Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
48. Aku Galau


__ADS_3

Rasa pegal di leher membuat Cia terjaga. Pantas saja. Posisi tidur setengah duduk dengan kepala terkulai ke kana. Saat nyawa terkumpul sempurna, segera memilih duduk. Mata membelalak sempurna melihat jam dinding menunjukkan angka lima lebih sepuluh menit.


"Astaga----kenapa aku ketiduran." Cia lirih menyesali keadaan. Melihat tripod yang sudah terguling. Menarik ponsel dari tripod itu yang ternyata habis daya batre. Turun dari ranjang menuju colokan untuk charge ponselnya.


Sambil menunggu cukup daya untuk dinyalakan, Cia menuju kamar mandi. Karena sedang libur shalat, hanya mencuci muka dengan tergesa.


Cia urung menyalakan ponsel saat terlintas kemungkinan Damar sudah sampai rumah. Buru-buru keluar dari kamar untuk memastikan. Ia bernafas lega, berucap hamdalah, melihat sosok pria yang tengah tertidur pulas di sofa.


"Pi, kapan Kak Damar datang?!" Cia menatap Papi Krisna yang masih bersarung, muncul dari dapur dengan membawa sepiring ubi rebus.


"Tadi pas adzan subuh. Jangan diganggu...dia baru aja tidur. Pasti lelah kena macet 20 jam." Papi Krisna berkata pelan. Khawatir membangunkan Damar. Cia mengangguk sebagai jawaban.


"Disuruh tidur di kamar Rama gak mau. Malah milih di sofa," sambung Papi Krisna mengkonfirmasi.


Cia membiarkan sang ayah berlalu pergi membuka pintu utama. Sudah dipastikan mau menikmati ubi rebus di kursi teras. Nampak Mami menyusulnya dengan membawa dua gelas minuman.


Cia menatap wajah lelap yang terlihat lelah. Sebuah rasa menelusup ke relung hati. Yang diclaimnya sebagai perasaan sayang seorang adik terhadap kakaknya. Dengan perlahan memasangkan selimut miliknya yang baru saja diambil dari kamar, menutupi ujung kaki sampai ke dada.


Jam 10 pagi. Mobil Rama keluar meninggalkan pekarangan. Janjinya ditepati. Hari ini mau mengantar Mami Ratna pergi. Meski masih penasaran dengan tujuannya karena ibunya itu belum bicara terbuka. Hanya pamit kepada Papi Krisna untuk pergi ke mall yang ada di Tasik.


Di balik itu. Wajahnya dipenuhi aura bahagia. Betapa tidak. Saat sarapan seluruh keluarga, Mami mengumumkan jika beliau sudah melamar Puput kepada Ibu Sekar. Di awal kaget tentunya. Tanpa ada konfirmasi, Mami malah mendahului. Tapi menjadi senang saat semua keluarga besar merestui.


"Nunggu kamu lambat. Mami khawatir keduluan orang lain yang meminta ke Ibu Sekar."


Rama meminta waktu saat Mami dengan tidak sabar ingin buru-buru melamar secara resmi. Masalahnya ia sendiri belum mengutarakan perasaannya. Kemarin gagal total karena gangguan Ami. Meski sudah yakin dan percaya diri jika hati Puput sudah tersentuh.


Tepukan di bahu membuat Rama menoleh. "Ada apa, Mi?!" menatap ibunya yang duduk di jok sampingnya dengan kening mengkerut.


"Kamu yang ada apa? Itu senyum-senyum sendiri, Mami perhatiin dari tadi." Mami Ratna geleng-geleng kepala.


Rama hanya menjawab dengan mengangkat bahu dan senyum tipis. Membiarkan menjadi misteri untuk Mami Ratna yang mencebikkan bibir ke arahnya.


Memasuki kawasan mall Asia Plaza. Rama mengawal langkah Mami Ratna ke setiap gerai yang dikunjungi. Membeli pakaian koko dan gamis, memilih aneka roti di gerai bread ternama, juga memesan pizza.


Rama tidak memperhatikan detail yang dibeli. Hanya setia mendampingi sambil memainkan ponsel. Membalas pesan di grup dan perorangan, sambil menunggu pizza yang tengah diproses.

__ADS_1


"Ayo, Rama! Keburu siang." Mami Ratna mencolek bahu. Ternyata 2 kotak pizza sudah selesai diikat tali.


Belanjaan yang cukup banyak ditenteng semuanya oleh Rama menuju parkiran. Menyimpannya di jok baris tengah. "Sekarang kemana lagi, Mam?!" sambil memasang sabung pengaman bersiap melajukan mobilnya lagi. Hari ini ia luangkan waktu untuk menemani kemana pun Mami pergi.


"Ke rumahnya Mang Ade, mantan sopir keluarga kita." Mami Ratna menjawab santai tanpa menatap putranya yang nampak terkejut.


"Mami jangan bilang kalau mau----"


"Iya. Mami mau ketemu perempuan yang bernama Kartika." Mami Ratna memotong ucapan Rama. "Sekalian silaturahmi ke Mang Ade dan Bi Ipah. Makanya Mami belanja ini semua.


Barulah Rama faham alasan Mami mengajaknya belanja ke mall.


"Mam, apa Papi tahu?!" Rama belum berniat menyalakan mesin mobil. Rasa penasaran masih menggelitik.


Mami Ratna menggelengkan kepala. "Mami hanya bilang mau ke mall AP. Gak bohong kan?!" ujarnya seolah meminta pembelaan.


