan fanatik sampe kecebur ke kolam ikan." Ia melanjutkan tertawa, tak peduli wajah Damar yang dongkol.


"Kok bisa? Emang orangnya agresif mau nyosor?" Panji masih diliputi rasa penasaran.


Cia berusaha mengerem tawa yang susah berhenti itu. "Yang ngejar fan lama. Hanya Enin yang tahu. Coba siapa, Nin?" Beralih menatap Enin dengan kedua alis terangkat membuat teka teki.


"Siapa ya? Perasaan nggak ada gadis desa yang suka sama Damar. Nggak laku dia mah di sini. Paling juga dikejar-kejar Munding (Kerbau)" Tebak Enin tanpa beban. Membuat Panji menahan tawa. Krisna dan Ratna mengulum senyum. Sementara Damar menyeringai sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

__ADS_1


Cia bersorak girang. "100 buat Enin. Hebatnya, Kak Damar masih inget sama wajah kerbau itu. Si kerbau juga sama, sampe pengen nyosor. Eh, ini orang malah lari. Jadinya dikejar deh sampe nyemplung. Ha ha."


Kasihan melihat Damar yang kedinginan, Cia mengajak masuk lewat pintu belakang usai laporannya itu. "Kak, tunggu bentar! Aku ambil dulu handuk."


Damar mengiyakan dan membuka kaosnya sehingga bertelanjang dada. Hangat sinar mentari pagi menerpa tubuh kekarnya.


"Nih handuk!" Cia mengulurkan dengan rasa gugup melihat penampilan Damar.


"Ayang pengen dimandiin nih" Damar bertingkah merajuk sambil menyampirkan handuk di leher.


"Hayu. Asal mandinya disungai bareng si munding tadi ya. Tak gosok pake sikat khusus."


Sambil lalu l, Damar iseng menyugar rambut basahnya sehingga menciprat ke wajah Cia.


...***...


Rama menyimak tanya jawab dokter dan Puput yang visit pagi ini. Segala keluhan yang disampaikan istrinya itu ditanggapi dokter dengan penuh atensi.


"Jadi perut saya bisa sembuh berapa lama, dok?" Pungkas Puput usai menceritakan keadaan fisik serta keluhan yang dirasakan di perutnya.


Dokter tersenyum. "Sabar dulu ya, Bu Putri. Dari luka yang panjang ini dibagi tiga tingkatan sesuai kedalaman sabetan pisau. Saya sudah berikan obat terbaik. Nanti luka ini keringnya akan bertahap setelah 1 minggu. Khusus yang robek dalam selebar 4 cm ini, bisa kering setelah 4 minggu." Jelas sang dokter memperinci foto rontgen yang dipegangnya.


"Ini aja berdarah, Bu. Kemungkinan semalam terlalu banyak gerak-gerak tidurnya." Lapor suster sambil memperlihatkan kain kasa bekas membersihkan barusan.


Puput mengatupkan bibir, tidak mau menjawab karena malu. Merasa, semalam memang terlalu bersemangat dan larut dalam cumbuan Rama.


Usai dokter dan suster keluar, Puput beralih menatap Rama sambil mengulum senyum. "Aa, harus kuat nunggu sebulan katanya."


Rama meraih tangan Puput dan mengecupnya penuh perasaan. "Nggak masalah, sayang. Yang terpenting kamu sehat dulu. Next, kita banyak rencana ke depannya. Dalam sebulan ini kita akan beli rumah, adakan resepsi lalu honeymoon."


Puput balas menatap hangat tatapan mesra suaminya itu diiringi senyum manis.


Dua jam kemudian Mami dan Papi datang menjenguk bersama Cia juga Damar. Kali ini bisa berbincang santai dan menanggapi Puput yang menceritakan aksinya kemarin hingga bagaimana sampai terluka.


"Mami salut sama kamu." Ratna mengusap-ngusap bahu menantunya itu penuh haru. Rela berkorban demi menyelamatkan Rama.


Sementara Rama mendengarkan perkembangan kasus Zara dari mulut Papi Krisna.


Siang harinya, rombongan yang menjenguk datang adalah dari kantor RPA. Ada Dwi, Hendra, juga Via, berangkat dengan satu mobil. Usai menyalami Puput, mereka beramal tamah pula menanyakan kabar Rama yang seminggu ini menghilang tanpa kabar.


"Via, gimana kabar Septi?" Pertanyaan yang membuat subuhnya terpekur. Teringat Nabila dan ibunya. Kini menunggu laporan sahabatnya yang membantu

__ADS_1


"Septi masih koma, Put." Via menjawab pelan. Ia memisahkan diri dari obrolan ringan yang sedang berlangsung di sofa. Memilih menemani Puput sambil berbincang santai.


Tbc


__ADS_2