"Setelah bertemu Kartika pasti Mami akan cerita ke Papi. Kamu jangan cemas gitu." sambung Mami Ratna yang melihat wajah sang putra menjadi gusar.


Rama menghembuskan nafas panjang. Hanya dia dan Mami yang tahu dengan permasalahan atau cerita masa lalu Papi. Dengan permintaan Mami, ia tidak memberitahu Cia agar tidak semakin panjang pembahasan tentang sekelumit kisah masa lalu Papinya itu. Dianggap case closed. Dan hari ini ganjalan yang ada di hati Mami Ratna ingin dilelehkan.


"Mami masih ingat jalannya? Kalau aku udah lupa." Rama mengalah atas keinginan Mami. Mulai melajukan mobil keluar area mall. Terakhir kali main ke rumah mang Ade saat SMA.


...***...


Via menjadi penonton di bangku panjang. Menyaksikan Puput yang tengah latihan fisik di Padepokan Elang Putih. Persiapan mengikuti kejuaraan pencak silat yang akan diselenggarakan di Padepokan Pamacan. Ia dijemput sahabatnya itu untuk menemani latihan. Karena tidak ada sesiapa lagi di dalam padepokan dengan aula yang luas itu. Karena latihan ini bersifat privasi.


Break 10menit. Puput memulai mengeluarkan jurus usai warming up yang membakar kalori dan menguras keringat. Aris sang pemilik padepokan menjadi lawannya. Karena sama-sama bersabuk violet.


"Jangan lupa untuk fokus. Cari titik kelemahan lawan untuk mempercepat KO (knock out)!" Ujar Aris mengingatkan. Sambil memasang kuda-kuda dan juga fokus pada pergerakan Puput yang siap menyerang.


Puput mengangguk faham. Ia mulai menyerang dengan luwes dan cepat tanpa ada niat menyakiti Aris seniornya itu. Tidak sungguh-sungguh memasukkan pukulan dan tendangan. Menyisakan jarak sentuh 5 cm jauhnya.


Via menyaksikan sambil merekam aksi para senior dunia persilatan itu. Kagum sekaligus tegang melihat kelihaian dan kecepatan Puput dalam mengeluarkan jurus. Membuat Aris dua kali terdesak ke belakang.


Aris bertepuk tangan dengan nafas tersengal karena cape. Mengacungkan dua jempol akan kemampuan Puput yang membuatnya keteteran dan jatuh sempoyongan.

__ADS_1


"Kang, maaf. Ada yang sakit gak?!" Puput mengakhiri latihan. Merasa tidak enak hati sudah mengalahkan Aris dengan tekhnik menyerang cepatnya itu.


Aris menggeleng. "Bagus, Put. Kamu udah siap tanding. Tinggal latihan fisik aja tiga kali lagi buat menjaga kelenturan badan."


"Iya, Kang." Puput juga Aris bergabung mendekati Via sambil menwguk air mineral.


"Put, kamu masih ada waktu kalau mau berubah pikiran. Peserta cewek hanya ada dua orang soalnya. Kamu dan satu lagi dari Bekasi." Aris mengingatkan kejuaraan yang bersifat ilegal ini. Karena diselenggarakan secara pribadi tanpa izin organisasi terkait.


"Maju terus, Kang. Dulu juga lawanku di final cowok. Dan aku menang." Puput bergeming dengan pendiriannya. Merasa yakin bisa menang. Apalagi hadiah juara pertama yang ditawarkan sangat menggiurkan.


"Oke kalau gitu. Dan satu lagi, soal motor. Besok aku akan mengambilnya. Kamu ada di rumah jam berapa?! Mau bayar cash atau transfer?!"


Berita yang membuat wajah Puput semringah. Karena akan mendapatkan uang sebelum menunggu H+ 7. "Aku sampai jam 12 ada di rumah. Ditransfer aja duitnya, Kang."


Pamit dari Padepokan yang juga nanti akan mengirimkan satu peserta yaitu Sony. Puput mengajak Via mampir ke sebuah cafe.


"Bakpia, monggo pesan sesuka hatimu. Aku yang traktir." Puput memilih meja yang sepi dari lalu lalang orang. Karena ia akan curhat tanpa ingin terganggu orang lain.


"Aseeekkk calon bu boss." Via berseru girang. "Eh, salah-salah....maksudku calon juara silat. Kan nanti bakal banyak duit." Ralatnya yang melihat Puput menatapnya dengan menyipit. Hampir saja keceplosan.


"Aku lagi galau nih." Puput mengaduk jus mangga yang baru datang dengan sedotan.


"Ada apa?! Ceritakan padaku...jangan ada yang ditutup-tutupi, bestie." Via menanggapi dengan santai. Mengaduk ice caramel machiato yang berwarna coklat dengan wangi gula karamel yang kuat.


"Soal Karam." Puput menatap ragu dan malu terhadap Via yang duduk di hadapannya.


"Paran atau Karam?! Beda orangkah?!" Via menautkan kedua alis ingin memastikan pendengarannya.


"Sama aja. Di luar kerja Param gak mau dipanggil Pak. Jadinya aku panggil Kak Rama."


Via manggut-manggut. "Terus?!" mulai mengorek. Kali ini tanpa berniat menggoda melihat wajah Puput yang gelisah.


"Aku galau---"


"Haiss...tadi juga udah ngomong gitu." Via mulai tidak sabar. "Iya galau kenapa, Siput?!"

__ADS_1


...***...


Hoammm, Aku ngantuk....maafkeun ngagantung lagi 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️


__ADS_2